
Berawal dari ajakan sang suami yang mencoba membawanya keluar rumah, Olivia kini perlahan-lahan mulai terbiasa dengan kondisi sekitar.
Hampir setiap pagi, Alzam mengajak ibu hamil itu jalan kaki mengelilingi satu blok perumnas. Meski awalnya Olivia enggan melakukannya, akan tetapi Alzam berusaha membujuk perempuan itu, dan beralasan bahwa ibu hamil memerlukan latihan otot kaki, untuk persiapan bersalin nanti.
Alzam selalu memanfaatkan saran yang diberikan oleh dokter, setiap kali mereka melakukan pemeriksaan rutin kandungan sang istri, sebagai alasan membawa Olivia beraktivitas di luar rumah.
Seperti bulan lalu, saat usia kandungan Olivia telah memasuki akhir trimester kedua. Dokter menyarankan olah raga kecil untuk dilakukan oleh ibu hamil. Alzam sengaja bertanya apakah jalan-jalan di pagi hari disekitar rumah boleh dilakukan atau tidak.
Saat mendapat persetujuan dari dokter, pemuda itu pun menggunakan alasan tersebut untuk membawa sang istri menikmati udara pagi di sekitar tempat tinggal mereka, sekaligus membiasakan Olivia berinteraksi dengan warga sekitar lagi.
Perut Olivia semakin hari semakin membuncit. Pakaiannya yang saat ini telah tertutup, membuat kondisi perutnya sekilas tak terlihat terlalu besar. Hanya jika dilihat secara seksama, maka akan terlihat tonjolannya.
Terlebih saat ini, usia kandungannya telah menginjak usia tujuh bulan, dimana janin sedang mulai aktif bergerak. Terkadang saat Olivia diam, ibu hamil itu bahkan merasakan gerakannya di dalam perut.
Alzam pun sekarang lebih sering berlama-lama membungkuk di depan perut Olivia, hanya untuk menunggu pergerakan dari sang buah hati di dalam sana. Meski sudah sering merasakannya, akan tetapi Alzam masih saja berdecak kagum dengan kekuasaan Allah yang satu ini.
Seperti saat ini, saat dia sedang berada di teras rumahnya, menemani sang istri yang baru selesai menyiram tanaman di halaman depan.
Alzam berjongkok di depan Olivia, sambil menempelkan kepalanya di perut buncit sang istri.
“MasyaAllah. Ajaib banget nggak sih? Di dalem sini ada yang hidup dan bergerak. Dia kesempitan nggak yah?” gumamnya setiap kali merasakan gerakan dari sang janin.
Olivia hanya tersenyum sambil menahan tawa, setiap kali kalimat tersebut keluar dari mulut pria yang sangat ia cintai itu.
“Kalau kesempitan, dia juga bakal minta kekuar kok, Mas,” sahut Olivia.
“Iya juga sih. Hehehe... Hei jagoan, kamu jangan nakal yah di dalem sana. Kasian bunda. Karena kamu cowok, jadi kamu harus bantu ayah buat jagain bunda yah. Kita sama-sama jadi superheronya bunda,” ucap Alzam pada janin kecil itu.
“Iya, Ayah,” sahut Olivia yang menirukan suara anak kecil.
Alzam mendongak menatap wajah sang istri yang terlihat semakin membengkak. Keduanya pun saling melempar senyum, dan Alzam kembali asik bercengkerama dengan calon buah hatinya.
Bulan lalu saat pemeriksaan rutin, dokter telah memberitahukan bahwa anak yang dikandung Olivia adalah laki-laki. Keduanya terlihat sangat senang, meski baik Alzam ataupun Olivia tak terlalu memikirkan jenis kelamin sang anak. Bagi mereka, mau itu perempuan ataupun laki-laki, mereka akan tetap menyayanginya dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Namun karena berita ini, Papah Abi yang biasanya tak terlalu peduli dengan hal -hal kecil seperti keperluan bayi, kini justru setiap hari selalu mencari benda yang bisa melengkapi ruangan bayi yang dia siapkan di rumahnya, khusus untuk cucu pertama.
Sejak dulu dia memang selalu menginginkan anak laki-laki. Hanya saja karena Mamah Ros yang sempat mengalami baby blues membuat pria paruh baya itu urung meminta anak lagi dari sang istri. Hingga akhirnya, dia mendengar bahwa putrinya tengah mengandung bayi laki-laki, dan sontak membuatnya menjadi seantusias ini.
Dia menghendaki Olivia dan Alzam untuk tinggal lagi di rumah keluarga Abimana setelah Olivia melahirkan. Karena bagaimana pun, mengurus anak sendirian, terlebih sambil mengurus rumah, pasti akan membuat perempuan stress dan rentan mengalami baby blues seperti yang dialami Mamah Ros dulu.
Meskipun dia tahu bahwa Alzam tak mungkin membiarkan hal itu terjadi, akan tetapi keinginan untuk dekat dengan cucunya menjadi salah satu alasan bagi Papah Abi meminta hal tersebut.
Alzam yang memang adalah pemuda baik dan memiliki kepekaan tinggi pun, tak bisa menolak keinginan dari sang mertua. Namun, tidak lantas dia akan tetap tinggal di sana selamanya, melainkan dia meminta waktu, setidaknya hingga dia berhasil membangun sebuah rumah kecil untuk keluarganya
Pada saat itulah, Alzam akan membawa Olivia serta anaknya untuk kembali tinggal mandiri.
Papah Abi sangat tau sifat Alzam yang memiliki harga diri tinggi. Sehingga dia pun tak bisa melarang keinginan pemuda tersebut.
...☕☕☕☕☕...
Di suatu tempat lain, pada malam hari, nampak seorang pemuda yang sedang duduk di salah satu sisi teras sebuah bangunan. Selain dirinya, ada banyak lagi pemuda yang duduk-duduk di sana sambil bercengkerama satu sama lain.
Namun, hanya dia sendiri yang memilih untuk menyingkir dan menikmati segelas wedang bajigur di depannya.
“Alhamdulillah, malam ini nggak jadi ujan yah,” ucap si ketua Padepokan pemuda hijrah.
“Ehm... Emang tadi di sini mendung ya?” tanya orang yang sejak tadi mengasingkan diri, Leon.
“Cuma mendung doang sih. Nggak sampe gerimis,” ucap sang ketua sambil menatap wajah Leon.
Seketika, pemuda itu paham apa maksud ucapan dari sang ketua Majelis taklim. Dia pun tersenyum getir sambil meneguk bajigurnya.
“Gue nggak secengeng itu sampe harus nangis kali,” sanggah Leon.
“Ana faham, kalo Ente nggak bakalan nangis kek cewek. Cuma, wajah Ente bener-bener keliatan lagi galau. Coba cerita sama seseorang, kali aja ada yang bisa kasih masukan gitu. Dari pada Ente ngelamun, yang ada bisa-bisa malah dibisikin sama setan lho entar,” sahut sang ketua Majelis taklim.
Mendengar perkataan dari pemuda tersebut, Leon pun terkekeh dan kembali meneguk minumannya.
__ADS_1
Dia meraih kacang rebus yang ada di depan, dan mulai mengupas kulitnya satu persatu, dan memasukkan bijinya ke dalam mulut.
“Cerita gue kurang berbobot, Bro. Gue nggak yakin kalo elu juga minat dengernya,” ucap Leon
“Belum tentu. Kadang cerita receh menurut kita, justru ternyata sebuah ungkapan hati yang menyakitkan buat orag lain lho,” sahut pemuda itu.
Terdengar helaan napas dalam dari mulut Leon. Pemuda tersebut terus saja memasukkan biji kacang tanah rebus ke dalam mulutnya, hingga di genggamannya sudah tak bersisa.
“Kamarin-kemarin, hidup gue kacau banget, Bro. Hoby gue gila. Dugem, mabok, mainin hati cewek. Pokonya, brengs*k deh gue,” ucap Leon mengawali ceritanya.
Dia pun menceritakan seburuk apa kehidupannya sebelum bergabung dengan majlis taklim ini. Saat ini, pemuda tersebut seolah benar-benar butuh seseorang untuk mendengarkan kegundahan dalam hatinya.
Sesuatu yang selama beberapa bulan ini terus mengganjal di pikirannya, yang bahkan membuatnya enggan lagi berhubungan dengan segala macam bentuk maksiat yang dulu selalu menjadi temannya.
Jika bukan karena Alzam dan Olivia, mungkin Leon tak tahu bagaimana jalan ke pengajian. Tak tahu bagaimana buruknya kehidupan masa lalunya. Dia bahkan sekarang benar-benar malu pada dirinya sendiri, saat menyadari betapa sia-sianya waktu yang selama ini dia habiskan dengan hal tak berguna.
Terlebih saat bayangan seseorang terus muncul dan seolah menjadi alarm baginya, saat dia khilaf dan hampir kembali ke kebiasaan buruknya di masa lalu.
“Apa dia seseorang yang Ente taksir?” tanya si ketua Majelis taklim.
Leon diam. Dia pun awalnya tak pernah bermaksud serius dengan gadis yang selalu membayanginya itu. Tapi entah sejak kapan, dia seolah merindukan sesuatu yang hanya ada pada dirinya. Rasa tenang dan damai, setiap kali dia bersama dengan gadis itu.
Sang ketua Majelis taklim pun lalu menepuk pundak Leon.
“Percayalah, laki-laki baik akan mendapatkan perempuan yang baik pula. Ana lihat Ente ini pemuda yang baik. Buktinya, Ente mau hijrah dan berenti dari kebiasaan buruk Ente. Bisa jadi, Ente sama ana tuh ternyata lebih baik Ente di mata Allah. Kita nggak bisa nilai diri kita sendiri apa lagi nilai orang lain. Percaya aja sama apa yang kita lakuin. Selama itu baik, InsyaAllah, semua juga akan berakhir baik pula,” ucap sang ketua Majelis taklim.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁