
"Nak, besok kamu ada di rumah, kan?", tanya Bu Ratmi sesaat setelah Abimanyu mengecup punggung tangannya sebelum pergi ke kantor.
"Ya, kenapa, Bu?"
Bu Ratmi tersenyum, "Besok ada tamu spesial yang akan datang. Ibu mengundangnya untuk makan siang bersama kita di rumah. Ibu harap kamu bersedia menemuinya", terang Bu Ratmi.
Abimanyu mengulas senyum tipis dan tanpa bertanya lagi dia menganggukkan kepalanya.
Bu Ratmi tersenyum senang, ia menatap kepergian putranya dengan hati bahagia.
.
.
Hari ini pekerjaan Abimanyu cukup banyak. Dia harus memimpin tiga meeting penting dengan klien.
"Bi, ini berkas yang kamu minta untuk skema kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan X", Jessi datang menghampiri Abimanyu yang tampak sibuk berkutat di depan laptopnya.
"Oh, iya, terimakasih banyak, Jess", jawab Abimanyu tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari layar.
"Ya", jawab Jessi pendek. Kakinya segera melangkah ke luar, meninggalkan Abimanyu yang tidak mengacuhkannya.
"Hmm...pekerjaan memang lebih menarik buatmu, ya. Aku iri", gumam Jessi setelah ia berada di luar ruangan.
Kejadian beberapa waktu lalu saat Jessi mengungkapkan perasaannya kepada Abimanyu masih terekam dengan jelas. Di satu sisi ia bisa menerima keputusan lelaki baik hati itu, tapi di sisi lain nyatanya Jessi cukup kesulitan untuk benar-benar bisa mengondisikan hatinya.
"Ah, sudahlah, Jessi. Move on so hard", gumamnya lagi dan memilih berlalu untuk segera kembali ke ruangannya.
.
.
Hari Sabtu pagi
Abimanyu selesai menyegarkan dirinya setelah selepas subuh ia jogging dan berolahraga ringan di rumah.
Beberapa pegawai catering ibunya tampak sibuk berseliweran menata berbagai macam menu di meja makan dan ruang tamu.
"Bukan sekedar tamu spesial, tapi tampaknya yang akan datang adalah tamu agung", bisik hati kecil Abimanyu.
Ia duduk di ruang keluarga setelah mencomot beberapa potong cake buah yang di sajikan di ruang tamu.
"Eh, kok ambil start duluan", Bu Ratmi datang membawa dua cangkir teh hangat.
"Maaf, Bu, Abi lapar. Cake ini tampilannya saja sudah begitu menggoda", jawab Abimanyu sebelum memasukkan cake buah itu ke mulutnya.
__ADS_1
Bu Ratmi tersenyum, ia duduk di samping putra kesayangannya.
"Nak, ibu mau tanya sesuatu, boleh?"
"Tentu saja, Bu. Aku jawab kalau bisa", ujar Abimanyu santai.
Bu Ratmi tersenyum tipis, ia menarik nafas sejenak, "Ibu tidak pandai berbasa-basi, Nak. Ibu mau tanya, kapan kamu berencana untuk menikah?".
Uhuk...uhuk....uhuk
Abimanyu tersedak. Bu Ratmi segera memberikan secangkir teh hangat yang tadi ia sajikan di meja.
"Ya ampun, ibu minta maaf, pertanyaan ibu mengejutkanmu", Bu Ratmi mengelus punggung putranya.
Setelah Abimanyu bisa mengendalikan dirinya, ia menatap sang ibu.
"Tak apa, Bu. Aku yang terlalu bersemangat menyantap cake ini", Abimanyu beralasan meski ia tahu sang ibu sudah paham dengan pertanyaannya yang mengejutkan itu.
"Apa ibu sudah ingin memiliki seorang menantu?", Abimanyu balik bertanya.
Bu Ratmi tersenyum tipis, "Tentu saja. Ibu mana yang tidak ingin melihat putranya menikah, memiliki istri, dan memberikan cucu? usia ibu semakin tua, terkadang ibu berpikir punya kesempatan atau tidak untuk melihatmu berumahtangga".
Abimanyu memegang tangan sang ibu, "Tuhan pasti memperkenankan ibu melihat Abi menikah. Do'akan Abi ya, Bu. Bukan hal mudah bagi Abi untuk mencari pendamping hidup".
Abimanyu tersenyum tipis, sejenak ingatannya melayang pada sosok Anika tapi ah, dia berusaha melupakan sosok it karena sudah jelas Anika adalah milik orang lain.
"Tidak ada, Bu", jawab Abimanyu pendek.
"Oh begitu. Nak, ibu tidak bermaksud memaksa atau menentang pilihanmu jika kamu sudah punya pilihan. Tapi sekiranya belum ada seseorang yang dekat denganmu dan kamu tidak keberatan, maukah kamu ibu jodohkan?", lagi, Bu Ratmi bicara dengan sangat hati-hati.
Abimanyu terdiam sejenak. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Mendengar ucapan sang ibu, satu sisi hatinya terenyuh, dia paham maksud perkataan ibunya, tapi di sisi lain Abimanyu pun bingung harus merespon bagaimana.
"Bu, ibu adalah orang yang paling mengenal Abi. Terkait perjodohan yang ibu bicarakan, Abi tidak punya alasan untuk menolak. Abi percaya, siapapun yang ibu pilihkan untuk Abi, sudah pasti yang terbaik", jawab Abimanyu bersungguh-sungguh.
Bu Ratmi tersenyum senang, ia mengelus kepala putra kesayangannya.
"Assalamualaikum", terdengar suara seseorang datang.
"Waalaikumusalam. Nak, sepertinya tamu yang kita tunggu-tunggu sudah datang. Ayo kita sambut", ajak Bu Ratmi.
Abimanyu menganggukkan kepalanya dan berjalan mengiringi sang ibu.
"Selamat siang, Bu", sapa seorang wanita yang kini sudah berdiri di depan Bu Ratmi dan Abimanyu. Ia mencium punggung tangan sang tuan rumah.
Wanita itu tampak anggun mengenakan dress panjang warna biru bermotif bunga-bunga yang ia kombinasikan dengan jilbab warna senada.
__ADS_1
"Selamat siang, Nak. Ayo masuk", ajak Bu Ratmi ramah.
"Terimakasih", jawab wanita itu ramah. Ia melirik sedikit ke arah Abimanyu dan tersenyum tipis.
Abimanyu masih tertegun di tempatnya. Ternyata tamu spesial yang ibunya bilang adalah Anika.
"Silahkan duduk dulu, Nak. Ibu mau ambil minum sebentar ya. Oh ya, Abi, duduk, temani tamu kita", Bu Ratmi menatap putranya yang masih tertegun di samping pintu.
"Oh, i...iya, Bu", jawab Abimanyu gelagapan.
Ia segera mendudukkan dirinya di sofa seberang Anika. Suasana berubah kaku. Abimanyu tidak tahu harus bicara apa.
"Apa kabar, Bi? kedatanganku ke sini pasti mengejutkanmu, ya", Anika membuka suara.
"Kabarku baik, bagaimana denganmu? ya, sangat mengejutkan. Terakhir kali kita bertemu sekitar dua bulan lalu ya di pernikahannya Jaka dan Laras", respon Abimanyu.
Anika menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Kabarku baik. Ya, memang sudah cukup lama kita tidak bertemu".
Dari balik dinding ruang keluarga, sayup-sayup Bu Ratmi mendengar percakapan kaku antara Abimanyu dan Anika. Dia hanya bisa tersenyum dengan keadaan itu.
Suasana hening. Hanya sekilas percakapan pembuka saja yang terjadi antara Anika dan Abimanyu. Kini keduanya kembali larut dalam pikirannya masing-masing.
"Lho, kok pada diam begini? ayo, dicicip hidangannya", kedatangan Bu Ratmi membuyarkan kesunyian antara Abimanyu dan Anika.
Kedua tergelagap. Anika menerima tawaran Bu Ratmi bahkan keduanya kini tampak asyik berbincang kecil. Bu Ratmi menanyakan perkembangan butik dan konveksi milik Anika. Sementara Abimanyu, dia memilih menjadi penonton saja, menikmati keakraban wanita yang pernah ia cintai dengan sang ibu.
"Oh ya, Bu, hampir saja saya lupa. Ini ada sedikit bingkisan yang saya bawa untuk ibu", Anika menyerahkan paper bag yang ia bawa.
"Aduh, kok jadi bawa bingkisan segala. Terimakasih", jawab Bu Ratmi menerima dengan bahagia bingkisan itu.
Anika tersenyum ramah, "Hanya sedikit saja kok, Bu. Semoga ibu dan Abimanyu menyukainya", ujar Anika lagi sambil melirik sedikit ke arah Abimanyu yang tersenyum kepadanya.
"Terimakasih", ucap Abimanyu.
Anika menjawabnya dengan anggukan kepala.
Selepas perbincangan kecil itu usai, Bu Ratmi mengajak Anika dan Abimanyu untuk menikmati santap siang bersama.
Ada lebih dari sepuluh menu istimewa yang sengaja Bu Ratmi siapkan hari ini.
"Ayo, dinikmati makan siangnya. Ibu mau Nak Anika juga Abi makan yang banyak ya karena ini spesial ibu masak untuk kalian. Jangan sungkan", Bu Ratmi dengan penuh keramahan dan kehangatan menjamu Anika.
Suasana makan siang bersama berjalan dengan baik. Kekakuan sebelumnya perlahan mencair tatkala Bu Ratmi berhasil mengakrabkan kembali Anika dan putranya.
__ADS_1