CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Diskusi


__ADS_3

“Shiiiittttt!” umpat Nathan saat kopi itu menyiram bajunya.


Kemeja biru mudanya berubah hitam seketika, saat cairan kopi kental itu sengaja di tumpahkan di sana.


“Oh, sorry, Bro. Sorry. Gue nggak lihat ada orang tadi... Soalnya yang gue lihat lu tuh bajingan,” ucap Leon yang dilanjutkan dalam hati.


Leon nampak mengelap baju Nathan dengan sesuatu, akan tetapi alih-alih membersihkan, dia justru meratakan nodanya agar semakin melebar. Nathan yang kesal pun menepis tangan Leon dan pergi dari sana dengan kesal.


Nathan terus mengipas-ngipasi bajunya yang basah dan menuju entah kemana. Melihat targetnya pergi, Leon pun melepas maskernya dan melambai ke arah Olivia.


Dia mengacungkan ibu jarinya tanda semua selesai dengan baik, dan membuat Olivia keluar dari persembunyiannya.


Gadis itu menoleh ke arah perginya Nathan, dan mengajak sahabatnya segera menuju ke kelas.


...☕☕☕☕☕...


Jam sebelas lebih lima belas menit, Olivia baru saja selesai mengikuti kuliah keduanya. Masih ada satu mata kuliah lagi selepas jam makan siang.


Dia memutuskan untuk pergi ke caffe di dekat kampus bersama Leon, tepatnya caffe yang dulu dia datangi dengan Alzam sebelum mereka menikah.


Dia ingat dengan jelas bahwa dia pernah menampar sang suami di sini, karena meragukan keperawanannya. Namun, sekarang dia tak peduli lagi akan hal itu, karena baginya saat ini Alzam telah berhasil ia dapatkan.


Sesampainya di sana, Olivia dan Leon masing-masing memesan minuman serta camilan untuk teman mengobrol mereka. Olivia ingat akan tugas lapangan mereka yang masih belum sempat didikusikan kemarin, karena suasan hatinya kacau akibat kedatangan Nathan yang tiba-tiba ke rumahnya.


Dia lalu meminjam laptop Leon dan mulai memasukkan flashdisk ke lubang USB driver nya. Gadis itu pun mengetik sesuatu di sana, dan beberapa saat kemudian, dia memutar laptop tersebut menghadap ke arah Leon.


“Lu lihat, di sini ada pertanyaan sekaligus hasil wawancara kita kemarin. Berdasarkan masalah yang muncul, ini bisa di klasisfikasikan ke dalam dua kelompok,” jelas Olivia panjang lebar.


Meskipun Leon selalu hidup bebas dan senang hura-hura, serta memiliki banyak sekali skandal akibat hubungan satu malam dengan para wanita, akan tetapi jika sudah berbicara mengenai masalah ekonomi dan bisnis, sudah tak diragukan lagi bagaimana seriusnya dia.


Begitu pun Olivia yang memang sudah disiapkan oleh Papah Abi untuk menjadi penerus perusahaan sang ayah selanjutnya,mengingat dirinya adalah anak tunggal. Abimana sudah sering mengajak putrinya berdiskusi perihal masalah perusahaan, sehingga Olivia pun sedikit banyak paham dan bisa mengerjakan pekerjaan para profesional.


Keduanya selalu terlihat berdiskusi dengan serius, setiap kali menjadi teman satu kelompok dalam mengerjakan tugas.


Papah Abi dan Tuan Agung, awalnya ingin menjodohkan keduanya, mengingat betapa dekatnya mereka berdua. Akan tetapi, gaya hidup Leon yang selalu berpikir praktis dan tak mau diatur, membuat Tuan Agung tak terlalu menganggap serius perkataan tersebut, dan membiarkan kedua anak itu yang menentukan jodoh mereka.


Hingga saat Papah Abi mengatakan bahwa Olivia mempunyai pemuda pilihannya sendiri, Tuan Agungpun tak keberatan dan justru dengan senang hati menghadiri acara pernikahan tersebut.


Saat mereka sedang berada di tengah diskusi, tanpa di sadari camilan kentang goreng yang mereka pesan pun hampir habis tiga porsi, sebuah dering telepon membuat keduanya menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


Ponsel Olivia menyala dan muncul nama seseorang, yang membuat gadis itu menghentikan sahabatnya saat mengungkapkan pendapat.


“Lu diem dulu. Suami gue nelpon,” seru Olivia sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya yang mengerucut.


“Elah! Segitunya banget deh. Palingan juga mau ingetin jangan lupa makan siang,” gumam Leon.


Olivia yang masih bisa mendengarnya pun melotot ke arah sang sahabat. Dia kemudian menggeser tombol hijau ke kanan, dan menempelkan benda tersebut ke depan telinganya.


“Assalamu’alaikum, Mas Al,” sapa Olivia, dengan wajah yang dibuat manis semanis gula biang.


Leon yang melihat hal itu pun menjulurkan lidah, seolah sedang menirukan orang mual. Olivia seketika melepar sebuah kentang goreng ke wajah Leon, dan membuat pemuda itu membalasnya.


“Diem lu!” seru Olivia tanpa suara.


Dia hanya menggerakkan bibir dengan mata yang melotot ke arah sahabatnya, meminta agar Leon diam saja.


“Waalaikumsalam. Kamu lagi di mana?” tanya orang di seberang, yang tak lain adalah Alzam.


“Aku lagi di caffe bareng Leon. Kita lagi istirahat nih, sambil diskusi tugas lapangan yang kemaren,” jawab Olivia.


“Caffe mana?” Tanya Alzam.


“Oh, yang itu? Ya udah kalo gitu. Assalamualaikum,” ucap Alzam.


“Waalaikumsalam. Mas kamu...,” sahut Olivia.


Panggilan pun dimatikan, bahkan sebelum Olivia selesai berucap. Gadis itu semakin kesal, terlebih saat melihat sahabatnya.


Leon yang sejak tadi terus menirukan gaya bicara Olivia dengan bibir yang dibuat nyinyir, seketika ditimpuk dengan menggunakan sendok oleh gadis tersebut.


“Sakit woi!” keluh Leon.


“Ya lagian elu. Pake acara nyinyirin gue segala,” sahut Olivia.


“Aneh aja liat kelakuan lu yang kek gitu. Eh, BTW, udah sejauh mana perkembangan hubungan lu sama suami lu?” tanya Leon.


“Hubungan kita baik-baik aja,” sahut Olivia.


Gadis itu mengambil sisa kentang goreng di piring dan memakannya. Cemilan saat berpikir, untuk Olivia adalah suatu hal wajib. Jika tidak ada camilan, bisa-bisa otaknya buntu.

__ADS_1


“Lu udah...,” tanya Leo.


Dia bertanya sembari mengacungkan kedua tangannya, membentuk telinga kelinci dengan telunjuk dan jari tengah, sambil menekuk dan meluruskannya, tanda dia ingin mengatakan sesuatu yang disensor.


Olivia menggeleng. Dia kembali mengambil kentang dari atas piring ke tiga mereka yang tersisa beberapa potongan saja.


“Tapi gue liat, dia care banget sama elu. Elunya juga bisa nurut dan manja gitu sama dia,” tutur Leon.


“Ya, mungkin karena kita saling mencintai,” jawab Olivia sekenanya.


Alhasil, kini giliran Leon yang melepar wajah Olivia dengan kentang goreng, karena merasa kesal dengan jawaban sang sahabat.


Dia tahu benar bagaimana mereka akhirnya bersama. Jika bukan karena obsesi Olivia dan ide konyol Leon, Alzam tak mungkin akan menjadi suami sahabatnya itu.


“Kalo gue nggak ikut andil sama kejadian malam itu, gue mungkin mau aja dibegoin sama jawaban lu tadi. Saling mencintai apaan,” sindir Leon.


Sementara Olivia, gadis itu tergelak menertawai kekesalan sahabatnya.


“Sirik aja lu, Yon. Mau gimana pun awalnya, yang jelas sekarang, Mas Al itu udah jadi milik gue, dan gue yakin lama-lama juga dia bakal beneran cinta sama gue,” jawab Olivia dengan penuh percaya diri.


“Terus, setelah dia beneran jatuh cinta sama elu, apa selanjutnya?” tanya Leon kemudian.


Olivia seketika berhenti tertawa. Dia tahu maksud dari pertanyaan sahabatnya itu. Meski bukan pasangan, namun keduanya telah berteman sejak dari kecil. Mereka saling mengerti luar dalam kepribadian masing-masing.


Melihat sang sahabat diam dan tak langsung menjawab, Leon yang sejak tadi menumpukan kedua lengannya di meja, kini mundur dan bersandar di kursi. Dia seolah tahu apa jawaban yang sedang dipikirkan oleh gadis di depannya


Namun, belum sempat Olivia menjawab, tiba-tiba sebuah ketukan dari arah luar kaca jendela besar di samping mereka, membuat keduanya menoleh. Olivia seketika berdiri melihat orang datang menghampiri mereka ke caffe.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2