CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Bincang malam


__ADS_3

Keesokan harinya, Olivia seperti biasa diantar oleh sang suami pergi ke kampus. Dia nampak semakin lengket dengan Alzam, namun tak terlihat menyebalkan seperti sebelumnya. Mungkin karena Alzam pun sudah menerima gadis itu, sehingga dia sudah tak lagi berontak setiap kali Olivia dekat dengannya.


Olivia dengan nyamannya membonceng motor matic Alzam, dan memeluk pinggang sang suami sambil menyandarkan kepala di punggung kekar pemuda tersebut.


Senyum terus saja muncul di bibir Olivia, begitu pun dengan Alzam. Terlebih saat gadis itu mulai menggoda Alzam, pemuda yang sebelumnya malas menghadapi ocehan Olivia, kini justru menganggapnya sebagai sebuah lelucon yang lucu.


Bukan serta merta karena kejadian kemarin  saat Alzam mengutarakan isi hatinya pada sang istri, namun itu sudah berlangsung entah sejak kapan, hingga membuat Alzam merasa bahwa sudah saatnya hatinya menerima Olivia.


Sesampainya di kampus, Olivia tak langsung turun dari motor Alzam. Gadis itu bahkan terus memeluk pinggang sang suami erat-erat.


“Beneran nih nggak mau turun? Kalau nggak mau turun, puter balik aja ikut aku ke kedai,” ucap Alzam.


“Bentar aja sih, Mas. Aku lagi isi daya,” sahut Olivia asal.


Alzam hanya terkekeh mendengar perkataan Olivia. Dia lalu meraih tangan Olivia yang masih erat melingkar di pinggangnya, dan mengusapnya dengan erat.


Dia melihat sebuah cicin yang melingkar di jari manis Olivia, mas kawin yang dulu dia berikan bersama dengan sebuah kalung dan juga gelang. Namun, yang dipakai gadis itu hanya cincin dan yang lain tidak pernah terlihat.


“Kenapa cuma cincin aja yang kamu pake?” tanya Alzam.


Olivia mengangkat kepalanya yang sejak tadi begitu nyaman bersandar di punggung sang suami.


“Maksudnya?” tanya Olivia.


Alzam lalu mengetuk-ngetuk cincin yang ada di jari manis Olivia.


“Ini lho, kenapa yang kamu pake cuma cincinnya aja? Kan aku waktu itu kasihnya sama kalung dan gelang,” tanya Alzam lagi.


“Oh... Karena kamu nggak makein. Kan waktu itu kamu cuma makein cincinnya doang. Lagian juga, kalo dipake semua sekaligus, kayak toko mas berjalan nggak sih, Mas? Norak,” jawab Olivia.


Alzam seketika terkekeh.


“Bener sih. Yang berlebihan itu emang nggak baik. Mending disimpen buat lain waktu,” sahut Alzam.


Olivia pun kembali menyandarkan kepalanya di punggung Alzam. Namun baru saja menempel, seseorang berteriak membuat keduanya menoleh mencari sumber suara.


“Yelah... Penganten basi, lengket amat kek lem. Ini parkiran woi!” teriak seseorang.


“Sirik aja lu. Bilang aja lu iri,” sahut Olivia.


Dia melihat seorang pemuda Yang sangat ia kenal, yang sejak kecil telah menjadi sahabatnya.


“Liv, buruan ke kelas. Udah hampir masuk nih. Hari ini jatah kita buat presentasi,” seru Leon.


“Iya, iya. Bawel banget lu,” keluh Olivia.


Olivia dengan enggan pun akhirnya melepas pelukannya di pinggang Alzam, dan nampak malas turun dari jok motor belakang pemuda tersebut.

__ADS_1


“Mas, Oliv ke kelas dulu yah,” ucap Olivia lemas.


Alzam tersenyum tipis melihat tingkah sang istri, yang menyalami dirinya dengan terpaksa.


“Kamu kuliah yang bener. Nanti siang aku kesini lagi,” ucap Alzam.


“Beneran yah, ntar kamu ke sini lagi,” sahut Olivia senang.


“Iya, kamu baik-baik di sini ya. Jangan nakal,” seru alzam, dengan mencolek hidung sang istri gemas.


Olivia senang sekali hanya dengan membayangkan, akan bertemu lagi dengan sang suami siang nanti.


Rasanya, gadis itu semakin lengket dengan suaminya setelah semalaman mereka mengobrol hingga tertidur.


Alzam ingat betul, semalam mereka yang mulai tidur di atas ranjang yang sama, merasa canggung satu sama lain, hingga tak bisa tidur sampai jam menunjukkan pukul sebelas malam.


Olivia dan Alzam saling memunggungi, dan berpura-pura tidur, meski mata mereka tak kunjung terpejam.


Olivia sesekali melihat ke belakang, hingga suatu ketika Alzam pun tak sengaja juga ikut menoleh dan pandangan keduanya bertemu.


Suasana semakin canggung. Olivia seketika kembali berbalik dan erat-erat memegangi selimutnya.


“Nggak bisa tidur yah?” tanya Alzam.


Pemuda itu merubah posisinya, berbaring terlentang menghadap langit-langit dan mencoba mencairkan suasana. Karena merasa jika seperti ini terus maka hanya akan membuat hubungan terus canggung.


“Sama, aku juga belum bisa tidur. Gimana kalau kita ngobrol. Kali aja nanti bisa ngantuk,” ucap Alzam.


Olivia pun berbalik dan melihat sang suami yang sudah memandangi dirinya dari tadi. Dia pun ikut berbaring melihat ke langit-langit kamarnya, dan menarik selimut hingga ke leher.


“Ngobrol apa?” tanya Olivia.


“Apa aja. Ehm... Oh iya, kamu sekarang semester empat akhir kan ya?” tanya Alzam.


“Ehm... Bentar lagi ujian akhir. Tugas presentasi mulai numpuk,” jawab Olivia.


“Kalo ada tugas kelompok, emang sama Leon terus?” tanya Alzam.


“Nggak juga sih? Tapi seringnya emang sama dia. Aku nggak punya banyak temen,” jawab Olivia.


“Ehm... Iya sih, bisa ketebak,” sahut Alzam.


“Maksudnya?” tanya Olivia.


Gadis itu memicingkan matanya melihat Alzam, yang nampak menahan senyum saat mengucapkan perkataannya tadi.


“Ya, kalau Leon kan udah kenal kamu dari kecil, jadi pasti dia udah kebal ngadepin sikap kamu yang nyebelin itu,” jawab Alzam.

__ADS_1


“Iiihhhh! Mas Al kok ngomongnya gitu? Jahat banget,” gerutu Olivia.


Gadis itu memukul sang suami dengan boneka yang ada di samping kiri dan kanannya. Namun, Alzam justru terkekeh karena melihat wajah kesal Olivia.


“Emang aku se nyebelin itu apa?” tanya Olivia.


“Hehehehe... Aku cuma becanda. Jujur nih ya, kalo kenal sekilas emang beneran nyebelin, tapi mungkin mereka akan punya pikiran lain kalau kenal kamu lebih dalam,” jawab Alzam.


Olivia masih manyun, dan membuat Alzam gemas lalu mencubit pipi Olivia.


“Udah dong, jangan cemberut lagi,” bujuk Alzam.


“Kalo kamu, Mas? Kenapa deket banget sama Nurul?” tanya Olivia.


“Kalo aku jawab jujur, kamu bakal marah nggak nih?” tanya Alzam balik.


“Maaassss! Ih, nyebelin banget sumpah. Jangan-jangan emang kamu ada apa-apa lagi sama dia. Iya kan?” terka Olivia.


Alzam kembali tergelak karena kecemburuan Olivia terhadap sang sahabat.


“Jangan ketawa! Aku lagi serius nih,” ucap Olivia.


“Hehehe... Iya deh, maaf. Aku sama dia, sama kayak kamu sama Leon. Kita berdua sahabatan udah lama. Sejak di bangku SMA. Kita kebetulan satu ekskul juga, waktu itu aku ikut Rohis di sekolah,” jawab Alzam.


“Sejak SMA? Berarti nggak sama kayak aku sama Leon dong,” sahut Olivia.


“Kenapa?” tanya Alzam lagi.


“Aku sama Leon itu temanan dari kecil, tapi kami sama Nurul ketemu pas udah remaja, pas lagi masa cinta bertebaran dimana-mana. Pasti kalian jaim-jaiman deh. Kalau aku sama Leon, udah lihat konyol kita masing-masing. Telanjang bareng waktu kecil juga pernah,” sahut Olivia.


“Kalau telanjang bareng suami, gimana?” tanya Alzam.


Olivia seketika membola mendengar pertanyaan dari sang suami. Wajahnya mendadak merona dan langsung sembunyi di bawah selimut.


“Mas Aaaaaaal, mesum!” pekik Olivia.


Alzam semakin tergelak melihat sang istri yang malu, dan menyembunyikan wajah meronanya.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2