
Keesokan harinya, Alzam menjemput Olivia di kampus, sekalian memastikan rencana mereka mengajak Leon untuk datang malam minggu ini ke tempat yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh sang sahabat.
Meski ragu dan penuh tanda tanya akan rencana yang disusun oleh sepasang suami istri itu, akan tetapi melihat pribadi Alzam, tidak mungkin mereka akan melakukan hal yang merugikan dirinya, sehingga dia pun akhirnya mau mengikuti rencana mereka.
Saat di tengah jalan, Alzam berhenti di depan sebuah toko gamis ternama, bercat ungu yang ada di tepi jalan.
“Ngapain kita ke sini, Mas?” tanya Olivia.
“Beli baju buat kamu. Kan kita mau bantuin Ibu di pengajian. Masuk yuk,” ajak Alzam.
Perempuan itu pun menurut dan mengikuti sang suami masuk ke dalam toko pakaian tersebut.
Ada banyak model pakaian gamis bermacam corak dan warna, berderet rapi di etalase. Alzam masuk dan memilih salah satu untuk sang istri, lengkap dengan jilbabnya.
Pilihannya jatuh kepada sebuah gamis berbahan katun, dengan warna biru muda berpadu dengan mocca, serta jilbab instan berwarna senada. Dia mengambilnya dari etalase dan menempelkan ke badan sang istri.
“Coba deh di dalem,” seru Alzam.
Olivia meraihnya dengan ragu-ragu. Dia melihat pakaian yang belum pernah ia pakai sebelumnya.
“Harus banget yah pake beginian?” tanya Olivia.
“Kamu kan menantu Ibu, dan baru kali ini kamu muncul di depan teman-teman pengajian Ibu. Jadi, aku cuma pengin kamu tampil cantik di depan semua orang. Nggak mau yah?” jawab Alzam.
Mendengar perkataan Alzam, membuat Olivia bersemangat dan segera masuk ke kamar pas untuk mencoba pakaian yang dipilihkan suaminya.
Beberapa saat kemudian, Olivia berbicara dari dalam kamar ganti dan enggan untuk keluar.
“Mas, kok aku ngerasa aneh yah?” ucap Olivia.
“Aneh kenapa? Nggak pas yah? Apa nggak nyaman? Bahannya panas atau gimana?” tanya Alzam penasaran.
“Ehm... Gimana yah? Aneh aja,” sahut Olivia dari dalam.
“Coba keluar dulu. Biar aku lihat anehnya dimana,” seru Alzam.
“Nggak ah. Malu,” tolak Olivia.
“Ya udah, aku aja yang masuk,” sahut Alzam.
Pemuda itu pun masuk ke dalam dan betapa kagetnya dia saat melihat sang istri yang sudah berganti pakaian.
“MasyaAllah... Ini istriku?” tanya Alzam dengan mata membola.
__ADS_1
“Tuh kan. Kamu juga ngerasa aneh kan,” sahut Olivia.
Alzam maju dan mengulurkan tangan menangkup kedua pipi sang istri. Dia mencoba melihat dengan jelas bagaimana penampilan sang istri dari atas hingga bawah dan kembali lagi ke atas.
“MasyaAllah... Cantik banget istriku,” puji Alzam.
Olivia tersipu mendengar pujian dari sang suami, sementara dirinya sendiri masih belum nyaman berpakaian seperti saat ini.
Alzam meraih kerudung yang masih tersampir di hanger, dan memakaikannya di kepala sang istri. Betapa takjubnya pemuda tersebut melihat penampilan Olivia yang jauh berbeda dari biasanya.
Entah kenapa, setiap kali melihat sang istri menutup auratnya, hati Alzam selalu berdesir, seolah ada yang menggelitiki di sana hingga tubuhnya bergetar.
Olivia tertunduk karena ditatap begitu dalam oleh sang suami. Dia malu. Dia belum percaya diri untuk memakai pakaian setertutup itu.
Alzam meraih dagu istrinya, dan mengangkat wajah perempuan itu.
“Kamu cantik banget, Liv. Aku sampe nggak bisa berkata-kata,” ucap Alzam.
“Jangan puji terus dong. Aku aja nggak pede,” sahut Olivia.
Alzam kemudian menarik istrinya keluar, dan menghadapkannya ke depan cermin besar yang bisa memantulkan seluruh tubuh.
“Kamu lihat diri kamu sendiri. Masih belum percaya kalau kamu cocok banget pake gamis dan kerudung?” ucap Alzam.
Perempuan itu memandangi dirinya di cermin. Benar-benar berbeda dari sebelumnya. Dia bahkan tak bisa mengenali wajah kalem dan terlihat polos itu.
“Ini beneran aku, Mas?” tanya Olivia.
“Kamu aja kaget, apa lagi aku,” sahut Alzam.
“Muka sama, tapi kok kek orang lain ya? Beda banget kek bukan aku,” ucap Olivia.
Alzam mendekat dan berdiri di belakang sang istri. Dia ikut memperhatikan pantulan diri mereka.
“Ini tetap kamu kok. Yang nampak di luar, hanya untuk menutup aurat dan melindungi diri dari pandangan kaum laki-laki. Tapi aku percaya, yang di dalam sini tetaplah istriku. Olivia, si gadis pintar yang selalu ingin belajar,” ujar Alzam.
Olivia masih sibuk menatap dirinya sendiri. Dalam hati, dia membenarkan bahwa apa yang dikatakan Alzam adalah benar. Dia terlihat cantik saat memakai pakaian itu. Akan tetapi, dia takut jika dia masih belum bisa konsisten dalam berpenampilan. Terlebih ini terlalu mendadak.
Tiba-tiba, Alzam menepuk pundak sang istri yang terlihat malah melamun di depan cermin.
“Mau di lepas lagi atau pake sekalian?” tanya Alzam.
“Emang kalau pake begini bisa bonceng motor?” tanya Olivia.
“Bisa dong. Kamu bonceng miring, sambil peluk pinggang aku erat-erat,” jawab Alzam dengan seringai nakal.
__ADS_1
“Heemmm... Masih aja cari kesempatan,” sahut Olivia.
Alzam terkekeh mendengar sindiran dari sang istri. Sementara Olivia hanya tersenyum melihat tingkah suaminya, yang seolah begitu senang melihatnya berhijab dan memakai gamis.
“Aku pakai langsung aja deh biar nggak usah ribet ganti-ganti lagi. Waktunya juga udah mepet kan?” tanya Olivia.
Alzam mengangguk. Dia pun kembali masuk ke dalam kamar ganti dan mengambil pakaian yang tadi dilepaskan oleh sang istri dan membawanya ke kasir.
Sementara Olivia, perempuan itu berjalan sambil menunduk, mengikuti langkah sang suami.
Setelah membayarkan pakaian sang istri, Alzam dengan Olivia keluar dan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Ibu Aminah.
Setibanya di sana, sudah nampak kursi-kursi yang berjejer di depan teras, karena sengaja dikeluarkan agar bisa menampung jamaah pengajian yang akan datang.
Alzam memarkirkan motornya di halaman, dibawah rindangnya pohon mangga, dan menggandeng sang istri untuk masuk.
Saat baru saja melangkah di teras rumah bercat putih tersebut, jelas terlihat kesibukan di dalam sana yang sedang menata karpet dan bolak balik ke dapur sambil membawa beberapa benda.
Alzam dan Olivia melangkah masuk dan menyapa semua penghuni rumah.
“Assalamu’alaikum,” salam Alzam dan Olivia bersama-sama.
“Waalaikumsalam,” jawab yang lain serempak.
Mereka menoleh dan melihat kedatangan Alzam, dengan seorang perempuan berpakaian tertutup dan juga berhijab. Kanina yang saat itu sedang mengelap karpet, yang akan digunakan untuk alas duduk jamaah, bangun dan menghampiri sang kakak.
Dia menyalami Alzam, namun matanya terus melirik dan memperhatikan perempuan di samping pemuda tersebut.
“Hai, Ina. Lupa ya sama aku?” tanya Olivia.
Mendengar nada bicara itu, Kanina sontak membulatkan matanya dan menatap lekat wajah perempuan tersebut. Dia memperhatikan dengan kening berkerut, dari ujung atas hingga bawah dan kembali lagi ke atas.
“Ini Kak Oliv?” tanya Kanina tak percaya.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
Hai bestie, sambil nunggu next bab besok, mampir ke novel karya temen aku yuk 👇
__ADS_1