CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Episode 14


__ADS_3

Satu bulan berlalu, usaha catering Bu Ratmi berkembang dengan cepat. Jaka dan Laras benar-benar membantu promosi catering tersebut ke teman-teman dan sanak saudara mereka.


"Gimana Bu perkembangan usahanya?", tanya Abimanyu. Akhir pekan ini dia sempatkan untuk mengunjungi tempat usaha sang ibu.


"Alhamdulillah, Nak, ibu gak nyangka usahanya bisa berkembang secepat ini. Ibu harus banyak berterimakasih sama kedua temanmu, Jaka dan Laras", ucap Bu Ratmi sumringah.


Suasa di tempat usahanya setiap hari selalu sibuk dengan aktivitas memasak, mengemas, dan mengirim banyak pesanan.


"Bu mohon maaf, siang ini semua kendaraan operasional masih di luar semua karena ada beberapa pesanan jarak jauh. Ini catering untuk Konveksi Pelangi bagaimana ya, Bu?", seorang pegawai datang menghampiri Bu Ratmi yang tengah berbincang dengan Abimanyu.


"Oh gitu. Coba kamu cari kendaraan umum untuk kita sewa", usul Bu Ratmi.


"Lokasi konveksinya di mana, Mas? biar saya yang antar", tawar Abimanyu spontan.


Bu Ratmi menatap sang putra, "Kamu yakin mau antar cateringnya? ini banyak lho, Nak".


"Tak apa, Bu. Biar kali ini Abi bantu ibu ya. Ayo Mas, tunjukkan saya alamat dan cateringnya sekalian minta tolong dimasukkan ke mobil saya ya", Abimanyu berjalan bersama pegawai catering itu.


"Ini Mas Abi alamat konveksinya".


"Ok, makasih, Mas. Mas ikut saya ya antar ke sana".


"Siap, Mas. Oh ya, panggil saya Andi aja, Mas. Gak enak saya dipanggil Mas juga sama putra Bu Bos", ujar Andi malu-malu.


"Mas Andi ini bisa aja. Harusnya Mas Andi yang panggil saya Abi. Saya lebih nyaman dipanggil begitu, Mas", timpal Abimanyu.


Andi pun tersenyum. Tak butuh waktu lama, mobil Abimanyu meluncur mengantarkan catering pesanan Konveksi Pelangi.


Butuh waktu dua puluh menit saja untuk sampai ke lokasi tujuan.


"Siang, Pak. Maaf mau bertemu siapa?", tanya seorang satpam berpapan nama, Aryo.


"Ini Mas, saya dari Catering Bu Ratmi mau antar makanan", jawab Abimanyu cepat.


"Oh iya, silahkan Mas. Mas bisa langsung masuk lewat pintu samping", tunjuk Pak Aryo.


"Baik, terimakasih banyak, Pak".


Mobil Abimanyu menuju ke arah yang ditunjuk Pak Aryo. Ada dua orang pegawai yang sudah menunggu kedatangan mereka. Satu per satu box catering diturunkan dari mobil.


"Mas, saya izin sebentar ya untuk menemui pemilik catering. Saya mau menyerahkan tanda bukti pengiriman dan pembayaran", pamit Mas Andi.


Abimanyu menjawab dengan anggukkan. Dia memilih duduk di dalam mobilnya, mendengarkan alunan musik klasik favoritnya.


Tak lama, Andi sudah kembali. Dia terlihat membawa sebuah amplop berisi tanda bukti penerimaan barang.


"Maaf Mas jadi menunggu saya", ujar Andi saat memasuki mobil.


"Tak apa, Mas. Sudah selesai semua? kalau sudah kita kembali ke toko ya".

__ADS_1


"Sudah, Mas".


Mobil Abimanyu kembali meluncur, meninggalkan lokasi.


.


.


"Permisi, Bu, makan siangnya sudah datang".


"Oh iya, seperti biasa ya, Pak, tolong istirahatkan semua karyawan".


"Baik, Bu".


"Nik, kamu gak ikut istirahat? dari tadi aku lihat kamu berkutat terus di depan laptop", Laras menyeruput jus alpukat yang tadi dia beli sebelum mampir ke Butik Pelangi milik Anika.


"Iya, Ras. Nanggung nih, orderan lagi banyak banget", jawab Anika tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


"Ck, nanggung sih nanggung. Tapi kesehatan dan urusan perut tetap harus diperhatikan. Istirahat gih, makan kek", protes Laras lagi.


Ya, hari ini dia sengaja datang ke Butik Pelangi untuk fitting baju resepsi yang dia pesan.


"Huuffttt iya, aku lelah sekali", akhirnya Anika menyandarkan dirinya ke sandaran sofa yang tengah di duduki Laras.


"Iya makanya jadi orang jangan terlalu gila kerja, Nik. Mending gila cari calon suami baru", seloroh Laras asal.


Anika melemparkan bantal sofa yang ada di dekatnya.


"Hhh ... gak gampang, Ras buat cari pasangan lagi", Anika memijit dahinya yang terasa pusing.


"Iya, aku tahu, Nik. Tapi mau sampai kapan kamu menyendiri begini? ini udah setahun lebih lho kamu gini terus", Laras memalingkan tubuhnya menghadap Anika.


Anika hanya diam. Ia menutup kedua matanya, ada sesak di dadanya tapi ada juga rasa lega karena ikatan yang menyiksa itu akhirnya putus juga.


"Sorry deh Nik kalau ucapanku salah", Laras jadi merasa tidak enak hati karena Anika tidak meresponnya.


"Tak apa, Ras. I'm fine. Pernikahanku memang gak bahagia sama Rendra. Mungkin itu terjadi karena sedari awal aku gak pernah benar-benar menerimanya dan sulit untuk bisa mencintainya. Dia gak sepenuhnya salah", jawab Anika lirih dengan tatapan menerawang.


Laras memeluk Anika erat. Dia tahu meski tak ada cinta di hati sahabatnya itu untuk Rendra, tapi Anika pasti sedih karena kegagalan rumahtangganya. Terlebih Anika pernah bercerita betapa kecewanya kedua orangtuanya saat tahu Anika lebih memilih untuk bercerai dari Rendra.


"Kamu yang kuat ya, Nik", ucap Laras lirih.


"Pasti, Ras. Udah ah jangan melow gini. Kita makan siang yuk", ajak Anika. Dia mulai membuka box catering di depannya.


"Yummiii ... aku tuh selalu suka sama cateringnya Bu Ratmi ini. Gak tahu kenapa rasanya selalu pas di lidah aku. Kamu pintar Ras kasih rekomendasi catering buat aku", Anika begitu sumringah dan lahap menikmati makan siangnya.


"Siapa dulu dong, Laras. Kalau urusan makanan enak pasti nomor satu", jawab Laras dengan gaya tengilnya. Anika tertawa kecil.


"Kapan-kapan ajak aku ke tempat catering ini dong, Ras. Aku penasaran seperti apa sih menu-menu lainnya? biar aku juga bisa kasih menu berbeda-beda gitu buat semua karyawanku", lanjut Anika.

__ADS_1


"Ok siap. Kalau udah saatnya aku aja deh. Nanti juga di nikahan aku cateringnya punya Bu Ratmi lho, Nik dan nanti beliau juga datang".


"Wah bagus kalau gitu. Bisa dong kamu kenalin langsung Bu Ratmi ke aku".


"Bisa banget. Sip, nanti aku kenalkan sama beliau. Beliau tuh orangnya baik banget, lembut, dan ramah", Laras mendeskripsikan sosok Bu Ratmi kepada Anika.


"Pantesan makanannya juga enak, orangnya baik gitu", puji Anika tidak henti-hentinya.


Di sela-sela makan siang itu sesekali mereka tertawa, menceritakan hal-hal konyol dan lucu dengan berbagai tema.


"Mmm ... Nik, aku boleh tanya sesuatu gak?".


"Boleh, apa tuh?".


"Tapi ini pribadi banget".


"Iya, apa?", Anika memasang wajah serius. Makan siangnya dan Laras sudah selesai.


"Aku kan bentar lagi nikah ya. Soal malam pertama, itu gimana sih Nik? aku kok takut ya. Aku baca beberapa artikel dan nanya ke orang, katanya malam pertama itu sakit. Benar gak sih, Nik?", tanya Laras penasaran tapi dengan wajah kikuk.


Anika tersenyum geli, "Mmm ... gimana ya, Ras. Jujur aku juga gak tahu sih".


"Gak tahu? masa sih? kamu kan udah pernah nikah, Nik".


Anika menarik nafas panjang, "Aku mau kasih tahu satu rahasia sama kamu ya Ras".


"Rahasia apa tuh? malam pertama?", Laras bersemangat.


Anika mengangguk kecil.


"Selama dua tahun aku menikah sama Rendra, dia tidak pernah menyentuhku".


"Hah? serius, Nik? kenapa tuh si Rendra? apa dia gak normal?", berondong Laras penasaran.


Anika menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Enggak gitu, Ras. Itu karena ...".


"Karena apa?".


"Karena aku gak mau. Aku gak bisa menerima dan cinta sama dia, Ras. Aku tahu ini alasan bodoh, tapi masalah hati ternyata berpengaruh banget buat aku", terang Anika.


"Terus Rendra gimana tuh responnya?".


"Ya awalnya dia marah, lalu dia coba ngerti tapi lama-lama dia gak tahan sama aku. Makanya kenapa dia memilih nikah lagi tanpa sepengetahuanku dan setelah aku tahu, aku juga gak bisa menyalahkan dia sepenuhnya. Rendra sebetulnya baik banget sama aku, Ras. Tapi hati aku aja yang susah tuk kasih dia kesempatan. Perceraian kita itu bukan salah dia", lanjut Anika sendu.


Laras menghela nafas mendengar pengakuan Anika. Selama ini Anika tidak pernah bercerita sedalam itu meski mereka sudah bersahabat sangat lama, baru kali ini semuanya terbuka.


"Rendra lelaki normal. Wajar lah kalau dia butuh penyaluran biologis dan aku gak bisa kasih itu karena aku gak mau. Dia gak pernah kasar sama aku dan gak pernah maksa aku juga. Sejujurnya aku merasa bersalah banget sama Rendra. Tapi di sisi lain aku bahagia melihat Rendra sekarang. Istrinya baru saja melahirkan. Perempuan yang sempurna, bukan?", suara Anika bergetar menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


"Aku gak bisa komentar apa-apa, Nik. Aku hargai semua keputusan kamu yang sudah lalu itu. Aku harap ke depannya kamu bisa mendapatkan lelaki yang bisa mencintai kamu dan kamu pun mencintainya", Laras memeluk Anika.


Ya, cerita Anika memang terasa ganjil. Tapi kalau urusan perasaan, siapa yang bisa memaksa? tentu tak ada yang lebih berhak selain diri sendiri.


__ADS_2