
Usai pesta pernikahan, Alzam ikut pulang ke kediaman Abimana Wijaya. Saat itu, hari sudah gelap, karena mereka kembali dari aula warga sekitar pukul setengah enam.
Alzam hanya membawa sebuah tas ransel yang berisikan pakaian ganti. Sesuai arahan sang bunda, dia menyiapkan semuanya di malam sebelumnya, sehingga saat acara selesai, dia bisa langsung pergi bersama dengan keluarga sang istri.
Seorang asisten rumah tangga meraih tas tersebut dan membawanya ke lantai atas, tepatnya ke kamar Olivia yang sekarang akan menjadi kamar mereka berdua.
“Tuan, saya...,” ucap Alzam.
“Papah. Panggil saya Papah mulai sekarang. Kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami mulai sekarang,” sela Tuan Abimana.
“Pa... Papah... Saya mau membersihkan diri dulu di atas,” ulang Alzam.
“Baiklah. Kalian sudah sangat lelah hari ini. Istirahat saja dulu. Biar nanti, Bi Ijah yang akan memanggil kalian saat makan malam sudah siap,” ucap Tuan Abimana.
“Baik, Pah,” sahut Alzam.
Dia kemudian segera naik ke atas, meninggalkan Olivia yang nampak kesulitan berjalan, meski sudah dibantu oleh periasnya.
“Mas, tungguin!” seru Olivia.
Namun, Alzam seolah tak mendengarnya dan terus saja berjalan, hingga menghilang di ujung tangga.
Sesampainya di dalam kamar pengantin, Alzam langsung mengambil sebuah handuk dari dalam tasnya dan satu setel pakaian ganti, kemudian masuk ke kamar mandi.
Namun, dia tak lantas mandi, akan tetapi Alzam berdiam cukup lama di sana. Perasaannya masih tak tenang, saat membayangkan bahwa mulai malam ini dia harus tidur bersama dengan Olivia.
Saat pikirannya berlarian kemana-mana, suara berisik dari luar membuatnya kembali tersadar. Rupanya, sang istri sudah masuk ke kamar, dan saat ini dia hendak melepas semua riasannya yang pasti membuatnya tak nyaman dan lelah seharian.
Alzam pun memutuskan untuk segera membersihkan diri, sebelum sang istri memanggilnya untuk bergantian memakai kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, Alzam kemudian keluar dengan sebuah handuk yang menyampir di atas kepalanya.
Dia nampak lebih santai dari yang biasa Olivia lihat. Dengan hanya menggunakan sebuah celana pendek selutut dan kaus putih polos, Alzam yang tampil berbeda dari biasanya, membuat gadis itu tak bisa melepaskan pandangannya dari sang suami.
Alzam pura-pura tak melihat ke arah Olivia, yang sedang duduk di tepi ranjang sambil dibersihkan riasannya oleh si tukang rias.
Dia terus bersikap tak acuh, karena Alzam tak mau memandangi gadis itu, yang saat ini hanya memakai sebuah kemben dan celana pendek.
Pemuda tersebut terus berjalan melewati Olivia begitu saja ke arah meja rias, dan mencari sisir di sekitar sana.
__ADS_1
“Sudah selesai, Mbak Oliv. Sekarang Mbak Oliv bisa mandi,” ucap si perias setelah selesai menghapus make up Olivia.
Gadis itu pun berdiri, dan mendekat ke arah sang suami yang masih mencoba mencari benda yang diinginkannya.
Tiba-tiba, Olivia menghampiri dan membuatnya seketika menoleh. Alzam terkejut melihat sang istri dengan hanya mengenakan pakaian lapis dalam, berdiri tepat di sampingnya.
Dia pun segera menoleh ke lain arah, demi menghindari pemandangan indah yang tersaji di sana.
“Ini sisir, dan ini pengering rambut,” ucap Olivia sembari meletakkan kedua benda tersebut ke atas meja riasnya.
Namun, Alzam masih memalingkan wajahnya ke samping, dan membuat Olivia harus memanggil namanya.
“Mas!” panggil Olivia.
“Tinggalkan saja di situ. Kau mandilah. Aku tak tahan dengan baunya,” kilah Alzam.
Terdengar dengusan dan ditambah pula cebikan kesal dari arah Olivia, saat Alzam menyindir bau badannya.
Gadis itu pun lalu berbalik dan berjalan ke arah lemari, untuk mengambil sebuah bathrobe dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup, barulah Alzam menoleh dan mendapati Olivia yang sudah menghilang dari sisinya.
Dia pun lalu meraih sebuah sisir bulat yang tadi diambilkan oleh Olivia, dan mulai menyisir rambutnya.
Dia tak tahu jika semua tingkahnya tadi telah dilihat oleh si perias pengantin, yang saat ini masih membereskan barang-barang miliknya di dalam kamar tersebut.
“Santai saja, Mas Alzam. Dia udah halal buat disentuh kok. Lama-lama juga pasti terbiasa melihat yang seperti tadi,” goda si perias pengantin.
Alzam melihatnya dari pantulan cermin meja rias, ke arah wanita yang berucap padanya tadi. Dia membayangkan, sampai kapan dia bisa bertahan untuk tidak menyentuh Olivia.
Meskipun sudah menikahi gadis itu, akan tetapi dalam hati, Alzam sama sekali tidak pernah berpikir untuk menyentuh Olivia.
Pemuda itu lalu mengambil kain sarung dan juga sajadah, lalu menunaikan sholat maghrib yang sebentar lagi akan habis waktunya. Saat Alzam baru selesai salam ke kiri, perias itu pamit pulang, karena tugasnya pun sudah selesai.
Dia pun menyudahi sholatnya, dan melipat kain sarung serta sajadah, lalu menyimpannya kembali ke dalam lemari. Alzam kemudian mengantarkan si perias itu keluar dan mengucapkan terimakasih.
Dia kembali masuk ke rumah, setelah melihat si perias sudah melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman tersebut. Karena seharian terus berbincang dan menemui tamu, tenggorokan Alzam terasa kering.
Pemuda itu pun pergi ke dapur dan mengambil air minum. Di sana, sudah ada Bi Ijah dan Bi Marni, dua orang asisten rumah tangga di rumah Tuan Abimana, terlihat sedang menyiapkan makan malam untuk penghuni rumah.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum, Bu. Boleh saya minta minum?” tanya Alzam sopan.
Keduanya pun menoleh dan menjawab salam secara serempak.
“Waalaikumsalam. Eh, Aden. Boleh, Den. Tunggu di sana aja. Biar bibi yang ambilkan,” sahut Bi Ijah.
Wanita paruh baya itu menunjuk ke arah meja makan, dan Alzam pun duduk di sana. Tak berselang lama, sang asisten rumah tangga kembali menghampiri Alzam dan menyerahkan segelas air minum padanya.
“Ini, Den,” ucap Bi Ijah.
“Makasih ya, Bu,” sahut Alzam.
“Jangan panggil 'Bu' dong, Den. Panggil 'Bi' aja. Nama bibi, Bi Ijah,” ucap Bi Ijah.
“Kenapa nggak boleh panggil 'Bu'? Kan Ibu seumuran sama Ibu saya,” tanya Alzam.
“Saya di sini Cuma pembantu, Den. Mending panggil 'Bi' aja. Saya takut kalau nyonya sampe denger, bisa repot nanti,” ucap Bi Ijah.
“Ya udah. Bi Ijah kan? Makasih ya, Bi,” sahut Alzam.
“Sama-sama, Den Al Eh, boleh panggil 'Mas Al' aja nggak? Biar kaya sinetron yang viral di tipi itu lho, Den?” tanya Bi Ijah iseng.
Alzam terkekeh mendengar ucapan polos dari sang asisten rumah tangga tersebut.
“Boleh kok, Bi. Bebas saya mah. Yang penting jangan panggil 'Mbak' atau 'Neng' aja,” sahut Alzam.
Keduanya pun tertawa. Pada dasarnya, Alzam merupakan pemuda yang baik dan sopan kepada setiap orang. Dia pandai bergaul dan mudah membaur di setiap tempat yang ia datangi.
Alzam terkenal sebagai pemuda religius yang pintar dalam berbagai bidang, dan baik pada setiap orang yang ditemuinya. Namun, ada satu orang yang hingga saat ini selalu mendapatkan perlakuan buruk dari pemuda tersebut, yang kini justru telah menjadi istri sahnya di mata hukum dan agama.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁