CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Perhatian kecil lainnya


__ADS_3

Terlihat sebuah senyum manis mengembang di bibir Olivia saat menyambut kedatangan sang suami, dan membuat Alzam pun ikut tersenyum melihatnya. Rasa lelah seolah hilang seketika saat mendapatkan sambutan hangat dari seseorang yang menunggunya pulang.


Alzam menuntun motornya naik ke teras rumah, lalu mengambil dua bungkus martabak dari gantungan barang di bagian depan.


“Assalamu’alaikum, Mas. Wellcome home,” ucap Olivia.


“Waalaikumsalam,” sahut Alzam.


Pemuda itu mengulurkan tangan dan segera diraih oleh olivia. Entah sejak kapan gadis itu mulai terbiasa mencium tangan suaminya, seperti yang ia lakukan saat selesai ijab qobul dulu.


Namun yang jelas, Olivia sangat senang ketika menyalami suaminya, terlebih saat Alzam mengusap puncak rambutnya, saat dia mencium punggung tangan sang suami.


Alzam lalu memberikan bungkusan martabak kepada istrinya, untuk dinikmati bersama keluarganya.


“Bawa masuk gih. Bagi sama yang di dalem,” seru Alzam.


“Oke,” sahut Olivia.


Gadis itu pun kemudian masuk dengan membawa bungkusan tersebut, sementara Alzam melepas helmnya terlebih dahulu dan menggantungnya di kaca spion motor.


Barulah setelah itu, pemuda tersebut masuk untuk menyapa semua yang ada di sana.


“Assalamu’alaikum,” sapa Alzam.


“Waalaikumsalam,” sahut semuanya bersamaan.


“Banyak banget belinya, Zam?” tanya Bu Aminah.


“Iya, Bu. Biar kenyang,” sahut Alzam.


Pemuda itu duduk di lantai, bersandar pada sisi kursi yang sedang di duduki oleh istrinya. Dia lalu mengambil satu iris martabak manis, dan menyuapkannya ke mulut.


“Nak, Oliv. Ayo dimakan,” ucap Bu Aminah.


Alzam menoleh melihat wajah sang istri.


“Kenapa? Nggak suka?” tanya Alzam.


“Bukan nggak suka. Belum tau rasanya,” jawab Olivia.


Alzam lalu mengulurkan sisa potongan martabak yang tadi ia makan ke arah sang istri, bermaksud agar gadis itu mencobanya langsung. Olivia yang melihatnya pun mendekatkan wajahnya dan makan langsung dari tangan Alzam.


“Cieeee.... So sweet,” goda Kanina dan Zahra bersamaan saat melihat adegan romantis itu.

__ADS_1


Alzam seketika tersadar akan apa yang tadi dia lakukan. Dia pun tak tahu sejak kapan sikapnya mulai melunak pada Olivia. Bahkan dengan gerak reflek, dia sering mengusap rambut gadis itu, memberikan perhatian-perhatian kecil, bahkan tadi dia mau menyuapi Olivia dengan tangannya sendiri.


Sementara Olivia, gadis itu senang bukan main. Pipinya bahkan sampai merona, karena digoda oleh adik iparnya.


“Enak yah. Manis banget,” ucap Olivia mencoba mengalihkan topik.


“Ya manis lah, Kak. Kan langsung disuapin sama suami tercinta,” goda Kanina lagi.


Sebuah gulungan tisu meluncur mengenai wajah Kanina, yang dari tadi terus menggoda kaka iparnya.


“Mas Azam! Kok Ina ditimpuk pake tisu bekas sih? Jahat banget! Kotor tau,” keluh Kanina kesal.


“Jangan ngeledekin orang mulu. Udah tuh dimakan,” seru Alzam.


Mereka pun kembali menikmati martabak yang dibelikan oleh Alzam. Olivia mencicipi kedua jenis martabak itu, dan menurutnya semua terasa enak.


Terlebih martabak asin yang menurutnya sangat lezat, apalagi saat dipadukan dengan acar bawang dan mentimun. Dia bahkan bisa menghabiskan semua martabak asin sendirian, sedangkan yang lain hanya melihat dan menikmati martabak manisnya saja.


Waktu sudah semakin larut. Kanina dan Zahra pun sudah masuk ke kamar mereka. Bu Aminah juga terlihat sedang membereskan bungkusan basreng yang tadi dikemas oleh kedua putri dan menantunya.


“Aku mau mandi dulu. Kamu nggak tidur?” tanya Alzam.


“Bentar lagi,” sahut Olivia sambil melihat lurus ke arah layar TV.


Beberapa saat kemudian, Alzam telah selesai mandi dan berganti pakaian. Dia pun kembali ke kamarnya.


Saat masuk, dia melihat sang istri telah berada di atas ranjang, tidur dengan posisi meringkuk, menghadap ke arah tikar yang biasa Alzam pakai untuk alas tidurnya.


Dia perlahan menutup kembali pintu kamarnya, dan menyampirkan handuk tersebut ke gantungan yang ada di balik pintu.


Alzam kemudian berjalan mendekat perlahan ke arah ranjang, dan mengambil bantal yang masih ada di atas sana.


Namun, saat dia sudah meraih benda tersebut, gerakannya terhenti saat melihat wajah Olivia seolah begitu tegang dalam tidurnya.


Keningnya bahkan sampai mengerut dan alis matanya hampir menyatu. Bulu mata lentiknya terlihat bergerak-gerak, dan peluh terlihat muncul di pelipisnya.


Alzam kemudian mendekat untuk melihat lebih jelas kondisi sang istri. Nampak jelas jika bibir itu bergerak-gerak, seolah sedang mengatakan sesuatu.


“Nggak! Nggak! Aku nggak mau! Kamu jahat! Aku benci kamu! Pergi! Pergi!” gumam Olivia lirih.


Alzam menduga, jika saat ini Olivia sedang mengalami mimpi buruk. Dia pun mencoba membangunkan Olivia dari mimpi yang menyiksanya itu.


Dengan menggoyangkan bahu dan menyebut namanya, akhirnya Olivia membuka mata dengan ekspresi terkejut, seolah mimpinya terbawa hingga ke alam sadarnya.

__ADS_1


Nafasnya terlihat memburu, dengan bola mata yang membulat sempurna. Pandangan mata keduanya beradu, dan tiba-tiba Olivia memeluk leher Alzam, hingga pemuda tersebut tertarik dan duduk di sisi ranjang.


Dalam dekapannya, Alzam bisa merasakan dengan jelas bagaimana cepatnya degupan jantung Olivia saat itu. Dia pun mencoba menenangkan hati sang istri, dengan menepuk-nepuk punggung gadis tersebut.


“Tenang. Cuma mimpi buruk. Makanya kalau mau tidur berdoa dulu,” ucap Alzam.


Cukup lama Olivia memeluk Alzam, hingga pinggang suaminya itu terasa pegal karena terlalu lama miring ke satu sisi saja.


Dia pun kemudian berusaha mengurai pelukan Olivia, akan tetapi gadis itu seolah enggan melepaskannya.


“Temenin aku malam ini. Please,” pinta Olivia.


“Tapi...,” elak Alzam.


“Aku mohon, Mas. Aku beneran takut,” sela Olivia.


Alzam bingung. Dia masih ragu dengan hatinya, dan kini sang istri justru meminta untuk menemaninya.


Awalnya, Alzam mengira jika ini hanya akal-akalan Olivia saja. Namun, saat dia melihat air muka sang istri, jelas terlihat ketakutan yang teramat di sana.


Akhirnya, dia pun menuruti permintaan istrinya itu, dan mereka pun tidur bersama. Olivia terus memeluk lengan Alzam, sementara pemuda itu tidur dengan kakunya menghadap ke arah langit-langit kamar.


Tak berselang lama, terdengar suara dengkuran halus dari arah Olivia, yang menandakan bahwa gadis itu telah kembali tidur, sementara Alzam masih belum bisa terlelap.


Ini adalah pengalaman pertamanya tidur dengan keadaan sadar bersama lawan jenis. Meskipun Olivia adalah istri sahnya, akan tetapi selama ini, Alzam belum pernah tidur di tempat yang sama dengan gadis tersebut, kecuali di malam jebakan Olivia.


Melihat berapa pulas dan tenangnya Olivia tidur, Alzam pun perlahan mengubah posisi tidurnya yang tadinya terlentang menjadi miring menghadap ke arah sang istri.


Dia melepas rangkulan Olivia, dan menekuk lengannya menjadi batalannya sendiri. Sementara tangan satunya, menarik selimut untuk menyelimuti tubuh sang istri dan melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu.


Dengan lembut, Alzam mengecup singkat kening Olivia, dan membuat gadis itu semakin masuk ke dalam pelukan Alzam.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2