
Beberapa hari kemudian, seorang pemuda nampak duduk di atas sepeda motornya. Dia sengaja memakai kendaraan roda dua tersebut, karena tak mau dianggap pamer saat memenuhi undangan orang tua dari gadis yang ingin dia ajak taaruf.
Ya, saat ini Leon sedang dalam pelajaran ke rumah Nurul, akan tetapi dia berhenti di tengah jalan karena jantungnya terus berdegup begitu kencang.
Dia berkali-kali menarik nafas dalam dan mengembuskannya sekaligus, untuk membuang gugup di dadanya.
Leon yang biasanya berpenampilan santai dan sedikit urakan, kali ini terlihat sedikit berbeda. Celana jeans yang selalu robek di bagian lututnya, kini nampak tertutup. Kemeja yang biasanya selalu tak di kancing pun, kali ini dia kancing rapi.
Tindik yang biasa menghiasi daun telinganya juga kini tak terlihat lagi. Bahkan rambutnya yang biasanya berwarna di bagian atasnya, kini terlihat hitam legam sepenuhnya.
Dia berusaha berpenampilan sebaik mungkin saat menemui orang tua Nurul untuk pertama kali. Dia ingin memberikan kesan positif kepada orang tua pujaan hatinya.
Setelah cukup lama berhenti, Leon pun kembali melanjutkan perjalanannya yang begitu menegangkan. Dia berusaha agar tetap tenang meski degup jantungnya terus saja membuat keringat dingin mengucur dari pelipisnya.
Hingga saat motornya memasuki pekarangan rumah keluarga Nurul, jantungnya seakan semakin memompa cepat hingga dia sampai merasa semakin sesak nafas.
Dia ingat pesan Olivia, jika dalam keadaan yang begitu menegangkan dan membuatnya gugup, perbanyaklah beristighfar agar hatinya bisa lebih tenang.
Dia pun beberapa kali terlihat berkomat kamit sambil turun dari motornya. Dia lalu kembali mengambil nafas dalam-dalam dan melangkah menuju ke pintu utama.
Ketukan terdengar dari pintu utama, dan tak berselang lama, nampak seorang ibu-ibu yang memakai daster dan berkerudung pendek muncul untuk membukakan pintu depan.
“Assalamu’alaikum, Bu. Maaf, saya mau ketemu Pak kyai,” ucap Leon.
“Wa'alaikumsalam. Oh, monggo masuk, Mas,” sahut wanita tersebut yang sepertinya adalah seorang asisten rumah tangga.
Leon pun masuk dan mengikuti wanita tersebut.
“Monggo duduk dulu, Mas. Nanti saya panggilkan Pak kyainya,” seru wanita tersebut.
“Terimakasih, Bu,” sahut Leon.
Dia pun duduk dan melihat wanita itu pergi ke dalam. Matanya mulai mengedar ke sekeliling melihat bagian dalam rumah tersebut. Begitu terasa suasana islami di dalam sana. Banyak kaligrafi bertuliskan ayat Al-Quran menggantung di dinding.
Tak berselang lama, seorang pria dengan perawakan tinggi tegap, berwajah putih berseri dan mengenakan kopiah putih di kepalanya.
Rambutnya hampir sepenuhnya putih, namun wajahnya terlihat tetap segar meski keriput menghiasi di sana.
“Assalamu’alaikum,” sapanya.
Leon pun seketika berdiri menyambut kehadiran pria tersebut yang tak lain adalah Ayah Nurul.
“Wa'alaikumsalam,” sahut Leon.
Tangannya terulur dan meraih tangan sang kyai, lalu mencium punggung tangan ulama tersebut.
“Apa kabar, Pak kyai?” tanya Leon berbasa-basi.
“Alhamdulillah, baik. Nak Leon yah?” tanya Ayah Nurul.
“Benar, Pak kyai. Maaf kalau kedatangan saya menganggu waktunya. Saya kesini karena Bang Alzam meminta saya kemari untuk silaturahmi,” ucap Leon berusaha sesopan mungkin.
“Yah, Bapak memang meminta Nak Alzam bilang seperti itu,” sahut Ayah Nurul.
Keduanya pun diam. Suasana canggung tiba-tiba kembali menyergap pemuda itu. Hingga wanita berdaster tadi datang dan membawakan minuman untuk kedua orang tersebut.
__ADS_1
“Silakan tehnya,” ucapnya.
“Terimakasih, Bu,” sahut Leon.
“Mari diminum dulu, Nak Leon,” ajak Ayah Nurul.
“iya, Pak kyai. Terimakasih.” Leon pun mengambil cangkir miliknya, dan meminum teh yang di suguhkan oleh sang asisten rumah tangga tadi.
Setelah meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja, Leon kemudian mencoba membuka pembicaraan terlebih dulu meski hatinya benar-benar gugup.
“Maaf, Pak kyai. Mungkin Bang Alzam sudah kasih tau tentang niat saya terhadap Nurul,” ucap Leon.
“Ehm... Yah, Alzam sudah memberitahu Bapak, kalau nak leon ini ingin taaruf dengan Nurul. Makanya Bapak minta Nak Leon buat datang kemari. Kebetulan juga Nurul sedang piket di sekolah, jadi kita bisa ngobrol lebih leluasa,” sahut Ayah Nurul.
Pria tua itu pun meletakkan cangkirnya ke atas meja. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya yang mengenakan hijab panjang, keluar dan menghampiri kedua pria beda usia itu.
“Eh, ada tamu,” sapanya.
Leon seketika berdiri, dan memberi salam kepada Ibu Nurul itu.
“Assalamu’alaikum, Bu,” salam Leon.
“Wa'alaikumsalam. Nak Leon yah?” tanya Ibu Nurul.
“Iya, Bu,” sahut Leon.
“Silakan duduk, Nak.” Wanita itu pun duduk di kursi single yang ada di samping suaminya.
Awalnya, Leon ingin menyalami wanita tersebut, namun dia ragu apakan istri kyai seperti ini mau begitu saja berjabat tangan dengannya. Hingga akhirnya, dia putuskan untuk menang diri dulu dan melihat situasi.
Leon tak langsung menjawab. Dia nampak menarik nafas terlebih dulu dan membuangnya sambil mengucap bismillah dengan lirih.
“Maaf sebelumnya kalau mungkin ini terlalu mendadak, mengingat Bapak dan Ibu juga belum kenal sama sekali dengan saya. Saya mengenal Nurul pertama kali di acara nikahan Bang Alzam dan Olivia. Setelah itu kami sering bertemu di kedai Bang Alzam. Terkadang juga saya sengaja menunggu Nurul pulang mengajar dan mengajaknya makan bersama."
"Selama saya mengenal Nurul, saya merasa ada perubahan di diri saya. Sesuatu yang kosong dan hampa, yang sejak dulu menjadi lubang di hati saya, perlahan tertutup dan dipenuhi dengan kehangatan. Keceriaannya, kepintarannya, dan kedewasaannya membuat saya merasa nyaman dengan dia.
"Tapi yang lebih penting, dialah yang membuat saya menemukan jalan yang benar, setelah sekian lama saya tersesat. Dia seperti penunjuk arah. Jadi kalau dia tak ada, saya merasa ketakutan akan tersesat kembali,” ucap Leon.
Ayah dan Ibu Nurul terlihat diam sambil mendengarkan perkataan dari Leon. Ibunda Nurul merasa bahwa Leon adalah pemuda kecil yang masih sangat awam akan hal pernikahan.
Keningnya sejak tadi terus berkerut karena mendengar jawaban dari pemuda di hadapannya. Sementara sang suami, justru terlihat biasa saja dan tetap menyimak dengan baik jawaban yang keluar dari mulut Leon.
“Maaf sebelumnya, Nak Leon. Memangnya sebelum bertemu putri kami, apa yang menjadi kebiasaan Nak Leon sehari-hari selain kuliah?” tanya Ibu Nuril penasaran.
“Sa... Saya membantu ayah saya bekerja sepulang kuliah, dan malamnya saya... Saya... Pergi ke klub malam,” aku Leon lirih di ujung kalimatnya.
Seketika itu juga, keduanya terdengar mengucap istighfar bersamaan. mereka tak Menyangka jika pemuda yang datang kali ini ingin taaruf dengan putrinya, memilik latar belakang yang seperti ini.
“Pak...,” panggil Ibu Nurul dengan lirih pada suaminya.
Namun, Ayah Nurul memberi isyarat dengan tangannya, agar sang istri diam terlebih dulu sebelum memutuskan sesuatu.
“jadi dulu begitu yah... ehm, baiklah. Tapi maaf, Nak Leon. Boleh bapak tahu kegiatan yang sekarang Nak Leon lakukan selain kuliah?” tanya Ayah Nurul.
“Sekarang, sepulang kuliah saya hanya membantu ayah saya bekerja, setelah itu pergi ke rumah ustadz untuk belajar baca Al Quran. Seminggu sekali juga saya ikut pengajiannya Bang Alzam di padepokan pemuda hijrah,” jawab Leon.
__ADS_1
“Lalu klub malamnya?” tanya Ibu Nurul tak tahan untuk nimbrung.
“Beberapa waktu yang lalu, jujur saya masih datang sesekali ke sana. Tapi entah kenapa, tempat itu terasa asing buat saya. Padahal, dulu itu selalu menjadi tempat favorit setiap kali malam tiba,” jawab Leon.
“Apa semua perubahan kamu, Nurul yang minta?” tanya Ayah Nurul.
Leon menggeleng pelan.
“Nurul sama sekali tidak meminta saya untuk melakukan apapun. Dia bahkan nggak pernah bicara agama di depan saya. Hanya saja, entah kenapa semakin mengenal dia, saya merasa diri saya ini sangat kecil."
"Kemudian saya lebih banyak merenung, Dan merasakan bahwa apa yang saya lakukan selama ini adalah sia-sia. Terlebih saat melihat perubahan yang terjadi dengan sahabat saya, Olivia, yang sekarang sudah terlihat jauh lebih baik.
"Dia jugalah yang meminta Bang Alzam buat ngajak saya ikut pengajian. Dari sana, saya semakin sadar bahwa selama ini saya telah tersesat sangat jauh,” jawab Leon.
Kedua orang tua itu pun saling berpandangan. Kemudian Ayah Nurul meminta istrinya untuk mengambil sesuatu di dalam.
Beberapa saat kemudian, Ibu Nurul kembali bergabung dengan suaminya dan juga Leon, sambil membawa sebuah Al-quran beserta tafsir yang cukup besar. Dia menyerahkan benda tersebut kepada sang suami.
“Nak Leon sudah bisa mengaji?” tanya Ayah Nurul.
“Sedikit-sedikit, Pak kyai,” ucap Leon
“Kalau begitu, bapak mau dengar bacaan Nak Leon. Monggo baca surat mana pun yang Nak Leon bisa,” seru Ayah Nurul.
Leon nampak bingung. Dia bahkan sampai menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.
“Ehm... Maaf, Pak kyai. Ngaji saya belum sampai di Al-quran,” ungkap Leon.
“Lah terus?” tanya Ibu Nurul cepat.
Dia benar-benar tak habis pikir, pemuda itu bahkan belum pernah membaca kitab suci itu.
“Ehm... Ba... Baru buku iqro... Jilid... Jilid lima kalau nggak salah,” jawab Leon.
Seketika wanita tua itu mengucap istighfar dengan cukup keras, hingga sang suami pun menegurnya.
“Bu,” panggil Ayah Nurul.
Dan seketika Ibu Nurul pun diam, meski dia masih mengelus dadanya, melihat bagaimana pemuda yang ingin meminang putrinya itu.
“Jilid lima juga sudah bagus, dari pada tidak bisa sama sekali. Kalau begitu bapak akan buka acak halamannya, nanti Nak Leon coba baca satu ayat yang saya tunjuk. Bisa?” tanya Ayah Nurul.
Leon menegang. Dia lagi-lagi mengambil nafas dalam dan mengembuskannya bersama dengan bismillah.
“InsyaAllah bisa, Pak kyai,” jawabnya mantap.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁