CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Panggilan tak terjawab


__ADS_3

“Kalau kopi gimana? Bisa nggak?” tanya Alzam.


“Ajarin dong,” pinta Olivia.


Alzam hanya tersenyum tipis. Dia mengusap lembut puncak kepala Olivia. Pria itu benar-benar sabar menghadapi istri polosnya tersebut.


“Liv, aku nggak akan nyuruh kamu buat ngelakuin pekerjaan rumah kayak gini. Aku bisa lakuin sendiri kok. Jadi, jangan paksain diri kamu kalau emang belum mampu ya,” ucap Alzam.


“Tapi aku mau belajar, Mas. Ajarin aku ya. Katanya kamu mau pelan-pelan mulai sama aku,” rengek Olivia.


“Ya udah, iya aku ajarin kamu. Tapi ingat, jangan dipaksakan kalau kamu emang nggak sanggup. Aku nggak mau kamu ngerasa kesusahan selama jadi istriku,” ucap Alzam.


“Nggak akan. Aku akan bilang capek kalau emang capek, dan akan terus ngelakuin semuanya kalau emang aku mampu. Janji,” sahut Olivia.


Akhirnya, Alzam pun mengajari Olivia bagaimana menyeduh kopi instan yang telah mereka beli sebelumnya. Alzam tak mungkin mengajari Olivia cara menyeduh kopi ala kedainya, mengingat hal itu lebih rumit dari sekedar menyajikan kopi instan.


“Kamu mau minum apa, Liv? Biar sekalian ku bikinin,” tanya Alzam.


“Ehm... Kalau bikin susu anget gimana?” tanya Olivia.


Alzam pun mencontohkannya, sambil memberikan beberapa tips dalam membuat kedua minuman tadi. Hal-hal sederhana yang menurut sebagian besar orang sudah mengetahuinya, akan tetapi berbeda dengan Olivia yang sama sekali tak pernah membuatnya.


Setelah selesai, gadis itu mengajukan diri untuk membawa kedua gelas minuman tersebut ke tempat makan, yang tak lain adalah sebuah karpet dari bahan busa hati yang dijual seharga dua puluh lima ribu rupiah di pasaran.


Gambarnya pun Helo Kitty berwarna merah muda, sesuai dengan yang dipilih oleh Olivia.


Setelah selesai, Alzam duduk lesehan di bawah, sementara Olivia mengambilkan nasi dari rice cooker untuk mereka berdua.


Setelah itu, dia membawanya ke depan Alzam. Saat hendak mengambil lauk, Olivia baru sadar jika lauk yang tersaji sangat berbeda dari apa yang biasa ia makan setiap hari.


“Pagi ini, kita akan makan ini dulu. Buat makan siang dan malam, kita bisa beli lauk dari luar, atau aku bisa masakin kamu sesuatu kalau kamu mau,” ucap Alzam.


Olivia tersenyum mendengar perkataan dari sang suami. Dia mengangguk lalu mengambilkan telur ceplok, tahu dan juga tempe ke piring Alzam.


Dia pun mengambil untuk dirinya sendiri. Ada juga sambal kecap rawit yang tadi dibuat Alzam. Olivia melihat sang suami mencocolkan lauknya ke dalam sambel tersebut dan terlihat makan dengan lahannya.


Gadis itu pun lalu mencoba mengikuti cara makan Alzam, dan ternyata dia pun suka.

__ADS_1


Ehm... Enak juga, batin Olivia.


Begitulah sarapan pagi mereka berlalu hingga selesai, dan untuk cuci mencuci piring pun Olivia terus memperhatikan cara Alzam melakukannya.


Pagi pertama dilalui dengan banyak pelajaran bagi Olivia. Gadis itu sedikit-sedikit tahu cara mengerjakan pekerjaan rumah.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, keduanya pun berangkat. Olivia diantar ke kampus, sedangkan Alzam berangkat ke kedai, setelah memastikan sang istri sudah ditemani oleh Leon, sahabat sang Olivia.


...☕☕☕☕☕...


Siang harinya, Olivia yang sudah terbiasa dihampiri oleh Alzam saat sholat dzuhur, saat ini terlihat sedang menunggu sang suami di dekat masjid kampus.


Dia terlihat berdiri di sana, dan dilewati mahasiswa yang berseliweran hendak dan telah menyelesaikan kewajiban mereka kepada Tuhannya.


Olivia melihat jamnya berkali-kali dan ini sudah sangat terlambat. Alzam belum juga datang dan bahkan telepon darinya sejak tadi tak dijawab oleh sang suami.


“Mas Al kemana sih?” gumam Olivia kesal.


Entah sudah keberapa kali gadis itu mencoba menghubungi suaminya, namun tetap tak ada sahutan dan selalu berakhir dengan mesin pengalih panggilan otomatis.


Tiba-tiba, ada seorang mahasiswi berhijab yang menghampirinya.


Olivia pun seketika menoleh dan melihat seorang gadis tersenyum ramah di depannya.


“Waalaikumsalam. Ada apa ya?” tanya Olivia.


“Aku perhatiin, kamu dari tadi mondar mandir terus di sini. Apa ada yang perlu dibantu?” tanya gadis itu balik.


“Oh, aku lagi nunggu seseorang. Nggak perlu dibantu apa-apa kok. Makasih,” jawab Olivia.


“Maaf, tapi aku sering lihat kamu sholat di sini bareng cowok hampir tiap hari. Mungkin kamu lagi nungguin cowok itu buat sholat bareng. Kenapa nggak tunggu di dalem aja?” terka gadis tadi.


“Eh, Mbak. Jangan sok perhatian ya. Dia itu suamiku. Nggak usah ganjen liatin laki orang,” jawab Olivia ketus.


Dia paling tak suka jika miliknya diperhatikan oleh orang lain, apalagi sang suami.


“Maaf, aku nggak maksud gitu. Aku cuma mau ngajakin kamu sholat bareng atau sekedar nemenin kamu nunggu di dalam masjid, karena dari tadi aku lihatin, kayaknya kamu ragu buat dateng ke masjid sendirian,” jawab gadis itu.

__ADS_1


“Jangan sok tau deh. Siapa bilang aku ragu dateng ke masjid. Dasar cewek nggak jelas,” sahut Olivia ketus.


“Kalau nggak ragu, terus ngapain kamu dari tadi berdiri panas-panasan di sini. Kalau yang lain, pasti bakal milih buat nunggu di dalam atau di teras masjid yang lebih adem. Sekali lagi aku minta maaf kalau udah ganggu kamu. Aku nggak ada maksud apapun."


"Aku juga mau ingetin kamu kalau waktu istirahat bentar lagi lewat. Aku yakin kamu juga belum makan siang kan. Kalau habis ini kamu masih ada kuliah, mendingan kamu sholat sendiri dulu aja. Bisa ajakan suami kamu itu lagi ada urusan lain. Makanya dia belum dateng sampe sekarang,” terang gadis itu.


Mendengar penjelasan dari mahasiswi yang tiba-tiba datang menghampirinya itu, Olivia pun sadar jika sejak tadi, dia memang merasa enggan mendekat ke masjid, dan justru menunggu Alzam panas-pansan di sini.


Yang dikatakan gadis itu pun ada benarnya. Mungkin saja Alzam sedang ada keperluan lain, yang bahkan membuat suaminya itu tidak bisa mengangkat panggilan darinya.


Namun, Olivia tetap Olivia. Sikap keras kepala dan posesifnya masih sama saat menghadapi gadis lain, yang mencoba mengusik dirinya.


“Makasih udah perhatian, tapi aku punya alasan sendiri kenapa tetap nunggu di sini. Kalau mau sholat, sholat dulu aja sendiri,” ucap Olivia dengan gaya tengilnya.


Mahasiswi itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Olivia yang menilai niat baiknya dengan keburukan. Dia pun memutuskan untuk meninggalkan gadis tersebut.


“Ya udah kalau gitu. Assalamu’alaikum,” sahut si mahasiswi tadi.


“Waalaikumsalam,” jawab Olivia.


Seperginya gadis tadi, Olivia pun kembali mencoba menghubungi sang suami. Dia memutuskan untuk melakukan panggilan terakhir, sebelum dia masuk ke dalam masjid dan sholat dzuhur sendiri.


Panggilan terakhir pun sama tak mendapat jawaban oleh Alzam. Olivia kemudian mengirimkan sebuah pesan teks, berharap agar Alzam segera membalas saat sempat.


[Mas, hari ini aku sholat dzuhur sendiri. Dari tadi aku nungguin kamu nggak dateng-dateng sih. Kamu lagi ngapain di sana? Jangan lupa sholat sama makan juga. Cepet bales kalau udah baca pesan ku] pesan chat Olivia.


Setelah mengirimkan pesannya, gadis itu pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, dan berjalan ke arah masjid. Dia sudah terbiasa pergi ke tempat ibadah di kampusnya, dan tahu bahwa di sana telah disediakan mukenah untuk umum. Jika biasanya Alzam akan membawakan mukenah istrinya sendiri, kali ini karena sang suami tak datang, Olivia pun mengantri untuk memakai peralatan sholat tersebut.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2