CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Berhasil


__ADS_3

Setelah ijab qobul diucapkan, penghulu pun memimpin doa pernikahan. Tak lama setelahnya, pengantin perempuan dipapah turun. Dengan mengenakan kebaya putih yang begitu cantik, dan kerudung yang menjuntai panjang. Sang pengantin terus tertunduk, namun jelas terlihat senyum yang mengembang dari sudut bibirnya.


“Pengantin wanitanya sudah turun,” seru salah satu orang.


“Wah... cantiknya,” timpal yang lain.


Mendengar hal itu pun, Leon seketika menyeka sisa lelehan di wajahnya, dan mencoba melihat sosok pengantin cantik yang dikatakan oleh orang-orang.


Dia sudah siap menerima kenyataan pahit ini, dan mencoba meneguhkan hati. Namun, kakinya semakin lemas saat melihat sosok pengantin perempuan itu, hingga membuatnya jatuh terduduk ke tanah karena sudah tak sanggup lagi berdiri di atas kakinya sendiri.


Nggak mungkin, batin Leon.


Dia tak menyangka jika sosok yang sejak tadi membuat hatinya sakit, tengah berjalan di belakang sang pengantin. Rupanya bukan Nurul mempelainya, melainkan orang lain.


Gadis itu turun dengan sang pengantin dan membantu gadis yang sedang berbahagia itu memegangi ekor kebaya dan kerudungnya yang panjang, saat menuruni anak tangga. Ibu Nurul terlihat ikut berjalan di samping, sambil memegangi lengan pengantin wanita itu.


Saat Nurul melihat ke bawah, matanya bertemu dengan mata Leon, yang tampak merah dan terlihat sedikit berair. Dari kejauhan, Nurul tak bisa melihat jejak air mata di sana. Dia pun tersenyum dengan cantiknya ke arah Leon yang saat ini sedang dalam suasana hati yang tak karuan.


Ada perasaan lega, namun ada juga rasa sakit dan sesak yang tersisa karena kesalah pahaman tadi.


Setelah turun, kedua pengantin pun  dipertemukan dan duduk berjajar di sofa yang sudah disiapkan. Kedua besan nampak berbincang tentang kelanjutan acara pernikahan tersebut.


Nurul terlihat berjalan ke arah Leon yang sudah berpindah posisi, dan saat ini duduk di kursi yang ada di sudut ruangan.


Pemuda itu terlihat diam dan tak mau mengambil minuman sejak tadi. Nurul pun lalu mengambil dua gelas sirup melon dan membawanya ke arah Leon.


“Nih minum dulu,” seru Nurul sambil menyodorkan minuman yang dibawanya.


Leon menoleh dan mendapati gadis itu sudah ada di depannya. Dia pun meraih gelas dari tangan sang gadis.


“Thanks,” ucap Leon.


“Sama-sama,” sahut Nurul.


Gadis itu lalu mengambil tempat duduk yang berada di dekat Leon.


“Kenapa ku perhatiin dari tadi kamu kek murung gitu sih?” tanya Nurul.


“Cuma kaget aja. Kirain kamu yang nikah,” aku Leon.


“Oh... Emang kalo beneran aku yang nikah gimana?” tanya Nurul lagi.


“Ya mau gimana lagi. Mending aku pulang aja,” sahut Leon ketus.

__ADS_1


“Hehehe... Tapi kan udah tau bukan aku. Kenapa masih ngambek?” tanya Nurul lagi.


“Masih kesel gue, tau nggak sih?” sahut Leon.


“Iya deh iya. Tau deh yang kesel. Kaget banget yah?” tanya Nurul.


“Nggak usah nanya juga udah tau kali, Nur. Bapak lu kan cuma punya anak satu. Kalo bukan kamu yang nikah, masa aku bakal bisa mikir orang lain?” sahut Leon.


“Hehehe... Ngomong-ngomong, itu yang nikahan kakak sepupu aku. Orang tuanya masih di kairo, jadi Bapak ku yang diamanatin buat jadi walinya. Bapak nyuruh kamu dateng hari ini juga, maksudnya biar kamu ikut hadir di acara sederhana ini. Sekalian ada yang mau bapak omongin sama kamu katanya,” ucap Nurul.


“Apaan?” tanya Leon.


“Tunggu aja Bapak ngomong sendiri sama kamu. Masih rahasia katanya,” jawab Nurul.


Leon nampak masih kesal dengan kejadian tadi, meski jujur dia sangat lega karena bukan Nurul yang menikah.


Setelah menemani tamu berbincang, Ayah Nurul pun menghampiri pemuda yang ia undang khusus ke acar tersebut. Dia memanggil Leon dan memintanya duduk bersama.


Kebetulan di sana juga ada Nurul dan ibunya. Sedangkan yang lain masih mengerumuni sang pengantin baru.


“Nak Leon, gimana acaranya? Maaf yah, kita nggak bilang kalau ini acara nikahan. Tadi kata Nurul, kamu sempet kaget karena ngira kalo Nurul yang nikah yah?” tanya Ibu Nurul.


“Hehehe... Sedikit, Bu nyai,” sahut Leon.


“Apa tadi Nak Leon nyimak ijab qobulnya?” tanya Ayah Nurul.


“Saya nggak nyimak, Pak kyai. Karena terlalu kaget, saya sampai nggak fokus,” jawab Leon.


Rasanya sangat malu jika berkata jujur, bahwa dia saat itu sedang menangis.


“Memangnya, seandainya itu beneran Nurul gimana?” tanya Ibunda Nurul.


“Ya mau gimana lagi. Udah nggak ada hak lagi ya mending pulang aja,” jawab Leon.


“Lalu belajar agama kamu?” tanya Ayah Nurul.


“Kalau itu, alasan saya belajar agama memang berawal dari Nurul, tapi sekarang seperti sudah menjadi kebutuhan. Jadi nggak ada pengaruhnya, entah ada Nurul ataupun tidak,” jawab Leon dengan suasana hati yang masih kesal.


“Alhamdulillah kalau begitu. Jadi, kapan Nak Leon akan membawa orang tua Nak Leon datang bertamu ke rumah kami?” tanya Ayah Nurul.


“Nggak ta... u...,” ucapan Leon terjeda, saat menyadari pertanyaan dari sang ulama.


Dia bahkan yang tadinya terus menunduk, kini mengangkat wajahnya dan menatap penuh tanya ke arah orang tua gadis incarannya.

__ADS_1


“Maksud Bapak, kapan Nak Leon kesini buat ngelamar Nurul secara resmi?” tanya Ibu Nurul.


“Nge... ngelamar? Ja... jadi... taaruf saya berhasil?” tanya Leon tergagap.


“Ya, mau bagaimana lagi. Anak ibu ditawarin macem-macem pemuda, tapi selalu nggak mau. Giliran kamu, dia bilang istikharah-nya dapet jawaban,” sahut Ibu Nurul sambil melirik ke arah anak gadisnya.


Mendengar sindiran dari sang ibu, Nurul pun menyenggol lengan wanita tua itu dan bersembunyi di balik pundak sang bunda, karena merasa malu.


“Mungkin kamu jodoh terbaik dari Allah buat Nurul. Meskipun kamu baru belajar agama, baru belajar menapaki jalan yang lurus, tapi Bapak percaya, kalau Nak Leon ini pasti bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan bisa membimbing Nurul kedepannya. Kami sudah memberikan jawabannya, sekarang silakan Nak Leon beritahukan kepada kedua orang tua Nak Leon tentang hal ini. Kapan pun waktunya, kami akan siap menyambut kedatangan keluarga Nak Leon,” ucap sang ulama.


“Alhamdulillah. Terimakasih, Pak kyai, Bu nyai. Saya akan segera beritahukan kepada kedua orang tua saya. InsyaAllah, secepatnya kami akan berkunjung kemari,” ucap Leon senang.


Dia lalu melihat ke arah Nurul. Gadis itu masih terus bersembunyi di balik punggung sang bunda. Leon tersenyum lembut ke arah gadis itu.


“Makasih ya, Nur. Karena udah mau kasih aku kesempatan jadi orang baik,” ucap Leon.


Nurul hanya mengangguk dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.


...☕☕☕☕☕...


Tengah malam, saat semua orang telah terlelap dalam buaian peri tidur, sebuah dering telepon dengan suara keras membangunkan sepasang suami istri yang tengah terlelap setelah olah raga panas di malam hari.


Seorang perempuan yang tengah hamil besar merasa terusik dengan suara berisik tersebut. Dia pun bangun dan mencoba meraih ponselnya yang ada di atas meja rias.


“Berisik banget sih. Siapa coba yang telepon malem-malem?” gerutu perempuan yang tak lain adalah Olivia.


Tanpa melihat siapa si penelepon, Olivia langsung mengangkatnya dan menempelkan di telinga.


“Ha...,”


“Assalamu’alaikum, Liv. Gue mau kawin, Liv. Taaruf gue berhasil!” seru Leon begitu saja, bahkan sebelum Olivia sempat membuka mulutnya.


Hal itu sontak membuat mata Olivia terbuka sepenuhnya karena terkejut dengan berita bahagia ini.


“Seriusan lu?” pekiknya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2