
Tak terasa, sudah dua jam lamanya Anika berada di rumah Bu Ratmi. Perbincangan mereka benar-benar semakin akrab, bahkan Abimanyu yang sebelumnya tampak kaku, kini lebih banyak ikut berinteraksi.
"Nak, sekarang ibu mau bicara serius dengan kalian berdua", ujar Bu Ratmi sambil menatap wajah Anika dan Abimanyu bergantian.
Anika dan Abimanyu saling melirik dan sedikit mengerutkan dahi mereka.
"Silahkan, Bu", jawab Abimanyu.
Bu Ratmi tersenyum tipis, ia menarik nafas sejenak sebelum mulai angkat bicara.
"Begini, Nak. Mungkin hal yang akan ibu sampaikan ini mengejutkan kalian berdua, tapi niat ibu baik".
Anika dan Abimanyu semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh Bu Ratmi.
"Satu bulan lalu, Laras cerita sama ibu kalau dulu kalian sempat dekat ya semasa kuliah. Tapi kedekatan itu tidak ada kejelasan hingga akhirnya Anika menikah dengan Rendra, betul begitu?", Bu Ratmi menatap Anika dan Abimanyu bergantian, seolah menunggu jawaban mereka.
Sejenak, suasana hening. Tak ada yang memberikan jawaban.
"Ibu sudah tahu, itu benar, bukan?", tanya Bu Ratmi lagi.
"Kami hanya sebatas teman, Bu. Tidak pernah lebih dari itu", akhirnya Abimanyu menjawab.
Entah kenapa jawaban itu terasa seperti sembilu yang menyayat hati Anika yang mendengarnya.
"I...iya, Bu. Kami hanya teman kampus saja", imbuh Anika.
Bu Ratmi tersenyum tipis, "Mulut kalian boleh mengatakan begitu, tapi ekspresi kalian tidak seperti itu".
Deg
Satu degupan keras menghant dada Abimanyu juga Anika. Ya, mereka berdua memang tidak bisa menutup-nutupi perasaan satu sama lain meski sudah beberapa tahun tidak bertemu.
"Nak, tiga hari lalu ibu sudah menemui orang tua Anika. Ibu berbicara kepada mereka untuk mengetahui bagaimana kondisi Anika saat ini dan ibu rasa tidak ada salahnya bukan jika kamu mencoba dekat lagi dengan Anika?", Bu Ratmi menatap Abimanyu.
"Bu, ibu tidak tahu kondisi Anika. Dia sudah menikah, Rendra itu suaminya. Tolong, Bu, jangan memposisikan Abi seperti ini", jawab Abimanyu lantang.
Bu Ratmi masih duduk dengan tenang, "Nak Anika, mungkin bisa ceritakan bagaimana kondisi kamu saat ini biar Abimanyu tidak salah paham dengan maksud ibu", giliran Anika yang ditatap serius oleh Bu Ratmi.
Anika melirik sebentar ke arah Abimanyu. Ia tidak yakin harus menjelaskan keadaan dirinya pada lelaki yang sejujurnya hingga saat ini mendapat tempat spesial di hati kecilnya.
"Nak?", Bu Ratmi menyadarkan Anika dari renungannya.
"Oh, iya, maaf, Bu. Saya...saya hanya bingung harus menjelaskan dari mana. Jujur saja saya terkejut jika ibu mengetahui banyak hal tentang diri saya bahkan sampai menemui kedua orang tua saya", terang Anika setengah menunduk, menyembunyikan wajahnya yang entah sudah berekspresi seperti apa.
__ADS_1
"Ibu minta maaf, ya. Ibu tahu kalian mungkin marah dengan apa yang ibu lakukan, tapi maksud ibu baik dan tampaknya Tuhan pun memberikan jalan", ujar Bu Ratmi.
Abimanyu yang belum paham inti pembicaraan ini semakin kebingungan.
"Ini ada apa sebetulnya? jangan rahasiakan apapun dari Abu, Bu".
"Tenang, Nak. Tidak ada satu pun hal yang ibu rahasiakan darimu. Justru ibu sedang jujur dengan apa yang sudah ibu lakukan tapi karena di sini ada Anika, biar dia yang menjelaskan hal yang seharusnya dia sampaikan", tegas Bu Ratmi.
Kini Bu Ratmi dan Abimanyu menatap Anika yang masih tertunduk diam.
"Nik, ada apa?", tanya Abimanyu pelan-pelan.
Anika menarik nafas berat. Sebetulnya ia paham betul dengan maksud Bu Ratmi. Ia juga paham, wanita paruh baya itu tidak bermaksud membuka luka lama rumahtangganya ataupun ingin mempermalukannya. Tapi, ah, entahlah, Anika masih terdiam.
"Anika, ada apa?", lagi, Abimanyu bertanya.
Anika memberanikan diri mengangkat kepalanya. Menatap lelaki baik hati itu dengan kedua mata indahnya.
"Tidak ada yang salah dengan ucapan ibumu, Bi. Aku...aku hanya bisa bilang kalau saat ini...", kalimat Anika menggantung.
"Apa?", Abimanyu semakin penasaran.
"Aku...aku sudah bercerai dengan Rendra sekitar dua tahun lalu".
"Maaf, aku tidak bisa berbicara banyak. Tapi itu pilihan terbaik yang bisa aku dan Rendra ambil", jawab Anika.
Suasana kembali hening seolah tiga orang di ruangan itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Nak, ibu minta maaf ya atas sikap ibu yang mungkin keterlaluan karena sudah mencari-cari informasi tentang kamu bahkan sudah menemui kedua orang tuamu. Entah kenapa, hati ibu begitu ingin kamu jadi bagian dari keluarga ini. Saat ibu bertanya tentang kamu sama Laras, dia awalnya tidak ingin bercerita apapun. Tapi ibu memaksa karena hati ibu yakin kamu adalah pendamping yang tepat untuk putra kesayangan ibu, Abimanyu"
Anika dan Abimanyu terhenyak mendengar penjelasan Bu Ratmi. Ya, mereka memang tidak mengakan jika wanita paruh baya itu akan melakukan ini semua.
Pertemuan kembali Anika dan Abimanyu di acara pernikahan Laras ternyata sudah menarik perhatian Bu Ratmi. Kecanggungan mereka sebagai teman lama menjadi sesuatu yang mendorong Bu Ratmi untuk mencari tahu ada apa antara putranya dengan Anika? dan Bu Ratmi sudah mendapatkan jawabannya.
.
.
Abimanyu berusaha berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Kejadian lima hari yang lalu dan berkaitan dengan Anika membuat pikirannya terasa berat.
"Pak, rapat siang ini akan dilaksanakan di hotel Z dengan perusahaan L", terdengar suara seseorang berbicara di telepon yang tengah Abimanyu terima.
"Ok, saya berangkat sebentar lagi. Terimakasih", Abimanyu menutup telepon itu.
__ADS_1
Ia segera merapikan beberapa berkas dan laptop yang akan dibawanya. Tak lupa, ia juga merapikan jas dan penampilannya.
Jam satu siang Abimanyu sudah sampai di tempat tujuan. Ia disambut oleh seorang sekretaris wanita yang begitu ramah.
"Silahkan duduk, pak. Mohon menunggu sebentar", kata sekretaris itu seraya tersenyum.
Abimanyu menganggukkan kepalanya. Di depannya sudah tersaji beberapa hidangan jamuan.
"Selamat siang, mohon maaf menunggu tadi saya ada sedikit urusan", sebuah suara membuat pandangan Abimanyu beralih.
Kedua mata Abimanyu sedikit membelalak karena ia mengenali sosok lelaki yang menjadi kliennya itu. Ya, itu Rendra.
"Oh, iya, tak apa. Selamat siang", Abimanyu segera mengendalikan dirinya.
Rendra pun tak kalah terkejut. Setelah ia berbasa-basi layaknya rekan bisnis, rapat pun dimulai. Baik Abimanyu maupun Rendra berusaha profesional dalam rapat ini meski ada banyak pertanyaan yang menyeruak dalam pikiran mereka berdua.
Dua jam berlalu, rapat pun usai. Sekretaris pribadi Rendra tampak sibuk merapikan berkas dan barang-barang milik bossnya itu.
"Kamu lebih dulu kembali ke kantor. Saya masih ada urusan", perintah Rendra pada sekretarisnya.
"Baik, Pak", tanpa banyak bicara sekretaris itu berpamitan lalu pergi meninggalkan lokasi rapat.
Di ruangan itu kini hanya ada Abimanyu dan Rendra saja.
"Tunggu, kita perlu bicara", Rendra menahan pergerakan Abimanyu yang tampak siap untuk berpamitan.
Abimanyu melirik ke arah Rendra dan menunggu hal apa yang akan lelaki itu sampaikan.
"Sorry ya Bi, rapat tadi membuat gue kek gak kenal sama Lo. Gue senang dan gak nyangka kita bisa ketemu secepat ini".
"Hal apa yang mau dibahas?", tanya Abimanyu langsung.
Rendra tersenyum tipis, "Gue minta maaf ya kalau dulu pernah jadi teman yang arogan. Gue mau bahas soal Anika".
Abimanyu mengernyitkan dahinya, "Soal Anika? apa yang harus dibahas, Dra?".
Rendra menghela nafas pendek, "Dua hari lalu gue ketemu sama Anika. Saat itu, gue sama istri gue berkunjung ke rumahnya untuk bersilaturahmi. Ya, meskipun kita udah pisah, tapi hubungan kita baik, pun dengan keluarganya".
Abimanyu diam menyimak.
"Lalu orang tua Anika cerita sama gue, katanya beberapa waktu yang lalu ada seorang ibu yang datang menemui mereka dan menyampaikan maksud baiknya untuk bisa meminang Anika. Gue sama istri gue senang mendengar berita itu, apalagi setelah gue tahu kalau yang datang itu orang tua Lo, Bi", lanjut Rendra jujur.
"Dulu gue egois, memperlombakan hati Anika. Meskipun gue memang berhasil nikah sama dia, tapi selama gue hidup bareng dia, hatinya gak pernah ada buat gue. Itulah kenapa, gue setuju untuk cerai karena gue gak mau egois terus, memaksa Anika untuk hidup sama gue selamanya", imbuh Rendra.
__ADS_1
Ada desir yang tak biasa di hati Abimanyu saat ia mendengar penjelasan Rendra. Saat ini dia hanya bisa terdiam meresapi kata demi kata lelaki di depannya itu.