CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Keributan di Kampus


__ADS_3

Malam itu, mereka lalui dengan saling mengakrabkan diri, hingga kantuk memaksa mereka mengakhiri momen kedekatan tersebut, dan mereka pun terlelap dengan saling berhadapan, meski bantal guling masih memisahkan jarah keduanya.


Olivia dan Alzam pun terkadang masih sering tersenyum sendiri, saat mengingat lagi kekonyolan apa saja yang terjadi antara mereka malam itu.


Bahkan, hingga mata kuliah terakhir hari ini, Leon yang sejak pagi melihat sang sahabat terus cengar-cengir sendiri tak jelas selama kelas berlangsung, hanya bisa geleng-geleng kepala.


Sebuah pilinan kertas kecil melayang dan mengenai wajah Olivia, membuat gadis itu tersadar dari lamunan indahnya.


Olivia pun menoleh ke arah kertas tersebut berasal dengan kesal.


“Paan sih lu, Yon. Rese banget,” keluh Olivia lirih.


Leon tak menjawab. Dia justru menunjuk ke arah ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. Tak lama kemudian, sebuah pesan chat datang ke ponsel Olivia dari sang sahabat.


[Fokus woi. Lagi di kelas juga. Ngelamun jorok lu ya, ampe cengar-cengir gitu?] pesan Leon.


[Hooh! Gue lagi nginget kejadian semalam] jawab Olivia.


[Idih, nih bocah atu. Udah jebol tuh gawang?] tanya Leon.


[Nyaris. Baru ngajakin telanjang bareng doang🤣🤣🤣🤣] kelakar Olivia.


[Waduh... Jangan lupa live streaming ya] sahut Leon.


Namun, Olivia tak membalas chatnya, dan justru melempar sang sahabat dengan tutup pulpen yang tepat mengenai kening Leon.


Pemuda itu pun memekik kesakitan, atau lebih tepatnya terkejut dengan serangan mendadak Olivia, dan membuat seisi kelas menoleh ke arahnya, begitu pun sang dosen yang tengah mengajar.


Olivia sembunyi tangan, dan berpura-pura tak tahu apa-apa, membiarkan Leon ditegur oleh sang pengajar.


“Sukurin!” ucap Olivia lirih, membuat Leon semakin kesal.


Satu jam kemudian, kelas pun berakhir tepat sebelum adzan dzuhur. CD murottal pun sudah diputar di masjid kampus, dan menggema di penjuru tempat perkuliahan tersebut.


Olivia berjalan bersama Leon hendak keluar dari gedung kampus, menuju caffe terdekat untuk beristirahat, sambil menunggu Alzam datang.


Sepanjang jalan, gadis itu terus menertawakan Leon, yang selama sisa jam kuliah tadi menjadi bulan-bulanan sang dosen, karena kegaduhan yang dia sebabkan.


“Gara-gara elu sih. Gue kan jadi yang dicecer sama dosen tadi,” keluh Leon.


“Sukurin. Elu sih rese banget. Masa orang mau ngadon dedek suruh live streaming? Emang pertandingan bola?” sahut Olivia.

__ADS_1


“Ya kan biar lain dari yang lain,” jawab Leon.


“Lu aja sonoh sama cewek-cewek satu malem lu. Pasti dapet duit banyak tuh,” timpal Olivia.


“Idih. Ogah. Kata Bu guru Nurul, tak boleh. Tak berfaeda,” ucap Leon.


“Iya deh, iya. Eh, udah sampe tahap mana lu ama tuh cewek gatel. Semenjak lu deketin dia, tuh cewek beneran nggak dateng-dateng lagi ke kedai suami gue tau nggak?” tanya Olivia.


“Bukan gitu, Liv. Gue rasa lu beneran salah paham deh sama tuh cewek. Nurul tuh baik banget. Dia jauhin Alzam demi elu, bukan gara-gara gue. Gue mah sama sekali belum bisa deketin dia. Insting dia tuh tajem banget, seolah-olah paham betul sama modusnya cowok-cowok kayak gue ini,” ungkap Leon.


“Serah elu dah. Yang jelas, gue tenang sekarang, karena tuh cewek udah nggak deketin Mas Al lagi,” ucap Olivia.


“Cewek siapa?” tanya orang yang tiba-tiba muncul di belakang mereka, dan membuat keduanya seketika berbalik.


Olivia dan Leon membelalak melihat sosok yang saat ini berada di depan mereka. Olivia bahkan sampai mundur selangkah, dan membuat Leon pasang badan berdiri di depan gadis tersebut.


“Ngapain elu di sini?” tanya Leon.


Ekspresinya menunjukkan ketidaksukaan dan tak bersahabat dengan orang tersebut.


“Gue ada perlu sama Oliv, jadi mending lu minggir deh,” seru orang itu yang tak lain adalah sang mantan pacar Olivia, Nathan.


“Lu nggak liat apa, Oliv aja mundur pas liat elu. Itu tandanya, dia udah nggak mau ketemu sama elu lagi. Mending lu pergi aja deh,” usir Leon.


“Eh, Nathan. Lu  tuh yang nggak ada hak buat ketemu Oliv. Lu itu cuma orang brengs*k, yang udah buat hidup Oliv terpuruk. Lu nggak inget dosan lu yang dulu ke dia?” tepis Leon.


“Liv, aku mau bicara sama kamu, Liv. Please kasih aku kesempatan buat ngomong sama kamu” pinta Nathan.


Namun, Olivia tetap diam. Dia tak mau lagi berbicara dengan pria yang sudah membuat hidupnya berantakan, bahkan menganggap apa yang dilakukannya dulu adalah benar.


Pria yang sudah membuat seorang gadis lugu dan baik-baik, tiba-tiba saja berubah dalam sekejap menjadi gadis yang selalu berpenampilan seksi dan gemar mabuk-mabukkan di klub malam.


“Lu liat? Oliv nggak mau ngomong sama elu. Mending lu pergi deh dari sini. Biarin Oliv hidup dengan tenang tanpa diganggu cowok brengs*k kaya elu. Dia udah bahagia sama suaminya,” seru Leon lagi.


“Liv, please. Aku minta waktu sebentar,” pinta Nathan.


“Nggak ada yang perlu kita bicarain lagi. Mending kamu pergi aja,” ucap Olivia, yang masih bersembunyi di balik punggung Leon.


“Liv, please...,” pinta Nathan.


Pemuda itu maju dan hendak meraih lengan Olivia, namun Leon lebih dulu menahan dan kemudian mendorong Nathan hingga pemuda itu terhuyung ke belakang.

__ADS_1


“Nggak usah deket-deket dia lagi. Lu nggak denger apa yang dia bilang hah? Lu nggak tau bahasa manusia? Emang dasar binatang lu ya,” maki Leon.


Nathan yang didorong pun tak terima, terlebih hinaan dari Leon. Dia pun maju dan meraih kerah jaket pemuda tersebut.


"Udah cukup lu bikin ulah kemarin ya. Gue tau kalo elu yang udah nyiram koli di kemeja gue, biar gue pergi iya kan?" ucap Nathan.


"Heh... lu emang pantes digituin. Dasar cowok brengs*k! Harusnya lu tuh dikasih kotoran, bukannya kopi," maki Leon.


Sebuah kepalan tangan melayang dan hampir mengenai wajah Leon. Namun, Olivia yang melihat hal itu pun panik dan maju menangkap erat lengan Nathan, untuk melerai keduanya.


“Nathan, stop! Lu emang nggak tau diri ya? Pergi nggak lu? Atau gue teriak, biar elu digebukin ama orang-orang satu kampus?” ancam Olivia.


Nathan pun terpaksa melepaskan Leon dengan kesal, dan mundur beberapa langkah. Dia sadar jika tak mungkin membuat keributan di tempat umum seperti ini.


“Oke, aku pergi sekarang. Tapi ingat, aku pasti bakal balik lagi buat ketemu sama kamu, Liv,” ucap Nathan.


Pria itu pun lalu pergi setelah mengatakan hal tadi.


Setelah Nathan pergi, olivia tiba-tiba berjongkok di tempat. Kakinya mendadak lemas dan dia menundukkan kepalanya sambil memegangi kedua lututnya.


Leon yang melihat hal itu pun cuma bisa mengusap kasar wajahnya, sambil mengacak rambutnya dengan kesal. Dia tak tahu harus berbuat apa saat ini.


Dia yakin, saat ini Olivia pasti sedang sangat terpukul karena ulah Nathan yang kembali menganggu hidup sang sahabat.


Olivia hanya diam. Tatapannya nanar dan berkaca-kaca. Hatinya kembali sakit saat Nathan muncul dan memaksa bertemu dengannya hingga membuat keributan, bahkan ditempat umum seperti sekarang ini.


“Liv,” terdengar sebuah suara yang membuat Olivia seketika mendongak.


Gadis itu lalu berdiri dan berlari menghampiri orang tersebut. Tangisnya pecah di dalam pelukan orang yang tak lain adalah Alzam, sang suami.


Alzam yang baru saja datang dan melihat sang istri menangis pun, hanya bisa melihat ke arah Leon dengan tatapan kebingungan.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2