CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Episode 18


__ADS_3

"Bi, gue tahu selama ini yang ada di hati Anika cuma Lo. Awalnya pas gue sama istri gue datang, di gak mau cerita apa-apa. Tapi karena orang tuanya udah speak up duluan, akhirnya dia terbuka sama kita semua. Bi, please, kasih kesempatan buat Anika bahagia", kedua mata Rendra menatap dalam Abimanyu yang sedari tadi menyimak perkataannya.


Abimanyu masih terdiam. Hatinya bergemuruh. Ia tidak tahu harus merespon apa.


"Lo jangan bingung atau merasa gak enak atau apapun lah itu namanya. Gue benar-benar mau Anika bahagia karena dia juga udah nerima banget kebahagiaan gue saat ini. Orang tua Anika juga dukung penuh apapun keputusan putrinya. Tadinya gue mau cari Lo buat bahas hal ini, tapi Tuhan bantu gue, kita bisa ketemu secepat ini, Bi", lanjut Rendra lagi.


Perasaan Abimanyu yang berkecamuk sedikit lega mendengar ucapan Rendra meski dia sendiri belum bisa memastikan dan memutuskan apapun.


"Gue gak tahu harus jawab apa, Dra. Tapi thank's untuk semua penjelasan Lo, itu sangat berharga", kata Abimanyu.


Rendra tersenyum tipis, "Seharusnya gue lakukan ini sedari dulu. Kalau aja gue gak egois, tentu hidup Anika gak akan seperti sekarang. Kesalahan yang akan gue sesali seumur hidup", keluh Rendra.


Abimanyu hanya bisa terdiam. Dia mencoba memahami penyesalan Rendra.


"Ok deh Bi karena semua hal yang mau gue bahas udah kelar, kita bisa balik ke kantor masing-masing. Gue senang bisa ketemu Lo lagi, bisa kerja sama, dan gue tunggu undangan pernikahan Lo sama Anika, ya. Bye, Bro", ujar Rendra sesaat sebelum dia berlalu lebih dulu dari hadapan Abimanyu.


Seulas senyum tersungging dari bibir Abimanyu. Ya, hidup memang penuh dengan kejutan. Dia tak pernah bisa menebak semua rencana Tuhan untuk dirinya.


.


.


"Nak, sudah siap", tanya Bu Ratmi melongokkan kepalanya ke dalam kamar Abimanyu.


Putra kesayangannya itu baru saja selesai merapikan diri.


"Bismillah, siap, Bu", jawab Abimanyu yakin.


"Ayo, kita berangkat sekarang", ajak Bu Ratmi.


Abimanyu mengekor di belakang ibunya. Hari ini, tepat dua pekan setelah Abimanyu bertemu dengan Rendra, ia akhirnya memutuskan untuk melamar Anika.


Ada banyak hal yang ia pertimbangkan sepanjang masa itu. Tak lupa, Abimanyu juga senantiasa meminta petunjuk Tuhan untuk meyakinkan hati dan pilihannya.


"Ibu senang, akhirnya do'a-do'a ibu terjawab secepat ini. Terimakasih, Nak", Bu Ratmi menatap putranya yang duduk di balik kemudi dengan mata yang berkaca-kaca.


Abimanyu melirik ke arah sang Ibu sambil tersenyum, "Abi yang harus berterimakasih sama ibu karena berkat ibu, hal ini bisa terjadi".


Bu Ratmi mengelus bahu putranya dan menganggukkan kepalanya pasti.


Tak lama, mobil yang dikendarai Abimanyu tiba disebuah rumah bercat putih. Suasana di rumah itu tampak ramai.


"Bu, Abi gugup", ucap Abimanyu sesaat sebelum dirinya turun dari mobil.

__ADS_1


"Bismillah, semuanya akan berjalan dengan lancar, Nak. Percayalah", Bu Ratmi mencoba menenangkan putra kesayangannya itu.


Setelah berdo'a sejenak, Abimanyu dan Bu Ratmi pun turun dari mobil. Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh kedua orang tua dan keluarga dekat Anika.


Abimanyu mencium tangan orang tua Anika dan tak lupa tersenyum ramah menyapa semua orang yang ada di sana.


Jaka dan Laras juga dengan sumringah menyambut kedatangan Abimanyu dan Bu Ratmi.


"Akhirnya, jodoh emang gak kemana ya, Bi", seloroh Jaka, sesaat sebelum mereka masuk ke dalam rumah.


Abimanyu menyikut lengan Jaka, ia hanya terkekeh saja.


Setelah semua orang berkumpul, acara pun dimulai. Jaka dengan piawainya memandu acara pertunangan tersebut.


Acara inti pun tiba saat Anika diminta hadir di tengah-tengah seluruh keluarga yang hadir.


Perlahan tapi pasti, Laras tampak sumringah mendampingi Anika yang keluar dari kamarnya dengan malu-malu.


Semua mata menunggu kedatangannya, terutama Abimanyu. Keduanya matanya tampak memancarkan bahagia saat menangkap sosok wanita bergaun cream yang melangkah dengan wajah menunduk, menahan bahagia dan malu bersamaan.


Anika tampak anggun. Ia duduk di antara ayah dan ibunya.


Jaka kembali memandu acara pertunangan tersebut.


Anika terdiam sejenak, ia memberanikan diri mengangkat kepalanya. Menatap satu persatu wajah kedua orang tuanya dan juga lelaki yang kini datang untuk meminang dirinya.


"Bismillah, Anik bersedia menerima lamaran ini, Ayah", jawab Anika pasti.


Meski ini bukan kali pertama bagi Anika menerima lamaran seseorang, tapi lelaki yang melamarnya kali ini begitu spesial. Lelaki yang memang ia cintai bahkan sejak dulu.


Semua orang di ruangan itu mengucap hamdalah. Lalu prosesi penyematan cincin pun dimulai.


Bu Ratmi yang menyematkan cincin itu di jari manis Anika. Abimanyu tersenyum bahagia melihat ikatan pertamanya dengan Anika sudah terjalin.


"Alhamdulillah semua prosesi sudah selesai. Nah, sekarang untuk penentuan hari pernikahan, bagaimana?", tanya Jaka si pemandu acara.


"Terkait hal itu, kami selaku orang tua sudah sepakat akan menyerahkan pada Anika dan Abimanyu", jawab Bu Ratmi.


Semua orang akhirnya menunggu jawaban dari pasangan itu.


Abimanyu melirik Anika sejenak, begitupun dengan Anika, kedua mata mereka sempat bertemu dan seolah memberikan dukungan atas siapapun yang memberikan keputusan.


"Bismillah, insyaa Allah kami akan menikah dua minggu dari sekarang, tepatnya tanggal 15 bulan ini", jawab Abimanyu pasti.

__ADS_1


Semua orang yang mendengar merasa bahagia. Pertunangan pun berjalan dengan lancar.


Jaka kini sibuk memandu acara foto keluarga dan santap bersama.


.


.


"Nik, apalagi lagi nih yang bisa aku bantu?", tanya Laras yang sedang berkutat di butik Anika.


"Udah semua, Ras. Kamu jangan capek-capek, ingat lho kamu lagi hamil tuh. Aku gak mau calon ponakan aku kenapa-kenapa karena ibunya sibuk bantu persiapan pernikahanku", ujar Anika sambil memeriksa daftar kebutuhan yang sudah ia selesaikan.


Laras tertawa kecil, "Tenang, anakku kuat kok persis lah kek bapaknya, kuat di ranjang", seloroh Laras.


"Husss, bicaramu itu lho", protes Anika.


Laras tertawa lepas, ia tahu Anika sensitif dengan pembahasan hal-hal tabu begitu.


"Eh, itu kenyataan, Nik. Nanti deh setelah kamu nikah cobain. Nagih, tahu. Apalagi Abimanyu cinta banget sama kamu, wah udah deh tiada hari tanpa main di ranjang", goda Laras lagi.


"Aaaaa...Laras, udah jangan bahas hal begituan. Gak sopan", Anika menutup kedua telinganya.


Tawa Laras semakin menggema di ruang kerja milik Anika.


Setelah selesai memastikan semua kebutuhan sudah aman, keduanya memutuskan untuk pergi ke cafe, makan malam bersama.


Tak butuh waktu lama, Anika dan Laras sudah sampai di tempat tujuan.


Mereka duduk di balkon cafe yang menyajikan view of city light.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Anika dan Laras sempat mengambil beberapa foto berdua sebagai kenang-kenangan, begitu kata Laras.


"Nik, kamu gak cerita ke Abimanyu kalau kamu masih perawan?", pertanyaan absurb Laras meluncur begitu saja.


Anika melemparkan gulungan tissue di tangannya ke arah Laras, "Ih, apaan sih, Ras. Penting ya aku bilang soal begituan sama Abi?".


Laras tertawa kecil, "Ya penting lah. Coba deh kamu pikir, jarang banget ada janda muda, high quality, dan masih perawan kek kamu. Tuhan emang sayang bener ya sama Abimanyu, jodohnya jadi sama kamu dan masih tersegel", ujar Laras makin ngaco sambil menyilangkan kedua telunjuknya.


"Ras, sumpah ya, aku risih dengarnya", protes Anika keras dengan wajah cemberut.


Laras masih tertawa, "Iya sorry sorry. Jangan ngambek dong calon manten. Ya gimana, semua hal yang aku bilang kan emang benar, Nik. Pokoknya nih ya, aku berdo:A yang terbaik buat pernikahan dan rumah tangga kamu ke depannya sama Abimanyu".


Senyum Anika kembali mengembang mendengar ketulusan ucapan Laras. Ya, memang semua hal yang sahabatnya itu bilang benar adanya. Hanya Anika memang selalu merasa risih dengan hal-hal tabu seperti yang Laras bilang.

__ADS_1


"Pesanku, meski belum punya pengalaman, tetap ya Nik, nanti layani suami dengan maksimal di ranjang", lagi, ucapan konyol Laras membuat Anika memilih untuk mencubit pipi sahabatnya itu agar diam, tidak lagi membahas topik sensitif di tengah kebersamaan mereka.


__ADS_2