
Sekitar lima belas menit kemudian, Olivia keluar dari dalam kamar mandi, sambil menggenggam sesuatu dan membawanya ke arah jemuran yang ada di tempat cuci, tepat di samping pintu belakang. Dia melihat sang istri membentang benda tersebut yang tak lain adalah segitiga pelapis daerah kewanitaannya yang tampak basah.
Alzam hanya tersenyum tipis dan menerka bahwa gadis tersebut baru saja mencuci bekas haidnya.
Setelah selesai menjemur benda pusakanya itu, Olivia pun menghampiri Alzam yang nampak sedang menyaring sesuatu ke dalam gelas. Terlihat uap panas keluar dari sana dan bau jahe yang pekat menusuk hidungnya.
“Bikin apaan, Mas?” tanya Olivia.
“Ehm... Ini air jahe buat kamu. Minum gih mumpung masih anget,” seru Alzam.
Dia membawanya menuju ke depan TV dan duduk lesehan di sana. Olivia pun mengikuti sang suami duduk di sampingnya.
Gadis itu melihat Alzam mengipasi minuman yang masih mengepulkan uap panas tersebut dengan secarik kertas, dan bukan meniupnya. Melihat hal itu, Olivia pun bermaksud membantu Alzam dengan meniup minuman tersebut dengan nafasnya.
Namun, sang suami segera menutupi atasan gelas dengan kertas yang ia pegang dan membuat si gadis berhenti meniup. Olivia sampai terkejut dan memicingkan matanya melihat reaksi Alzam yang menurutnya sangat aneh.
“Jangan ditiup,” seru Alzam.
Olivia pun menegakkan punggungnya yang tadi sempat condong ke depan, karena berusaha meniup minuman buatan Alzam.
“Emang kenapa?” tanya Olivia.
“Meniup makanan atau minuman panas itu tidak dianjurkan oleh Rasulullah,” ucap Alzam.
“Tapi kan biar cepet bisa diminum, Mas. Kamu juga tadi ngipasin nggak papa,” sanggah Olivia.
“Niup sama ngipasin itu beda, Liv. Meniup makanan dilarang oleh Rasullullah. Selain dilihat dari segi agama, ada juga penjelasan dari segi kesehatannya,” jelas Alzam.
“Masa sih? Aku dari kecil kalau makan atau minum panas selalu ditiup, tapi nggak ada masalah kesehatan apa-apa kok. Emang kalau Rasulullah bilang apa, kita mesti nurut banget gitu ya? Gimana kalo yang dia bilang salah?” cecar Olivia.
Alzam mengangkat kedua alisnya saat mendengar ucapan dari sang istri. Olivia benar-benar gadis yang tidak bisa menerima penjelasan tak logis, sehingga Alzam pun harus pintar menjelaskan dengan sebuah fakta logis yang bisa diterima akal sehat.
Dia mencubit gemas pipi sang istri dan kemudian mengusapnya dengan lembut.
“Oliv sayang, nafas kita mengandung karbon dioksida kan? Kalau ketemu sama uap panas dari makanan atau minuman, akan menghasilkan asam karbonat. Nah, bahaya asam karbonat apa? Cari sendiri di internet. Pasti ada penjelasan ilmiahnya,” jelas Alzam.
__ADS_1
“Asam karbonat?” gumam Olivia.
Gadis itu pun serta merta berdiri dan mengambil gawainya yang sejak tadi berada di atas meja rias. Dia kembali menghampiri sang suami yang terlihat sedang sibuk mengipasi minuman rimpang buatannya.
Olivia terlihat serius menatap layar ponselnya dengan bola mata yang bergerak ke kiri dan kanan.
“Waahhh... Gila! Asam karbonat kalo ditimbun dalam tubuh, lama-lama bisa jadi penyakit jantung. Hhiiiihhh...Ngeri,” ucap Olivia pada dirinya sendiri.
“Udah lihat kan? Rasulullah itu sebaik-baiknya panutan hidup bagi umat muslim. Setiap apa yang beliau ucapkan dan lakukan, selalu ada manfaatnya bagi kita. Tidak hanya sekedar aturan yang membatasi, akan tetapi ada juga penjelasan ilmiahnya. Karena, semua itu langsung diperintahkan oleh Allah sebagai Dzat Yang Maha Tahu segalanya. Kalau kita bisa menyelami sedikit lebih dalam setiap hadits Rasulullah, makan kita hanya mampu mengucap subhanallah karena sangkin takjubnya,” jelas Alzam.
Olivia menyimak penjelasan Alzam dengan serius, serta ekspresi yang menunjukan antusiasmenya.
“Mas, Umi Fifit juga bilang kek gitu lho. Dia bilang Rasul itu sebaik-baik panutan hidup,” sahut Olivia.
“Ya emang gitu,” ucap Alzam.
Pemuda itu pun kemudian menempelkan punggung tangannya ke sisi gelas, dan merasakan bahwa suhu minuman sudah semakin turun.
“Nih minum. Mumpung masih anget. Pelan-pelan aja. Aku nggak mau minta kok,” seru Alzam.
Keduanya terkekeh. Gadis itu oun kemudian meminum sedikit demi sedikit rebusan jahe dan gula merah buatan sang suami, yang bisa mengurangi rasa nyeri yang dialaminya.
Sedikit demi sedikit, minuman tersebut pun habis hingga tak bersisa, seiring dengan hilangnya rasa nyeri di perut Olivia.
Alzam terus menemani sang istri sambil kembali menyaksikan siaran TV yang tadi bahkan ia lupa matikan, dan buru-buru membawa Olivia kek amar, akan tetapi justru gagal bermesraan akibat nyeri haid yang tiba-tiba datang.
Setelah selesai meminum air jahe hangat, Olivia berbaring di samping Alzam, dengan berbantalkan lengannya yang ia tekuk.
Alzam dengan lembut mengusap surai coklat gelap Olivia, dan membuat perasan gadis itu semakin nyaman.
“Mas, katanya mau lanjut bahas masalah tadi sore,” ucap Olivia.
“Masalah tadi sore? Yang mana?” tanya Alzam lupa.
“Yang masalah saling bantu itu lho. Katanya kamu nggak mau dianggep atasan,” jawab Olivia.
__ADS_1
“Oh.. Yang itu. Emang Umi Fifit bilang apa sih, sampe kamu nganggep aku atasan dan kamu bawahan?” tanya Alzam lagi.
Olivia pun menceritakan jika awalnya, Umi Fifit menjelaskan perihal kewajiban berhijab bagi kaum Muslim wanita, dan kemudian menyambung kepada tugas laki-laki sebagai pemimpin perempuan.
Sang ketua majlis taklim pun mencontohkannya dengan hal yang bisa dipahami oleh Olivia, yaitu dengan istilah perkantoran, hingga membuat gadis tersebut langsung bisa menangkap poinnya. Akan tetapi ternyata gadis polos itu masih butuh penjelasan mendalam akan pengaplikasiannya dalam kehidupan rumah tangga.
“Yang dibilang Umi Fifit emang bener, kalau laki-laki itu ditakdirkan menjadi pemimpin atas perempuan. Tugas seorang suami yaitu melindungi istrinya dari api neraka. Maka dari itu, seorang suami wajib membimbing istrinya agar selalu berada di jalan yang benar. Salah satunya selalu mengajak sholat atau minimal mengingatkan sholat. Bisa juga dengan hal lain yang sesuai syariat agama islam, seperti berhijab.” jelas Alzam.
"Tapi kok kamu nggak nyuruh aku buat berhijab?" tanya Olivia.
"Kan aku udah bilang dulu, aku nggak mau maksain kamu. kalau emang udah waktunya, InsyaAllah tanpa aku suruh pun kamu akan berhijab dengan sendirinya. Fokusku saat ini adalah gimana caranya kamu sedikit demi sedikit paham tentang ilmu agama," jawab Alzam.
"Ehm... gitu. terus yang urusan berumah tangga?" tanya Olivia lagi.
“Dalam kehidupan berumah tangga, perlu adanya kerja sama dalam mengurus rumah tangga tersebut. Mungkin kamu pernah denger ada istri yang sibuk ngurus rumah sampe nggak sempet ngurus dirinya sendiri. Bahkan sampe jatuh sakit karena lupa makan sangkin repotnya ngurus rumah. Tapi suaminya bilang dia yang capek cari duit dan si istri cuma diem di rumah ngabisin uangnya aja. Bahkan banyak yang menjadikan penampilan kumal sang istri sebagai alasan mencari wanita lain. Aku nggak mau kita kayak gitu,” jelas Alzam panjang lebar.
“Aku juga ogah, Mas,” sahut Olivia.
“Makanya, aku mau kita jadi partner yang akan selalu sama-sama jalanin rumah tangga ini bareng-bareng. Aku kerja cari uang, kamu juga tetep urus pendidikan dan kejar karir kamu. Urusan rumah, kita bisa kerjain sama-sama. Ada masalah apa, kita pikir bareng-bareng. Semua kita jalani berdua, oke,” pungkas Alzam.
Olivia seketika mengangguk mantap mengiyakan ucapan sang suami tadi.
Setelahnya, mereka menyusun jadwal pembagian tugas, yang mereka tulis sendiri-sendiri pada sebuah sticky note.
Setelah selesai, mereka menempelkannya di pintu kulkas, dengan dibubuhi sebuah emoticon dan juga simbol hati di sudutnya.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁