CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Panik


__ADS_3

Matahari sudah terbenam sepenuhnya di ufuk barat, dan rembulan merangkak naik ke atas puncak langit malam. Malam ini si raja malam itu tampak penuh dan sempurna.


Olivia yang sudah pulang lebih dulu sejak sore, menunggu kedatangan sang suami yang sampai sekarang belum juga pulang. Waktu maghrib sudah hampir habis dan sebenar lagi isha datang.


Dia mencoba menelepon Alzam beberapa kali, namun tak dijawab satu pun oleh pemuda tersebut. Hal itu membuat Olivia semakin cemas.


Dia terus mondar-mandir dari pintu depan hingga ke depan kamar, dan kembali ke titik awal, sambil mengetuk-ngetukkan ponselnya ke dagu.


Tak berselang lama, suara motor memasuki halaman rumah kontrakannya bersama sang suami. Olivia pun melihat dari jendela dan betapa leganya dia melihat sosok pria yang sejak tadi ia tunggu, kini sudah datang.


Olivia pun bergegas membuka pintu dan berjalan menghampiri sang suami, yang baru saja turun dari motor.


“Mas,” panggil Olivia.


Seperti sudah kebiasaan, meski dalam kondisi kesal, Olivia selalu meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan pemuda tersebut.


“Assalamualaikum,” salam Alzam.


“Waalaikumsalam. Kenapa baru pulang sih, Mas?” keluh Olivia dengan wajah cemberutnya.


“Maaf ya, Liv. Tadi dia minta aku mampir buat minum bentar. Nggak enak kalo ditolak, jadi aku ikut masuk ke apartemennya,” jawab Alzam.


“Terus, kenapa nggak angkat telepon aku?” cecar Olivia.


“Aku lagi dijalan, Sayang. Aku nggak sempet berhenti buat ambil hape, soalnya pengin cepet-cepet sampe rumah. Aku bayangin kamu lagi nungguin aku. Ternyata benerkan,” jawab Alzam.


Telunjuknya menoel ujung hidung Olivia yang mancung, namun terdorong ke dalam oleh pipinya yang agak tembem.


Dia lalu mengambil sebuah bungkusan dari tempat barang yang ada di depan jok motornya, dan menyerahkan kepada Olivia.


“Nih bawa masuk. Masih anget. Nanti buat makan malam kita ya. Kamu belum makan kan?” terka Alzam.


Olivia pun hanya menggeleng, menjawab pertanyaan sang suami.


Dia lalu berjalan beriringan dengan Alzam, yang menuntun motornya masuk ke dalam rumah.


Setelah selesai mandi dan sholat isha, keduanya menyiapkan makan malam bersama. Alzam sempat membeli telor geprek langganannya saat jalan pulang, dan membawa ke rumah untuk dimakan bersama sang istri.


Olivia terlihat sedang memotong tahu, sedangkan Alzam membantunya membuat bumbu marinasi seperti biasa.

__ADS_1


Kali ini, Olivia memakai capit stainless agar lebih aman. Sambil menunggu lauk pendamping matang, Alzam mengambilkan nasi dari rice cooker, dan membawanya ke atas karpet di depan TV.


Tak lupa juga dia menyajikan telur geprek ke atas piring agar mudah dihidangkan. Setelah tahu matang, Olivia menyajikan di atas piring dan membawanya ke tempat Alzam berada. Satu teko air putih menjadi minuman makan malam sederhana mereka.


Meski dalam kesederhanaan yang begitu jauh dari hidupnya yang dulu, akan tetapi Olivia merasa lebih tenang tinggal di kontrakan kecil bersama sang suami.


Setelah selesai makan, Alzam masih betah berlama-lama menonton TV, sehingga Olivia pun memilih mengerjakan tugas kampusnya di tempat yang sama dengan sang suami berada.


Gadis itu bersandar di tembok dengan kedua kaki yang diluruskan ke depan, memangku laptop yang sejak tadi menjadi fokusnya. Sementara Alzam berbaring tepat di samping gadis tersebut.


Tiba-tiba, pemuda itu teringat sesuatu saat dia mengantar temannya tadi.


“Oh iya, Liv. Aku tadi ke apartemen kamu lho,” ucap Alzam.


“Apartemen? Apartemen yang mana?” tanya Olivia santai, sambil masih fokus pada layar enam belas inci tersebut.


“Apartemen yang dulu kamu tinggali itu lho. Apartemen XXX kan kalau nggak salah,” jawab Alzam.


Seketika, jemari Olivia terhenti. Gadis itu hampir lupa bahwa dulu dia telah berbohong pada Alzam, mengenai apartemen Leon yang diakuinya sebagai apartemennya sendiri.


“Ehem... Ngapain kamu kesana?” tanya Olivia.


Gadis itu berusaha senormal mungkin, hingga harus berdehem demi menghilangkan gugupnya.


What the f*ck?! Gawat! Gimana kalo Mas Al sampe tahu aku udah boongin dia? batin Olivia


Gadis itu pun mulai cemas. Dia sampai harus menautkan kesepuluh jarinya untuk menutupi kegugupannya.


“Oh ya? Kamu tau sendiri kan, Mas. Aku tuh nggak terlalu deket sama orang lain. Lagian apartemen itu juga udah ku sewain ke orang lain sejak kejadian waktu itu,” jawab Olivia.


“Iya juga sih. Dia juga baru pindah ke sini sekitar sebulanan kok. Dulunya, dia tinggal di laut negeri. Tapi pas tau ceweknya mau nikah, dia pulang lagi ke sini,” tutur Alzam.


“Aneh. Pas pacaran ditinggal, giliran tau mau ditinggal nikah kok buru-buru pulang. Cowok kek gitu tuh bener-bener nyebelin. Syukur deh ceweknya udah keburu nikah duluan, jadi biar tahu rasak tuh cowok,” jawab Olivia ketus.


“Duh, kayak yang punya pengalaman pribadi aja,” sindir Alzam.


“Sorry ya, Mas. Buat aku, cowok kek gitu mah hempaskan aja sebelum dia merajalela. Lagian, Allah udah baik banget ketemuin aku sama kamu, Mas. Hehehe...,” sahut Olivia.


Gadis itu lalu menyingkirkan laptop dari pangkuannya, dan memeluk kepala sang suami, yang sejak tadi terus menatapnya. Dia menyandarkan kepalanya di kening Alzam.

__ADS_1


Ucapannya barusan membuat Alzam pun ikut terkekeh dan membelai lembut lengan sang istri yang melingkar di lehernya serta mengecupnya.


“Tapi, kita nggak bisa nge-judge seseorang secara sepihak lho, Liv. Siapa tau dia pergi karena mengejar masa depannya. Dia bilang masih bertekad buat dapetin ceweknya lagi,” ucap Alzam.


“Gila bener. Cewek udah nikah masih mau diuber juga. Kalau kamu jadi suami si cewek, apa yang bakal kamu lakuin, Mas?” tanya Olivia.


“Ehm... Yang jelas, aku bakal buat istriku semakin cinta sama aku, sampai dia nggak mau peduliin godaan dari mantannya lagi,” jawab Alzam.


“Ehm... Suami ku emang the best. Tambah sayang deh sama kamu, Mas,” ucap Olivia dengan manjanya.


“Alhamdulillah, aku dikit-dikit juga bisa ngegombal. Hahaha...,” sahut Alzam dengan kelakarnya.


Keduanya pun tertawa bersama. Rasa penasaran masih mengusik Olivia, apalagi dia tahu bahwa teman Alzam tersebut adalah tetangga dari Leon.


“Mas, siapa sih temen kamu itu? Jadi penasaran,” tanya Olivia.


“Oh, aku juga baru beberapa kali ketemu sama dia, dan belum kenal banget. Ehm... baru dua kali deh kayaknya. Cuma menurut aku dia itu orang baik. Oh iya, dia pernah bilang kalau dia punya bisnis retail yang cukup besar. Tahu retail Z? Dia bilang itu punya dia,” tutur Alzam.


Mendengar nama bisnis tersebut diucapkan oleh sang suami, Olivia seketika menegang. Kedua pupil matanya membesar dan jantungnya berdetak lebih cepat.


Tenggorokannya seolah tercekat saat menelan salivanya. Meski dia bisa menebak, namun rasa penasaran terus membuatnya ingin memastikan orang yang dimaksud Alzam.


“Si... Siapa namanya?” tanya ragu.


Jantung Olivia berdegup semakin cepat, menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Alzam. Dia bahkan memejamkan matanya, mempersiapkan mentalnya untuk mendengarnya.


“Namanya Nathan. Kami ketemu di taman deket rumah mu, pas kita baru aja nikah,” jawab Alzam.


Seketika, Olivia melepas pelukannya dari leher Alzam. Tangannya tiba-tiba saja lemas dan pikirannya linglung.


Brengs*k! Dia udah nggak bisa deketin aku, sekarang malah nargetin Mas Al? Gimana nih? batin Olivia cemas.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2