CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Rujak vs Salad


__ADS_3

Setelah Alzam pergi, Olivia kembali ke kamarnya. Dia mulai mengerjakan tugas kuliah dengan berteman laptop, dan juga segelas susu dingin yang diambilnya dari kulkas.


Gadis itu nampak serius dengan pekerjaannya, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan hampir pukul satu siang.


Akhirnya tugas pun selesai, dan dia menutup laptopnya. Setelah itu, Olivia meraih ponselnya yang sejak tadi sama sekali tak tersentuh. Ada satu chat dari Alzam yang bahkan tak disadari oleh Olivia.


“Sejam yang lalu? Hah... sangkin seriusnya, jadi nggak nyadar ada chat dari Mas Al,” gumam Olivia.


Dia pun membuka pesan tersebut yang isinya jangan lupa makan dan juga sholat. Pesan biasa yang sering dikirimkan Alzam kepada Olivia, saat keduanya sedang tak bersama.


Meski hanya pesan sederhana, akan tetapi hal itu mampu membuat garis lurus di bibir Olivia menjadi melengkung dengan manisnya.


Dia pun membalasnya dengan sama-sama mengingatkan hal yang sama.


Setelah itu, Olivia kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas, sementara dirinya membereskan semua benda-benda yang digunakannya untuk mengerjakan tugas kuliahnya tadi.


Saat sudah selesai, dia berjalan ke arah dapur dan melihat bahwa persediaan tempe tahunya sudah habis. Olivia pun memutuskan untuk pergi ke warung terdekat dan mencari sesuatu di sana, yang bisa mengganjal perut laparnya.


Sesampainya di warung, dia melihat ada seorang penjual rujak sayur yang menggelar dagangannya di samping warung tersebut, dengan hanya menggunakan satu meja besar dan satu meja kecil.


“Bu, beli tempe satu kotak sama tahu satu bungkus,” ucap Olivia.


Pemilik warung pun mengambilkan apa yang diminta oleh perempuan itu, lalu menyebutkan nominalnya.


Olivia membayarnya, dan lalu pergi dari warung tersebut.


Saat hendak pergi dari sana, Olivia seolah tertarik dengan penjual rujak itu dan kemudian mendekat. Saat diperhatikan, dia melihat ada berbagai sayuran yang sudah matang seperti kangkung, daun ubi jalar, kubis, tauge, kacang panjang dan juga kecipir.


Ada juga yang masih mentah seperti mentimun, pisang batu muda, ketela, dan bengkuang. Bahkan buah-buahan yang biasa dibuat rujak buah pun ada.


Olivia belum pernah melihat penjual seperti ini sebelumnya, sehingga dia pun bertanya.


“Permisi, Bu. Ibu jualan apa yah?” tanya Olivia.


“Oh, saya dagang rujak, Neng. Eneng mau rujak apa? Ada rujak sayur, rujak tumbuk, atau rujak buah?” tanya si pedagang rujak.


“Rujak?” tanya Olivia.


Dia belum pernah mendengar kata itu sebelumnya, sehingga perempuan tersebut pun mencoba berpikir keras akan makanan tersebut.


“Ehm, maaf, Bu. Rujak itu apa ya?” tanya Olivia.


Si pedagang pun terkejut mendengar pertanyaan Olivia. Dia tak menyangka bahwa ada orang yang tidak tau apa itu rujak.

__ADS_1


“Ehm, Eneng asli dalam negeri kan ya? Apa blasteran? Atau lama tinggal di luar negeri?” tanya si penjual.


“Enggak kok, Bu. Aku asli dalam negeri. Cuma baru pernah lihat yang kek begini,” jawab Olivia.


“Oohhh... Eneng orang kaya ya? Biasanya orang kaya nggak tahu makanan begini,” sahut si penjual.


Dia pun lalu menjelaskan masing-masing menu dagangannya, dari mulai rujak sayur, rujak tumbuk sampai rujak buah.


Setelah mendengar penjelasan dari si penjual, dia pun memiliki gambaran sekilas tentang makanan-makanan tersebut.


“Kek salad gitu ya, cuma ini pake saus kacang kalau yang biasa aku makan pakenya saus mayo, sayurnya juga mentah. Boleh deh rujak sayur satu, Bu. Yang pedes yah,” pesan Olivia.


“Nggak mau nyobain semuanya, Neng? Biar tahu rasanya gitu,” bujuk si penjual.


“Nggak deh, Bu. Nyoba satu dulu aja,” sahut Olivia.


Penjual itu pun lalu membuatkan pesanan Olivia. Gadis itu duduk sambil matanya terus memperhatikan setiap bahan yang digunakan, serta langkah-langkah pembuatannya.


Setelah selesai, dia pun membayarnya dengan menyodorkan uang seratus ribuan, tanpa bertanya terlebih dulu harganya.


“Nggak ada uang kecilnya, Neng?” tanya si penjual.


“Emang harganya berapa, Bu?” tanya Olivia.


“Hah? Yang bener?” tanya Olivia kaget.


Gila. Murah banget. Gue biasa beli salad di resto, harganya berkali-kali lipat dari ini. Anjir. Gue dikibulin ama resto bertahun-tahun, batin Olivia.


Setelah itu, dia pun mengambil kembali uang dari dalam dompetnya. Dia berpura-pura mencari agak lama.


“Ehm... Ini, Bu. Maaf, aku kira nggak ada uang kecil tadi, ternyata nyelip,” ucap Olivia berbohong.


“Uang pas ya, Neng,” sahut si penjual rujak.


“Iya, Bu. Makasih ya,” ucap Olivia.


Perempuan itu pun lalu kembali ke rumah kontrakannya, dan mencoba menu baru yang ditemuinya di lapak penjual rujak.


Dari ekspresinya, Olivia terlihat menikmati makanan tersebut. Dia bahkan bisa menghabiskannya seorang diri, akan tetapi tidak dibarengi dengan nasi.


Sayuran yang banyak dalam rujak tersebut, cukup membuat perut Olivia kenyang meski tidak makan nasi.


Seusai makan, dia mengambil wudhu dan sholat dzuhur sendirian di rumah. Sedikit demi sedikit, Olivia mulai hapal bacaan sholat, meski kadang dia berhenti cukup lama untuk mengingat bagian yang terlupa.

__ADS_1


Semua itu berkat sang suami yang sengaja mengeraskan bacaan sholatnya setiap kali mereka berjamaah di rumah, agar Olivia terbiasa mendengarnya dan secara tak langsung terekam dalam ingatan.


Alzam tidak pulang, akan tetapi pemuda tersebut akan kembali ke rumah saat selepas sholat ashar.


Setelah menikah, terlebih beberapa minggu ini, dia akan selalu pulang cepat. Jika sebelumnya dia selalu pulang selepas isha atau hingga kedai tutup, namun sekarang Alzam selalu pulang ba'da ashar setiap hari.


Dia mempercayakan semua urusan kedainya kepada Abas, yang sudah ia angkat secara resmi sebagai menejer di kedainya.


Selain dia adalah karyawan senior, Abas juga bisa membawahi rekan-rekannya, dan paham bagaimana cara mengatur kedai saat Alzam tidak bisa datang.


Setelah Olivia selesai sholat dhuhur, dia keluar kamar bermaksud untuk bersantai dan menonton TV, akan tetepi matanya menangkap setumpuk pakaian kotor di dalam keranjang cuci.


Hari ini harusnya jadwal mereka mencuci. Biasanya Alzam akan mencuci saat malam hari ketika mereka hendak tidur, dan merendamnya dengan larutan pewangi pakaian hingga pagi.


Barulah setelah subuh, Olivia yang bertugas untuk menjemurnya di luar. Namun sepertinya, kedatangan Papah Abi semalam membuat Alzam belum sempat mencuci.


Olivia pun lalu mencoba mengambil cucian tersebut, dan bermaksud mencucinya. Berbekal pengetahuan yang dilihatnya saat menemani sang suami mencuci, dia pun mulai menyiapkan bak besar untuk merendam pakaian kotor tersebut ke dalam larutan deterjen.


"Pakaiannya direndem dulu sekitar setengah jam pake deterjen, biar kotorannya gampang ilang."


Suara Alzam seolah terdengar jelas di telinga Olivia saat ini. Dia selalu ingat kata-kata suaminya, setiap kali pemuda itu memberikan pengarahan tentang mengerjakan sesuatu.


Sambil menunggu rendamannya, Olivia memeriksa gawainya yang ada di atas meja rias.


Dia berbalas pesan dengan Leon mengenai tugas yang baru saja ia selesaikan. Tak terasa, setengah jam berlalu dan Olivia kini kembali berhadapan dengan satu bak cucian kotor.


Dia mulai mengambil satu persatu baju yang telah basah oleh larutan deterjen tersebut, dan menguceknya ala kadarnya. Ini pengalaman pertamanya mencuci pakaian sendiri secara manual menggunakan tangan.


Karena salah posisi saat megucek, jemari Olivia pun lecek dan terasa perih. Ditambah takaran deterjen yang terlalu banyak, membuat tangannya merah dan panas.


Akan tetapi, gadis itu tak mau dibilang tidak becus, sehingga dia pun terus melakukannya meski dengan meringis perih karena lukanya terus terkena air sabun.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


Besties, sambil nunggu neng Olivia up lagi, mampir ke novel teman ku dulu yuk 👇

__ADS_1



__ADS_2