CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Pemeriksaan rutin


__ADS_3

Hari ini, sang ibu hamil memiliki jadwal pemeriksaan kehamilan rutin dengan dokter kandungan. Alzam pun menyempatkan diri untuk libur pergi ke kedai, demi menemani sang istri pergi ke dokter.


Awalnya Olivia meminta Alzam untuk tetap pergi ke kedai, sementara dia akan meminta Mamah Ros untuk mengantarkannya. Akan tetapi, kejadian bulan lalu saat Alzam fokus pada kasus yang dulu, dan meminta mertuanya mengantar Olivia melakukan pemeriksaan, perempuan hamil itu tiba-tiba histeris saat seorang perawat pria hendak memeriksa tensi darahnya.


Keributan pun terjadi, dan dokter terpaksa memotong antrian agar Olivia segera mendapatkan penanganan. Dia bahkan sempat beristirahat di ruang UGD, karena diberi cairan penenang agar histerisnya bisa diatasi. Mamah Ros pun tak tahu harus berbuat apa, dan dia hanya bisa meminta Alzam untuk segera datang ke rumah sakit melihat kondisi istrinya.


Oleh karena kejadian itulah, Alzam kali ini bersikeras menemani Olivia pergi ke rumah sakit, karena hanya saat bersamanya lah Olivia bisa merasakan aman berada di luar rumah.


Saat ini, keduanya tengah naik taksi online yang sengaja Alzam pesan. Pemuda itu tak pernah lagi membonceng istrinya, semenjak Olivia hamil dan keluar dari rumah sakit karena kasus penyerangan itu.


“Sayang, habis dari rumah sakit mau jalan-jalan ke mall nggak?” ajak Alzam.


“Mall? Ngapain? Di sana pasti rame. Aku nggak mau,” tolak Olivia.


Alzam dengan penuh perhatian mengusap lembut punggung tangan sang istri.


“Sayang, kan ada aku. Aku pasti bakal lindungin kamu kalau ada yang mau jahatin kamu. Kamu percayakan sama aku?” bujuk Alzam.


Olivia diam. Dia masih ragu dengan ajakan dari sang suami.


“Atau, gimana kalo makan di privat resto?” ajak Alzam.


Olivia seketika mengerutkan keningnya, menatap ke arah sang suami. Dia bahkan mengulurkan tangannya dan menyentuh dahi Alzam dengan punggung tangannya.


“Kamu nggak lagi sakit kan, Mas?” tanya Olivia.


“Nggak kok. Kenapa emang?” tanya Alzam balik.


“Sejak kapan kamu bertingkah jadi kek CEO-CEO di drama luar negeri? Ngapain ngajakin aku ke privat resto coba? Biasanya juga kamu ngajakin makan di pinggir jalan,” jawab Olivia.


“Ya habisnya, kamu diajak ngemall aja yang rame ogah, apa lagi makan pinggir jalan yang berisik, rame, kotor lagi. Udah itu antrinya bisa panjaaaaaang banget. Panas-pansan pula. Mau emang?” tanya Alzam balik.


Olivia diam. Dia menarik kembali tangannya. Dia sadar bahwa semua itu Alzam lakukan demi dirinya.


Pemuda itu pun lalu meraih tangan Olivia yang sudah kembali ke tempat semula.


“Sayang, aku tahu kalau kamu masih trauma. Tapi, bukannya dulu kamu juga bisa keluar dari trauma itu meskipun sendirian? Apalagi sekarang ada aku. Kamu bisa bergantung sama aku, Liv,” ucap Alzam meyakinkan.


Olivia masih diam. Alzam pun akhirnya tak mendesak lagi, karena bagaimana pun hal ini tak bisa dipaksakan atau hanya akan semakin memperburuk kondisi psikis Olivia.


Jika memang perempuan itu belum mau membuka diri pada dunia luar, dia pun hanya bisa pelan-pelan membujuknya.

__ADS_1


Dia lalu merangkul pundak sang istri, dan membiarkan perempuan tersebut bersandar padanya sepanjang perjalanan.


Hingga akhirnya, mereka pun sampai di rumah sakit. Sejak kejadian Olivia yang histeris di pemeriksaan sebelumnya, Alzam kali ini mengaturkan jadwal pemeriksaan dengan seorang dokter perempuan.


Dia pun meminta perawat perempuan untuk memeriksa tensi darah sang istri. Olivia benar-benar merasa aman, terlebih karena ada Alzam di dekatnya.


Dia menjalani pemeriksaan dengan baik. Bahkan dokter pun mengatakan bahwa kondisi janin sangat bagus dan berkembang dengan baik.


Setelah memeriksakan diri, Olivia pun berjalan keluar dan hendak menuju ke bagian farmasi, untuk mengambil vitamin yang telah diresepkan.


Tanpa sengaja, mereka berpapasan dengan seseorang yang sangat Olivia kenal. Orang itu bahkan nampak terkejut melihat keberadaan Olivia di sana.


Perempuan itu berusaha menahan diri, dan berjalan melewati orang tersebut begitu saja. Namun, saat baru selangkah melewatinya, Olivia tiba-tiba berucap.


“Sudah sampe begini, lu pasti cinta mati banget sama tuh cowok sampah kan? Yaaaah... ternyata ada yang lebih bego dari gue yah. Kalo emang lu mau dia, ambil aja. Gue udah relain dia dari dulu. Tapi tolong, bawa dia jauh-jauh dari sini, karena gue nggak mau lihat muka cowok brengs*k kek dia lagi,” ucap Olivia.


Perempuan itu pun kemudian berjalan pergi meninggalkan orang yang tak lain adalah Mia, kekasih gelap Nathan yang saat ini tengah hamil.


Alzam yang merasakan nada kebencian di setiap kata-kata Olivia, seolah tahu bahwa wanita yang mereka temui memiliki kaitan dengan masa lalu pahit sang istri, seperti yang pernah diceritakan oleh perempuan itu sebelumnya.


Dia pun memilih diam dan tak bertanya, serta terus mendampingi sang istri tercintanya.


Dia tak tahu jika perasaan itu akan tumbuh di hatinya, dan membuatnya terjerat dengan Nathan bahkan sampai bertahun-tahun, hingga kini dia rela mengandung anak pria brengs*k itu.


Dia berbalik, dan memandangi punggung Olivia yang berjalan semakin menjauh. Dia melihat betapa bahagianya perempuan itu saat ini. Dimasa hamilnya, ada seseorang yang dengan tulus mendampinginya, Dengan penuh perhatian menjaganya.


Seolah mendapat karma, Mia yang juga hamil muda, hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk pergi ke dokter dan memeriksakan kondisi janin di dalam kandungannya. Di saat morning sickness menyiksanya, tak ada siapapun yang mau menolongnya. Bahkan keluarganya pun tak acuh dengan kondisinya.


Dia bahkan harus siap jika nanti melahirkan tanpa ada seorang pun yang mau menemaninya berjuang diantara hidup dan mati.


Tapi, Mia masih bersyukur. Setidaknya mereka tak membuang Mia dan anaknya, berkat pernyataan X departemen grup yang menyatakan bahwa Mia dan Nathan akan menikah secepatnya, setelah pria itu menyelesaikan hukumannya.


Dia tak berharap banyak, karena Mia sudah tahu sejak awal, bahwa inilah konsekuensi yang harus ditanggungnya.


...☕☕☕☕☕...


Di sisi lain, Alzam dan Olivia yang baru saja mengambil vitamin dari bagian farmasi, sudah masuk kembali ke dalam taksi yang memang sudah mereka pesan sebelumnya.


Alzam nampak mengusap perut Olivia yang masih nampak rata, mengingat kandungannya baru memasuki trimester kedua. Meski begitu, perut Olivia sudah sedikit menonjol jika diraba secara langsung.


“Ehm... Anak ayah hebat yah. Nurut, nggak rewel lagi. Sehat terus ya, Sayang,” ucap Alzam di depan perut sang istri.

__ADS_1


Olivia pun tersenyum melihat adegan tersebut. Dia lalu mengusap surai hitam Alzam, yang masih betah berbicara dengan calon buah hati mereka.


Pandangan matanya terangkat, dan tanpa sengaja melihat jejeran penjual buah di sekitar rumah sakit. Tampak berbagai macam buah segar tersedia di sana. Waran warni yang menyegarkan, dan membuat liur Olivia seketika menggenang.


Tiba-tiba, perempuan itu teringat akan salad buah kesukaannya, yang dulu sering dia makan saat masih sendiri. Sangkin inginnya, Olivia bahkan sampai meneguk salivanya beberapa kali, dan terdengar sampai ke telinga Alzam.


Pemuda itu pun mendongak dan melihat bahwa sang istri terus melihat ke luar kaca mobil. Dia lalu merubah posisi duduknya dan mencoba melihat ke arah yang dilihat perempuan itu.


“Kamu lihatin apa sih, Liv? Sampe kek mau ngiler gitu. Pengin beli buah?" tanya Alzam penasaran.


“Aku tiba-tiba jadi pengin makan salad buah deh, Mas,” ucap Olivia.


“Salad buah?” tanya Alzam lagi.


“Ehm... Aku dulu suka banget makan salad buah kalo lagi jalan-jalan ke mall. Lihat orang dagang buah, tiba-tiba jadi pengin,” jawab Olivia.


“Kalo gitu kita ke sana yuk,” ajak Alzam.


“Nggak ah. Kita buat sendiri aja,” tolak Olivia.


“Jangan. Rasanya pasti beda. Lagian aku juga belum tau rasanya kek gimana. Kita ke sana aja dulu, sekalian biar aku tau rasanya kek apa. Jadi, kalo nanti kamu tiba-tiba pengin makan itu tengah malem, aku bisa buatin buat kamu,” sahut Alzam.


“Tapi...,” sanggah Olivia.


“Pak, kita ke mall yah... Ehm... Mall mana, Liv?” seru Alzam pada supir taksi dan bertanya pada Olivia.


Perempuan itu tak bisa mengelak kali ini, karena Alzam pasti akan menomorsatukan Olivia, terlebih jika ada sesuatu yang diinginkan olehnya.


Dia pun hanya bisa mengiyakan ajakan sang suaminya kali ini, karena bagaimana pun Alzam benar-benar tulus ingin Olivia sembuh dari traumanya.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2