
Hari sabtu ini, Olivia tidak pergi ke kampus dan juga tidak ikut Alzam ke kedai. Perempuan itu memilih untuk tinggal di rumah, karena ada beberapa tugas yang harus selesai dan dikumpulkan hari senen pekan depan.
“Beneran nggak mau ikut?” tanya Alzam saat mereka selesai sarapan.
“Enggak. Aku mau rampungin tugasku hari ini, biar besok bisa main ke tempat ibu,” jawab Olivia.
“Besok kita ke tempat Papah sama Mamah aja yuk. Kita udah lama lho nggak kesana. Aku nggak enak. Papah sampe malem-malem main ke sini. Dia pasti kangen banget sama kamu,” ucap Alzam.
“Nggak ah. Aku males pulang ke rumah. Kalo mau ketemu Papah, habis pulang jemput aku kuliah, kita bisa kok ke kantor Papah,” sahut Olivia.
“Ya kan kalo di kantor cuma ada Papah. Nggak ada Mamah kan?” tanya Alzam lagi.
Olivia duduk di ruang tamu dengan tangan terlipat di depan dada, dan punggung yang tegak lurus bersandar di kursi.
Wajahnya jelas nampak tidak suka saat Alzam menyinggung ibunya.
Pemuda itu pun duduk di samping sang istri dan merangkul pundak perempuan tersebut.
“Kamu masih marah sama Mamah?” tanya Alzam.
Dia seolah tahu alasan kenapa Olivia enggan untuk bertemu lagi dengan ibunya.
“Aku nggak suka ketemu sama Mamah. Setiap kali ketemu, yang ada dia tuh selalu jelekin kamu terus, Mas. Kamu mungkin bisa terima, tapi aku nggak. Aku nggak rela suami ku yang super duper baik ini dijelekin mulu. Aku nggak suka,” jawab Olivia kesal.
Terdengar helaan nafas berat dari pemuda tersebut. Dia sudah bisa menebak, jika masalahnya adalah dirinya sendiri. Alzam kemudian melepas rangkulannya dan mencoba mengurai keduan tangan Olivia yang terlipat.
“Sayang, dengerin aku. Mamah itu orang tua kamu juga. Dia wanita yang udah susah payah mengandung kamu, melahirkan kamu dan merawat kamu sejak ke...,” ucap Alzam.
“Babysitter yang ngerawat aku, Mas. Mamah mana pernah,” sela Olivia.
“Ehm... Yah oke, tapi seenggaknya dia udah mengandung dan lahirin kamu kan. Kamu itu harus berbakti sama dia. Mungkin saat ini Mamah bikin kamu kesel, tapi bagaimanapun keadaannya, kita harus tetap berhubungan baik dengan Mamah,” seru Alzam.
“Iya, tapi belum saatnya. Nunggu Mamah sampe nggak nyebelin lagi kek sekarang,” sahut Olivia.
“Kapan? Nungguin kita pisah?” tanya Alzam.
Seketika Olivia menoleh dengan wajah kesal.
__ADS_1
“Mas!” panggil Olivia.
Alzam melepas genggaman ditangan sang istri, dan kemudian menangkup kedua pipi Olivia yang semakin menggemaskan. Matanya menatap tajam kedua manik hitam istrinya. Sementara perempuan itu masih terlihat kesal karena ucapannya tadi.
“Liv, kamu inget kan kalau laki-laki itu pemimpin wanita. Seorang istri harus nurut apa kata suami, selama itu tidak melenceng dari syariat. Tahu kan?” tanya Alzam.
“Iya aku tahu. Tapi kan...,” sanggah Olivia.
“Dengerin aku. Kita sama-sama tahu Mamah kek begini karena kamu nikah sama aku. Berarti secara langsung aku penyebab renggangnya hubungan kamu sama Mamah."
"Kalau kamu masih tetap nggak mau sabar dan menjauhi Mamah, berrti aku ikut dosa. Saat aku minta kamu buat deketin Mamah dan kamu nggak mau, aku juga ikut dosa karena nggak bisa nasehati kamu. Kamu nggak kasihan sama aku? Katanya sayang?” bujuk Alzam.
Pemuda itu sengaja menjadikan dirinya korban agar Olivia mau mengalah. Dia tahu bahwa sang istri begitu peduli padanya, hingga dia membelanya mati-matian saat Mamah Ros terus menyudutkannya. Olivia bahkan yang meminta mereka pindah dari rumah keluarga Abimana, agar Alzam tidak lagi mendengar semua ejekan dan sindiran dari Mamah Ros.
Setelah mendengar bujukan sang suami, benar saja Olivia seketika menundukkan pandangannya dan terlihat menyesal. Alzam pun bernafas lega karena tebakannya benar, bahwa Olivia akan luluh saat dirinya bertindak sebagai korban.
“Sayang, lihat aku. Hei, lihat aku, hem,” bujuk Alzam lembut.
Olivia pun menurut dan mengangkat pandangannya lagi. Wajahnya masih cemberut namun tatapan matanya sudah tidak dipenuhi emosi lagi seperti tadi.
“Sayang, Mamah seperti itu karena dia belum kenal aku. Mamah cuma tahu aku dari keluarga miskin yang jauh dari ekspektasinya. Wajar kalau Mamah kecewa. Justru sekarang, tugas kita adalah menunjukkan ke Mamah, kalau kita bisa hidup bahagia walaupun hanya dengan kesederhanaan seperti sekarang."
“Nggak! Nggak mau,” Olivia menggeleng.
Matanya berkaca-kaca mendengar penuturan dari sang suami. Alzam pun membawa istrinya ke dalam pelukan, dan mengusap lembut surai coklat gelap Olivia.
“Aku juga nggak mau, Liv. Aku udah sayang banget sama kamu. Mikir kek gitu aja udah ngeri banget lho,” sahut Alzam.
“Siapa suruh mikir kek gitu. Nyebelin,” keluh Olivia.
“Aku nggak mau kamu terus-terusan ngejauhin Mamah, Liv. Kalau kamu tetep keukeuh mo kaya gini terus, nggak ada cara lain dong. Aku nggak mau jadi penyebab istriku durhaka sama orang tuanya sendiri,” tutur Alzam.
“Aku heran deh sama kamu, Mas. Hati kamu itu terbuat dari apa sih? Kok bisa gitu, tetep baik sama orang yang terus ngehina dan ngejelik kamu,” tanya Olivia.
“Sama aja sih kek kamu. Nggak ada bedanya,” jawab Alzam.
Olivia meraba dada sang suami, dan mengusapnya dengan lembut.
__ADS_1
“Pengen lihat deh di dalemnya kek apa? Penasaran,” ucap Olivia.
Seketika, Alzam menjauhkan Olivia dari dirinya, dan membuat perempuan itu terkejut hingga matanya membola.
“Kamu bukan gumiho kan? Kamu nggak mau bunuh suami mu sendiri buat ambil hatinya kan?” cecar Alzam.
Seketika saja, sebuah pukulan mendarat di lengan pemuda itu.
“Iiihhh.... Mas Al bikin kaget aja. Kirain apa. Kok bisa tahu gumiho sih? Waahhh.... Jangan-jangan pecinta drakor juga ya. Hayo ngaku,” terka Olivia.
“Eh... Nggak kok. Cuma pernah lihat pas Ina nonton diem-diem di kamarnya,” elak Alzam.
“Alaaaahhhh... Ngaku aja deh. Suka lihatin cewek-cewek Korea yang mulus-mulus itu kan?” cecar Olivia.
“Astaghfirullah hal adzim. Nggak, sumpah. Beneran nggak,” elak Alzam.
Olivia terus mendesak Alzam, bermaksud menggodanya. Wajah sang suami sampai bersemu merah dan membuat Olivia tak tahan.
Dia berdiri dari duduknya dan menangkup pipi sang suami. Dengan sedikit membungkuk, perempuan itu lalu mengecup kening suaminya.
“Aku beruntung punya kamu, Mas,” ucap Olivia.
Keduanya mengulas senyum di bibir masing-masing.
“Aku juga,” sahut Alzam.
Pemuda itu menarik Olivia dan duduk di pangkuannya. Dia lalu mencium bibir ranum itu, dan menjadikannya hidangan penutup untuk sarapan di pagi hari ini.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
Sambil nunggu update selanjutnya, coba baca karya temen aku yuk 👇