
Keesokan harinya, seperti biasa Olivia akan diantar oleh Alzam ke kampus, dan akan ke kedai saat Leon telah menemani Olivia.
Meski keberadaan Nathan tak lagi muncul disekitarnya, akan tetapi gadis itu masih saja khawatir, jika tiba-tiba sang mantan akan datang dan mengganggunya lagi.
Setelah Leon muncul, barulah Alzam meninggalkan istrinya dan pergi ke kedai.
Alzam sampai di kedai sekitar pukul sembilan pagi, mengingat jarak kampus Nusa Bangsa ke kampus harapan bangsa, yang cukup jauh dan bisa memakan waktu tempuh sekitar empat puluh lima menit jika jalanan sedang normal lancar.
Kedai akan buka pada pukul sepuluh, dan masih ada waktu satu jam untuk Alzam membantu para pekerjanya.
Aroma panggangan roti yang begitu harum menyeruak dari arah dapur, di mana para koki sedang menyiapkan camilan manis untuk teman minum kopi yang cenderung terasa pahit.
Aroma kopi yang baru saja dipanggang pun berpadu di udara, menciptakan suasana khas kedai Alzam, sekaligus sebagai pengharum ruangan.
Mesin penggiling kopi pun berputar, menghancurkan butiran kafein menjadi bubuk halus yang siap seduh. Nampak beberapa orang yang masih sibuk mengelap dan menata meja tamu, serta seorang koki yang membawa senampan besar kue yang baru saja keluar dari panggangan. Bahkan kepulan uap panasnya pun masih bisa dilihat dengan jelas.
Tepat pukul sepuluh, Alzam memutar papan 'tutup' menjadi 'buka' yang tergantung di depan pintu.
Tak perlu menunggu waktu lama, para pelanggan pun mulai berdatangan memenuhi kedai milik Alzam.
Waktu-waktu ini adalah saat di mana para mahasiswa mulai mencari kudapan untuk mengisi waktu luang, sambil berbincang dengan teman-teman mereka.
Alzam seperti biasa, duduk di meja yang berada di sudut ruangan, dan memeriksa persediaan kedainya. Dia terlihat sesekali menekan-nekan layar ponselnya dan juga menelepon suplier, jika salah satu bahan baku di kedai sudah menipis dan tidak cukup untuk hari ini.
Di saat kedai sedang ramai pengunjung, seorang pria datang dan langsung memesan secangkir coffee latte.
“Bisa tolong pilihkan camilan yang pas untuk pesananku?” tanyanya.
“Latte sudah manis. Gimana kalau yang gurih? Kebetulan kami ada butter croissant dan juga roti isi ayam,” tawar Amy yang saat itu berada di balik meja barista.
“Give me one for each other, please,” sahut pria itu.
“Silakan tunggu sebentar,” seru Amy.
Pria itu pun lalu mencari kursi dan duduk di sana. Sebetulnya, cara pesan di kedai Alzam tidak seperti itu. Pelanggan langsung duduk saat datang, dan pelayan yang akan menghampiri kemudian menanyakan pesanan mereka.
Namun pria itu justru memesan di meja barista dan lalu duduk. Hal ini akan membuat pelayan lainnya kebingungan mencari pemesan, di antara banyaknya pelanggan yang ada. Ditambah suasana yang sedang ramai, sudah pasti tidak ada orang yang begitu memperhatikan keberadaannya.
Saat dia duduk, matanya mengedar melihat seisi kedai. Netranya terhenti saat menangkap sosok kalem yang sedang duduk dengan serius, sambil memperhatikan kertas-kertas di depannya.
Sebelah sudut bibirnya terangkat, dengan tatapan tajam seolah menikam tepat di jantung orang yang ditatapnya.
Dia lalu berdiri dan menghampiri target yang masih terlihat serius di sana.
__ADS_1
“Hai, kita ketemu lagi,” sapa si pria.
Alzam pun mendongak melihat orang yang berbicara dengannya. Kedua alis Alzam merapat, dengan mata yang memicing. Dia seolah tengah mengingat siapa yang ada di depannya itu.
“Udah lupa sama aku ya? Aku si sad boy yang ditinggal nikah sama ceweknya,” ucap pria tersebut.
“Oh, iya aku ingat. Nathan? Benar kan?” tebak Alzam.
“That’s right. Syukurlah kalau kamu masih inget sama aku,” ucap Nathan.
...☕☕☕☕☕...
Sore harinya, Alzam meminta Olivia untuk pulang ke rumah bersama Leon. Dia beralasan ada teman yang butuh bantuan.
Olivia sudah over thinking, dan mengira teman yang dimaksud adalah Nurul. Dia bahkan mencecar Alzam dan mendesaknya mengakui sesuatu yang tak dilakukan.
“Beneran, Sayang. Aku nggak lagi sama Nurul. Lagian temenku ini cowok. Kasihan dia. Mobilnya mogok. Aku nggak bisa bantu benerin, soalnya ada komponen yang mesti diganti. Jadi terpaksa mobilnya ditinggal di bengkel dan dia minta aku buat anterin dia balik ke apartemennya,” jelas Alzam
“Kamu nggak lagi bohong kan?” tanya Olivia memastikan.
Alzam pun lalu menutup teleponnya dan mengganti ke mode panggilan vidio. Dia memperlihatkan sesosok pria yang berdiri di belakangnya yang sedang membelakanginya.
“Tuh lihat. Itu temenku. Dia udah nungguin. Kamu pulang sama Leon dulu aja nggak papa yah? Atau kamu ke rumah ibu dulu nunggu aku pulang. Nanti aku nyusul ke sana,” tawar Alzam.
“Iya, Sayang. Kamu hati-hati ya dijalan. Bilang sama Leon jangan ngebut,” seru Alzam.
“Tuh, Yon, dengerin!" ucap Olivia.
“Iya, gue udah denger,” sahut Leon kesal.
Pemuda itu lagi-lagi harus dibawa-bawa ke dalam urusan rumah tangga sahabatnya itu.
Alzam kemudian mengakhiri teleponnya dengan mengucap salam. Barulah setelah itu ia memutus sambungan teleponnya dengan sang istri.
Meski Alzam sudah memperlihatkan teman yang dimaksusnya, akan tetepi Olivia masih saja menaruh curiga. Hingga sang gadis pun meminta sahabatnya, Leon, untuk melakukan panggilan vidio dengan sang guru muda yang dianggap sebagai saingan, untuk memastikam ucapan Alzam benar atau tidak.
“Gila lu, Liv. Gue mulu yang apes kalo laki lu ngilang. Malu tau gue ama Nurul. Kek gue nguber dia banget,” keluh Leon.
“Emang lu lagi nggak nguber dia banget?” tanya Olivia.
“Nguber sih. Tapi saingan gue berat, Liv. Tampangnya alim-alim. Mana riwayatnya bersih banget lagi, nggak kayak gue, buluk,” ucap Leon.
“Baru nyadar kalo elu buluk?” ejek Olivia.
__ADS_1
“Si*lan lu! Bukan guenya yang buluk. Tapi idup gue. Sejak ketemu ama nurul, gue baru nyadar kalo idup gue suram banget. Dia tuh cerah, bersinar kek mentari tau nggak. Sedangkan gue cuma awan mendung yang bisanya nutupin dia,” sahut Leon.
“Wah... Keknya udah ada tanda-tanda nih. Ati-ati, Yon,” Ucap Olivia.
“Eh, pe'a! Maksud lu, gue bentar lagi mati gitu? Sekate-kate lu, Liv,” keluh Leon.
“Siapa yang bilang elu mau mati sih? Gue cuma bilang tanda-tanda. Bisa ajakan ini tanda-tanda buat lu supaya elu cepetan tobat. Kalo kata Umi Fifit sih menjemput hidayah gitu. Sonoh gih jemput hidayah lu, entar keburu pergi lagi, lama lagi lu tobatnya,” ucap Olivia asal.
“Gaya lu, sok-sokan ceramah. Kaya idup lu udah bener aja,” sindir Leon.
“Emang belum bener. Tapi sedang dalam proses. Kemarin juga gue ikutan pengajian tau,” tutur Olivia.
“Pengajian? Pengajian apaan? Gue nggak percaya. Seorang Oliv yang hobi teler dan doyan klubing, ikut ngaji? Imposible. Hahahhaa,” kelakar Leon.
Sebuah pukulan mendarat di kepala Leon dan membuat pemuda tersebut mengaduh.
“Dih nih anak. Nggak percaya ya udah. Serah lu,” sahut Olivia kesal.
“Ya jelas nggak percaya. Seorang Olivia Charlotte Abimana, sama yang seumur aja nggak mau deket-deket, apa lagi sama kumpulan emak-emak. Yang bener aja lu kalo mau ngeboong. Hahaha...,” sindir Leon dengan tawanya yang semakin menjadi-jadi.
“Tanya aja sama Nurul kalau nggak percaya. Dia juga ikut pengajian itu kok,” ungkap Olivia.
Hal itu sontak membuat Leon berhenti tertawa dan menatap Olivia dengan serius.
“Nurul juga ikut dipenajian yang elu ikuti?” tanya Leon.
“Hooh. kenapa emang?” tanya Olivia.
“Gue mau ikutan juga deh kalo gitu. Boleh ya. Ajakin gue ya, Liv. Please,” pinta Leon.
“Sorry nggak bisa, Yon. Elu ikut pengajian suami gue aja kalo mau. Di tempat gue khusus buat cewek-cewek doang. Kalau maksa banget, lu beli daster dulu aja. Habis gitu, nyamar deh jadi cewek. Hahaha...,” kelakar Olivia yang berbalik menertawakan Leon.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1