CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Rumah baru


__ADS_3

Akhir pekan, sesuai yang dijanjikan Alzam, mereka berbelanja perabot rumah tangga di toko furnitur langganan Alzam, yang harganya bisa digoyang hingga mendapat harga kawan.


Mereka membeli satu set kursi kayu, yang terdiri dari satu kursi panjang dan satu kursi single, lengkap dengan mejanya. Mereka pun membeli peralatan dapur seperti kompor gas beserta tabungnya, rak piring dan lemari untuk menyimpan bahan makanan.


Tak lupa juga mereka membeli sebuah ranjang berukuran kecil, mengingat besarnya kamar tersebut yang tak mungkin diisi kasur king size. Tak lupa juga sebuah lemari pakaian untuk digunakan bersama dan juga sebuah meja rias untuk Olivia.


Tak lupa pula mereka membeli peralatan memasak dan juga peralatan makannya, akan tetapi Alzam tak membeli meja makan, dan lebih memilih membeli jemuran yang terbuat dari bahan baja ringan.


Dia pun harus menahan pengeluarannya, karena bagaimana tabungan untuk kondisi darurat diperlukan, jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang diluar perkiraan. Di Samping itu, Alzam telah mengeluarkan banyak biaya untuk menyiapkan hunian barunya bersama sang istri, mulai dari biaya sewanya, renovasi sampai membeli perabotan.


Sehingga, mereka pun tak membeli barang yang sekiranya tak begitu diperlukan dan masih bisa diganti dengan tenaga manusia.


Alhasil untuk urusan bersih-bersih, sapu, pel, dan cuci baju dilakukan manual dengan tangan, karena Alzam tak mungkin membeli mesin penyedot debu otomatis dan mesin cuci untuk rumah kecilnya itu.


Dia lebih memprioritaskan untuk membeli lemari pendingin, TV dan juga kipas angin sebagai barang elektronik penunjang.


Setelah selesai berbelanja perabotan seharian, mereka lalu kembali ke rumah baru, dan menunggu kiriman barang datang.


“Maaf ya, Liv. Aku belum bisa beliin mesin cuci buat kamu. Aku harus menghemat pengeluaran. Kamu nggak papa kan?” tanya Alzam.


“Gimana ya, Mas? Aku nggak papa sih sebenernya, laundry juga pasti disekitar sini banyak. Tapi kata-kata menghemat pengeluaranmu tadi, pasti kamu lebih milih buat nyuci sendiri kan? Tapi aku nggak bisa nyuci sendiri lho, Mas,” ucap Olivia.


Alzam paham bahwa jawaban itu jujur dari hati Olivia. Dia tak marah dan tak merasa kecewa dengan tanggapan dari sang istri. Namun, dia hanya bisa meminta Olivia untuk bersabar beberapa waktu ini.


“Kamu sabar dulu yah. InsyaAllah bulan depan aku beliin mesin cuci buat kamu,” ucap Alzam.


Olivia hanya mengangguk. Dia tak mau membuat Alzam semakin kecewa dengan jawaban jujurnya.


Setelah barang-barang mereka datang, semuanya pun segera diletakkan di dalam rumah, dibantu oleh jasa antar dari toko furniturnya, karena tak mungkin Alzam dan Olivia sendiri yang memindahkan semua barang-barang tersebut.


Setelah semua masuk, barulah mereka menatanya agar pas sesuai dengan bentuk rumah itu. Karena mereka tidak akan langsung menempati rumah tersebut saat itu juga, sehingga mereka membiarkan beberapa barang agar tetap dibungkus plastik, untuk mengurangi tercemar dari paparan debu.

__ADS_1


Setelah selesai, mereka lalu pulang kembali ke rumah keluarga Abimana untuk berkemas sebelum pindahan.


...☕☕☕☕☕...


Beberapa hari kemudian, hari kepindahan Alzam dan Olivia pun tiba. Papah Abi dan Mamah Ros ikut mengantarkan mereka, sekaligus membawakan barang-batang yang sudah pasangan muda itu siapkan untuk dibawa ke rumah baru mereka.


Sebelumnya, Alzam telah menolak tawaran hadiah pindahan rumah dari ayah mertuanya, sebagaimana sikap Alzam yang tak mau merepotkan orang lain dan menjaga harga dirinya sebagai seorang laki-laki.


Padahal, bisa saja dia meminta sesuatu yang belum mampu dibelinya kepada Papah Abi, namun rasa tanggung jawab atau mungkin lebih tepat gengsinya, membuat Alzam menolak dan memilih berusaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi.


Papah Abi pun hanya bisa menuruti keputusan Alzam. Dia berharap bahwa putrinya bisa tahan hidup sederhana dengan pria biasa seperti itu. Jika pun tidak, dia akan senantiasa siap kapanpun untuk membantu mereka berdua.


Sementara Mamah Ros,wanita itu justru terus menyindir kondisi rumah yang telah dipilih Alzam sebagai tempat tinggal bersama Olivia. Dia mengedar ke penjuru ruangan, dan melihat betapa kecil dan sempitnya rumah tersebut.


“Kamu beneran mau tinggal di sini, Liv?” tanya Mamah Ros, yang sudah masuk ke dalam satu-satunya kamar tidur di rumah tersebut.


“Kenapa nggak? Lagian, rumah ini cukup untuk ditinggali berdua bareng Mas Al. Semuanya ada dan lengkap,” jawab Olivia, ketika dia sedang memindahkan pakaian ke dalam lemari.


“Mah, kalau nggak mau bantuin, mending Mamah duduk anteng di depan bareng Papah aja deh,” sahut Olivia.


“Dih, nih anak. Dikasih tau malah ngusir. Oke, kita lihat aja, mau sampai kapan kamu bakalan bertahan hidup miskin kayak gini. Inget ya, Liv. Nathan bilang ke Mamah kalau dia akan siap nerima kamu kapanpun juga, selama kamu mau pisah sama suami kamu. Jadi, lanjutin aja main rumah-rumahan kamu ini, sampe kami capek sendiri dan nyerah,” ucap Mamah Ros di akhir.


Wanita itu pun kemudian pergi dari kamar Olivia.


Di luar, Papah Abi dan Alzam sedang melihat kebun belakang rumah. Pria paruh baya itu tak terlalu mengomentari tempat tinggal baru anak menantunya itu. Dia lebih memilih menghargai pendapat Alzam tentang rumah tersebut yang menurutnya nyaman, tentu saja dari sudut pandang Alzam sendiri.


Tiba-tiba saja, Mamah Ros memanggil Papah Abi, dengan wajah yang kesal. Bisa dipastikan bahwa wanita tersebut baru saja beradu debat lagi dengan sang putri, akibat ocehan Mamah Ros yang selalu menghina Alzam.


Melihat hal itu pun, Papah Abi memutuskan untuk segera pulang, mengingat sudah terlalu lama juga mereka berada di sana.


Alzam bahkan hanya bisa menyuguhi kedua mertuanya itu dengan air mineral kemasan, mengingat belum ada apapun di rumah tersebut.

__ADS_1


Olivia dan Alzam pun mengantarkan kepergian kedua orang tuanya. Meski kesal, namun gadis itu pun tak bisa menolak seruan sang suami, yang memintanya untuk keluar barang sejenak dan menyalami kedua orang tuanya sebelum mereka pergi.


Setelah Papah Abi dan Mamah Ros pulang, Alzam masuk ke kamar dan melihat koper sang istri serta tas ranselnya telah kosong. Dia melihat Olivia sedang menata kosmetiknya di dalam rak susuk kecil di atas meja rias.


Dia pun lalu memeluk Olivia dari belakang, dan meletakkan dagunya di pundak sang istri.


“Itu kamu yang masukin baju ke lemari?” tanya Alzam.


“Iyalah. Kamu kira Mamah yang bakal ngelakuin itu apa?” jawab Olivia ketus.


Alzam masih bisa melihat raut wajah kesal pada pantulan sang istri di cermin. Dia tahu jika sebelumnya, Olivia pasti berdebat lagi dengan ibunya perihal suami miskinnya itu.


Alzam pun semakin erat memeluk pinggang Olivia, hingga membuat gadis itu menghentikan kegiatannya. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Alzam. Mereka bertatapan lewat pantulan masing-masing di cermin meja rias tersebut.


“Jangan mikir macem-macem. Aku ngomong ketus karena...,” ucap Olivia.


Tiba-tiba dia terhenti. Saat bibir Alzam tanpa terduga menyentuh pipinya dan membuat Olivia membeku seketika.


“Aku tahu, dan akan selalu mencoba mengerti kamu mulai dari sekarang. Terimakasih ya, istriku,” ucap Alzam.


Dia pun kembali memeluk Olivia, dan gadis itu pun menyandarkan punggungnya di dada Alzam. Melepaskan sejenak kekesalan dihatinya atas perkataan sang bunda tadi.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2