
"Bi, gue mau ketemu Lo dong. Kira-kira Lo ada waktu luang kapan nih?", terdengar suara Jaka di ujung telepon.
Abimanyu melirik jam di tangannya, "Nanti malam gue bisa. Mau ketemu di mana dan jam berapa?".
"Good. Gue tunggu jam delapan di Cafe A, ya".
"Ok".
Telepon pun berakhir. Tak lama, sebuah ketukan pintu terdengar.
"Ya, masuk".
"Sorry, aku ganggu gak?".
Abimanyu memalingkan wajahnya dari layar laptop untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Jessi yang masuk ke ruangannya.
"Silahkan duduk. Ada apa, Jess?".
Jessi segera duduk di kursi yang berada tepat di seberang Abimanyu.
"Mmm ... aku mau ajak kamu makan siang bareng. Mau ya", tembak Jessi langsung.
"Aduh sorry, Jess. Aku seperti akan makan siang di sini. Tadi aku sudah minta sekretaris ku untuk memesan makanan karena ada beberapa berkas yang harus aku cek ulang sebelum meeting selepas jam makan siang".
"Oh ya udah, kalau gitu aku juga mau dong ikut makan siang di sini. Boleh ya, Bi", Jessi merengek.
Abimanyu menghela nafas berat. Sebetulnya dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Jessi di sekitarnya. Sebagai seorang laki-laki, dia bisa membaca sinyal ketertarikan Jessi terhadap dirinya.
"Tapi, Jess ...".
"Ya ampun, Bi. Aku tuh cuma mau kita makan siang bareng aja kok susah amat sih. Tiga tahun aku kenal kamu dan selama itu pula kamu tuh seperti menghindari aku. Kamu kenapa sih? apa aku buat salah sama kamu?", tanya Jessi ketus.
Abimanyu menarik nafas, "Bukan gitu, Jess. Ya sudah, nanti kita bisa makan siang bareng di sini", jawab Abimanyu tidak ingin memperpanjang urusan dengan Jessi.
"Yes, gitu dong. Ya udah, aku balik ke ruang kerjaku ya. Bye Abi", Jessi beranjak dengan girang.
Waktu makan siang pun tiba dan Jessi benar-benar memenuhi ucapannya untuk datang makan siang bersama. Meskipun risih, tapi Abimanyu berusaha tetap tenang dan bersikap baik terhadap Jessi.
"Bi, boleh gak aku jujur sama kamu tentang sesuatu?".
"Apa?".
"Mmm ... aku ... aku ... aku tuh udah lama suka sama kamu. Aku berharap banget kamu juga punya perasaan yang sama kayak aku. Sorry, aku tahu ini mungkin waktunya gak tepat ya buat aku bicara jujur. Tapi aku juga gak mau nahan perasaan aku terus, Bi", terang Jessi menahan malu.
Abimanyu yang baru saja menenggak minumannya tertegun setelah dirinya hampir tersedak mendengar pengakuan cinta Jessi.
"Bi, kamu marah ya?", tanya Jessi hati-hati.
Abimanyu menatap Jessi dengan seksama. Dia sebetulnya tidak marah, meskipun sering kali dirinya merasa risih dengan keberadaan Jessi, tapi bagi Abimanyu sendiri Jessi tidak pernah berbuat salah. Sudah jadi rahasia umum jika Jessi adalah pegawai yang cantik, anggun, baik, berkelas, cerdas, cekatan, dan tentu saja menarik bagi laki-laki manapun yang ada di perusahaan ini dan di luar sana. Tapi entahlah, Abimanyu melihat Jessi selama ini hanya sebagai rekan kerja, tidak lebih.
"Bi, kok diam. Maaf, aku salah", lanjut Jessi lagi menyadari Abimanyu tidak merespon ucapannya.
__ADS_1
"Maaf, Jess. Aku terkejut dengan kejujuranmu itu, tapi aku tidak ingin membuatmu kecewa. Aku berterimakasih kamu memiliki perasaan seperti itu kepadaku dan kamu juga sudah mau jujur. Tapi aku minta maaf, selama ini aku melihatmu sebagai rekan kerja dan seorang teman, tidak lebih", jawab Abimanyu pasti.
Ia tahu ucapannya ini pasti akan melukai hati Jessi. Tapi Abimanyu tetaplah Abimanyu, dia sudah belajar dari ceritanya di masa lalu untuk bisa tegas terhadap urusan perasaan. Dia tidak ingin memberikan harapan apapun, apalagi pada seorang perempuan.
Spontan, air mata Jessi meleleh. Dia tahu resiko ini akan ia terima saat dirinya memilih untuk jujur pada Abimanyu. Jessi sadar betul lelaki yang ada di hadapannya kini memang sangat sulit didekati apalagi ditaklukkan. Tapi setidaknya dirinya merasa lega setelah mengungkapkan perasaaan.
"Jess, aku minta maaf. Aku harap kamu bisa mengerti", imbuh Abimanyu.
Dia merasa kikuk melihat seorang perempuan menangis seperti itu di depannya dan karena ucapannya.
Jessi menyeka air matanya dan mencoba tersenyum, "Tak apa, Bi. Aku tahu betul resiko berkata jujur sama kamu soal perasaan. Hati aku memang sakit ditolak seperti ini, tapi seenggaknya ini lebih baik daripada aku terus berharap. Ya seperti yang kamu bilang tadi itu, aku hargai jawaban kamu".
Abimanyu mencoba untuk tersenyum mendengar respon Jessi. Dia tidak menyangka Jessi cukup dewasa untuk menerima keputusan dan sikapnya.
"Tapi kita masih bisa berteman baik kan, Bi?", tanya Jessi tulus.
"Tentu, sampai kapan pun kita adalah teman baik", jawab Abimanyu pasti.
Suasana makan siang yang sempat sendu itupun berubah menjadi datar. Tapi Jessi tetap berusaha tidak larut dengan luka di hatinya.
.
.
Jam delapan malam di Cafe A, Abimanyu baru tiba disebuah meja yang sudah dipesan Jaka.
Jaka sendiri tampak sudah ada di sana dan menyambut kedatangan sahabat baiknya itu.
"Sorry, gue telat lima menit", ujar Abimanyu basa-basi sambil melirik jam di tangannya.
Keduanya tampak asyik mengobrol. Beberapa pelayan datang membawakan hidangan.
"Kok ada tiga, Jak? apa ada tamu lain yang Lo undang?", tanya Abimanyu melihat hidangan yang disajikan jumlahnya berlebih.
Jaka tersenyum, "Calon istri gue nanti ke sini. Tadi udah gue kontak, tapi dia agak telat karena ada urusan dulu", jawab Jaka santai.
Abimanyu terbelalak, "What? calon istri? maksudnya Lo mau nikah gitu apa gimana?".
Lagi, Jaka terkekeh, "Iya lah gue mau nikah, masa iya nyari calon istri buat sunatan".
"Wah gila Lo, Jak. Hebat ya udah seribu langkah dari gue nih. Tiga tahun lulus dan sekarang invite gue ke sini buat ketemu calon istri. Jangan bilang kalau Lo mau ngabarin hari pernikahan Lo?", lagi, Abimanyu terkejut.
Jaka mengangguk-anggukkan kepalanya penuh percaya diri.
"Wah gue ikut senang, super senang malah. Keren. Gue penasaran siapa sih calon istri Lo?", tanya Abimanyu serius.
"Ada lah, tunggu aja. Sekarang kita makan duluan deh, gue lapar. Nunggu calon istri datang kelamaan, gue gak makan siang tadi di kantor, meeting terus", celoteh Jaka.
Tanpa menunggu lama, kedua sahabat itu pun mulai menyantap hidangan di meja.
Tiga puluh menit berlalu, semua hidangan sudah habis dilahap. Jaka bahkan memakan menu yang dia pesan sebelumnya untuk sang calon istri, katanya nanti diganti dengan pesan yang baru.
__ADS_1
"Sorry sorry, aku telat banget", sebuah suara membuat Jaka dan Abimanyu menoleh bersamaan.
"Calm, sayang. Ayo sini duduk", Jaka menarik sebuah kursi di sampingnya untuk Laras yang baru saja tiba.
Abimanyu tersenyum, dia paham sekarang.
"Oh jadi ini calon istrinya Jaka", ujar Abimanyu menggoda.
Jaka dan Laras tertawa kecil. Mereka berdua merasa geli sebetulnya bertemu dengan Abimanyu seperti ini.
"Gimana? kita cocokkan?", tanya Jaka sengaja merapatkan dirinya kepada Laras. Laras mencubit lembut bahu Jaka.
Abimanyu tersenyum, "Iya kalian cocok dan gue gak nyangka aja, surprise banget ya ini".
Tawa renyah pun meledak di antara mereka bertiga. Tak lama, pelayan datang lagi mengantarkan hidangan pengganti milik Laras.
"Jadi kapan nih kalian nikah?", tanya Abimanyu.
"Minggu depan di Gedung B. Lo wajib datang ya", jawab Jaka cepat.
"Siap, mana ada gue gak datang ke hari bersejarah sahabat sejati gue", ujar Abimanyu pasti.
"Bagus, memang harus gitu. Siapa tahu Lo ketemu jodoh dikondangan kita", celetuk Laras.
"Iya betul itu. Kelamaan menjomblo, bahaya lho Bi", timpal Jaka.
Abimanyu hanya tersenyum menanggapi celotehan Laras dan Jaka.
"Urusan gituan ada waktunya nanti. Sekarang gue lagi prepare bisnis cateringnya ibu", respon Abimanyu.
"Hooo ibu Lo ada di sini, Bi? wah gue mau sungkem duluan sama beliau", ucap Jaka yang memang sedari kuliah sering mendengar cerita Bu Ratmi dari Abimanyu.
"Iya. Gue minta ibu pindah ke sini. Kasihan kalau di kampung, ibu sendirian. Lo punya rekomendasi tempat buat usaha catering gak Jak, Ras?", tanya Abimanyu menatap kedua sahabatnya bergantian.
"Kalau rekomendasi tempat, gue belum ada, Bi. Tapi kalau calon customer, gue ada", jawab Laras.
"Wah serius nih, Ras? ibu pasti senang, usaha baru mulai tapi calon customer udah ada", seru Abimanyu senang.
Laras tersenyum, "Iya nih ada. Teman gue baru buka butik dan usaha konveksi gitu. Nah, tadi gue telat karena ketemu dia dulu, dia cerita lagi nyari catering yang bisa suplai ke konveksinya. Lumayan ada seratusan gitu karyawan dia. Dia butuh catering buat Snack pagi sama makan siang", terang Laras.
"Sip. Gue bisa minta nomor kontaknya gak, Ras? biar nanti gue kasih ke ibu".
"Kasih nomor kontak gue dulu aja, Bi. Soalnya teman gue baru kehilangan HP".
"Ok, sip. Makasih ya, Ras. Lo gimana, Jak? punya rekomendasi tempat usaha atau calon customer juga mungkin", giliran Jaka yang kena interogasi Abimanyu.
Jaka yang sedari tadi tampak sibuk dengan gawainya mengangkat kepala.
"Nih baca", dia menyodorkan gawainya.
"Ya Tuhan, Alhamdulillah. Ikhtiar buat ibu dipermudah gini", seru Abimanyu senang.
__ADS_1
Jaka ternyata menunjukkan chatnya dengan Tante Ana, saudaranya. Tante Ana sebelumnya memiliki usaha pastry tapi karena harus pindah ke luar kota, tempat usahanya akan dijual dan karyawan sebelumnya bisa diberdayakan. Kurang lebih begitu isi chat yang Jaka tunjukkan.
Malam ini seolah kebetulan, Abimanyu mendapatkan banyak kebahagiaan dari mulai kabar Jaka yang akan menikah dengan Laras sekaligus informasi lokasi usaha dan calon customer ibunya. Abimanyu merasa sangat bersyukur dengan itu semua.