CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Aku ikut yah?


__ADS_3

Alzam pulang tepat sebelum sarapan dimulai. Dia mengucap salam, akan tetapi tak ada yang menjawab salamnya.


Dari arah dalam, sayup terdengar suara orang yang sedang berbincang. Alzam pun berjalan mendekat, akan tetapi langsung berhenti saat seseorang menyinggung tentangnya.


“Pah, Mah, Mas Al mana? Aku lihat dikamar nggak ada,” ucap Olivia.


“Coba cari aja di halaman belakang,” seru Papah Abi tanpa melepas pandangan dari koran.


“Mungkin aja dia udah sadar diri, terus mutusin buat pulang ke rumah orang tuanya,” seloroh Mamah Ros.


“Mamah! Gitu banget sih ngomongnya,” keluh Olivia.


“Rosi,” panggil Papah Abi pada sang istri.


“Cuma nebak aja kok, Pah,” sahut Mamah Ros datar.


“Mas Al itu tanggung jawab orangnya. Dia nggak mungkin ninggalin Oliv gitu aja,” seru Olivia.


“Ya udah, kalau gitu sana cari suami hebatmu itu,” sahut Mamah Ros.


Setelah itu, tak ada lagi perdebatan, akan tetapi Alzam melihat sang istri yang berbalik dan hendak pergi ke halaman belakang.


Alzam tersadar dan bermaksud untuk sembunyi, agar Olivia tak menyadari dirinya mendengar semua perkataan ibunya tadi.


Namun terlambat, Olivia lebih dulu melihat keberadaannya di sana.


“Mas Al!” panggil Olivia.


Gadis itu pun berjalan menghampiri sang suami. Alzam mau tak mau bersikap biasa saja, seolah tak tahu menahu tentang pembicaraan mereka tadi.


Olivia yang melihat suaminya, langsung berjalan ke arah Alzam dan merangkul lengan pemuda itu. Dia mendesis lirih, karena luka yang tadi belum sempat ia obati, ditekan dengan sedikit kuat oleh Olivia.


"Kamu kenapa?" tanya Olivia.


"Nggak papa kok," kilah Alzam.


“Mas, kamu kemana aja sih? Aku nyariin tau!” tanya Olivia.


“Habis olahraga di taman,” jawab Alzam.


“Terus, kenapa nggak ngajakin aku? Aku kan juga mau jalan-jalan pagi sama kamu, Mas,” keluh Olivia.


“Assalamu’alaikum, Pah, Mah,” sapa Alzam.


Pemuda itu tak lantas menjawab pertanyaan sang istri. Dia lebih dulu menghampiri Papah Abi dan juga Mamah Ros. Pemuda sopan itu menyalami keduanya, meski sang ibu mertua sangat malas dan langsung menarik tangannya dari genggaman Alzam.

__ADS_1


“Mas!” pekik Olivia, karena Alzam tak juga menjawab pertanyaannya lebih dulu.


“Aku udah bangunin kamu, tapi kamu bilang masih ngantuk. Ya udah aku tinggal aja,” jawab Alzam.


“Masa? Kok aku nggak tahu sih?” tanya Olivia lagi.


“Kalo nggak inget ya udah,” sahut Alzam datar.


Pemuda itu kemudian pamit untuk mandi, karena badannya penuh dengan keringat hasil berolah raga pagi.


Olivia mengekor di belakang Alzam, namun pemuda itu sama sekali tak peduli dan terus berjalan, tanpa mendengarkan ocehan pagi dari Olivia.


Saat Alzam sudah membawa handuk serta pakaian ganti ke kamar mandi, Olivia masih saja mengekorinya. Pemuda tersebut pun berhenti di depan pintu kamar mandi dan berbalik menghadap sang istri.


“Apa kamu mau ikut masuk juga? Aku nggak keberatan kalau kita mandi bareng,” ucap Alzam datar.


Olivia pun mengulum bibirnya dan menyeringai, karena baru sadar sudah mengikut Alzam sampai hampir masuk ke kamar mandi.


“Ya udah. kamu mandi dulu aja. Aku masih belum siap lihat cacing berotot kamu,” ucap Olivia tersipu.


Dia lalu berbalik dan pergi meninggalkan Alzam dan naik ke kasurnya. Sementara sang suami baru kemudian masuk dan membersihkan dirinya setelah berolahraga.


Beberapa saat berselang, Alzam sudah selesai mandi dan telah mengenakan pakai rapi. Dia berencana untuk langsung pergi ke kedai, setelah kemarin baru saja melangsungkan pernikahan.


“Mas, kamu mau pergi kemana? Rapi amat,” tanya Olivia, yang melihat sang suami mengeringkan rambut dengan handuk mandi.


“Tapi, kita kan baru aja nikah? Harusnya kita bulan madu dulu dong,” ucap Olivia.


“Liv, aku harus ke kedai. Laki-laki itu harus mencari nafkah untuk keluarganya. Aku masih punya tanggungan ibu dan kedua adikku. Sekarang harus ditambah lagi sama kamu. Jadi, nggak ada waktu buat bersantai, apalagi berbulan madu,” sahut Alzam ketus.


“Tapi kan...,” ucap. Olivia.


Alzam langsung pergi tanpa mendengarkan perkataan Olivia sampai selesai. Dia meletakkan handuk basah tadi di keranjang cuci dan pergi keluar kamar.


Olivia berkali-kali memanggil Alzam, akan tetapi pemuda itu tak mau menoleh apa lagi menyahut.


“Ck! Nyebelin banget sih. Pasti ke kedai mau ketemu sama nurul. Nggak bisa. Aku mesti ikut ke sana juga,” ucap Olivia.


Dia pun lalu pergi mandi dan bersiap untuk ikut dengan Alzam ke kedai.


Sementara itu, Alzam yang telah rapi pun kembali bergabung dengan mertuanya yang telah menunggu di meja makan.


“Olivia mana, Zam?” tanya Papah Abi.


“Tadi barusan masuk ke kamar mandi, Pah,” sahut Alzam.

__ADS_1


“Harusnya kamu ngalah dong. Biarin Oliv mandi duluan. Perempuan kan mandinya selalu lama. Ini malah ditinggal. Nggak ada gentleman-gentelman nya sekali kamu ini,” sindir mamah ros.


“Maaf, Mah. Alzam akan ingat lain kali,” sahut Alzam.


“Lain kali? Hah, sikap macam apa itu? Disindir dulu baru peka,” oceh Mamah Ros.


Alzam diam. Dia tak menimpali lagi. Percuma juga terus menjawab, karena bagaimana pun sejak awal Mamah Ros memang tidak pernah suka dengan Alzam.


“Sudah. Sudah! Cuma masalah kecil, nggak usah dibesarkan. Mungkin aja Oliv yang nyuruh Alzam mandi duluan,” sela Papah Abi menengahi.


Dia tak mau menantunya itu merasa tertekan tinggal bersama mereka, karena selalu ditekan oleh Rosaline.


Mamah Ros nampak mendengus kesal, karena lagi-lagi suaminya selalu membela menantu miskin itu.


Belum lewat dari setengah jam, Olivia terlihat telah keluar kamar dan turun ke meja makan. Dia bahkan belum mengeringkan rambutnya karena tampak sedang terburu-buru.


“Pagi, Pah! Pagi, Mah,” sapa Olivia.


“Assalamu’alaikum, Mas Al,” salam Olivia pada sang suami.


“Liv, lain kali kalo nyapa Papah sama Mamah, pake salam kayak kalo ke Alzam aja yah. Papah sama Mamah kan juga mau didoain sama kamu,” seru Papah Abi.


“Tumben banget, Pah? Biasanya juga nggak minta kek gitu,” jawab Olivia enteng.


Gadis itu duduk di samping sang suami. Dia mulai mengambil piring Alzam dan mengambilkan sarapan untuk suami tercintanya. Persis seperti yang biasa dia perhatikan saat sang ibu meladeni ayahnya.


“Cuma pengin merubah kebiasaan lama ke kebiasaan yang lebih baik aja. Nggak boleh emang?” tanya Papah Abi.


“Boleh sih. Okelah, lain kali Oliv coba inget-inget,” sahut Olivia.


Dia kemudian meletakkan kembali piring Alzam yang telah penuh dengan sarapan. Dia pun lalu mengambil untuknya sendiri dan mereka pun mulai sarapan bersama.


...☕☕☕☕☕...


Seusai sarapan, Alzam kembali ke kamarnya, untuk mengambil tas selempang dan juga jaketnya. Ia memasukkan dompet dan juga ponsel ke dalam tas, lalu bersiap untuk berangkat.


Karena kemarin dia datang dengan mobil pengantin bersama Olivia, jadi alzam pun harus memesan taksi untuk pergi ke kedai, baru setelah pulang dari sana dia berniat untuk mengambil motornya, agar memudahkan mobilitasnya.


Saat Alzam hendak keluar kamar, Olivia lebih dulu masuk dan mendapati sang suami telah siap untuk pergi.


“Mas, aku ikut kamu ke kedai yah,” seru Olivia.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2