
Hari berlalu dengan begitu cepat. Tak terasa saat ini sudah masuk musim liburan sekolah. Momen ini digunakan Alzam dan Olivia untuk berkunjung ke rumah Nurul, dan membicarakan masalah Leon yang tempo hari mereka bahas.
Rumah tersebut nampak sederhana dengan teras dan halaman yang luas. Meski hanya terdiri dari satu lantai, akan tetapi rumah tersebut terlihat begitu tinggi karena tiang depannya yang begitu besar dan kokoh.
Tempat tersebut juga dilengkapi sebuah mimbar, yang biasa digunakan oleh ayahanda Nurul yang memang adalah seorang ulama terpandang di wilayahnya.
Bahkan teras dan halaman rumahnya sering dijadikan tempat pengajian rutin mingguan yang dihadiri oleh ratusan jamaahnya. Ada pula pengajian rutin bulanan yang terjadwal di beberapa tempat secara bergiliran, dan itu akan dihadiri oleh lebih banyak lagi jamaah.
Alzam sudah sering mengikuti kajian yang diisi oleh Ayah Nurul. Bahkan Padepokan pemuda hijrah pun sering mengundangnya untuk memberikan tausiah.
Kedatangannya kali ini, disambut baik oleh keluarga Nurul. Sang ibunda pun begitu antusias menyambut kehadiran Olivia yang turut datang ke sana. Wanita tua itu bahkan mengusap perut besar Olivia dan menanyakan kabarnya.
“Nak Alzam ini nikahan kok ya nggak ngundang-undang. Tau-tau udah besar aja perut istrinya,” ucap Ibunda Nurul.
“Maaf, Bu nyai. Alzam emang sengaja nggak ngadain resepsi yang besar,” jawab Alzam.
“Nggak papa. Lagian bukan itu yang penting,” sahut ayahanda Nurul.
“Si Bapak ini. Kan ibu cuma nanya. Lagian kan ibu juga butuh referensi buat hari bahagia Nurul nanti,” ucap Ibunda Nurul.
“Oh iya, ngomong-ngomong apa Nurul sudah ada yang meng-khitbah, Bu nyai?” tanya Olivia.
“Oh... Belum. Belum ada. Yang nanyain sih banyak, cuma anaknya belum mau juga tuh. Nggak tau kenapa. Padahal teman seumurannya udah pada gendong bayi. Alzam juga yang laki-laki malah udah mau punya momongan,” jawab ibunda nurul.
“Ibu tuh ya, selalu aja bahas itu. Kebeneran aja yang dateng belum ada yang sreg, Bu. Kalo ada sih Nurul juga mau-mau aja,” sahut Nurul yang baru saja keluar dari arah dalam.
Gadis itu terlihat anggun seperti biasanya, meskipun mengenakan gamis rumahan sederhana. Nurul pun duduk di samping ibunya, yang duduk di kursi panjang bersama dengan Olivia.
“Iya, belum sreg terus. Baru taarufan Nggak Ada Seminggu Udah Mundur,” Sindir Ibunda Nurul.
“Ya kan taaruf itu selain saling mengenal, juga dibarengi sama istikharah. Kalo Allah nggak kasih petunjuk, kenapa harus ambil resiko dan jalan terus. Itu namanya bunuh diri,” timpal Nurul keukeuh.
Olivia baru melihat sisi lain dari gadis yang selama ini selalu terlihat kalem, penurut dan juga lembut di depan semua orang. Awalnya, Olivia mengira dengan latar belakang keluarga yang agamis seperti ini, gadis tersebut akan selalu bersikap sopan dan santun, ternyata interaksinya dengan kedua orang tuanya justru terlihat begitu santai.
“Ish, kamu ini. Nak Alzam, barang kali punya kenalan yang mau sama Nurul, kenalin coba sini. Kali aja kalo rekomendasi dari temen deketnya, dia jadi mau,” ucap Ibunda Nurul.
Alzam dan Olivia terlihat saling bertukar pandangan, seolah berbicara lewat telepati.
__ADS_1
“Ehm... Maaf, Bu nyai. Sebenarnya, kedatangan kami ke sini, selain untuk silaturahmi, juga ada tujuan lain,” ucap Alzam.
“Tujuan apa, Nak? Katakan saja,” ucap Ayahanda Nurul.
“Kedatangan kami kemari, tidak lain adalah untuk mewakili teman kami, yang bermaksud ingin taaruf dengan Nurul,” ucap Alzam.
“Temen? Siapa, Zam?” tanya Nurul terkejut.
“Adalah. Kamu juga kenal kok sama dia,” timpal Olivia.
Sang guru muda itu terlihat memicingkan matanya ke arah pasangan tersebut. Dia menerka-nerka siapa gerangan teman yang dimaksud oleh keduanya.
Apa jangan-jangan..., batin Nurul.
“Kami tidak keberatan akan hal itu, Nak. Hanya saja, bisa kami tahu siapa dia sebelumnya,” tanya Ayah Nurul.
“Namanya Leon. Dia teman kampus Olivia sekaligus sahabat baik istri saya sejak kecil. Dia mengenal Nurul pertama kali saat di acara pernikahan kami, dan sejak saat itu mereka sering tak sengaja bertemu di kedai ku. Begitu kan, Nur,” tanya Alzam.
Nurul diam. Matanya masih nampak menerawang ke depan, dengan tangan yang memilin ujung jilbabnya.
“Teman kuliah Nak Oliv? Berarti dia lebih muda dari Nurul?” tanya Bunda Nurul.
“Gimana ini, Pak?” tanya Bunda Nurul.
“Bapak tidak pernah mempermasalahkan soal umur. Orang yang sudah berumur saja belum tentu dewasa kok. Bisa jadi justru yang lebih muda, yang lebih dewasa dan bisa diandalkan. Hanya saja, bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana agamanya? Itu yang Bapak ingin tau,” tanya Ayah Nurul.
Alzam dan Olivia pun seketika ragu untuk mengungkapkannya. Mereka tak enak hati kepada Leon, jika harus terlalu terus terang akan bagaimana dirinya.
“Daripada tanya sama Alzam, mending undang dia buat datang ke sini aja. Jadi, Bapak dan Ibu bisa lihat sendiri kek gimana anaknya,” sela Nurul menengahi.
Sang bunda memperhatikan ekspresi wajah sang putri yang nampak tegang dan gugup. Hal ini jauh berbeda dari sebelum-sebelumnya, di mana gadis itu akan selalu bersikap santai dan menjawab dengan lugas setiap hal yang menjadi permasalahan.
Seorang ibu memang memiliki kepekaan lebih tinggi atas apa yang terjadi pada anaknya dibandingkan sang ayah.
Mendengar perkataan putrinya itu, Bunda Nurul pun mengiyakan perkataan gadis tersebut.
“Ya sudah kalau memang begitu keputusannya. Bapak serahkan pada kamu buat ngatur pertemuan anak itu dengan Bapak dan Ibu,” ucap Ayahanda Nurul.
__ADS_1
“Baik, Pak kyai. Saya akan sampaikan pesan Bapak pada sahabat saya itu. Sebelumnya, terimakasih karena sudah mau memberikan kesempatan kepada Leon untuk berkenalan dengan keluarga ini lebih dekat lagi,” sahut Olivia.
“Sama-sama, Nak Oliv. Semoga kali ini, Nurul tidak memiliki keraguan lagi di hatinya,” timpal Ibunda Nurul.
Sementara sang gadis, hanya terus diam sambil memikirkan sesuatu yang sejak tadi membuatnya terlihat lebih pendiam dari sebelumnya.
Setelah mengungkapkan maksud kedatangan mereka, Olivia dan Alzam pun melanjutkan berbincang santai dengan keluarga tersebut.
Saat tengah hari, Olivia menumpang sholat dzuhur di rumah tersebut, sedangkan Alzam bersama sang kyai sholat berjamaah di masjid terdekat. Hingga waktu menunjukan pukul satu siang, keduanya pamit pulang setelah ikut makan siang bersama di sana.
Di perjalanan, di dalam sebuah taksi online, Olivia kembali terpikirkan tentang masalah Leon yang diundang datang ke rumah Nurul.
“Mas, aku kok khawatir yah sama leon,” ucap Olivia.
“Ehm... Khawatir kenapa?” tanya Alzam.
“Ya khawatir aja. Aku nggak nyangka kalo Nurul itu sebenarnya anak kyai. Leon udah tau belum yah, Mas?" tanya Olivia balik.
"Aku nggak tau tuh kalo masalah itu. Emang kenapa sih?" tanya Alzam lagi.
"Ya khawatir aja. Kamu kan tahu sendiri Leon kek gimana. Dia kan ilmu agamanya masih cetek banget. Kalo sampe ditolak, dia pasti bakal terpukul banget. Ini pertama kalinya tuh anak mau serius sama satu cewek lho, Mas. Dulu dia nggak gini,” ungkap Olivia.
“Kita doakan saja yang terbaik buat Leon. Kalau memang Allah menggariskan dia jodohnya Nurul, mau kek gimana rintangannya, pasti mereka juga bakal bersama. Kamu nggak usah mikirin yang berat-berat. Inget, nanti dede juga ikutan stress lho,” seru Alzam.
"Ehm... iya deh iya, suamiku tersayang," sahut Olivia.
Perempuan itu pun menggelayut manja di lengan sang suami, sambil mencoba memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁