
Hari ini menjadi hari yang ditunggu-tunggu tidak hanya oleh Anika dan Abimanyu, tapi juga oleh semua orang yang mengenal mereka berdua.
Sejak pagi buta Anika sudah sibuk merias dirinya di depan cermin bersama dua orang MUA yang sudah sangat mengenalnya dengan baik.
"Panglingi nih Mbak Anik", ujar salah seorang MUA yang tengah merapikan riasan jilbab yang dikenakan Anika.
Anika tersenyum manis, "Makasih banyak ya Mbak Ayu. Aku sendiri kok merasa gak percaya sih kalau yang di kaca itu mukaku sendiri".
"Ya pasti manglingi. Wong Mbak Anik ini dasarnya aja udah cantik banget, ya kan Yu?", tanya Asri, rekan Ayu.
Ayu mengangguk pasti.
"Mbak Anik, kita mau foto bareng dong sebel nanti gak kebagian slot foto", Mbak Ayu mengeluarkan gawain miliknya.
Anika tertawa kecil, "Boleh Mbak, yuk sini merapat", Anika menarik tangan Mbak Ayu dan Mbak Asri.
Mereka bertiga asyik berpose sampai Laras datang untuk menjemput Anika karena acara akad nikah akan segera dimulai.
Ya, berkutat merias pengantin memang tidak terasa. Sudah hampir tiga jam berlalu.
"Nik, bentar lagi akad mau dimulai. Udah ready kan?", tanya Laras sesaat setelah ia masuk ke dalam ruang rias itu.
Anika mengangguk pasti.
"Aku gugup, Ras".
Laras mengusap lembut bahu Anika, "Tenang, semuanya pasti berjalan lancar. Tadi aku lihat Abimanyu ganteng parah".
Anika tersenyum, dia bisa membayangkan bagaimana penampilan calon suaminya itu.
"Kita berdoa di sini biar hati kamu lebih tenang. Habis akad, kamu kan baru dibawa keluar ya", ucap Laras lagi.
Anika menganggukkan kepala. Akhirnya keempat wanita di ruangan itu memilih untuk khusyu berdo'a.
Hati kecil Anika berdebar-debar, selepas berdo'a dia mengambil gawainya.
Semoga akadnya lancar sekali tarikan nafas
Pesan singkat itu ia kirimkan ke nomor Abimanyu.
Penerima pesan itu kini tengah tersenyum sumringah saat membaca pesan tersebut.
Insyaa Allah, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menghalalkan mu
Abimanyu membalas pesan singkat dari Anika.
"Ck, senyam-senyum aja. Beda nih aura calon manten", goda Jaka yang sedari tadi mendampingi Abimanyu.
__ADS_1
"Apaan sih, Jak. Fokus, bentar lagi acara sakral akan dimulai", protes Abimanyu.
"Nah itu tahu, makanya gawai disimpan dong, Bro", bisik Jaka.
Abimanyu tidak ingin banyak menanggapi. Ia segera mematikan gawai miliknya dan menitipkannya pada sang ibu.
MC mulai membuka acara hingga tiba di momen yang paling sakral, akad nikah.
Abimanyu kini sudah duduk di depan penghulu, dua orang saksi, dan tentu saja sudah berhadapan dengan ayahanda Anika.
"Sudah siap semuanya?", tanya pak penghulu menatap bergantian semua orang yang ada di hadapannya itu.
"Siap, Pak", jawab Abimanyu yakin diiringi dengan anggukkan pihak lainnya.
"Baik, kalau begitu kita mulai akadnya, ya", ucap pak penghulu.
Pak penghulu mulai memberikan arahan singkat dan mengingatkan kembali hal-hal penting yang harus diingat juga akan dilakukan saat akad.
Momen sakral itu pun dimulai. Suasana begitu khidmat. Semua orang fokus pada prosesi akad nikah ini.
"Bagaimana saksi, sah?"
"Saaaahhhh"
"Alhamdulillah", lantunan hamdalah menggema di ruangan tersebut.
"Selamat ya Mbak Anik. Sakinah, mawaddah, warahmah", ucap Mbak Ayu.
"Iya, Mbak. Moga cepat dapat momongan", imbuh Mbak Asri.
"Aamiin aamiin. Makasih banyak Mbak Ayu, Mbak Asri", Anika memeluk kedua MUA itu bersamaan.
"Selamat ya sayangku. Yuk, kita siap-siap ke depan", ucap Laras.
Anika menganggukkan kepala. Mbak Ayu dan Mbak Asri memastikan penampilan Anika dan riasannya rapi dan menawan.
Setelah akad selesai, MC memanggil mempelai wanita untuk segera memasuki ruang utama.
Semua mata orang-orang yang ada di sana tertuju pada karpet merah yang terbentang dari arah sebuah ruangan.
Anika mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan tapi pasti. Wajahnya mengangkat dan menunduk dengan anggun tapi malu.
Laras menuntun Anika dengan senyum yang terus terulas dengan sempurna.
"Anika pangling ya, Mas", bisik Sinta, istri Rendra.
"Iya, dia memang cantik. Eh, apa kamu tidak cemburu kalau Mas bilang begitu", Rendra menyadari kekeliruan ucapannya.
__ADS_1
Sinta menggelengkan kepala sambil tersenyum, "Kenapa aku harus cemburu, Mas? Anika itu gadis yang baik bahkan dia sendiri yang memintaku untuk bersedia menjadi istrimu, bukan? dan dia selama ini juga sangat baik sama aku", terang Sinta.
Rendra tersenyum lega. Ya, Sinta adalah rekan bisnis Anika yang memang ia minta untuk menggantikan posisinya sebagai istri Rendra. Rendra sendiri sangat menerima Sinta dan menyayanginya sepenuh hati. Ia bahkan begitu berterimakasih kepada Anika yang sudah memilihkan istri pengganti dirinya yang begitu perhatian dan menjadi sosok yang Rendra inginkan.
Langkah kaki Anika terhenti. Kini dirinya sudah berdiri di hadapan Abimanyu yang sudah sah menjadi suaminya.
"Ini istrinya aku antarkan", ucap Laras melepas tuntunan tangannya dari lengan Anika.
Anika masih menunduk malu. Entah kenapa ia merasa tidak berani mengangkat kepalanya dan menatap suami yang kini tengah berdiri di hadapannya.
"Terimakasih, Ras", ucap Abimanyu sebelum Laras berlalu bersama Jaka meninggalkan meja akad.
MC kembali bersuara, memandu Anika untuk mencium tangan suaminya.
Anika menarik nafas dalam. Hatinya benar-benar tak karuan.
Fotografer sedari tadi aktif mengabadikan momen. Keluarga dan tamu yang hadir di acara akad ini pun menunggu-nunggu momen tersebut.
"Masih mau diam dan menunduk, Nik? udah sah lho", suara Abimanyu yang hampir setengah berbisik mengejutkan Anika.
"Maaf", ucap Anika pendek.
Kini ia mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Abimanyu yang sedari tadi menunggunya.
Sepasang mata itu pun saling beradu. Abimanyu menelan salivanya, menyaksikan kecantikan yang dirias natural namun memancarkan keanggunan yang maksimal.
"Masyaa Allah, kamu sempurna sekali, Anika", ucap Abimanyu jujur.
Anika tersenyum manis. Ia sungguh tak bisa berkata-kata.
"Nah, sekarang silahkan mempelai wanita untuk mencium tangan mempelai pria sebagai tanda baktinya", seru MC yang sudah berdiri di antara Anika dan Abimanyu.
Meski sempat ragu karena ini kali pertama Anika menyentuh tangan Abimanyu, namun akhirnya ia menjemput tangan suaminya itu. Mencium dengan khidmat tangan lelaki yang kini menjadi imamnya.
Ada desiran luar biasa yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata oleh Abimanyu saat tangannya disentuh dan dicium sang istri.
Selepas prosesi itu, tanpa dikomandoi siapapun, Abimanyu spontan mengecup kening Anika di depan semua orang.
Seluruh keluarga dan tamu yang hadir bersorak bahagia. Semua momen manis itu tentu saja tidak luput dari bisikan kamera sang fotografer.
"Akhirnya mereka nikah juga ya sayang", ucap Laras kepada suaminya, Jaka.
"Iya. Gak nyangka, tapi ini nyata. Ah, semoga mereka bahagia selamanya kek kita ya sayang", ucap Jaka menatap penuh cinta kepada istrinya.
Senyum sepasang suami istri sekaligus sahabat mempelai itu pun mengembang. Mereka tahu bagaimana perjalanan cinta Anika dan Abimanyu.
"Terimakasih sudah berkenan menjadi bidadariku", bisik Abimanyu lembut di telinga Anika.
__ADS_1
Senyum Anika merekah, menggambarkan rasa bahagia yang tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.