CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Episode 9


__ADS_3

"Ras, aku mau guling", ujar Anika lirih. Wajah pucatnya begitu memelas.


"Tapi di sini gak ada guling, Nik", jawab Laras sendu. Dia sebetulnya begitu khawatir dan kasihan melihat Anika karena sedari semalam suhu badannya tinggi dan Anika terus merengek meminta guling.


Entah kenapa, tapi menurut Laras mungkin itu cara Anika mengurangi rasa tidak nyamannya.


"Aku butuh obat penurun demam, Ras. Badanku rasanya sakit semua", rintih Anika yang memang menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.


"Iya, Nik, tunggu ya sampai suster datang", Laras mencoba menenangkan.


Anika hanya menganggukkan kepalanya dan mencoba memilih untuk tidur meski sulit.


"Ck, suster pada kemana sih? temanku lagi sakit begini pada gak ada", rutuk Laras kesal sendiri.


"Sore, Ras", sebuah suara menyapa Laras yang sedari tadi mondar-mandir di depan pintu ruang rawat.


"Eh, Abi. Mau jenguk Anika lagi ya?", tanya Laras saat mendapati Abimanyu tengah berdiri tak jauh darinya.


Abimanyu menganggukkan kepala. Memang hari ini selepas kuliah dia sudah berencana untuk menjenguk Anika di rumah sakit.


"Kondisi Anika sekarang gimana, Ras?".


Laras menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar, "Anika lagi demam tinggi. Sedari tadi dia minta obat penurun demam dan guling. Aku cari-cari suster yang biasa di ruangan ini pada gak ada, Bi".


"Boleh aku masuk?".


"Boleh, yuk", Laras berjalan lebih dulu memasuki ruang rawat Anika.


Anika tengah tertidur saat Laras dan Abimanyu tiba. Laras menempelkan punggung tangannya ke dahi Anika untuk memastikan lagi kondisi sahabatnya itu.


"Tuhkan, masih panas", ujar Laras.


"Apa aku coba cari suster ke depan kali ya, Ras", respon Abimanyu.


"Kamu kan gak tahu Bi, susternya yang mana. Gini aja deh, aku titip Anika sebentar, biar aku yang cari suster itu ke depan, ya", usul Laras.


Abimanyu menganggukkan kepalanya. Laras pun pergi.


"Ras, aku mau guling. Badanku gak nyaman", ceracau Anika dengan kedua mata yang masih tertutup.

__ADS_1


Abimanyu yang tengah duduk di samping brankar melirik ke arah Anika. Wajahnya nampak pucat dengan keringat yang terlihat membasahi dahinya. Abimanyu bisa melihat itu meski sedikit tertutup kerudung yang dikenakan Anika.


Abimanyu segera membuka ranselnya. Tadi sebelum datang ke rumah sakit, dia sempat mampir ke toko boneka dan membelikan sebuah boneka lebah berbentuk guling.


"Nik, sorry, aku simpan gulingnya di sini ya", Abimanyu menggeser sedikit lengan Anika dan menyimpan boneka itu di bawahnya.


Anika tak menjawab, dia masih tertidur tapi kali ini dia langsung memeluk boneka itu. Abimanyu tersenyum melihat pemandangan di depannya.


"Semoga kamu cepat sembuh, Nik. Aku khawatir melihat keadaan kamu seperti ini. Andai aku bisa leluasa menjaga kamu disaat seperti ini, aku ...".


"Ayo Sus, kasih obat penurun demam dong sama sahabat saya, kasihan dia", suara Laras yang menggema di ruangan itu membuat ucapan Abimanyu terhenti.


Abimanyu melirik ke arah pintu masuk, dilihatnya Laras yang sedang meminta suster jaga yang dibawanya dari depan untuk segera mengambil tindakan pada Anika.


Suster itu berjalan dengan membawa nampan kecil berisi beberapa macam obat.


"Permisi, saya cek dulu ya suhu tubuhnya", ucap sang suster saat sudah sampai di samping Anika yang masih tertidur.


Suster nampak cekatan memeriksa keadaan Anika lalu menyuntikkan sesuatu ke labu infus yang menggantung. Setelah itu suster berbincang sebentar dengan Laras, menjelaskan beberapa resep obat untuk Anika.


"Semoga demamnya cepat turun", ucap Laras setelah dia selesai berbincang dengan sang suster.


"Tadi sebelum ke sini aku mampir ke toko boneka dan membeli boneka itu untuk menemani Anika", terang Abimanyu.


Laras tersenyum penuh arti, "Jujur sama aku, kamu suka ya sama Anika?", tembak Laras.


Abimanyu sedikit terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu.


"Gak gitu, Ras".


"Ah, udahlah Bi, aku tahu kok. Aku gak nyangka aja ternyata kamu bisa suka sama Anika, padahal kalian kan jarang ya berinteraksi", lanjut Laras asal.


Abimanyu tersenyum tipis, dia tidak bisa membantah lagi ucapan Laras. Meski dirinya belum yakin pada perasaannya sendiri, tapi Abimanyu harus mengakui jika dirinya memang menyukai Anika. Entah rasa suka sebagai apa.


"Bi, saingan kamu berat lho buat dapat hatinya Anika", Laras masih menggoda Abimanyu.


"Maksudnya?".


"Ck, masa sih kalau gak ngeh kalau Narendra juga suka sama Anika. Aduh, ini hal luar biasa, sahabatku disukai dua lelaki cerdas dan populer di kampus", ujar Laras dengan ekspresi genit.

__ADS_1


Abimanyu tersenyum lagi. Bukan dia tidak tahu soal itu, hanya saja dia tidak ingin memikirkan hal itu.


"Hei Bi, jangan cuma senyum-senyum aja dong. Tanya kek soal Narendra sama Anika", Laras berubah sewot.


Kali ini Abimanyu tertawa kecil, "Apa yang harus aku tanyakan, Ras? itu hak Narendra untuk menyukai siapapun termasuk menyukai Anika. Aku tidak punya hak untuk hal-hal semacam itu".


"Ah kamu gak seru. Nih ya aku kasih tahu, kalau kamu memang serius suka sama Anika, berjuang lah dikit. Masa iya gak mau tahu banget soal saingannya sendiri", Laras memanas-manasi.


"Gak perlu, Ras. Hati dan perasaan itu tidak seharusnya dipaksakan, jika jodoh dan masanya tiba, hati itu akan saling terikat sendiri", jawab Abimanyu santai.


Laras menarik nafas dalam, "Kamu gak seru ah, Bi. Ya let's see, siapa yang bisa memenangkan hati Anika? dengan sikap kamu yang seperti ini aku sih udah yakin kalau Narendra yang bisa memiliki hati Anika".


Abimanyu hanya bisa memilih tersenyum mendengar ucapan Laras.


Jam menunjukkan pukul empat sore saat Abimanyu berpamitan kepada Laras. Anika masih tertidur saat dirinya pergi.


Pukul lima sore, Anika bangun. Suhu tubuhnya sudah lebih normal daripada sebelumnya.


"Makasih ya Ras, aku udah enakan sekarang", ujar Anika cerah.


"Iya, kalau nanti kamu demam lagi, tenang, obat udah di tangan", Laras menunjuk beberapa jenis obat yang tersimpan rapi di atas nakas yang ada di samping brankar Anika.


"Oh ya, Ras, ini boneka siapa?".


"Itu boneka dari Abimanyu".


"Tadi dia ke sini?".


"Iya. Tadi waktu kamu tidur dan demam tinggi. Dia ke sini jenguk kamu dan kasih itu".


Anika terdiam. Ada berbagai macam perasaan yang tiba-tiba saja berkecamuk dalam hatinya.


"Hei, Nik. Kenapa diam?".


"Oh, eh, enggak, Ras. Aku cuma malu aja, masa Abimanyu lihat aku tidur sih tadi".


"Ya mau gimana lagi, Nik. Dia ngerti kok kalau kamu lagi sakit, wajar lah kalau kamu tidur. Istirahat kan".


Anika hanya bisa tersenyum tipis mendengar ucapan Laras. Ya, ada rasa malu yang menyeruak tapi juga bahagia karena keberadaan boneka lebah itu di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2