
Siang hari, di sebuah pusat perbelanjaan, tampak beberapa ibu-ibu sosialita sedang berkumpul bersama. Mereka terlihat sedang membicarakan mengenai perhiasaan dan barang branded lainnya yang sedang dijual oleh salah satu di antara mereka.
“Lihat dong, Jeng. Ini tuh berlian asli. Ada sertifikatnya juga. Cocok deh sama, Jeng Ros,” bujuk salah satu wanita di sana.
“Bagus sih. Tapi, minggu lalu suami ku baru aja beliin kalung dengan berlian hitam asli afrika, yang pasti lebih mahal dari ini,” jawab Mamah Ros.
Hari ini, dia ada pertemuan dengan teman-teman sosialitanya, di salah satu resto terkenal di sebuah mall.
Setiap kali ada pertemuan, pasti ada perempuan yang akan datang dan membawa barang dagangan mereka, lalu dijajakan kepada para wanita kelas atas tersebut.
Mamah Ros yang sering mendapatkan barang-barang mewah dari sang suami secara langsung, tidak begitu tertarik dengan semua benda yang dijajakan oleh perempuan-perempuan tersebut.
Dia akan selalu menolak setiap kali ditawari, kecuali jika memang sangat suka dengan model serta gayanya.
Mamah Ros sangat ahli dalam hal menilai barang-barang mewah, sehingga dia bisa tahu dalam sekali lihat apakah barang tersebut Ori atau KW.
Hanya saja, sikap Mamah Ros yang lebih suka mencari aman sendiri, tidak serta merta mengatakan penilaiannya di depan yang lain, bahwa barang-barang yang sedang dijajakan adalah palsu, melainkan hanya menolak untuk dirinya sendiri.
Karena tidak terlalu tertarik dengan barang yang ditawarkan, Mamah Ros pun pamit ke toilet untuk menghindari bujukan dari para perempuan pedagang, yang menyasar kaum sosialita kelas atas.
Saat sedang berjalan menuju toilet, dia tak sengaja berpapasan dengan seseorang yang langsung mengenalinya.
“Tante Rosy?” sapa orang tersebut.
Mamah Ros yang sedang berjalan pun seketika berhenti, dan menoleh ke arah orang yang menyapanya tadi.
Seorang laki-laki muda tampan, dengan wajah blasteran dan tinggi, sedang berdiri tepat di depannya. Mamah Ros nampak memicingkan matanya, karena seolah tak mengenal sosok tersebut.
“Tante, ini aku, Nathan. Jonathan. Tante masih ingat aku?” tanya pria yang bernama nathan itu.
“Ah... Yah, tante ingat. Ini Nathan, mantan pacar Oliv yang dulu itu kan? Apa kabar?” tanya Mamah Ros ramah.
“Baik, Tante. Tante apa kabar?” tanya Nathan balik.
“Tante baik-baik aja. Oh ya, Tante dengar terakhir kali kamu ke Jerman, kapan balik?” tanya Mamah Ros.
“Baru dua hari yang lalu, Tan. Oh iya, Tante sibuk nggak? Mungkin kita bisa ngobrol sambil ngopi?” tawar Nathan.
“Yah, sure. Kebetulan tante lagi nggak sibuk,” sahut Mamah Ros.
Pria itu pun lalu mengarahkan Mamah Ros menuju ke salah satu caffe yang ada di dekat sana. Sesampainya di tempat tersebut, pria itu benar-benar menjamu Mamah Ros dengan baik dan seolah ingin membuat wanita itu terkesa.
“Emang beda yah, pengusaha besar sama pengusaha kecil-kecilan,” ucap Mamah Ros.
“Siapa yang pengusaha kecil-kecilan, Tan?” tanya Nathan.
__ADS_1
“Ah, Cuma orang nggak penting aja,” sahut Mamah Ros.
Keduanya nampak menikmati hidangan yang disajikan oleh resto tersebut, sesuai apa yang dipesan oleh Nathan sebelumnya.
“Bagaimana bisnismu? Apa sudah mulai mengambil alih XXX departemen store?” tanya Mamah Ros.
“Yah, lumayan, Tan. Ada sedikit perkembangan. Kebetulan, Papah menyerahkan kantor di Jerman padaku,” jawab Nathan.
“Tapi, Tante lihat, bisnis mu sedang meningkat pesat. Ini salah satu mall milik mu kan?” tanya Mamah Ros.
“Yah, Tante benar. Ini salah satu mall keluarga ku. Kami memang terus berinovasi, supaya selalu menjadi yang terdepan diantara bisnis retail lainnya,” ucap Nathan.
“Bagus sekali. Anak muda memang harus sudah bisa mapan. Oh ya, kapan kamu berencana main ke rumah? Oliv pasti senang ketemu kamu,” tanya Mamah Ros.
“Ehm... Nggak tahu, Tan,” jawab Nathan.
Melihat hal itu, Mamah Ros mengira bahwa Nathan telah mengetahui status Olivia saat ini.
“Apa kau tahu sesuatu tentang Olivia?” tanya Mamah Ros.
“Ah? Tidak, Tan. Aku baru saja datang kemari, memang apa yang bisa ku dengar dalam waktu yang singkat ini? Aku cuma takut Oliv bakal marah sama aku, karena aku udah pergi lama banget,” jawab Nathan.
“Mana ada anak tante seperti itu? Dia justru masih ingat sama kamu. Buktinya, dia masih suka make pakean yang kamu suka,” ungkap Mamah Ros.
“Realy? Tante serius?” tanya Nathan penuh harap.
“Kalo gitu, aku akan coba main ke rumah Tante kapan-kapan,” ucap Nathan semangat.
“Silakan. Pintu rumah Tante selalu terbuka buat kamu,” sahut Mamah Ros.
Wanita itu meminum minumannya, sambil menyembunyikan seringai di balik jemarinya yang mengapit sedotan panjang.
Bagus. Seenggaknya aku bisa manfaatin Nathan buat ambil hatinya Oliv. Dengan begitu, Oliv mungkin aja mau cerai sama pemuda miskin itu. Lagipula, Nathan ini selevel dengan Oliv. Kenapa nggak? batin Mamah Ros.
...☕☕☕☕☕...
Sore hari, sekitar pukul empat sore, Alzam sudah sampai di kampus Nusa Bangsa, tempat Olivia kuliah. Dengan menggunakan motor matic-nya, pemuda tersebut menunggu sang istri di parkiran.
Dia mendengar ponsel berdering beberapa kali, sesaat setelah dia menurunkan standar samping motornya.
Dia mengambil benda pipih tersebut dari dalam tas selempang, dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari Olivia, sejak dia berkendara tadi.
“Assalamu’alaikum,” sapa Alzam.
“Kamu di mana sih?” tanya Olivia langsung.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum,” salam Alzam lagi.
“Waalaikumsalam. Kamu di mana, Mas? Aku udah selesai kuliah dari tadi lho,” keluh Olivia.
“Aku baru aja sampe parkiran. Kalo nggak sabar nungguin, besok pake mobil sendiri aja,” sahut Alzam.
“Ish! Nyebelin banget sih! Aku ke parkiran sekarang. Diem-diem di situ!” seru Olivia.
Gadis itu lalu mematikan panggilannya dan bergegas pergi ke parkiran.
Namun karena kebiasaan, Olivia mencari Alzam di parkiran khusus mobil. Dia berputar mencari keberadaan sang suami, akan tetapi sama sekali tak melihat batang hidungnya.
Dia pun kembali mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Alzam.
“Mas, kamu di mana sih? Katanya parkiran?” tanya Oliv langsung.
“Emang aku lagi di parkiran kok. Kamu di mana? Katanya mau ke sini?” tanya Alzam balik.
“Ini aku udah di parkiran. Tapi kok nggak lihat kamu sih?” sahut Olivia.
“Masa? Aku dari tadi di sini terus, nggak kemana-mana,” ucap Alzam.
Dia pun lalu berdiri dan melihat ke sekeliling, mencoba mencari keberadaan sang istri di sekitarnya.
“Aku juga nggak lihat kamu. Emang kampus ini punya berapa parkiran sih?” tanya Alzam.
“Ehm, kalo nggak salah tiga. Satu buat mobil, satu buat motor, ada satu lagi buat parkir khusus dosen dan pegawai rektorat,” jawab Olivia.
“Aku di parkiran yang banyak motornya. Emang kamu di parkiran mana?” tanya Alzam.
“Apa?! Kenapa di situ? Pantesan aja aku cari dari tadi nggak ketemu. Ya udah aku jalan ke situ sekarang,” ucap Olivia.
Dia lagi-lagi menutup begitu saja sambungan teleponnya, dan berjalan menuju ke parkiran motor yang ada di bagian samping area kampus.
Di sana, barulah Olivia melihat sosok sang suami yang dengan santainya duduk di atas sepeda motor, masih dengan helm di atas kepala. Wajah tampannya mengundang perhatian dari beberapa mahasiswi yang lewat di sekitar sana.
Olivia pun berjalan menghampiri suaminya, dan serta merta menutup kaca film helm Alzam, membuat pemuda itu terkejut.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁