
Di rumah kontrakan mereka, seperti biasa Alzam dan Olivia berbagi tugas untuk menyiapkan makan malam setelah sebelumnya bersih-bersih rumah, mandi dan juga sholat.
Menu kali ini adalah tumis jamur bakso yang dibawakan Ibu Aminah untuk anak dan menantunya. Alzam ingin membuat tempe tepung untuk lauk pelengkapnya, namun seperti biasa, Olivia akan selalu minta diajari dan membuat proses goreng menggoreng berjalan lebih lama.
Tapi seperti biasanya, Alzam akan selalu sabar mengajari sang istri, meski kondisi dapur akan menjadi kotor dan berantakan.
Setelah siap, mereka pun makan malam bersama di tempat makan yang hanya beralaskan karpet tipis di depan TV. Tak ada meja makan atau pun peralatan makan mewah lainnya. Akan tetapi justru hal ini membuat makan terasa lebih nikmat, dan entah kenapa Olivia sangat menikmatinya meski jauh dari kehidupannya yang sebelumnya.
“Mas, aku ke kamar dulu ya,” ucap Olivia.
Alzam mengangguk sambil mengulas sebuah senyum. Seperti sebelumnya, seusai mencuci piring bekas makan, Olivia akan masuk ke kamar dan mengerjakan tugas kuliahnya, sedangkan Alzam menonton TV dan menunggu sang istri selesai belajar.
Posisi TV berada persis di samping kamar. Bahkan saat Alzam tiduran, kepalanya hampir sampai ke depan pintu kamar mereka. Dia bahkan bisa melihat sekilas apa yang dilakukan Olivia, hanya dengan sedikit mendongak karena gadis itu tak pernah belajar sambil menutup pintu.
Menurut Olivia, kondisi rumah begitu tenang. Alzam tidak pernah berisik bahkan suara TV pun hanya cukup sampai telinga sang suami saja. Sehingga gadis itu tak merasa terganggu dan membiarkan saja pintu terbuka, hitung-hitung agar dia tau apa yang dilakukan suaminya di sana.
Namun ada yang aneh kali ini. Olivia masuk ke kamar dan langsung menutup pintunya. Hal itu membuat Alzam mengertukan kening.
“Tumben ditutup? Apa mau ganti baju? Bukannya tadi baru ganti ya?” gumam Alzam menerka-nerka.
Pemuda itu pun tak ambil pusing, dan langsung duduk di atas karpet. Tangannya menekuk bantal dan bersiap berbaring. remote TV, senjata utamanya saat bersantai telah siap meluncurkan sinyal dan membuat mode stand by menjadi mode On.
TV menyala dan Alzam pun mulai menikmati waktu bersantainya.
Sementara di dalam kamar, Olivia terlihat sedang membuka lemari pakaiannya. Dia mengambil sebuah kotak karton berukuran sebesar kotak sepatu dari dalam lemarinya.
Gadis itu menatap kotak tersebut dengan berkali-kali menghela nafas panjang.
“Elu bisa, Oliv. Lu bisa,” gumam Olivia pada dirinya sendiri.
Dia kemudian menutup kembali lemarinya, dan membawa kotak tersebut ke tempat tidur. Dia membuka kotak berwarna merah tersebut, dengan simbol love di atasnya, hingga tampaklah sesuatu di dalam sana.
Olivia mengambil benda tersebut dan membentangkannya di atas tempat tidur. Tampaklah sebuah gaun malam berbahan transparan, yang lebih mirip jaring ikan, dengan banyak payet serta renda. Bagian belakangnya terbuka sampai punggung bagian atas, dan ada belahan panjang hingga ke dada. Sudah pasti benda tersebut membuat semua tubuh yang memakai terlihat bahkan tanpa harus membukanya.
__ADS_1
Gaun malam merah terang itu juga dilengkapi sebuah G-string yang begitu tipis di bagian bawah dan atasnya, dan hanya menutupi bagian depan **** ***** saja.
Olivia merona. Dia membayangkan saat dia harus memakai pakaian haram ini di depan Alzam.
“Gila. Si Leon benen-bener gila. Ini lingery parah banget. Kalo gue pake, Mas Al bakal kek gimana ya? Apa dia seneng? Apa dia bakal marah karena ngira gue murahan banget? Duh... Gimana nih? Tapi kata Umi Afiyah tadi sore...,” gumam Olivia pada diri sendiri.
Dia ragu untuk memakai benda transparan itu di depan sang suami. Dia khawatir kalau Alzam nanti justru akan menunjukkan ekspresi sebaliknya, dari apa yang dia harapkan.
Akan tetapi, dia terus teringat dengan jawaban Umi Afiyah atas pertanyaan keempatnya. Selama ini, mereka belum sekalipun melakukan hubungan badan dan itu menjadi salah satu pertanyaannya tadi sore.
“Sepasang suami istri, wajib hukumnya melakukan hubungan badan, karena tujuan menikah salah satunya adalah menghindarkan diri dari perzinahan. Nafsu yang dimiliki manusia ada sembilan, salah satunya adalah nafsu bir*hi. Itu hal yang manusiawi. Hal itulah yang sering menjadi jalan setan untuk menggoda anak muda, untuk melakukan hal yang terlarang."
“Itulah alasan kenapa pernikahan itu diwajibkan untuk umat islam. Dari pertanyaan Akhwat Olivia, bagaimana jika sang suami belum mau menyentuh kita? Apakah kita sebagai perempuan boleh mengambil inisiatif? Jawabannya boleh."
“Bisa saja, suami kita bukan tidak mau, akan tetapi malu atau tidak tau caranya karena belum pernah melakukan sebelumnya. Kita tidak perlu menonton vidio porno, dengan alasan untuk membangunkan h*srat kita. Karena sebenarnya, insting manusia itu bisa muncul jika ada rangs*ngan atau terpancing."
“Bukan berarti karena kita berinisiatif, lalu dianggap pernah atau lebih berpengalaman. Kita cukup memberi pancingan saja, seperti mungkin memakai pakaian yang bisa membangunkan syahw*t atau sentuhan kecil yang bisa membuat pasangan kita bereaksi. Jika sudah seperti itu, maka dengan sendirinya dia tahu apa yang harus dilakukan, sesuai dorongan dari dalam diri,” jelas Umi Afiyah.
Setelah mendengar penjelasan itu, Olivia pun teringat akan pakaian jaring-jaring yang diberikan oleh Leon, sebagai kado pernikahannya sebulan lalu.
Meski kehidupan Olivia begitu liar sebelum menikah dengan Alzam, akan tetapi ini pengalaman pertamanya melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria, dan beruntungnya dia adalah suami sahnya.
Gadis itu mengambil nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya sekaligus.
“Oke, gue harus siap. Anggep aja ini ibadah dunia akherat,” gumam Olivia.
Dia pun mulai menanggalkan semua pakaiannya, baik yang diluar maupun di dalam.
Rasa dingin mulai menghampiri kulitnya yang putih, karena kini dia telah polos tanpa sehelai benang pun. Rasa malu membuat wajahnya merona.
Dia lalu mengambil baju tidur jala ikan itu, dan memakainya satu persatu. Rasa risih di area intimnya yang hanya terbalut selajur kain tipis, membuat miliknya basah.
Tak sengaja dia melihat pantulan dirinya di cermin rias membuatnya semakin merona, hingga kedua tangannya menyilang di depan dada.
“Gila. Ini gila. Gue kek j*lang beneran,” gumam Olivia.
__ADS_1
Dia lalu mendekat ke cermin, dan menyisir rambutnya yang tadi ia cepol ke atas. Rambut lurusnya menjuntai panjang hingga menutup punggungnya.
Sapuan lipstik merah merona ia ulaskan ke bibir, dan membuat gadis itu terlihat semakin menggoda.
Tak lupa ia menyemprotkan parfum ke tubuhnya, dan kini dia siap untuk menghampiri sang suami yang masih berada di luar.
Beberapa kali dia mengambil nafas dan membuangnya sekaligus. Langkah kakinya mulai maju ke arah pintu. Dengan ragu-ragu, dia meraih gagang pintunya dan membuka papan kayu itu.
Olivia berdiri di ambang pintu dan hendak memanggil sang suami. Namun, karena Alzam merasa ada cahaya yang tiba-tiba muncul saat kamar dibuka, dia pun seketika menoleh.
.
.
.
.
Hai besti, aku mau promoin novel punya temen aku nih, kali aja minat buat mampir😁
Janji hati Raditya dan Andhini, sampai pada kebahagiaan pernikahan, paska Andhini di wisuda mereka melangsungkan pernikahan mewah yang di cita-citakan.
Berjalannya waktu tak ada yang lain selain kebahagiaan dan kedua orangtua mereka yang bangga dengan keharmonisan rumah tangga anaknya, Tahun berganti, Andhini mulai gelisah dengan keadaan dirinya yang belum menunjukkan adanya perubahan di tubuhnya, Andhini menginginkan anak dan semua itu membuatnya begitu cemas hingga jatuh sakit.
Dalam keadaan sakit Andhini dirawat seorang perawat yang di ambil dari yayasan yatim-piatu bernama Karina. Dari kedekatan mereka timbul niat Andhini menjodohkan suaminya dengan Karina, dan menghasilkan satu kesepakatan diatas kertas.
Terkadang cinta memang tak ada logika, sanggup melawan arus dan menerjang rintangan apapun, apalah artinya kekayaan kalau tak memberinya kenyaman.
Apa Karina juga mau menerima tawaran untuk mengubah kehidupannya?
~ Andhini : 'terkadang atas nama cinta seseorang harus rela berkorban, walaupun itu sesuatu yang sangat dicintainya.'
~ Raditya : sanggupkah aku menjalani apa yang diminta istri tercintanya? walaupun itu di luar kewajaran.'
__ADS_1