CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Berusaha semaksimal mungkin


__ADS_3

Hari demi hari berganti, tanpa terasa sudah hampir sebulan sejak kejadian mengerikan itu menimpa kepada Olivia. Persidangan Nathan pun hampir memasuki babak akhir.


Leon, Oom Yusman dan tim pengacaranya berusaha keras untuk memenjarakan Nathan dalam waktu yang lama, karena perbuatannya yang begitu kurang ajar kepada Olivia.


Akan tetapi, lawan mereka bukanlah orang sembarangan. X departemen store grup merupakan salah satu perusahaan yang sedang berkembang dan bahkan telah merambah ke bisnis internasional.


Mereka memiliki beberapa cabang di luar negeri, salah satunya Jerman, yang beberapa waktu lalu dikendalikan oleh Nathan, sebelum pria itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke tanah air dan mengganggu hidup Olivia lagi.


Pertempuran mereka semakin sengit, karena pihak kuasa hukum Nathan bermain licik, dengan menghadirkan beberapa saksi yang tidak pernah dibayangkan Leon dan Oom Yusman sebelumnya.


Mereka bahkan menyerang Alzam saat pemuda tersebut menjadi saksi, karena telah memukuli Nathan hingga babak belur, dan ingin menuntut Alzam atas hal tersebut.


Akan tetapi, Oom Yusman pun tak tinggal diam. Satu persatu bukti pun dihadirkan di meja persidangan, hingga kedudukan kedua kubu sama kuatnya.


Namun, kelemahan pihak Leon adalah, tidak bisa menghadirkan Olivia sebagai saksi, mengingat sampai sekarang pun perempuan itu masih takut untuk pergi keluar rumah, terlebih untuk menemui banyak orang asing seperti di pengadilan ini.


Bisa saja sang kuasa hukum Nathan akan menjadikan kondisi Olivia tersebut sebagai kelemahan, dan menyatakan bahwa Olivia mengalami gangguan mental, agar kasus itu pun secara otomatis akan mereka menangkan. Sehingga bak buah simalakama untuk pihak Leon dan Alzam, karena baik menghadirkan Olivia maupun tidak, sama saja akan menjadi celah fatal bagi mereka.


Alhasil, meraka tetap tak menghadirkan Olivia, namun hanya berbekal vidio dari dashboard Nathan lah mereka bisa membuktikan bahwa kekerasan tersebut ada.


Namun sekali lagi, pihak kuasa hukum Nathan menolak jika penggugat mengatakan bahwa kliennya mencoba memperkosa Olivia. Terlebih tindak pemerkosaan itu sendiri pun tidak terjadi. Hal itu dibuktikan dengan hasil visum yang bahkan dilakukan oleh pihak Alzam sendiri.


Oom Yusman saja sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi hari ini adalah sidang terakhir. Minggu depan akan digelar sidang lanjutan dengan agenda pembacaan putusan vonis untuk terdakwa.


Saat semua orang telah keluar dari ruang sidang, Oom Yusman, Alzam dan juga Leon tampak masih berbincang sambil si pengacara itu membereskan berkas-berkasnya.


“Bener-bener licik. Mereka tahu kita nggak akan munculin Oliv di persidangan, jadi mereka manfaatin itu buat nyerang kita,” gerutu Leon kesal.


“Tapi Oom yakin seenggaknya dia nggak akan lagi bikin ulah setelah persidangan selesai, bagaimana pun hasilnya,” ucap Oom Yusman, sang kuasa hukum.


“Kenapa Oom bisa seyakin itu?” tanya Leon.


“Kamu belum denger cerita Mamah kamu, Yon?” tanya oom yusman.


“Mamah?” tanya Leon lagi.


Pemuda tersebut nampak berpikir dengan kening yang berkerut sempurna. Dia tak paham dengan ucapan sang pengacara, dan pria itu pun bahkan tak menjelaskannya langsung.

__ADS_1


Di tengah kebingungan Leon, Alzam tiba-tiba bertanya sesuatu yang terus mengganjal di pikirannya.


“Maaf, Pak. Apa mereka beneran bakal nuntut saya karena sudah mukulin Nathan?” tanya Alzam.


“Yah, bisa saja itu terjadi, mengingat betapa brutalnya kamu mukulin dia,” sahut Oom Yusman.


Pemuda tersebut khawatir jika dia harus meninggalkan Olivia sendiri. Dia tak tahu berapa lama harus menerima hukuman tersebut, terlebih saat membayangkan sang istri harus menjalani kehamilan seorang diri tanpa suami di sampingnya.


Oom Yusman terlihat telah selesai berkemas. Dia pun berjalan ke luar dari balik meja dan menghampiri Alzam. Pengacara itu saat ini berhadapan dengan Alzam, yang tampak dengan jelas sedang cemas.


Dia pun kemudian menepuk pundak pemuda tersebut dan mencoba menenangkannya.


“Kamu nggak usah khawatir. Mereka nggak akan berani ngusik keluarga Abimana lagi setelah kasus ini. Entah mereka menang atau kalah, mereka tetap nggak akan bisa berbuat apa-apa terhadap kalian,” ucap Oom Yusman.


Dia pun kemudian melangkah pergi keluar dari ruang persidangan, meninggalkan Alzam dan juga Leon yang terlihat diam, dengan pikiran masing-masing.


Tak berapa lama kemudian, petugas pun datang dan meminta keduanya untuk keluar, karena ruangan akan disterilkan untuk mempersiapkan sidang selanjutnya.


Alzam dan Leon pun akhirnya pergi dan kembali ke rumah. Pemuda itu menumpang mobil Leon, dan meminta sahabat istrinya tersebut untuk mengantarkannya pulang ke rumah kontrakan.


Saat suara deru mobil Leon terdengar, Olivia yang saat itu memang sedang menunggu, segera bangun dan mengintip dari balik kaca jendela. Seketika itu juga, dia membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan menyambut kepulangan sang suami.


“Assalamu’alaikum,” sapa Alzam.


“Waalaikumsalam,” sahut Olivia.


Keduanya pun berpelukan di depan pintu rumah mereka.


Nampak seseorang muncul dari arah dalam, yang sejak tadi terus menemani Olivia di rumahnya.


“Maaf ya, Nur. Udah ngerepotin kamu buat jagain Olivia,” ucap Alzam.


“Nggak papa kok, Zam. Lagian juga aku cuma nemenin dia nonton TV doang,” jawab Nurul.


“Masuk yuk. Kamu pasti capek kan, Mas,” ajak Olivia sambil terus menggelayut manja di lengan sang suami.


Mereka pun memutuskan untuk duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Leon yang ikut turun pun melihat keberadaan gadis yang beberapa waktu ini terus saja membayangi pikirannya.


“Assalamu’alaikum, Nur. Kamu di sini juga,” salam Leon.


“Iya, aku diminta Alzam buat nemenin Oliv. Dia bilang mau pergi ke pengadilan tapi takut ninggal istrinya sendiri. Jadi, dia ngontak aku deh buat ke sini,” jelas Nurul.


Keempatnya pun duduk bersama. Olivia penasaran dengan proses sidang yang tak terekspose media itu. Sehingga dia tak bisa mendapatkan informasi apapun melalui berita di TV.


Awalnya, Alzam dan Leon memutuskan untuk tidak membicarakan kemungkinan mereka akan kalah kepada Olivia, yang hanya akan membuat perempuan itu lebih merasa sedih, karena lagi-lagi dia tak bisa mendapatkan keadilan atas dirinya.


Namun, Olivia terus mendesak keduanya mengatakan semuanya, hingga Olivia mengeluarkan ancaman mautnya yang sudah pasti membuat Alzam memilih mengalah dan menceritakan semua yang terjadi di persidangan.


“Maafin kita ya, Liv. Andai aja kita bisa dapetin bukti lain yang semakin memberatkan dia,” ucap Leon.


“Ini semua salah aku. Coba aku kuat dan nggak jadi penakut gini. Pasti aku bisa bantu kalian buat menangin kasus ini,” sahut Olivia.


Alzam yang duduk di samping sang istri pun, merangkul pundak Olivia dan mencoba membuat perempuan itu merasa lebih tenang.


“Ini bukan salah kamu kok, Liv. Allah nggak buta. Sekalipun kita kalah di persidangan, tapi kita masih punya hakim terhebat. Dia pasti bakal kasih hukuman yang lebih cocok buat Nathan, sampai dia nggak bisa mengelak lagi,” ucap Alzam.


Olivia mengangguk. Dia pun menyandarkan kepalanya di pundak sang suami, seolah meletakkan semua kegundahannya di sana.


"Semoga aja Allah bener-bener bantu kita buat hadapin si Nathan,” sahut Olivia.


“Bertawakal lah kepada Allah. Kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Serahkan ending-nya hanya pada-Nya. Allah tahu apa yang paling baik untuk seluruh umatnya,” timpal Nurul.


“Bener kata Nurul. Mulai sekarang, sebaiknya kamu nggak usah mikirin hal ini lagi. Cukup fokus sama kehamilan kamu aja, biar anak kita lahir dengan sehat dan jadi anak yang kuat serta soleh solehah,” ucap Alzam.


“Amiin,” sahut semuanya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2