
Sore hari tepat pukul tiga, Alzam telah sampai di parkiran motor kampus Nusa Bangsa. Dia menunggu sang istri dan berharap Olivia tidak marah karena Alzam yang ketiduran di kedai.
Pasalnya, gadis itu sama sekali tak membalas chatnya sampai sekarang, dan membuat Alzam terus kepikiran.
Di tempat barang yang ada di depan jok motornya, ada sebuah kantong plastik hitam. Kantong tersebut berisikan sesuatu yang sempat ia beli tadi saat di jalan menuju ke kampus istrinya.
Tiba-tiba, seseorang datang dan serta merta menutup matanya dari belakang, membuat Alzam menegakkan punggungnya.
“Oliv?” panggil Alzam.
Orang itu pun melepas tangannya dan membuat Alzam seketika berbalik. Dia melihat wajah sang istri tepat di hadapannya, dengan kedua pipi yang menggelembung, dengan wajah yang cemberut.
"Untung nggak salah nebak. Kalau salah nebak, Hheeeemmmm...," sahut Olivia.
Tangannya menirukan gaya sedang mengulek sambel di atas cobek.
“Liv, maaf yah. Aku tadi ketiduran di kedai. Aku benar-benar kebablasan,” jelas Alzam.
“Dia ngambek parah tuh sama elu, Bang. Orang lain aja sampe kebawa-bawa kena semprotan dia,” sahut Leon yang menemani Olivia sampai di parkiran.
Sejak kemunculan Nathan, gadis itu selalu meminta sahabatnya untuk menemani kemanapun dia pergi. Leon sama sekali tak keberatan, karena sejak dulu memang dia selalu seperti itu dengan Olivia, terlebih jika sudah menyangkut mantan gadis itu.
Alzam yang mendengar hal itu pun kembali menatap sang istri yang masih terlihat merajuk. Dengan lembut, pemuda tersebut meraih kedua tangan Olivia, dan menggenggamnya.
Sebuah kecupan mendarat di punggung tangan Olivia, dan membuat dadanya berdegup kencang, hingga pipinya merona dan kempis seketika.
“Sayang, maaf ya udah buat kamu kesel. Aku beneran nggak sengaja,” bujuk Alzam.
Hati Olivia meleleh seketika saat mendengar panggilan sayang dari sang suami, dan juga perlakuan so sweet yang mampu memporak-porandakan pertahanannya.
“Ehem! Kamu nggak bohong kan? Beneran ketiduran kan? Nggak lagi sama cewek lain kan?” cecar Olivia.
Gadis itu terus berusaha berpura-pura kesal, meski dalam hati dia bersorak karena mendapatkan perlakuan manis dari sang suami.
“Beneran, Liv. Kalau nggak percaya, tanya aja sama anak-anak di kedai. Mereka pasti bisa jadi saksi. Lagian, aku mana ada ketemu sama cewek lain? Istriku aja udah luar biasa banget gini kok,” bujuk Alzam.
"Luar biasa apanya nih?" tanya Olivia ketus.
"Luar biasa cantiknya, baiknya, sayangnya. Nyari yang kayak apa lagi coba? Nggak ada yang bisa nandingin kamu," jawab Alzam.
“Hem! Gombal,” sahut Olivia.
“Aku serius, Sayang. Mana ada sih aku gombalin kamu doang,” ucap Alzam.
“Kamu panggil aku apa tadi?” tanya Olivia dengan senyum yang berusaha ia tutupi.
“Sayang,” jawab Alzam.
“Apa? Apa? Kurang denger,” tanya Olivia lagi.
__ADS_1
“Oliv sayang,” panggil Alzam.
“Apa? Apa? Coba sekali lagi,” seru Olivia.
“Mau sekalian cium juga nggak?” tanya Alzam geram.
Olivia pun terkekeh melihat sang suami yang kesal karena berhasil ia kerjai.
“Kesel kan? Apa lagi aku yang nungguin kamu berjam-jam tanpa ada kabar. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa tau,” rajuk Olivia.
Alzam yang sejak tadi masih duduk dia tas motori pun akhirnya berdiri, dan menarik Olivia ke dalam pelukannya. Dengan lembut dia mengecup puncak surai gadis tersebut dalam-dalam.
“Maafin aku ya. Aku tau aku salah. Mau maafin aku kan?” tanya Alzam.
Olivia hanya mengangguk dalam dekapan hangat Alzam. Dia membalas memeluk pinggang Alzam dengan erat.
Sementara Leon yang sejak tadi menjadi obat nyamuk di sana, hanya melihat adegan romantis mereka, sambil melipat kedua lengannya di depan dada dan mencebik kesal.
“Ckk! Udah selesaikan drama keluarga ala telenovela nya? Kalau gitu, gue serahin Oliv ke elu lagi deh, Bang. Capek dari tadi ngadepin dia yang emosi sama elu,” ucap Leon.
Pemuda itu pun berbalik dan berjalan pergi.
“Makasih udah jagain Oliv ya, Yon,” seru Alzam.
Leon hanya melambaikan tangan di udara, tanpa berbalik ke arah lawan bicaranya.
Seperginya Leon, Alzam menjauhkan sedikit kepalanya agar bisa melihat wajah sang istri.
“Kita pergi yuk. Bosen di kampus mulu,” jawab Olivia.
“Ya udah. Oh iya. Kamu udah makan siang belum tadi?” tanya Alzam.
“Makan berat sih belum. Cuma makan roti sama biskuit doang,” jawab Olivia.
“Kalau gitu, kita cari makan dulu aja yuk. Habis itu sholat ashar di jalan,” ajak Alzam.
Olivia pun mengiyakan dengan sebuah anggukan disertai senyuman. Alzam pun memakaikan helm bogonya ke kepala Olivia, dan kemudian naik ke motornya sendiri, di ikuti oleh sang istri.
Mata Olivia tertuju pada sebuah kantong plastik yang ada di depan sana, dan menanyakan hal tersebut pada sang suami.
"Itu di kresek apaan, Mas?" tanya Olivia.
"Oh, ini? Ada deh. Nanti juga tau. Hehehe...," sahut Alzam.
"Dih! Main rahasia-rahasiaan segala lagi," keluh Olivia.
Alzam tak menyahut lagi. Dia hanya tertawa kecil dan mulai menyalakan mesin motor matic-nya.
Setelah perlengkapan keamanan sudah terpakai dengan betul, barulah Alzam melajukan motor tersebut dan meninggalkan area kampus Nusa Bangsa.
__ADS_1
...☕☕☕☕☕...
Sekitar hampir pukul empat sore, Alzam membawa Olivia ke sebuah tempat. Gadis itu bertanya-tanya kemana sang suami akan membawanya. Pasalnya, jalanan yang mereka lalui terasa asing untuknya
“Mas, kita mau kemana sih? Kok jalannya beda,” tanya Olivia.
“Pasti lupakan sama yang aku bilang tadi pagi. Hari ini, aku mau ngajakin kamu buat ikut pengajian. Sekarang, kita lagi mau ke tempat pengajiannya,” jawab Alzam.
Tak berapa lama, mereka pun tiba di sebuah rumah yang di depannya terdapat papan besar bertuliskan 'Majelis Taklim An-nisa'. Rumah tersebut memiliki halaman yang luas, dan banyak sepeda motor terlihat sudah terparkir di sana.
Ada juga yang baru datang, dan semuanya terlihat memakai pakaian yang panjang dan berkerudung besar-besar.
Olivia yang masih betah duduk di kursi belakang motor sang suami pun, nampak melihat ke arah dirinya sendiri.
“Mas, beneran nih aku harus ikut ke sana? Aku pakenya cuma beginian doang lho, Mas. Nggak sama kayak mereka-mereka itu tuh. Aku juga nggak pake kerudung lagi. Emang boleh ya buat ikutan?” tanya Olivia.
Alzam pun kemudian mengambil kantung plastik yang sejak tadi menggantung di depan, dan mengambil isinya.
Rupanya, pemuda itu bahkan sudah menyiapkan sebuah kerudung segi empat untuk Olivia, sebelum dia datang ke kampus untuk menjemput sang istri.
Dia lalu bangun dan berdiri di samping motornya, dengan Olivia yang masih duduk di kursi belakang. Pemuda tersebut melipat kerudung itu menjadi bentuk segi tiga besar, dan memakaikannya ke kepala Olivia.
“Cukup seperti ini saja dulu. Kamu nggak usah buru-buru nyamain penampilan kayak mereka. Pelan-pelan aja dan nikmati proses hijrah kamu. Nanti juga pasti kamu bakal dapet hidayah dari Allah untuk menjadi lebih baik,” ucap Alzam.
Dia menatap lekat wajah Olivia yang terbingkai kain kerudung, dengan warna yang hampir sama dengan baju yang dipakai sang istri.
Olivia tak menyangka jika suaminya akan benar-benar menyiapkan semuanya hanya untuk dirinya.
“Sekarang, aku anter kamu masuk. Aku kenalin sama orang-orang di dalem sana. Oke?” ajak Alzam.
Olivia melihat sekilas ke arah bangunan bercat biru muda, cenderung putih di depannya. Meski ada sedikit keraguan di dalam hatinya, namun demi menjadi sosok perempuan yang diinginkan Alzam, gadis itu pun mau untuk mengikuti kelompok kajian tersebut.
Dia mengikuti langkah kaki Alzam, dan masuk ke dalam pekarangan rumah, tempat kelompok pengajian tersebut berkumpul dan mendapatkan siraman rohani.
Namun, baru saja kakinya melangkah ke teras, seseorang memanggil nama sang suami dengan begitu akrab.
Seperti mendengar alarm gawat darurat, Olivia pun segera menoleh dan mendapati seseorang yang sangat dia kenal, sedang berjalan hendak menghampiri mereka berdua.
What the f*ck?
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁