CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Pagi yang panas


__ADS_3

Pagi menjelang, Alzam yang biasa bangun untuk sholat malam, terkejut mendapati dirinya yang tidur sambil memeluk erat tubuh sang istri.


Sepertinya, semalam adalah gerakan reflek berdasarkan insting, dan bukan kesadaran penuh dari dirinya.


Dia pun lalu perlahan melepaskan diri dari pelukan Olivia, dan mulai berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu kemudian menunaikan sholat malamnya.


Setiap malam, Alzam selalu meminta agar Olivia diberikan hidayah agar dia mau menjadi hamba yang taat kepada Tuhannya. Selama ini, Alzam selalu gagal mengajak gadis itu untuk menjalankan sholat lima waktu, karena Olivia selalu beralasan sedang datang bulan.


Namun, ketika sampai diujung do’anya, Alzam tiba-tiba teringat akan pertanyaannya tempo hari kepada sang adik, Kanina.


Dia bertanya mengenai durasi normal seorang gadis mengalami datang bulan. Kanina pun menjawab, jika umunya datang bulan berlangsung paling cepat selama tiga hari, namun ada juga yang sampai seminggu lebih, tergantung lancar tidak siklus haidnya.


Dia ingat, bahwa Olivia dan dirinya telah menikah sudah lebih dari dua minggu, dan sejak itu pula Olivia selalu beralasan sedang datang bulan. Sedangkan, dia jelas-jelas tidak sedang hamil berdasarkan pemeriksaan di rumah sakit setelah kejadian fitting baju, yang menunjukkan bahwa gadis itu tidak sedang mengandung.


Alzam pun tiba-tiba menyeringai, seolah sedang mendapatkan cara agar sang istri mau bangun dan menunaikan sholat fardhu.


Seperti biasa, selepas sholat malam dan bermunajat kepada Allah, Alzam selalu membaca kitab suci Al-Quran, melanjutkan bacaan sebelumnya, hingga khatam satu kitab dan akan dia ulangi lagi dari awal secara terus menerus.


Olivia masih terlihat lelap, seolah suara mengaji Alzam yang sangat lembut bak lagu nina bobo, hingga membuatnya tambah pulas.


Alzam baru menyudahi mengajinya ketika sudah mendekati waktu subuh. Dia pun menutup kitab sucinya, dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Dengan masih mengenakan kain sarung dan baju kokonya, Alzam mendekat ke arah Olivia. Dia duduk di tepi ranjang dan menatap lekat wajah yang semalam terlihat begitu ketakutan.


Tak berselang lama, kumandang adzan subuh mulai sayup terdengar saling bersahutan, antara masjid satu dengan yang lain, mushola satu dan lainnya.


Alzam yang tadi terpikirkan satu ide, kemudian mencoba membangunkan istrinya untuk mengajak solat Subuh.


“Liv, Oliv! Ayo bangun. Udah subuh,” panggil Alzam sambil mengguncang lengan gadis itu.


Namun, Olivia sama sekali tak bergeming dan tetap tertidur. Alzam pun kembali memanggil-manggilnya dan semakin kencang mengguncang bahunya.


“Oliv, bangun! Kita sholat subuh. Ayo bangun, Liv!” seru Alzam.


“Ehmmm... Apaan sih, Mas? Ngantuk nih,” sahut Olivia yang masih setengah tidur.


“Bangun. Udah waktunya sholat subuh. Ayo cepetan,” seru Alzam lagi.


“Ck! Males ah,” keluh Olivia.


Gadis itu bukannya bangun, dia justru kembali menarik selimutnya semakin ke atas. Alzam tak menyerah. Dia lagi-lagi mencoba mengganggu tidur Olivia sampai istri kecilnya itu bangun.

__ADS_1


“Oliv, bangun nggak? Apa mau ku tinggal nih?” ucap Alzam.


Mendengar ucapan sang suami, Oliv pun lalu mencoba membuka mata, meski malas benar-benar menguasainya saat ini.


“Mau kemana sih?” tanya Olivia penasaran.


“Mau muter-muter keliling kampung,” jawab Alzam.


“Ikuuuut...hoaaaaammmm,” rengek Olivia sambil menguap.


“Makanya bangun, trus sholat subuh,” seru Alzam lagi.


“Ck! Emang nggak bisa agak siangan lagi apa? Jam berapa ini, Mas?” keluh Olivia.


“Nggak mau ya udah. Aku tinggal,” sahut Alzam.


Olivia seketika bangun dan menarik lengan sang suami.


“Jangan. Iya nih aku bangun. Tapi, aku belum bisa sholat, masih haid,” elak Olivia.


“Oh ya?” tanya Alzam.


“Kalau nggak salah, udah lebih dari dua minggu kamu selalu bilang lagi haid. Kamu nggak punya penyakit kan?” tanya Alzam menyelidik.


“Eh...? Nggak kok, nggak!” elak Olivia.


“Kalau gitu, sini aku periksa!” ucap Alzam.


Pemuda itu lalu meraih pinggang Olivia dan membuat gadis itu terkejut. Alzam mengancam ingin memeriksanya, dan itu berarti melihat bagian intinya.


Olivia meronta dengan kencang, padahal Alzam baru menyentuh pinggangnya dari luar pakaian yang dikenakan saat ini, atau lebih tepatnya mengelitiki.


“Sini biar aku periksa aja yah. Aku takut kamu kenapa-kenapa, Oliv,” ucap Alzam gemas.


“Enggak! Jangan... Hahaha...,” sahut Olivia tertawa geli.


Alzam terus saja bercanda dengan sang istri, berharap dengan keisengannya ini bisa membuat Olivia jera dan tidak berbohong lagi.


Olivia terus meronta karena gelitikan Alzam yang semakin jahil, bahkan membuat baju tidur Olivia berantakan hingga terbuka ke atas dan hampir memperlihatkan bagian dadanya.

__ADS_1


Terlebih kebiasaan tidur Olivia yang tidak mengenakan bra, membuat bagian bawah benda kenyal itu sedikit terlihat.


Hal itu sontak membuat Alzam terhenti, karena melihat perut rata sang istri yang terasa lembut di ujung jemarinya.


Nafas Olivia tersengal-sengal, karena dari tadi terus digelitiki oleh Alzam, membuat bagian yang hampir terbuka itu naik turun menggoda iman. Gadis itu tak sadar bahwa sang suami sedang menatapnya dengan pandangan yang berbeda saat ini.


Naluri kelelakian Alzam bangun, dan menguasai logikanya. Jakunnya naik turun, merasa kesulitan menelan salivanya. Tangannya yang sejak tadi diam di pinggang Olivia, kini bergerak perlahan mengusap lembut perut rata gadis itu.


Alzam mengusapnya semakin ke atas, dan menyentuh sesuatu yang ada di balik baju tidur Olivia yang naik. Sensor di ujung jarinya, menjalarkan panas ke seluruh tubuh Alzam, dan mengalirkan geleyar-geleyar yang mampu membangkitkan kawan kecil pemuda tersebut.


Jantungnya semakin cepat berdegup, saat membayangkan benda yang ada di balik baju Olivia. Sementara gadis itu yang sudah berhenti tertawa, menyadari bahwa suaminya sedang menatap tubuhnya dari atas.


Posisi mereka saat ini benar-benar sangat tidak nyaman. Olivia berada di bawah kungkungan Alzam, dengan sorot mata yang semakin nanar memandangi dirinya.


Jantung Olivia pun mulai berdegup cepat. Dia bahkan sampai mengigit bibir bawahnya, saat membayangkan apa yang akan terjadi jika hal ini terus dibiarkan.


“Mas,” panggil Olivia lirih.


Mendengar suara lembut itu memanggil nanyanya, Alzam pun mengangkat pandangan dan menatap lekat wajah cantik istrinya. Entah kenapa, di mata Alzam saat ini, wajah itu benar-benar menggoda, seolah berkata ingin dicumbunya.


Dia menekuk lengan satunya, dan semakin rapat menindih tubuh sang istri. Dengan lembut, dia membelai pipi Olivia, membuat gadis itu semakin membeku.


Alzam pun mendekatkan wajahnya kepada Olivia. Gadis itu seolah tersihir dengan tatapan mata Alzam yang benar-benar berbeda dari biasanya. Wajah mereka semakin mendekat, hingga terpaan nafas hangat terasa di permukaan kulit wajah masing-masing.


Perlahan namun pasti, Alzam mendaratkan bibirnya di bibir Olivia. Sebuah kecupan lembut terasa begitu manis, membuat Alzam tak cukup hanya mengecupnya saja.


Dia pun mulai memagut bibir ranum itu, dan membuat bibir sang istri basah. Nalurinya memimpin dan membuatnya bekerja sendiri, berusaha memenuhi keinginan h*sratnya yang telah lama ia tekan.


Olivia yang merasakan kelembutan di dalam ciuman itu pun mulai terlena. Dia menutup mata dan menikmati permainan amatir Alzam, yang justru memabukkannya.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2