
Hari yang dinanti pun datang. Esok adalah hari pernikahan Olivia dengan Alzam.
Malam ini, baik Alzam dan juga Olivia sama-sama tidak bisa tidur. Jika Alzam sibuk memikirkan masa depan, sedangkan Olivia, dia sibuk memikirkan kehidupan romantisnya bersama Alzam setelah menikah.
Semua nampak sibuk, terlebih di pihak Alzam yang mengurus semua keperluan pernikahan, dari mulai acara ijab qobul hingga resepsi kecil-kecilan, yang akan dihadiri oleh rekan-rekan terdekat saja.
Bu Aminah tak keberatan jika dari pihak Tuan Abimana tidak membawa banyak orang, karena bagaimanapun pernikahan ini berlangsung atas dasar sebuah kesalahan, yang pastinya akan mempermalukan pihak keluarga mempelai putri.
Sudah diijinkan untuk mengambil tanggung jawab saja sudah bagus, sehingga wanita tua itu pun memaklumi dan menerimanya.
Pagi-pagi sekali, sekitar pukul enam pagi, perias pengantin sudah datang ke rumah Olivia untuk mendandani sang calon pengantin.
Seharusnya dia juga yang mendandani ibu dari si mempelai putri, akan tetepi karena Rosaline yang memiliki gengsi tinggi, tidak bersedia jika harus dirias oleh tukang make up biasa seperti itu.
Dia memanggil MUA sendiri, khusus untuk mendandani dirinya dan juga sang suami. Tuan Abimana hanya bisa menuruti keinginan istrinya itu, karena dia ingin agar wanita kesayangannya tersebut mau hadir di acara pernikahan putri mereka.
Tuan Abimana sangat paham, jika Rosaline sejak awal sangat menentang pernikahan ini. Akan tetapi, ini semua karena ulah Olivia, dan dia tak mau jika nama putrinya menjadi tidak baik karena sudah berbohong sedemikian rupa hanya demi mendapatkan seorang pemuda.
Dalam pertimbangannya, Tuan Abimana melihat perubahan pada diri Olivia, yang tadinya selalu berpenampilan kurang senonoh, menjadi lebih sopan dan tertutup. Dia bahkan tahu mengucap salam saat bertemu seseorang. Hal-hal sederhana seperti itulah yang bahkan lupa ia ajarkan kepada putrinya sejak kecil.
Tuan Abimana secara tak langsung ingin mengubah Olivia, menjadi perempuan yang sholehah, sosok yang tahu agama dan tahu batasan. Hal yang lalai ia ajarkan kepadanya, dan berharap bahwa Alzam dan Bu Aminah bisa membimbing Olivia ke jalan yang seharusnya.
Hampir dua jam Olivia di rias oleh perias pengantin yang dipilih oleh keluarga Alzam, kini dia tinggal memakai baju pengantin yang kemarin telah sepakat dipilihnya untuk acara hari ini.
Kebaya berwarna putih tulang dengan ekor yang panjang, dan bagian depan yang terbuka dari bawah prut hingga ke kaki, serta manik-manik yang membuat baju itu terasa berat. Dipadukan dengan bawahan kain batik coklat terang dengan gliter gold di beberapa bagian.
Rambutnya di sanggul, dengan bagian depan disasak agar terlihat lebih bervolume atau biasa disebut gunungan, dan dihias dengan bunga melati yang sudah dironce atau dirangkai membungkus sanggul, serta menjuntai pendek di bagian kiri dan panjang hingga kebawah dada di sisi kanan.
Tak lupa juga, sebuah siger yang bertahta di kepala sang pengantin, yang mirip seperti sebuah makota.
Kini, Olivia benar-benar manglih atau terlihat berbeda dari biasanya. Dalam balutan baju pengantin dan riasan tersebut, gadis itu nampak begitu anggun dan juga sangat cantik. Berkali-kali lipat lebih cantik dari sebelumnya.
__ADS_1
Melihat si perias telah keluar dari kamar sang putri, Tuan Abimana pun masuk dan melihat anak gadisnya, yang sebentar lagi akan ia serahkan kepada seorang pemuda, yang menjadi harapannya untuk merubah putrinya yang selalu seenaknya bertindak, menjadi lebih baik lagi.
Dia membuka pintu dan melihat nuansa kamar pengantin di sana, yang telah disiapkan sehari sebelum hari H. Nampak Olivia sedang duduk di tepi tempat tidur, dengan balutan baju pengantin lengkap dengan riasan yang sudah selesai.
Gadis itu menoleh dan tersenyum melihat kedatangan ayahnya.
“Papah,” panggil Olivia seperti biasa.
Tuan Abimana nampak terpana dengan penampilan sang putri. Rasa haru tiba-tiba muncul, hingga membuat pria tua itu berkaca-kaca, akan tetapi segera dihalau sebelum meleleh jatuh ke pipi.
“Ini beneran anak papah? Kok bisa cantik begini yah?” goda Tuan Abimana.
“Ishh! Papah mah gitu. Oliv dari dulu udah cantik kali, Pah,” sahut Olivia.
Keduanya pun terkekeh. Tuan Abimana duduk di samping putrinya. Dia meraih tangan yang sudah dihiasi oleh hyena putih itu.
“Papah harap kalian berdua bisa bahagia. Terutama untuk kamu. Papah sudah menyetujui keinginanmu ini, meski sebenarnya Papah kasihan sama pemuda yang sudah kamu tipu itu. Tapi, Papah harap kamu bisa bertanggung jawab dengan keputusanmu ini, dan menjadi orang yang lebih baik lagi di bawah bimbingan suamimu, Nak,” pesan Papah Abi.
“Iya, Pah. Papah tenang aja. Aku pasti bahagia nikah sama Mas Al. Papah lihat aja ntar,” sahut Olivia.
Mendengar jawaban yang begitu enteng dari Olivia, membuat Tuan Abimana hanya bisa menghela nafas dalam, dan berharap dalam hati agar apa yang dikatakan putrinya tadi benar-benar menjadi sebuah kenyataan.
Hari sudah cukup siang, dan Mamah Ros pun sudah selesai di rias. Mengenakan kebaya berwarna lilac, sepasang dengan beskap yang dipakai sang suami, wanita yang masih terlihat muda diusianya yang sudah cukup berumur itu pun siap menghadiri acara ijab qobul pernikahan sederhana putrinya.
Di bawah, sudah hadir beberapa kerabat dekat mereka, di antaranya keluarga Agung Andromeda, ayah dari Leon, yang akan ikut menjadi saksi pernikahan putri sahabatnya itu.
“Abi, selamat ya. Ternyata putrimu yang lebih dulu dapet jodoh. Kukira kita bakal besanan, ternyata tidak,” ucap Agung Andromeda.
Pria bertubuh gempal dengan bobot mencapai lebih dari satu kwintal, serta tinggi sekitar seratus delapan puluh centimeter itu, tampak menonjol di antara orang yang akan turut hadir di pernikahan Olivia.
Seperti namanya, Andromeda, yang juga merupakan nama sebuah galaksi yang besar, seperti itu pula lah orangnya. Sama seperti yang pernah dikatakan Leon saat bercanda dengan Olivia tempo hari.
__ADS_1
“Hahahaha... Anakmu saja yang terlalu suka bermain-main, jadi dia tak fokus pada berlian ku. Carikan saja dia istri agar dia berhenti main-main lagi,” sahut Tuan Abimana.
“Eih! Aku bukan orang tua yang kolot. Biarkan saja dia bersenang-senang menikmati masa mudanya. Kalau sudah lelah, pasti dia berhenti sendiri,” ucap Agung.
“Kau benar, Gung. Hahahaha... Mari, kita sudah akan berangkat,” seru Tuan Abimana.
Olivia nampak menuruni anak tangga, dibantu oleh periasnya, yang memegangi ekor kebaya yang sangat berat itu.
“Swit! Swit!” sebuah siulan terdengar, saat pengantin wanita hampir sampai di bawah.
Olivia melihat ke arah orang-orang, dan mendapati sang sahabat yang juga turut hadir dengan penampilan yang luar biasa normalnya.
“Eh, Yon. Tumben banget lu mau pake batik. Mo kondangan, Bang?” ejek Olivia.
“Iye. Pan gue mau kondangan di kawinannya elu,” sahut Leon.
Olivia terkekeh sambil terus melangkah turun. Dia langsung dituntun menuju ke mobil pengantin, dan masuk bersama dengan periasnya.
Sementara ayah dan ibunya masuk ke mobil lain, begitu juga tamu-tamu yang akan ikut ke tempat acara berlangsung.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1