
Setelah berhasil menenangkan Olivia, Alzam mengajak gadis itu kembali ke kedai, dan berencana membawanya ke suatu tempat.
Rupanya, di kedai masih ada Nurul dan juga Leon, yang juga sedang duduk sambil berbincang akrab.
Guru muda itu langsung berdiri, begitu melihat kedatangan Alzam dan juga Olivia. Dia tak enak hati akan kejadian sebelumnya.
“Liv, maaf yah. Aku pasti udah bikin kamu salah paham. Aku tadi cuma ambilin kotak P3K buat Alzam. Aku bahkan nggak nyentuh suamimu sama sekali,” ucap Nurul.
Olivia diam. Dia seolah tak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari Nurul.
“Aku udah kasih tahu dia kok. Kamu tenang aja,” ucap Alzam mewakili Olivia.
“Syukurlah. Sekali lagi, maafin aku ya, Liv” ucap Nurul lagi.
“Aku mau pergi dulu sama Oliv. Kalian ngobrol aja dulu di sini. Biar aku yang traktir,” ucap Alzam.
Olivia menoleh dan mengernyitkan keningnya, saat mendengar perkataan sang suami.
“Emang kita mau kemana, Mas?” tanya Olivia bingung.
“Udah, kamu ikut aja,” sahut Alzam.
Pemuda itu kemudian mencari seseorang di antara para pegawainya.
“Bas, titip kedai ya. Aku pulang cepet hari ini,” seru Alzam.
“Oke, Bos,” sahut Abas dari kejauhan.
Alzam lalu menoleh ke arah Olivia.
“Tunggu bentar di sini. Aku ambil tas sama jaket dulu,” ucap Alzam
Olivia hanya mengangguk dan malas untuk menjawab.
Saat Alzam meninggalkan mereka, Nurul kembali berucap.
“Liv, maaf kalau kehadiran ku di sekitar Alzam udah bikin kamu nggak nyaman. Aku janji akan lebih jaga jarak dari suami kamu. Aku nggak mau kamu salah paham terus sama aku. Aku beneran pengin berteman sama kamu, Liv,” ucap Nurul.
Olivia menoleh dan menatap tajam ke arah yang dia kira adalah rival cintanya.
“Bagus kalau kamu sadar diri,” sahut Olivia tajam.
Leon sampai maju dan berdiri di samping Nurul, karena sikap Olivia yang benar-benar menunjukkan ketidaksukaan yang teramat.
“Liv, Nurul nggak seperti yang lu kira kok,” seru Leon.
Olivia pun beralih menoleh ke arah sang sahabat. Dia terlihat menyeringai dengan sebelah sudut bibir terangkat ke atas.
__ADS_1
“Di mana-mana, cewek gatel ya selalu sok polos. Jijik tau nggak,” maki Olivia.
Dia kembali memalingkan wajahnya melihat ke arah lain, dan enggan meneruskan perdebatan itu, karen Olivia melihat Alzam yang telah berjalan kembali ke arahnya.
“Nur, kita pergi dulu ya. Dan ehm...,” ucap Alzam terhenti.
Dia lupa dengan nama sahabat sang istri.
“Leon. Nama gue Leon. Biar Nurul gue yang temenin,” sahut Leon.
“Oke, thanks bro,” ucap Alzam.
Dia pun lalu merangkul pundak Olivia dan mengajak sang istri pergi dari kedai.
Setelah pasangan tersebut keluar, Leon kembali duduk dan mengajak nurul melakukan hal yang sama.
“Maafin Oliv ya, Nur. Dia aslinya baik kok. Cuma sejak pernah dikecewain sama cowok yang dia bener-bener cinta mati, Oliv jadi gitu kalau ada cewek yang deketin cowoknya,” ucap Leon.
“Nggak papa kok. Wajar kalau Oliv merasa terganggu sama kehadiran aku. Lagipula, dia lebih berhak atas Alzam. Gimanapun juga, dia istrinya,” jawab Nurul.
“Syukurlah kalau kamu mau ngertiin dia,” sahut Leon.
Keduanya kembali menikmati es kopi buatan Amy ala kedai Alzam.
...☕☕☕☕☕...
“Kamu mau ajak aku kemana sih sebenernya, Mas?” tanya Olivia.
“Pasar. Aku mau beliin sesuatu buat kamu,” sahut Alzam.
“What?! Pasar? Maksud kamu, tempat becek, bau, panas, kotor dan penuh sesak sama orang itu? Iuuuuhhhh.... Nggak mau! Aku nggak mau ke sana,” tolak Olivia langsung.
Alzam pun menoleh dan memicingkan matanya, melihat sang istri yang kembali bersikap menyebalkan.
“Jangan mulai lagi deh, Liv. Kamu tau nggak, sikap kamu yang kek gini ini, nyebelin banget,” keluh Alzam.
“Ya lagian kamu pake acara ngajakin aku ke pasar segala. Ogah! Aku nggak mau. Pokonya nggak mau, titik! Lagian kalau mau beli sesuatu, di mall kan juga bisa. Malah lebih lengkap di mall. Tempatnya juga bersih, wangi, adem, nggak becek dan nggak perlu desak-desakan sama orang lagi,” tepis Olivia.
Alzam nampak menghela nafas kesal dan mengusap kepalanya sendiri. Dia memijat keningnya yang kembali berdenyut, melihat sikap seenaknya dari gadis tersebut.
Astaghfirullah hal adzim. Kenapa nyebelinnya kumat lagi sih? Jadi nyesel kan tadi pake acara peluk-peluk dia, cuma buat nenangin hatinya doang. Tahu gini, mending tadi biarin dia pergi aja deh, rutuk Alzam dalam hati.
Taksi tanpa penumpang terlibat mendekat. Alzam melambaikan tangan pertanda meminta taksi untuk berhenti.
Setelah mobil biru bergambar burung itu berhenti tepat di depan mereka, Alzam turun dari trotoar dan membukakan pintu untuk sang istri.
“Ayo masuk!? “ seru Alzam.
__ADS_1
“Kalau ke pasar, aku mending pulang sendiri aja,” tolak Olivia.
Alzam kembali mendengus kesal melihat tingkah Olivia itu.
“Ya udah, iya. Kita nggak jadi ke pasar. Kita jadinya pergi ke mall. Puas?” ucap Alzam mengalah meski hatinya kesal dengan sikap sang istri.
Olivia pun tersenyum. Tipis, namun dia buru-buru menghilangkan lagi senyumnya dan kembali berlagak merengek.
Dengan mengentak-entakkan kakinya, Olivia berjalan ke arah taksi yang sudah dibukakan oleh Alzam.
Dia pun kemudian duduk tenang di kursi belakang, menunggu sang suami masuk dari sisi satunya lagi.
“Mall X, Pak,” seru Alzam memberikan alamat tujuan mereka.
Olivia terus menahan senyumnya, karena sikap Alzam yang akhirnya mau mengalah padanya. Jika mengingat perlakuan Alzam padanya sebelum ini, bisa saja pemuda itu tak peduli, dan benar-benar membiarkan Olivia pulang sendiri.
Akan tetapi, kali ini dia justru mengalah dan mau menuruti kata-kata istrinya. Hati Olivia berbunga, dan seolah ingin berteriak bahwa dia sangat bahagia hanya dengan hal kecil seperti itu.
Sesampainya di mall, Alzam membawa Olivia ke toko yang menjual peralatan sholat. Gadis itu sampai dibuat bingung karena sang suami mengajaknya ke tempat tersebut.
“Kita ngapain ke sini, Mas?” tanga Olivia.
“Beli mukenah buat kamu. Tadi pagi pas aku ngajakin kamu sholat subuh bareng, inget nggak jawabanmu apa?” tanya Alzam.
Olivia pun kembali mengingat apa yang dia katakan, saat berpura-pura masa bod* dengan ajakan sholat sang suami.
“Ehm...,” gumam Olivia berpikir.
Alzam geleng-geleng kepala, dan langsung meminta diambilkan satu set mukenah untuk perempuan dewasa.
“Mau yang mana, Kak?” tanya si penjaga toko.
Dia mengambil satu buah dari masing-masing model dan jenis bahan yang ada di sana.
“Kamu pilih mana yang kamu suka!” seru Alzam.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1