
Sore hari, Alzam masih belum pulang ke rumah. Karena Olivia pulang sendiri tadi siang, pemuda tersebut pun mengatakan akan pulang malam pada sang istri.
Olivia lalu sholat maghrib berjama’ah dengan para pekerja di rumah tersebut, tanpa kehadiran Alzam seperti biasa.
Gerakan sholatnya sudah mulai hafal, meski bacaan sholatnya masih belum bisa. Menurut Alzam, baru seperti ini saja sudah termasuk luar biasa sebagai langkah awal.
Biarkan Olivia perlahan-lahan belajar, agar tak merasa terbebani dengan prose hijrahnya.
Kebetulan, malam ini adalah malam jum’at. Orang yang saat ini menjadi imam sholat adalah tukang kebun. Dia memimpin tahlil setelah sholat maghrib, untuk bersama-sama mendoakan keluarga atau kerabat yang sudah lebih dulu berpulang ke rahmatullah.
Olivia yang tak tahu menahu pun hanya duduk diam, sambil mendengarkan bacaan-bacaan serta pujian yang dilantunkan oleh orang lain.
Saat baru saja selesai, gadis itu kemudian pamit dan langsung beranjak kembali ke kamar. Namun, baru saja satu langkah Olivia memasuki rumah utama, dia mendengar tawa renyah dari arah ruang depan.
Dia pun berusaha tak peduli dan terus berjalan melewati ruang tengah, yang langsung bisa terlihat dari ruang depan, melalui pintu tengah yang sangat besar.
“Oliv, kamu habis dari belakang lagi? Ya ampun. Tambah mines aja pergaulan kamu yah,” ucap seorang wanita paruh baya, yang masih terlihat begitu cantik di usianya yang tak lagi muda, Mamah Ros.
Olivia hanya menghela nafas panjang, dan mencoba menyabari perkataan sang bunda, demi tetap menghormati wanita tersebut sebagai ibunya.
Dia terus berjalan ke arah tangga dan tak menghiraukan perkataan Mamah Ros barusan, hingga wanita itu pun kembali berucap.
“Pemuda miskin itu benar-benar pengaruh buruk buat kamu yah. Bukannya diajarin bergaul dengan orang-orang kelas atas, malah ngajarin gaul sama pembokat. Dari pembantu, tukang kebun sampe satpam juga diakrabin. Lihat nih mantan kamu. Dia jauh lebih baik berkali-kali lipat dari suami melarat kamu itu, Liv. Sadar nggak sih kamu,” lanjut Mamah Ros.
Olivia yang terus mendengar hinaan atas sang suami dari mulut ibunya sendiri pun mulai geram. Dia menghentikan langkahnya, tepat di anak tangga ke lima.
Dia pun kemudian berbalik dan melihat ke bawah, di mana sang bunda sudah memasuki ruang tengah, disusul oleh Nathan yang sejak tadi terus menikmati hinaan Mamah Ros atas menantunya.
“Kalau Mamah emang suka sama dia, ambil aja, Mah. Nggak usah maksain Oliv buat nerima dia lagi. Aku sama dia udah selesai sejak lama,” ucap Olivia.
“Oliv, kok kamu malah ngomong gitu. Mamah ini udah ada Papah. Lagian, kalian lebih cocok. Sama-sama dari kelas atas lagi,” jawab Mamah Ros.
__ADS_1
“Mah, aku juga sama. Aku udah ada Mas Al. Dia suami aku dan satu-satunya suami buat aku sampai kapanpun. Aku heran deh sama Mamah, kenapa sih ngotot banget deketin aku sam dia? Papah tahu nggak sih kelakuan Mamah yang kayak gini? Keluar sampe malem bareng orang ini. Udah mirip tante-tante sama pacar berondongnya aja tau nggak,” timpal Olivia.
“OLIV!’ pekik Mamah Ros kesal.
Olivia tak lagi menyahut. Dia memilih untuk kembali berbalik dan menuju ke kamarnya. Dia tak peduli lagi dengan ocehan Mamah Ros, yang terus menghina dan memojokkan suaminya.
Hingga sampai di kamar, gadis itu cepat-cepat menutup pintu kamar rapat-rapat, dan bersandar di balik pintu tersebut.
Nafasnya memburu, seiring dengan emosinya yang tengah coba ia tekan. Matanya terpejam, berusaha menenangkan hatinya yang panas, mendengar hinaan yang terlontar dari mulut sang bunda.
Dia pun kemudian ingat akan sang suami. Alzam selalu beristighfar setiap kali menghadapi hal yang membuat hatinya gundah. Olivia pun kemudian mencobanya, sambil terus menormalkan nafasnya.
Sungguh kalimat yang luar biasa ajaib. Beberapa kali ucap saja, dada Olivia sudah terasa lebih longgar, perasaan gadis itu lebih ringan, emosinya turun, dan nafasnya pun mulai teratur.
Dia kemudian berjalan ke arah lemari, dan menyimpan mukenah serta sajadahnya ke dalam sana. Dia lalu naik ke atas ranjang, dan duduk bersandar di head board, sambil terus melafalkan kalimat istighfar secara terus menerus.
Pukul delapan malam, Alzam baru saja sampai di rumah mertuanya. Dia masuk melalui pintu depan dan melihat Mamah Ros sedang duduk, dikelilingi oleh banyaknya shopping bag dengan berbagai ukuran, yang dibelikan oleh Nathan siang tadi.
“Assalamu’alaikum, Mah,” sapa Alzam.
“Apes banget, punya mantu nggak punya apa-apa. Cuma modal tampang doang buat deketin anakku, bakal numpang hidup mewah. Coba aja kalau Oliv nurut mau balikan lagi sama mantannya, pasti seru bisa pamer di depan temen-temenku. Bisa beliin barang-batang bermerek yang kita mau. Pokoknya, nggak malu-maluin lah,” ucap Mamah Ros, tanpa melihat ke arah Alzam.
Pemuda itu terlihat diam. Dia bahkan kembali menarik tangannya dan meremasnya erat.
Tepat saat itu, Olivia yang sudah lapar, bermaksud turun dan meminta makan kepada asisten rumah tangga di rumah tersebut.
Dia bahkan melihat sang bunda yang sedang duduk, dan Alzam berdiri di dekatnya. Dia pun semakin mempercepat langkah kakinya, takut-takut jika nanti ibunya itu semakin menghina Alzam.
Benar saja, saat dia sudah semakin dekat, Mamah Ros terdengar mengatakan sesuatu yang membuatnya kembali emosi.
“Tampang aja sok alim. Tapi kelakuan sama aja kek cowok matre dari kalangan bawah. Denger yah, yang pantes sama Olivia itu ya cuma laki-laki yang mapan dan punya masa depan cerah. Bukan kayak kamu. Inget! Mantan Oliv udah balik dari luar negeri. Kamu mending siap-siap aja deh buat pisah sama Oliv. Toh Oliv juga nggak hamil ini. Kalian nggak perlu main rumah-rumahan lagi. Oliv juga...,” ucap Mamah Ros panjang lebar.
__ADS_1
“MAH!” pekik Olivia, menyela perkataan sang mamah sebelum berbicara semakin keterlaluan.
Olivia dengan cepat berjalan menghampiri kedua orang tersebut, dan berdiri tepat di depan Alzam.
Sementara sang mamah, terlihat tak acuh dan terus mengeluarkan satu persatu benda yang telah dibelikan Nathan untuknya.
“Ayo kita pergi dari sini, Mas,” ajak Olivia.
Gadis itu menarik tangan Alzam, dan membawa pemuda tersebut naik ke atas menuju kamar mereka.
Olivia benar-benar kesal setengah mati dengan ucapan Mamah Ros, yang terus menerus menghina Alzam karena perbedaan derajat sosial di antara mereka. Namun yang membuatnya semakin emosi adalah, mamahnya sudah sampai membawa-bawa Nathan di depan Alzam.
Dia tak mau sampai suaminya bertanya tentang masa lalunya, setelah mendengar sesuatu tentang mantannya dari sang mamah.
Sesampainya di kamar, Olivia kembali menutup kamarnya dan berdiri dengan wajah tertunduk, sambil masih memegangi handle pintu.
Alzam yang melihat hal itu pun, sangat paham apa yang tengah terjadi dengan sang istri.
Dia kemudian mendekat, dan memeluk Olivia dari belakang dengan masih mengenakan tas selempanya yang ia putar ke belakang.
Alzam meletakkan dagunya di pundak Olivia, dan merasakan degupan jantung gadis itu yang terasa begitu cepat.
“Mas, aku mau pindah dari sini,” ucap Olivia.
.
.
.
.
__ADS_1
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁