CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Tumpahan kopi


__ADS_3

Siang itu, setelah Olivia dan Leon selesai mengikuti dua mata kuliah, mereka pun akhirnya beristirahat dan pergi ke masjid.


Seolah sudah menjadi kebiasaan, Olivia pasti akan mengajak Leon untuk ikut bersamanya pergi ke tempat suci itu. Awalnya, Olivia hanya memintanya untuk mengantarkan dan menunggunya sampai selesai sholat, akan tetapi hari ini dia mengajak Leon agar mau mulai belajar sholat juga.


Namun sayangnya, Leon masih menolak dan belumau melakukan kewajibannya sebagai umat muslim.


Akhirnya, Olivia hanya bisa memintanya menunggu di teras masjid sampai dirinya selesai sholat.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit, mereka pun kemudian pergi dari sana dan mencari tempat untuk makan siang. Sejak dia dinyatakan hamil, Olivia benar-benar menjaga dirinya dan mengingat pesan yang disampaikan oleh dokter.


Dia pun menjadi selektif terhadap makanan yang dikonsumsinya. Jika biasanya dia akan sembarangan makan apapun yang ditemukan, kali ini dia hanya mau makan makana bergizi dan bervitamin. Dia bahkan sengaja membawa camilan sehat khusus ibu hamil di dalam tasnya, mengingat frekuensi muntahnya yang masih belum mereda.


Saat ini, Leon dan Olivia berada di salah satu foodcourt yang terletak di dekat masjid kampus. Pemuda itu terlihat memesan seloyang pizza kegemarannya, yang biasanya akan selalu mejadi rebutan antara dirinya dan sang sahabat.


Akan tetapi kali ini, Olivia memilih memesan sereal oatmeal yang disiram susu cair, dan diberi toping buah segar. Leon yang melihat makanan sehat kaya serat itu pun seolah jijik karena tampilannya yang lebih seperti muntahan.


“Lu serius mau makan itu?” tanya Leon.


“Eh, Yon. Mulai sekarang gue itu mesti selektif soal makanan. Gue nggak mau sampe anak gue kenapa-napa,” jawab Olivia sambil menyuapkan sesendok sereal itu.


“Iyaakkksss... hadap sana gih makannya. Jijik tau,” kelub Leon.


Bukannya menurut, Olivia justru semakin menantang dan makan menghadap Leon, dengan ekspresi yang  terlihat begitu menikmati.


Leon yang tak kuat pun memilih membuang pandangannya ke lain arah, demi menghindari hilangnya selera makan.


Setelah makan siang yang penuh perjuangan, Leon pun mengajak sang sahabat untuk kembali ke gedung perkuliahan dan mengikuti mata kuliah terakhir hari ini.


Perempuan yang sekarang mencoba konsisten berhijab itu pun menurut dan mengikuti sang sahabat sampai ke kelas mereka.


Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, jam telah menunjukkan pukul setengah tiga, dan dosen pengampu pun memberi instruksi bahwa kelas telah selesai untuk pertemuan hari ini.


“Minggu depan adalah pertemuan terakhir kita di semester ini, karena dua minggu lagi kalian akan menemui ujian akhir semester. Jadi, jangan lupa tugas analisis kelompok kalian yang sudah saya berikan sejak awal semester. Selamat siang,” seru sang dosen.

__ADS_1


Semuanya pun serempak menjawab salam dari sang pengajar. Olivia nampak membereskan alat tulisnya yang tadi digunakan ke dalam tas.


“Udah chat suami lu belum?” tanya Leon.


“Dia mah selalu ready kali. Nggak usah gue chat juga pasti dia lagi ke sini,” sahut Olivia yakin.


“Cih! Yakin amat jadi orang. Kalo ternyata dia lupa lagi kek kemarin-kemarin gimana?” tanya Leon.


“Ya kan ada elu. Bisa kali lu nganter gue ke tempat suami gue,” jawab Olivia enteng.


“Haih... ujung-ujungnya gue lagi juga. Ya udah lah. Yuk keluar,” seru Leon


Olivia yang telah selesai beberes pun keluar dari kelas bersama dengan Leon. Mereka berencana menunggu Alzam di tempat parkir mobil, tepatnya di dalam mobil Leon yang atapnya bisa dibuka lebar.


Mobil pemuda tersebut termasuk edisi terbatas saat ini, yang hanya dimiliki oleh dua orang saja di tanah air, yaitu Leon dan juga Olivia.


Olivia memiliki mobil berwarna merah sedangkan Leon berwarna putih. Keduanya sengaja meminta mobil tersebut sebagai hadiah kelulusan dari SMA. Baik Papah Abi maupun Tuan Agung, keduanya sama-sama memanjakan anak-anak mereka sehingga apapun yang mereka minta selalu dipenuhi.


Saat Olivia dan Leon sedang berjalan ke arah parkiran, keduanya nampak mengobrol sambil sesekali melepas candaan yang sangat tidak berfaedah khas guyonan dua sahabat tersebut.


“Aduh. Sorry, Bro. Gue nggak sengaja. Elu nggak papa kan?” tanya orang itu sambil mencoba mengelap sisa tumpahan kopi di baju Leon.


“Kalo jalan liat-liat dong. Aduh, jadi kotor kan,” keluh Leon kesal.


“Iya gue minta maaf. Gue lagi buru-buru. Kalo lu mau, gue bisa bawa baju lu buat gue laundry,” tawar orang tersebut.


“Nggak. Nggak usah. Gue bersihin sendiri aja. Telanjang dong gue kalo bajunya dikasih ke elu,” geruru Leon.


“Ya udah, kalo gitu gue pergi dulu nggak papa kan?” tanya orang itu.


“Ya udah sonoh pergi. Ngapain juga masih di sini. Nggak jelas,” hardik Leon.


Orang itu lalu pergi meninggalkan Leon yang masih kesal, bersama dengan Olivia.

__ADS_1


“Lu nggak papa, Yon? Jutek amat lu ngomongnya tadi,” tanya Olivia.


“Lu nggak lihat apa, nih baju gue kotor gegara tuh orang. Jadi ngapain juga gue sok baik sama dia,” sahut Leon.


Pemuda itu terlihat sangat tak nyaman dengan noda kopi di bajunya, hingga dia terus mengusapnya dengan tangan, akan tetapi tak kunjung hilang.


“Lu tunggu sini bentar ya. Gue mau ke toilet dulu. Nggak betah gue kalo berantakan kek gini,” seru Leon.


“Ya udah gih sana. Gue tunggu di bangku depan ya. Jangan lama-lama lu,” ucap Olivia.


“Nggak lah. Bentar doang. Tungguin gue,” seru Leon.


Pemuda itu lalu berjalan kembali ke arah gedung perkuliahan untuk mencari toilet. Sesampainya di sana, Leon kemudian berdiri di depan wastfle dengan cermin di seberangnya. Dia lalu menyalankan keran dan mengambil air untuk membersikan noda sisa tumpahan kopi.


Namun, saat dia memperhatikan pantulannya di cermin, dia seolah teringat akan sesuatu hingga keningnya berkerut.


“Kek dejavu,” gumamnya.


Leon merasa bahwa apa yang terjadi padanya saat ini, sudah pernah dialaminya beberapa waktu lalu, bersama dengan orang yang sama pula.


Ia pun mulai mencoba mengingat kejadian yang terasa familiar itu. Leon mencoba mengingat setiap kejadian yang terjadi, yang berhubungan dengan kopi, warung kopi atau hal lain tentang kopi.


Tiba-tiba saja, matanya membulat dan tangannya mengepal. Dia seketika keluar dari toilet dan berlari dengan sangat kencang.


Gawat! Ini jebakan, batin Leon.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2