CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Kajian di rumah mertua


__ADS_3

“Ini Kak Oliv?” tanya Kanina tak percaya.


Sementara Olivia hanya tersenyum. Alzam pun sama. Pemuda itu kemudian merangkul pundak sang istri dengan mesra.


“Kalau bukan dia, terus kakakmu ngajakin siapa, In? Cepet salim sama Kak Oliv,” tanya Alzam.


“Waahh.... Aku pangling banget, Kak. KAKAK cantik banget aku sampe nggak ngenalin lho. Ra! Ra! Sini deh, Ra,” sahut Kanina heboh.


Dia menyalami Olivia sambil memuji kakak iparnya itu. Dia bahkan memanggil sang adik yang sedang membantu ibunya di dapur untuk segera datang.


Mendengar sang putri berteriak-teriak, Bu Aminah pun ikut menghampiri Kanina di depan dan menemui tamu yang baru saja datang.


“Ada apa sih, In? Kenapa teriak-teriak?” tanya Bu Aminah.


“Ini lho, Bu. Mas Azam sama Kak Oliv dateng,” sahut Kanina.


“Ini Kak Oliv? Wahhh... Cantik banget,” puji Zahra yang langsung terpana saat melihat penampilan baru Olivia.


Bu Aminah masih memperhatikan penampilan menantunya yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya.


Wanita tua itu lalu menghampiri Olivia dan dengan santun, sang menantu menyalami tangan keriput itu.


Bu Aminah mengusap puncak kepala Olivia dengan lembut, dan pandangan yang begitu teduh.


“Ternyata kalian jadi datang. Ibu kira nggak, soalnya Alzam bilang kalau kamu sibuk. Yuk masuk, kalian duduk dulu. In, bawain minum buat mas sama kakakmu,” seru Bu Aminah kepada anak-anaknya.


Kanina pun lalu menarik Zahra masuk dan mengambil minum serta beberapa kue dari dapur.


“Alzam numpang ke toilet dulu ya, Bu,” ucap Alzam.


Wanita tua itu hanya mengangguk. Dia kemudian mengajak Olivia duduk di atas karpet dan berbincang di sana.


“Maaf ya, kamu jadi duduk di bawah,” ucap Bu Aminah.


“Nggak papa kok, Bu. Di kontrakan juga kita biasa kek gini,” sahut Olivia.


“Hah... Iya. Sejak kalian pindahan, Ibu belum pernah main ke sana. Padahal Ibu pengin banget lho,” tutur Bu Aminah.


“Nggak papa kok, Bu. Oliv ngerti. Lagian ibu juga kan kerja, jadi pasti repot,” sahut Olivia.


Bu Aminah meraih pipi sang menantu, dan membetulkan letak kerudung yang terlihat sedikit maju ke depan, dan membuat wajah Olivia sedikit tertutup.

__ADS_1


“Kamu udah banyak berubah ya, Nak. Ibu ikut senang lihatnya,” ucap Bu Aminah.


“Alhmdulilah, dikit-dikit Oliv udah mulai belajar, Bu. Ini juga berkat Mas Al yang selalu dampingin Oliv buat hijrah,” sahut Olivia.


“Syukurlah kalau gitu. Berarti Alzam bisa memimpin kamu dengan baik. Dia nggak kasar sama kamu kan, Nak? Dia nggak nyuruh kami ini itu kan? Kalau ada yang mau kamu keluhkan tentang suamimu, bilang aja sama ibu. Biar nanti ibu nasehatin dia,” cecar Bu Aminah.


Olivia menggeleng dengan senyum yang begitu manis.


“Nggak kok, Bu. Mas Al malah baik banget sama Oliv. Oliv nggak dibolehin ngapa-ngapain, cuma Olivnya aja yang ngeyel dan minta diajarin banyak hal. Terimakasih banyak karena ibu udah mendidik Mas Al menjadi laki-laki yang baik dan begitu penyayang,” ungkap Olivia.


Bu Aminah merasa terharu dengan pujian sang menantu untuk anak laki-lakinya. Dia meraih tangan Olivia dan menepuknya beberapa kali, namun hanya senyum haru yang terulas di sana tanpa adanya kata-kata.


Helaan nafas terdengar begitu berat dari mulut sang wanita tua, hingga suara deru motor dari arah luar membuatnya tersadar dan mengajak Olivia bangun.


“Jamaah sudah pada datang. Yuk siapin semuanya di belakang,” seru Ibu Aminah.


Olivia mengangguk. Keduanya pun berdiri dan Olivia pergi ke belakang menemui kedua adik iparnya. Sementara Bu Aminah ke depan dan menemui tamu-tamunya yang mulai berdatangan.


Tak perlu menunggu lama, ruang tamu rumah kecil itu sudah penuh dengan jamaah yang berdatangan.


Kanina dan Zahra masih sibuk di dapur, menyeduh teh dan memasukkannya ke dalam termos besar. Olivia nampak memasukkan beberapa jenis kue kedalam kotak snack dan ada juga yang sengaja di taruh di atas piring.


Sementara Alzam membantu Olivia membentuk kotak yang masih belum ditekuk dan menyerahkannya kepada sang istri untuk diisi.


Olivia, Kanina dan juga Zahra, ikut bergabung di barisan paling ujung dan mendengarkan tausiah dari sang ulama tersebut. Sementara Alzam, pemuda itu duduk di teras belakang sambil ikut mendengarkan kajian yang terjadi di dalam sana.


Semua jamaah terlihat mencuri pandang ke arah dalam, tepatnya pada sosok cantik bergamis biru muda perpaduan mocca. Sosok asing yang baru kali ini dilihat oleh sebagian jamaah.


Ada pula yang sudah pernah melihat Olivia, karena sempat menghadiri resepsi sederhana yang digelar oleh Bu Aminah saat melangsungkan pernikahan putranya.


Setelah selesai mendengarkan tausiah, dan melakukan tanya jawab, kajian pun selesai dan dilanjut dengan pengundian untuk menentukan siapa yang akan mendapat giliran ketempatan pengajian minggu depan, sekaligus mendapatkan arisan mingguan.


Saat itulah, Olivia beserta kedua adik iparnya, Bersama-sama mengeluarkan snack box dan juga teh manis hangat sebagai suguhan untuk para jamaah sambil menunggu pengumpulan uang arisan dan pengundian selesai.


Bisik-bisik terdengar dari arah jamaah yang penasaran dengan sosok cantik yang membantu di dapur Bu Aminah.


“Siapa gadis cantik itu? Kayaknya baru pernah lihat deh?” tanya salah satu jamaah.


“Oh... Itu menantunya Bu Aminah. Istri Alzam. Udah sebulan lebih nikahannya,” jawab jamaah lain yang juga tetangga Bu Aminah.


“Oh... Udah punya mantu?” sahut yang lain.

__ADS_1


“Kok kita nggak tau sih? Diem-diem ya nikahannya?” tanya yang lain.


“Jangan-jangan hamil duluan,” terka yang lain.


“Nggak kok. Mereka nikahnya di aula RW sekalian sama resepsi kecil-kecilan. Tapi emang nggak ngundang-ngundang banyak orang sih. Cuma tetangga sama keluarga deket aja yang hadir,” sanggah yang lain lagi.


“Hus! Lagi ngaji kok malah ghibah. Ilang pahalanya lho,” seru ketua pengajian yang kebetulan mendengarnya.


Semuanya pun diam setelah mendapat teguran.


Selepas kajian, tiba-tiba tempat tersebut menjadi ajang berghibah para ibu-ibu yang penasaran dengan sosok Olivia yang belum mereka temui sebelumnya.


Manusiawi jika mereka bertanya-tanya dan menerka-nerka, hanya waktu dan tempatnya benar-benar tidak sesuai.


Sementara yang dibicarakan, sama sekali tak peduli dan terus lanjut membantu kedua adik iparnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima petang, dan semua jamaah telah pulang seluruhnya. Olivia pamit sholat terlebih dulu mengingat dia belum sholat ashar sejak tiba di rumah sang mertua, sementara Alzam sudah lebih dulu sholat saat baru saja datang.


Setelah ikut sholat di kamar Kanina, Olivia mencari keberadaan sang suami yang entah berasa di mana.


Hanya ada kedua adik iparnya saja yang terlihat sedang duduk di atas karpet yang tadi digunakan untuk duduk para jamaah, sambil menonton TV.


“Mas mu mana?” tanya Olivia.


“Mas Azam tadi di belakang sama Ibu. Paling lagi ngaso di bawah pohon belimbing,” jawab Kanina.


Matanya tak lepas dari siaran TV dan membuat Olivia pun berbalik, kemudian berjalan ke arah belakang.


Saat dia baru sampai pintu, terdengar sayup-sayup Ibu Aminah menyebut namanya, dan membuat gadis itu berhenti dan berbalik bersandar di dinding yang ada di samping pintu.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


sambil nunggu next bab, mampir ke karya temen aku yuk 👇

__ADS_1



__ADS_2