CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Membantu mertua


__ADS_3

Keesokan harinya, Alzam dan Olivia kembali terlihat mesra. Perempuan itu kembali pada kebiasaannya yang terus menempel pada sang suami bak lem super.


Hari ini, Olivia akan tinggal di rumah Bu Aminah sedangkan Alzam akan pergi ke kedai sebentar untuk mengecek kondisi usahanya.


Perempuan itu tak pernah mau diam saat berada di rumah Bu Aminah. Dia terus bergerak ke sana kemari, membantu apapun yang bisa dia lakukan.


Seperti saat ini, Olivia terlihat sedang membungkus keripik singkong pedas buatan Bu Aminah yang saat ini memang laku keras. Sesekali dia mengambil dan memakannya sendiri, sambil terus membungkus sisa keripik yang masih banyak di atas loyang.


Kanina dan Zahra masih sekolah di hari sabtu karena sekolah mereka bukan yang menerapkan sistem fullday school, di mana setiap harinya akan pulang petang namun sabtu dan minggu libur.


Karena kedua adik iparnya tak ada, Olivia pun bekerja seorang diri membantu mertuanya. Dia juga ikut mengangkat bungkusan besar keripik yang sudah di dusun ke atas tosa, yang akan membawa semua camilan murah meriah itu ke kios mertuanya di pasar.


Meski lelah, namun Olivia begitu senang karena bisa berguna di mana pun dia berada. Dia justru paling tak suka jika harus diam saja di tempat orang lain.


“Nak Oliv, ibu mau ke pasar dulu. Kamu mau ikut atau di rumah aja?” tanya Bu Aminah.


“Oliv di rumah aja, Bu. Mau nunggu Mas Al pulang. Katanya dia cuma sebentar kok di kedai,” ucap Olivia.


“Ya sudah. Kalo begitu ibu tinggal yah,” seru Bu Aminah.


“Iya, Bu. Hati-hati di jalan,” sahut Olivia.


Perempuan itu mengantarkan sang mertua hingga kendaraan yang ditumpangi Bu Aminah sudah menghilang di tikungan, barulah dia masuk kembali ke dalam rumah.


Olivia mengunci pintu depan dan masuk ke dalam kamarnya. Sejak pagi, dia sudah memakai gamis dan juga kerudung seperti hari sebelumnya. Ada sekitar tiga potong baju yang dibeli Olivia saat bersama Nurul, karena dia sudah mulai mengoleksi pakaian muslimah tersebut.


Saat sedang berada di kamar seorang diri, dia berani melepas jilbabnya karena merasa gerah. Tanpa sengaja, perempuan itu melihat pantulannya di cermin yang terdapat pada lemari pakaian Alzam.


Olivia yang tadi hendak naik ke ranjang, akhirnya mendekat ke arah cermin tersebut. Dia melihat dirinya di sana. Wajahnya tiba-tiba merona, saat matanya menatap bagian leher yang nampak dipenuhi jejak kepemilikan Alzam.


Dia merabanya, seraya mengingat kembali kejadian malam tadi. Betapa ganasnya Alzam mencumbu dirinya hinga membuat tubuhnya penuh dengan tanda merah serupa.


Senyum tipis mengembang dari bibir Olivia, mengingat betapa lembutnya Alzam setelah malam tadi. Perasaannya lebih ringan dari sebelumnya karena kini dia sudah mengungkapkan apa yang menjadi beban pikirannya selama ini kepada sang suami.


Benar kata Alzam, sekarang setiap kali Olivia bercermin dan melihat tubuhnya, perempuan itu hanya akan teringat pada suaminya saja. Alzam telah menghapus semua jejak kejadian buruk itu dari pikiran Olivia, dan menggantinya hanya dengan dirinya.

__ADS_1


Saat Olivia sedang sibuk tersenyum memandangi dirinya di cermin, sebuah bunyi notifikasi pesan masuk ke ponselnya.


Olivia pun menyudahi hal tersebut dan berjalan ke arah ranjang, di mana ponselnya berada.


Dia melihat nama sang suami tertera di layar utama dan membuatnya cepat-cepat membuka pesan tersebut.


[Aku bentar lagi pulang. Kamu siap-siap gih. Aku mau ajak kamu jalan-jalan] pesan Alzam.


Olivia tersenyum membaca pesan itu. Dia pun lekas mengetik pesan balasan untuk suaminya.


[Emangnya mau jalan-jalan ke mana?] tanya Olivia.


Perempuan itu naik ke atas ranjang dan meluruskan kakinya, sambil bersandar di head board. Pesan balasan kembali masuk dan membuat keduanya asik berkirim pesan.


[Ada deh. Kamu tunggu aku pulang aja sambil dandan yang rapi] seru Alzam.


[Pelit banget. Gitu aja nggak mau ngomong] keluh Olivia.


[Kan biar surprise, Sayang. Kalo dikasih tau nggak kejutan lagi dong] ucap Alzam.


[Nyebelin. Aku paling nggak suka kejutan tau] ucap Olivia.


[Soalnya, dari dulu yang suka kasih aku kejutan tuh si Leon, dan kejutannya itu selalu gila dan bikin orang kesel setengah mati] ungkap Olivia.


[Ya itukan Leon, bukan aku. Masa kamu samain aku sama Leon sih?] sahut Alzam.


[😂😂😂 Ya nggak lah. Masa suami ku yang the best ini disamain kaya orang stres gitu sih. kalo sama kamu sih aku percaya kejutannya pasti nggak gila, tapi malah bikin melting 🤭] ucap Olivia.


Keduanya tersenyum di tempat masing-masing, membaca chatingan mereka. Meski terlihat biasa, namun bagi yang mengalami, ini adalah sebuah kebahagiaan kecil yang begitu bermakna.


[Ya udah, kamu tunggu aku pulang ya. Nih aku udah selesai mau jalan ke situ] seru Alzam.


[Iya, suami ku. Aku tunggu kamu di sini] jawab Olivia.


Setelah itu, Olivia pun bangun dan meraih handuk yang tergantung di belakang pintu kamar.

__ADS_1


Meskipun dia sudah mandi wajib sebelum sholat subuh, tapi karena tadi sudah bekerja membantu Bu Aminah menyiapkan dagangan wanita tua itu, tubuhnya pun kembali berkeringat, kotor dan juga lengket.


Olivia pun memutuskan untuk mandi lagi sebelum pergi dengan sang suami.


Jarak antara kedai Alzam dan rumah ibunya tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu lima belas menit hingga dua puluh menit, dengan kecepatan sedang dan kondisi jalanan yang lengang, dia sudah bisa sampai di rumah Bu Aminah.


Benar saja, tak lama setelah chat terakhirnya, bunyi motor Alzam sudah terdengar memasuki halaman rumah. Tepat saat itu, Olivia baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya sebuah handuk yang melilit di tubuhnya.


Perempuan itu pun segera masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian, karena sang suami sudah datang untuk menjemputnya.


Dia mengambil gamis barunya yang terakhir dari dalam tas, dan menyampirkannya di kursi belajar Alzam, sementara dirinya mengeringkan rambut terlebih dahulu dengan sebuah handuk kecil.



Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dan membuat Olivia berbalik. Dia mendapati sang suami yang berdiri di ambang pintu, sambil memandangi tubuhnya yang hanya terbalut sehelai handuk mandi dan masih terlihat buliran air yang menetes, membuat penampilannya terlihat begitu seksi.


“Waw...,” gumam Alzam nakal.


“Aku mau ganti baju dulu. Kamu tunggu di luar aja sih,” seru Olivia.


Perempuan itu kembali berbalik memunggungi pintu. Papan kayu itu terdengar menutup dan tak terdengar lagi suara Alzam. Olivia mengira bahwa sang suami sudah keluar dan membiarkannya sendirian di kamar untuk mengganti pakaian.


Namun Olivia dibuat terkejut, saat sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya dari belakang, membuat dia menghentikan tangannya yang sedari tadi mengusap rambutnya dengan handuk lain.


“Mas...,” panggil Olivia.


Namun, suaranya tertahan. Sebuah kecupan mendarat di pundak Olivia, dan membuatnya beku seketika. Sentuhan bibir Alzam di tambah dengan hangatnya helaan nafas yang mengenai kulit Olivia yang dingin, menciptakan getaran aneh yang menyerang tubuh perempuan itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2