CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Ketiduran


__ADS_3

Di tempat lain, tepatnya di sebuah ruangan khusus staff sebuah kedai, seorang pemuda nampak terbaring dengar suara dengkuran halus yang muncul dari arahnya.


Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah dua. Pengunjung kedai pun mulai sepi, setelah tadi sempat begitu ramai, mengingat waktu makan siang dan istirahat para mahasiswa kampus Harapan Bangsa.


Para pekerja pun mulai bergiliran dua atau tiga orang untuk makan siang serta sholat dzuhur, mengingat waktu sudah sangat mepet.


Saat itu, giliran pekerja perempuan yang istirahat terlebih dulu. Mereka memilih untuk mengejar waktu sholat, sebelum makan siang.


mereka mengambil air wudhu terlebih dahulu di kamar mandi secara bergiliran, dan membawa peralatan sholat mereka ke dalam ruangan khsus staff yang biasa mereka jadikan tempat sholat, selain juga untuk ruang istirahat.


Saat tiba di sana, mereka melihat seseorang sedang tertidur dengan sajadah yang masih terbentang dan menjadi alas.


Seorang pekerja dengan name tag bertuliskan 'Amy' yang saat itu ada di antara mereka, mencoba mendekat dan melihat siapa orang tersebut.


“Kayak Pak bos,” terka Amy, saat melihat sekilas pakaian yang dipakai oleh orang itu.


Saat memastikan bahwa itu adalah bosnya, Amy pun kembali keluar di susul rekan-rekannya, dan memanggil Abas, sang senior.


Dia tak mungkin membangunkan Alzam, disamping dia sudah punya wudhu, terlebih lagi pemuda tersebut adalah atasannya dan tak mungkin dia sembarangan untuk membangunkan bosnya itu.


“Bang, si bos lagi tidur di dalem tuh. Bangunin dong,” pinta Amy pada Abas, yang saat itu sedang menggantikannya di belakang meja barista.


“Waahhh... Pantesan dari tadi dia nggak nongol-nongol habis ijin mau sholat duha. Ternyata tidur di sono. Semalem habis lembur beronde-ronde kali ya sama bininya,” sahut Abas asal.


“Dih, si abang. Malah mikir ngeres gitu. Buruan ini gimana? Mau dibangunin apa kita cari masjid atau mushola aja nih?” tanya Amy.


Abas melihat jam di meja barista. Sekarang bahkan sudah setengah dua lebih.


“Biar gue bangunin aja. Lagian udah lama juga tidurnya,” sahut Abas.


Pemuda itu pun lalu berjalan ke arah ruang staff dan membangunkan Alzam. Dengan pelan, Abas mencoba menggoyang bahu bosnya, sampai Alzam bereaksi dan bangun.


Sebuah erangan keluar dari mulut Alzam. Pemuda itu tiba-tiba bangun saat baru saja membuka matanya. Dia menoleh ke samping dan melihat Abas, sang pegawai yang sedang berjongkok tepat di depannya.


“Astaghfirullah, Bas. Aku ketiduran. Maaf,” ucap Alzam.


Dia mencoba mengusir pusing dan kantuknya, sebelum berdiri dan pergi dari ruangan tersebut.


“Iya nggak papa, Bos. Keknya semalem nggak tidur yah? Hehehe...,” sahut Abas.


“Kenapa ketawa? Jangan mikir yang nggak-nggak dong,” ucap Alzam.

__ADS_1


“Nggak-nggak juga nggak papa. Lagian udah ada istri ini. Wajar kali, Bos. Hehehe...,” sahut Abas.


Hal itu sontak membuat Alzam merona. Dia pun tersenyum tipis mendengar sang pegawai menggodanya seperti itu, seolah membenarkan bahwa memang seharusnya terjadi sesuatu antara dirinya dan juga Olivia.


“Iissh! Udah ah. Oh ya, jam berapa sekarang?” tanya Alzam.


“Udah mau jam dua, makanya aku bangunin. Anak-anak pada mau sholat tapi nggak bisa gara-gara ada si bos lagi tidur,” jawab Abas.


“Oh, iya maaf. Hehehe... Eeeeehhhhhh... Jam berapa tadi?” tanya Alzam yang tiba-tiba seolah ingat sesuatu.


“Hampir jam dua, Bos,” sahut Abas.


Netra Alzam membulat dengan pupil yang membesar, mendengar jawaban dari pegawainya. Dia pun segera bangun tanpa peduli lagi rasa pusing di kepalanya.


Alzam keluar dari sana dan kembali ke mejanya. Dia mencari ponsel yang ia simpan di dalam tas. Kebiasaan Alzam saat sedang akan sholat adalah selalu memasang mode senyap di ponselnya, hingga dia selesai sholat barulah akan diubah kembali ke mode dering, agar sholatnya tak terganggu.


Betapa paniknya dia saat melihat banyaknya panggilan, yang semuanya dari sang istri. Dia pun mengusap kasar wajahnya dan memijat pangkal hidungnya yang masih terasa pening.


“Astaghfirullah hal adzim. Lima puluh lebih panggilan tak terjawab. Dia pasti nungguin aku dari tadi,” gumam Alzam.


Matanya lalu menangkap sebuah pesan chat yang masuk di menit terakhir. Dia pun lekas membukanya dan melihat chat dari sang istri.


Alzam pun kemudian mengirim sebuah pesan balasan kepada Olivia.


Setelah mengirim pesan balasan kepada sang istri, Alzam pun meminta Abas untuk membuatkan secankir espreso. Sambil menunggu pesanannya selesai, dia mengambil air wudhu dan sholat dzuhur di ruang staff, setelah rombongan Amy selesai.


Selepas sholat, Alzam meminum kopinya dan memakan sebauh muffin blueberry yang juga disiapkan oleh Abas sebagai pendamping kopinya.


Dia tahu bahwa sang bos belum makan apapun sejak siang karena ketiduran. Setelah menghabiskan kopi dan muffin-nya, Alzam pun pamit pada Abas untuk menjemput sang istri.


...☕☕☕☕☕...


Di kampus Nusa Bangsa, Olivia sejak istirahat tadi terus memasang wajah cemberut bahkan sampai kelas terakhir. Leon yang duduk di sampingnya pun hanya bisa geleng-geleng kepala, karena kekesalan Olivia dilimpahkan kepada teman-teman satu kelasnya yang sejak tadi mendapat giliran maju presentasi.


Olivia membombardir pertanyaan yang bahkan membuat beberapa orang gagal dan kebingungan untuk menjawab.


Dia bukanlah gadis bod*h. Nilai akademiknya selalu bagus, bahkan setiap presentasi selalu tersaji dengan baik dan menuai pujian dari dosen pengampu.


Namun, hanya karena sikap dan sifatnya saja yang membuat dia dijauhi, dan bahkan tidak ada satupun yang mau berteman dekat dengannya.


Terlebih saat dia sedang kesal, pasti semua yang ada di sekitarnya terkena dampak seperti sekarang ini.

__ADS_1


Dia kesal karena masih belum bisa menghubungi suaminya, hingga membuatnya melampiaskan kekesalannya dengan menyerang habis-habisan teman sekelas yang sedang menyajikan presentasi tugas akhir semester mereka.


“Belum bisa dihubungi juga?” tanya Leon.


“Au ah gelap. Bete gue,” sahut Olivia yang masih terlihat kesal.


“Coba lu chat lagi atau telepon lagi,” seru Leon.


“Udah dari tadi. Lu udah pastiin Nurul di mana kan?” tanya Olivia.


“Udah. Dia masih di sekolahan. Demi elu gue rela tahan malu buat vidcall sama tuh cewek. Lu jangan curiga ma Nurul mulu ngapa, Liv?” jawab Leon.


“Iya, iya. Gue nggak nettink lagi deh ama tuh cewek,” sahut Olivia.


Gadis itu kembali menghadap ke depan. Tiba-tiba, dia merasakan sebuah getaran dari dalam tasnya. Dia pun dengan segera mengambil ponsel dari dalam sana, berharap ada kabar dari sang suami.


Saat melihat layar pada gawainya, jempol kanannya segera menekan ikon chat yang masuk, dan benar saja ada balasan dari suaminya.


Seketika itu juga, sebuah senyum mengembang dengan cerah di wajah Olivia yang sejak tadi terus saja muram dan terlihat kesal.


Leon yang melihat hal itu pun seketika tahu, bahwa suami sahabatnya itu sudah memberi kabar pada Olivia.


Pemuda itu hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan Olivia yang seperti remaja sedang kasmaran.


Sedangkan yang dilihat, terus cengar-cengir sendiri sambil melihat pesan chat tersebut berkali-kali. Dia bahkan sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan, karena takut tertawa lepas sangkin senangnya mendapat pesan balasan yang penuh dengan ke gombalan dari Alzam.


[Maaf ya, Liv. Aku tadi ketiduran di kedai. Ini juga dibangunin sama Abas. Kamu pulang jam tiga kan? Aku sholat dzuhur dulu terus langsung nyusul kamu ke sana. Sekali lagi maaf ya, Sayang. Jangan ngambek oke, istriku yang cantik] pesan Alzam.


.


.


.


.


Next bab bisa siang, sore atau malem, hari ini ada karnavaldi tempat ku, jadi tungguin aja notifnya bestie 😁


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁

__ADS_1


__ADS_2