
Sejak mendengar penuturan sang suami yang mengatakan bahwa Alzam mengenal Nathan, Olivia seolah menjadi orang yang linglung. Pikirannya tak pernah tenang barang sejenak.
Alzam belum menyadari hal tersebut meski dia merasa sang istri lebih pendiam. Sedangkan Leon seketika bisa melihat kegundahan di mata sahabatnya.
Di kampus, Olivia bahkan sampai ditegur oleh dosen saat dia diam saja ketika diminta mengulangi poin yang baru saja dijelaskan oleh sang dosen.
Sejak awal kelas, gadis itu terus melamun. Pikirannya seolah kosong meninggalkan raganya di sana. Leon sampai harus berbohong dan mengatakan bahwa Olivia sedang kurang enak badan, demi memberikan alasan untuk Olivia agar gadis tersebut bisa lepas dari pengurangan poin.
Setelah kelas selesai, Leon membawa Olivia pergi ke suatu tempat. Mereka memutuskan untuk bolos mata kuliah berikutnya karena melihat kondisi Olivia yang terlihat tak baik-baik saja.
Leon membawa Olivia ke sebuah taman, yang berada di area tengah kampus, tepat berada di belakang gedung perkuliahan tempat mereka mengikuti kelas tadi.
Dia meminta Olivia duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana, sedangkan dia tetap berdiri di depan gadis tersebut.
“Lu kenapa lagi sih? Bukannya cowok brengs*k itu udah nggak gangguin lu lagi?” cecar Leon.
Olivia nampak datar dan tetap diam. Dia seolah tak ingin menjawab pertanyaan interogasi dari sang sahabat.
Melihat Olivia yang terus diam, membuat Leon kesal dan menghadap ke arahnya sambil berkacak pinggang.
“Liv! Lu denger gue nggak sih?” tanya Leon kesal.
“Jangan sok tahu deh lu, Yon. Gue nggak lagi mikirin...,” sanggah Olivia.
“Apa? Lu mau ngomong lu nggak lagi mikirin Nathan? Iya?” sela Leon.
Pemuda itu semakin menatap tajam ke arah Olivia, hingga membuat gadis itu kembali bungkam.
__ADS_1
“Liv, gue kenal elu bukan baru kemarin ya. Gue udah kenal lu lama banget, bahkan lebih lama dari suami elu sendiri. Gue tau sejak kecil elu nggak pernah kayak gini, kecuali satu hal. Pas elu dipermalukan dan habis itu diselingkuhin sama si Nathan br*ngsek itu. Gue tahu kayak gimana depresinya elu waktu itu, sama kek kamu saat ini. Bilang ke gue, ada apa lagi sama tuh cowok?” cecar Leon.
Olivia diam. Jemarinya saling bertaut. Pundaknya tampak mulai berguncang dan hal itu membuat Leon panik. Dia pun berjongkok di depan Olivia dan melihat bahwa air mata telah luruh di wajah gadis tersebut.
Dia pun tak tega melihat sang sahabat menangis dalam diam seperti itu. Isaknya tertahan, seolah tak ingi ada orang lain yang melihat sisi lemahnya selain Leon.
“Bilang ke gue, apa yang udah dilakuin sama tuh cowok?” desak Leon.
“Mas Al... Dia coba buat deketin Mas Al, Yon. Gue takut Mas Al tahu soal masa lalu gue. Gue nggak mau dia ninggalin gue setelah semua yang udah gue lakuin buat dapetin dia,” ungkap Olivia di tengah isaknya.
Leon mengepalkan tangannya mendengar penuturan sang sahabat. Dia tak menyangka jika justru Alzam lah yang menjadi target Nathan selanjutnya, demi merusak rumah tangga Olivia.
Pemuda itu mencoba membiarkan Olivia mencurahkan kegundahan dalam hatinya dengan menangis. Dia dengan sabar menunggu sampai Olivia merasa lebih tenang.
Setelah beberapa saat, Olivia menangis hingga matanya bengkak dan lelehan keluar dari hidung dan juga matanya. Satu pak tisu pun habis berakhir di tong sampah dan penuh dengan ingus serta air mata Olivia.
Olivia mengangguk, dengan masih terdengar sesenggukan dari arahnya. Dia beberapa kali terlihat mengusap hidungnya yang masih mengeluarkan lelehan bening dan sedikit kental.
“Apa suami lu tau kalau Nathan itu mantan lu?” tanya Leon.
Olivia menggeleng.
“Mas Al cuma bilang kalau dia baru ketemu sama tuh cowok dua kali. Tapi kemarin dia anterin Nathan ke apartemennya. Dan lu tahu, apartemennya itu...,” jawab Olivia.
“Satu lantai sama apartemen gue,” sela Leon.
Olivia mengangguk lemah.
__ADS_1
Leon menghela nafas berat mendengar penuturan dari sang sahabat.
“Gue udah nebak kalau tuh orang bakal bikin runyam lagi. Dia nggak mungkin nggak ada alasan tiba-tiba tinggal di apartemen yang sama dan lantai yang sama pula sama gue. Dia pasti mikir kalau bisa ketemu elu di sana. Mungkin dia ngira elu masih sering ke tempat gue,” terka Leon.
“Gue nggak tau, Yon. Gue Cuma takut dia kasih tau Mas Al tentang semua masa lalu gue. Gue takut Mas Al jijik sama gue dan ninggalin gue,” ucap Olivia khawatir.
“Mungkin, udah saatnya buat lu jujur ke suami lu tentang semuanya, Liv. Gue punya firasat nggak enak soal tuh cowok. Dia tuh gila, Liv. Gue percaya Alzam itu dewasa. Dia nggak bakal mutusin sesuatu secara sepihak apalagi saat sedang emosi. Gue rasa mending lu yang kasih tau dia, dari pada keduluan Nathan yang kasih tahu semuanya,” seru Leon.
“Lu gila? Itu sama aja lu mihak si Nathan. Gue nggak mau sampe Mas Al tahu. Gue udah nyaman banget sama dia. Gue nggak pernah ngerasain hidup damai kek sekarang ini, Yon. Gue nggak mau balik lagi kek dulu, yang hidup nggak ada aturan sama sekali,” sanggah Olivia dengan suara meninggi.
Leon tercekat melihat emosi sahabatnya. Dia tahu jelas pasti saat ini Olivia sedang bimbang. Namun, dia rasa saat ini akan lebih baik jika Olivia jujur atas semuanya kepada Alzam.
“Gue tau itu berat, Liv. Tapi coba lu pikir lagi deh pake kepala dingin? Gimana perasaan suami lu yang tau kebenarannya dari orang lain? Dia pasti malu. Dia pasti bingung. Dia pasti marah. Tapi semua itu nggak akan jadi semakin buruk kalau elu yang kasih tahu duluan. Karena apa? Seenggaknya dia akan punya waktu untuk berpikir, mencoba menerima semua kenyataannya. Dari pada dia tahu dari orang lain, udah pasti seketika dia bakal meledak dan disini elu yang bakalan ngerasa paling sakit, Liv,” jelas Leon panjang lebar.
“Jadi, elu mau supaya gue bertaruh sama takdir? Lu mau gue mempertaruhkan rumah tangga gue yang baru seumur jagung, demi melawan si Nathan itu? Nggak, Yon. Gue nggak mau kehilangan Mas Al. Gue akan cari cara lain buat mastiin kalau Mas Al tetap sama-sama gue,” sahut Olivia.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
terimakasih 😁
__ADS_1