
Beberapa saat yang lalu, Olivia melihat Leon pergi ke toilet dengan kesal, karena pakaiannya kotor akibat ketumpahan kopi dari orang yang menabraknya tadi.
Melihat suasana hati sang sahabat yang sejak pagi tidak terlalu baik, Olivia pun hanya bisa menurut dan memilih menunggunya di suatu tempat.
Dia berjalan sedikit ke depan dan duduk di bangku taman kampus yang ada di sana. Olivia mengeluarkan camilan sehat yang dibawanya dalam tas, dan mulai memakannya sambil menunggu Leon kembali.
Namun, baru satu gigitan saja dia makan, tiba-tiba seseorang berdiri di depannya dan membuat Olivia begitu terkejut.
Perempuan itu bangun dan tanpa kata segera melangkah pergi ke arah toilet dimana Leon berada.
Namun, orang itu dengan cepat meraih tangan Olivia dan membuat perempuan tersebut tak bisa bergerak.
“Lepas!” seru Olivia ketus.
Perempuan itu berusaha berontak agar bisa lepas dari cengkeram tangan orang tersebut, yang tak lain adalah Nathan. Pria yang paling tidak mau ditemui oleh Olivia.
“Lepasin!” pekik Olivia.
“Aku nggak mau lepasin kamu lagi, Liv. Aku pengin balikan lagi sama kamu,” ucap Nathan.
“Lu nggak tau diri banget sih jadi orang. Gue udah punya suami. Lu nggak ada hak lagi buta ngejar gue,” seru Olivia.
“Aku masih bisa, selama kamu pisah sama suami kamu,” sahut Nathan
“Lu gila? Asal lu tau, gue nggak akan pernah pisah sama Mas All,” ucap Olivia.
“Oh ya? Kita lihat, apa setelah hari ini, suami kamu yang baik itu masih mau nerima kamu atau enggak,” ucap Nathan.
Pria itu lalu menarik paksa tangan Olivia dengan kasar, hingga snacknya terjatuh. Meski perempuan itu sudah mencoba melawan, tapi tenaganya kalah jauh dengan Nathan. Tasnya pun bahkan dibiarkan tergeletak begitu saja karena perempuan itu lebih fokus melepaskan diri.
Ditambah tempat yang dilewati keduanya terbilang sepi, karena berada di belakang gedung perkuliahan, dan menuju ke tempat parkiran mobil.
Olivia berkali-kali berteriak minta dilepaskan, akan tetapi nathan terus menariknya. Hingga keduanya sampai di parkiran mobil dan Nathan cepat-cepat membuka pintu belakang, lalu melempar Olivia agar masuk ke dalam sana.
Dia mendorong gadis itu dengan paksa, sementara dia ikut masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
“Mau apa lu?” tanya Olivia ketakutan.
Dia melihat Nathan merangkak mendekat ke arahnya. Dia mencoba meraih pintu satunya, namun pria itu langsung mencekal kedua tangannya hingga posisi mereka saat ini menjadi tumpang tindih.
“Kamu lihat di sana? Ada sebuah kamera di dash board? Aku akan berikan tontonan menarik untuk suami kamu, yang pasti akan bikin dia nggak mau sama kamu lagi dan kemudian dia pasti bakal ceraikan kamu. Hahaha...,” ucap Nathan.
Olivia menggeleng. Dia berontak sekuat tenaga.
__ADS_1
“Lu gila. Lu gila!” makin Olivia.
“Iya, aku emang gila. Aku gila karena nggak bisa dapetin kamu. Aku gila karena kamu nikah sama orang lain. Aku nggak terima orang yang ngalahin aku, cuma seorang cowok miskin kek Alzam. Tau kamu,” sahut Nathan.
“Lu emang bener-bener brengs*k. Dulu lu udah sia-siain gue, lu tinggalin gue gitu aja saat gue terpuruk. Pas gue udah bahagia, lu dateng dan mau hancurin hidup gue lagi. Setan lu, Nathan. Iblis lu. Anjing,” maki Olivia.
Dia terus berusaha berontak, namun tenaganya kalah jauh dan bahkan tak sampai membuatnya bergerak sedikit pun.
“Aku nggak peduli. Kali ini, aku harus dapetin kamu, gimana pun caranya,” ucap Nathan.
Dia mulai menyerang Olivia. Mencoba mencium bibir perempuan itu, namun Olivia selalu menghindar dan berpaling ke lain arah.
Namun, dengan satu tangannya, Nathan mencengkeram rahang bawah Olivia, agar gadis itu tetap di tempatnya.
Dia pun mencium paksa bibir perempuan itu. Akan tetapi Olivia terus berusaha menggelengkan kepalanya kuat-kuat, karena tak mau melakukan apa yang diinginkan oleh Nathan. Dia bahkan mengatupkan bibir dan giginya rapat-rapat. Air mata nampak mengalir dari sudut mata perempuan yang tengah ketakutan itu.
Ya Allah, tolong selamitin gue, batin Olivia.
...☕☕☕☕☕...
Sementara itu, Leon yang merasa ada yang aneh dengan orang yang telah menabraknya tadi pun akhirnya keluar dari toilet dan segera mencari Olivia.
Dia berjalan ke arah dimana dia meninggalkan sang sahabat sendirian, akan tetapi tak menemukannya di sana.
Saat dia sedang berjalan kesana kemari mencari Olivia, dia meraih ponselnya dari dalam tas dan hendak menghubungi sahabatnya itu.
Namun, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di atas tanah, dan dia sangat mengenali betul benda apa itu.
Dia berjalan mendekat dan meraihnya. Sebuah snack sehat yang seharian ini selalu berada di dalam tas sahabatnya, terlihat tergeletak begitu saja di tanah, dengan ujung yang telah dimakan.
“Kenapa dia ninggalin makanan yang masih banyak gini. Bukan Oliv banget,” gumamnya.
Dia pun kemudian kembali mencoba menghubungi nomor sang sahabat, sambil berjalan kembali dan mencarinya di sekitaran sana. Dia bahkan menebak bahwa sang sahabat mungkin telah lebih dulu sampai di mobilnya.
Namun tak jauh dari tempat snack ditemukan, dia melihat sebuah tas yang juga tertinggal begitu saja dan jatuh di atas tanah.
Bunyi dering yang sangat familiar pun terdengar dari arah tas tersebut, membuat Leon mempercepat langkahnya.
Dia meraih tas itu dan firasatnya semakin memburuk.
“Ini tas Olivia. Pasti ada yang nggak beres,” gumamnya.
Dia melihat ke sekeliling mencoba kembali mencari petunjuk. Tiba-tiba, sebuah dering lain kembali terdengar dari arah tas, dan Leon pun cepat-cepat mengambil ponsel Olivia dari dalam.
__ADS_1
Dia melihat nama Alzam tertera di layarnya. Pemuda itu pun segera menerima panggilan tersebut dan memberitahukan hal aneh ini kepad Alzam.
"Assalamu’alaikum...,” salam Alzam.
“Waalaikumsalam, Bang. Oliv ilang,” sela Leon cepat.
“Apa?! Ilang? Ilang gimana?” tanya Alzam panik.
“Gue nggak tau. Lu mending sekarang temuin gue. Gue lagi jalan ke parkiran mobil. Lu udah nyampe kan? Cepetan ke sini, Bang,” seru Leon.
“Oke, aku ke sana,” sahut Alzam.
Panggilan pun dimatikan. Leon bergegas pergi ke parkiran dan hendak mencari Olivia bila mungkin perempuan itu pergi dari sana.
Namun, saat dia hendak berjalan ke arah mobilnya, matanya tak sengaja melihat sebuah mobil yang terparkir di ujung, yang nampak bergoyang-goyang.
Awalnya, Leon tak mau terlalu memperhatikannya dan hanya menganggap sebuah perbuatan mesum seseorang yang sudah tak tahan hingga melakukannya di dalam mobil. Bukan karena tak peka, melainkan saat ini dia sedang terburu-buru.
Namun saat dia kembali melangkah, tiba-tiba pemuda tersebut justru berbalik dan segera berlari ke arah mobil tersebut.
Dia tak sengaja melihat plat nomor mobil utu sekilas, dan seolah mengenali siapa pemilik kendaraan roda empat itu.
Tepat saat Leon berlari ke arah mobil bergoyang, Alzam datang dan melihat pemuda itu lari ke sebuah arah. Alzam pun mengikutinya.
“Yon, ada apa?” tanya Alzamdari atas motor.
Namun Leon tak menjawab. Dia segera menghampiri mobil itu dan mengintip dari luar kaca mobil yang sangat gelap dan bahkan tak bisa melihat sama sekali dari luar.
Namun, Leon yang merasa ada hal aneh di dalam sana, menggedor pintu mobil itu dengan keras.
“Keluar! Keluar lu, brengs*k! Gue tau lu di dalem sama Oliv. Kleuar!” teriak Leon.
Mendengar nama sang istri di sebut, Alzam pun kaget dan menoleh, memperhatikan mobil di depannya. Dia pun segera mengikuti Leon menggedor pintu mobil tersebut dengan keras.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁