CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Mengikuti kajian


__ADS_3

Olivia dan Alzam tiba di tempat pengajian An-nisa, yang terletak masih satu kelurahan dengan rumah Bu Aminah. Dia mengajak Olivia masuk ke dalam untuk bertemu dengan teman-teman seperjuangannya dalam berhijrah.


Menurutnya, Olivia perlu bersosialisasi terlebih dahulu dengan gadis remaja di sana, mengingat betapa awamnya sang istri akan hal-hal seperti itu. Dia ingin membuat istrinya kerasan mengikuti pengajian, meski ada hal yang ia tutupi dari sang istri tentang kelompok pengajian putri tersebut.


Saat baru saja melangkahkan kakinya di teras rumah bercat biru pias itu, seseorang memanggil nama Alzam dari arah belakang.


Seperti mendengar alarm gawat darurat, Olivia pun segera menoleh, dan mendapati seseorang yang sangat dia kenal berjalan hendak menghampiri mereka berdua.


What the f*ck? batin Olivia, saat melihat siapa yang tadi memanggil nama suaminya dengan sangat akrab.


Gadis itu pun menoleh ke arah Alzam, dan dibalas dengan cengiran oleh sang suami. Olivia seketika menunjukkan wajah kesalnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada.


Sementara itu, Alzam berusaha menenangkan hati sang istri, dengan merangkul pundak Olivia di depan Nurul, orang yang tadi memanggilnya. Pemuda itu mulai paham bagaimana istrinya ingin diperlakukan di depan gadis lain yang dekat dengannya.


Benar-benar efektif. Senyum samar terlihat melengkung dari garis bibir Olivia, meski gadis itu berusaha menutupinya dengan kembali memasang wajah kesal.


“Alhamdulillah, kalian beneran jadi kesini. Oliv, aku seneng banget kamu mau ikut pengajian ini. Semoga betah yah,” ucap seorang gadis cantik.


Nurul adalah orang yang selalu bersikap ramah kepada Olivia, namun dia selalu dianggap rival oleh gadis tersebut.


“Aku kesini bukan gara-gara kamu kok. Aku cuma ngikutin apa mau suamiku, biar dia makin sayang sama aku. Lihatkan? Tiap hari kami tambah mesra,” ucap Olivia.


Gadis itu bermaksud memprovokasi Nurul, dengan balas memeluk pinggang Alzam dengan erat, sambil berbicara pada lawannya. Namun, Nurul sama sekali tak terpengaruh.


Alzam sendiri bahkan menahan tawanya melihat sikap posesif dari sang istri, yang selalu saja ketus setiap kali ada perempuan yang mencoba akrab dengannya.


“Sayang, kamu sama Nurul dulu yah. Aku mau ke rumah ibu. Nanti kalau udah selesai, aku bakalan jemput kamu,” ucap Alzam.


Olivia hanya menjawab dengan gumaman saja, karena dia masih kesal ternyata sang suami malah membawanya ke tempat perempuan, yang ia anggap sebagai rival cinta tanpa sepengetahuan darinya.


Namun, Olivia gengsi untuk mundur apa lagi ngambek di depan Nurul, karena menurutnya hal itu justru akan membuat guru muda itu senang melihat pertengkaran rumah tangganya.


Akhirnya, mau tak mau Olivia pun menurut dan ikut masuk ke tempat pengajian An-nisa.

__ADS_1


Nurul dengan sabar menghadapi gadis keras kepala yang penuh keposesifan itu, dan menemani saat Olivia masuk ke dalam. Dia bahkan memperkenalkan gadis tersebut kepada ketua majelis taklim, dan mengatakan bahwa Olivia adalah istri Alzam.


“Oh, ini istrinya Mas Alzam yang sering bantu-bantu di sini itu? Yang dari Padepokan Pemuda Hijrah itu kan ya?” tanya Umi Fifit, sang ketua Majelis taklim An-nisa.


“Iya benar, Umi. Ini istrinya. Mereka baru menikah beberapa minggu lalu. Hampir sebulan kan ya, Liv?” kata Nurul yang berbicara dua arah.


“Hem,” jawab Olivia dengan gumaman.


Dia masih enggak berpura-pura akrab dengan Nurul, meski gadis itu terus bersikap baik padanya.


“Salam kenal ya. Nama umi, Fitroh. Tapi anak-anak suka panggil Umi Fifit,” ucap Umi Fifit.


“Olivia, Umi. Panggil aja Oliv,” sahut Olivia.


Kedua pun berjabat tangan. Gadis itu melihat penampilan sang ketua Majelis taklim dari atas hingga bawah. Semuanya terlihat over size. Mulai dari gamis yang panjang menjuntai sampai ke mata kaki, disambung dengan kaus kaki berwarna coklat yang membungkus telapak kakinya.


Lengannya pun panjang sampai ke pergelangan, bahkan di dalamnya masih terlihat ada manset yang menutupi hingga punggung tangan.


Kerudungnya pun sangat panjang hingga hampir menyentuh lutut. Namun, wanita itu terlihat sangat ramah. Semuanya pun menyambut Olivia dengan baik.


Namun, dia tampak biasa saja dan tetap bersikap percaya diri, meski Olivia tahu bahwa dia berpenampilan lain dari yang lain.


Nurul terus berada di sampingnya, karena merasa Olivia masih perlu pendampingan, mengingat dia adalah anggota baru dan tak mau sampai Olivia merasa terkucil karena belum banyak yang mengenalnya.


Hari ini, Umi Fifit sendiri yang akan mengisi pengajian kali ini, karena ustadzah yang seharusnya memeberikan tausiah mendadak mengalami suatu kendala, sehingga meminta diundur pada pertemuan selanjutnya.


“Assalamu’alaikum, rekan-rekan hijrahku semua. Mohon maaf, Umi Afiyah hari ini berhalangan hadir. Tapi, InsyaAllah minggu depan beliau akan bisa kembali berada di tengah-tengah kita. Amiin,” ucap Umi Fifit.


Semuanya menyahut dengan kata amiin bersama, begitu pun Olivia yang ikut menirukan anggota pengajian lainnya.


“Hari ini, kita ada rekan baru. Namanya Akhwat Olivia. Beliau ini adalah istri dari Ikhwan Alzam dari Padepokan Pemuda Hijrah, yang sering membantu kita setiap kali ada event gabungan. Silakan Akhwat Olivia untuk berdiri dan memperkenalkan diri kepada rekan-rekan yang lain,” ucap Umi Fifit.


Olivia pun berdiri dan melihat ke sekelilingnya. Semuanya terlihat memperhatikan ke arah gadis tersebut, seolah sedang menunggu Olivia membuka suara.

__ADS_1


“Ehm... Assalamu’alaikum, semua. Sebelumnya aku mau meluruskan kalau namaku Olivia Charlotte Abimana, bukan Akhwat Olivia. Maaf, Umi,” ucap Olivia.


Sontak, semuanya riuh. Dengungan terdengar dari para rekan yang tertawa kecil, saat mendengar penuturan dari anggota baru mereka itu.


Namun, Olivia dengan penuh percaya diri terus memperkenalkan dirinya mulai dari nama, status, dan juga seputar pendidikannya. Setelah itu, dia pun kembali duduk.


Saat itulah, dia sadar semuanya melihat ke arahnya. Mereka menutup mulut sambil terkekeh. Namun, Olivia tetap cuek dan tak peduli.


“Terimakasih, Akhwat Olivia. Mohon yang lain tidak menjadikan perkataan saudara baru kita ini sebagai lelucon. Mohon dimaklumi karena Akhwat Olivia belum paham dengan cara panggilan yang kita gunakan,” ucap Umi Fifit.


Mendengar hal tersebut, Olivia pun mendekat ke arah Nurul, satu-satunya orang yang dia kenal di sana dan bertanya tentang lelucon yang dilakukan olehnya tadi.


“Eh, Nurul. Emangnya tadi aku ada bikin salah?” tanya Olivia.


Si gadis serba ingin tau itu pun tak bisa diam dan tak mencari tahu, setelah melihat reaksi semua orang di sana. Dia bahkan tak peduli jika harus bertanya pada Nurul, meski cara bertanyanya masih tetap ketus.


Dengan mengulas senyum manisnya, Nurul pun menjawab pertanyaan dari istri sahabatnya itu.


“Akhwat itu panggilan untuk saudara perempuan dalam bahasa arab. Itulah kenapa, Umi Fifit tadi panggil kamu Akhwat Olivia, yang artinya saudara Olivia,” jawab Nurul.


“Oooo...,” gumam Olivia.


Dia pun kembali menjauhkan diri dari Nurul, dan menyimak materi yang disampaikan oleh sang ketua Majelis taklim.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.

__ADS_1


terimakasih 😁


__ADS_2