CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Kesal


__ADS_3

Alzam bersusah payah menelan salivanya, sesaat setelah ciuaman mereka terurai.


“Apa aku boleh...,” tanya Alzam menggantung.


Tanpa berucap, Olivia pun mengangguk mengiyakan ucapan Alzam yang tak selesai, seolah tahu apa yang diminta sang suami.


Alzam pun seketika mengangkat tubuh Olivia, dan bangun dari posisinya. Dia berjalan ke arah kamar, dengan menggendong gadis tersebut ala bridal style. Lengan Olivia melingkar di leher sang suami, dan kepalanya bersandar di dada bidang Alzam.


Suara degupan jantung pemuda tersebut terdengar jelas begitu cepat dan tak beraturan, membuat Olivia pun ikut menjadi gugup.


Sesampainya di kamar, Alzam menutup pintu dengan menggunakan kakinya, dan berjalan menuju ranjang. Dengan perlahan, dia membaringkan Olivia di sana.


Pemuda tersebut menatap lekat wajah cantik yang kini berada tepat di bawahnya. Dengan lembut, Alzam menyentuh pipi gadis itu dan membelainya dengan penuh kasih, menyalurkan getaran yang membuat kuduk Olivia meremang.


Gadis itu tau apa yang diinginkan Alzam saat ini. Dengan inisiatifnya, Olivia melingkarkan kembali lengannya di leher Alzam, dan menarik tengkuk pemuda itu hingga mendekat ke arahnya, membuat Alzam menekan tubuh sang istri tepat di bawahnya.


Alzam tak lagi berpikir tentang apapun. Dia berusaha menanamkan di otaknya bahwa mereka sudah sah menjadi suami istri, dan wajib melakukan kontak fisik, bahkan yang paling intim sekalipun.


Dia pun mendekat, dan kembali menyesap bibir ranum sang istri. Olivia semakin nakal, dengan memberikan gigitan kecil di bibir suaminya.


Erangan lirih terdengar dari mulut pemuda tersebut, yang terus bergerilya, mencoba menaklukan sang istri. Instingnya mulai bekerja. Alzam melepas paguyannya dan turun mengecupi dagu hingga ke leher Olivia.


Gadis itu seketika menggelinjang, merasakan getaran aneh yang menyengat sekujur tubuhnya. Dia merasakan sesuatu yang tak nyaman di area intinya, seperti ada yang keluar dan membuat basah daerah itu.


Saat Alzam telah turun sampai ke dada, dan menciumi tulang selangka istrinya, tiba Olivia mengernyit merasakan sesuatu di sekitar perut bagian bawahnya. Gadis itu pun tiba-tiba mengaduh sakit, dan membuat Alzam seketika tersadar.


Dia mendorong tubuhnya ke atas, dan melihat wajah Olivia yang mendadak pucat. Gadis itu pun mengerutkan alisnya dengan ekspresi seperti sedang kesakitan.


“Kamu kenapa, Liv? Apa aku udah bikin kamu sakit?” tanya Alzam dengan suara berat dan parah.


Jelas terlihat bahwa pemuda tersebut sedang dikuasai h*sratnya yang memuncak. Namun, melihat sang istri yang tiba-tiba seperti itu, membuatnya terpaksa harus menekannya terlebih dahulu.


Olivia pun terlihat memegangi perutnya, dan menekuk lutut, meringkuk di bawah Alzam.


“Maaf, Mas. Sepertinya aku mau haid,” ucap Olivia.


Seketika, h*srat yang sedang memuncak itu pun turun seketika, mendengar penuturan dari sang istri, yang seolah menjadi lampu merah baginya untuk menyentuh Olivia.


Alzam pun bangun dan duduk di tepi ranjang, sementara Olivia masih terbaring meringkuk di tempat tidur. Nampak ekspresi kecewa yang tergambar jelas di wajah pemuda tersebut. Namun, dia sadar jika ini bukanlah sebuah kesengajaan yang dilakukan Olivia.

__ADS_1


Dia pun lalu mengusap kening sang istri yang terlihat berkeringat.


“Sakit banget yah? Mau ku ambilin sesuatu?” tawar Alzam.


“Minta tolong isiin air anget di botol dong, Mas,” pinta Olivia.


“Ya udah. Kamu tunggu bentar yah,” seru Alzam.


Pemuda itu pun kemudian beranjak dari sana dan mengambilkan apa yang diminta oleh sang istri. Sebelum itu, dia mencoba meredakan panas di tubuhnya dengan berwudhu, setelah sempat tersulut gair*h saat bercumbu dengan sang istri.


Di dalam kamar mandi, Alzam bersandar di dinding, dan mengusap wajahnya kasar. Hasr*tnya yang muncul dan tiba-tiba harus berhenti membuat perasaannnya sedikit kesal. Namun, melihat Olivia yang seperti sangat kesakitan, membuatnya harus mengalah dan mencari waktu lagi untuk melanjutkan kemesraaan tadi.


Seusai mengambil air wudhu, dia mencari sebuah botol plastik dan mengisinya dengan air dingin yang kemudian dicampur dengan air panas hingga menjadi hangat.


Dia pun bergegas ke kamar dan menyerahkan apa yang diminta oleh sang istri tadi.


“Ini airnya, Liv,” ucap Alzam.


Olivia pun menoleh dan meraih botol tersebut. Dia lalu berbaring terlengtang dengan kedua kaki yang ditekuk ke atas. Dia membuka sedikit baju tidurnya dan membuat perutnya terlihat.


Alzam sempat merona melihat sang istri yang menaikkan bajunya, dan memperlihatkan area yang berada tepat di atas sesuatu yang tadi ia inginkan.


Namun, dia lalu mengernyitkan keningnya, saat Olivia menempelkan botol berisi air hangat tadi ke atas perut bagian bawahnya.


Alis gadis itu nampak hampir menyatu dan keringat masih terus keluar, dan bahkan sampai membuat baju tidur Olivia basah.


Alzam mengusap lembut puncak kepala sang istri dan menawarkan bantuan lagi.


“Masih sakit? Perlu ku ambilkan sesuatu lagi nggak?” tanya Alzam.


Olivia menggeleng cepat.


“Nanti juga sembuh sendiri, Mas. Aku nggak papa kok. Udah biasa,” jawab Olivia.


“Kamu sering sakit kayak gini?” tanya Alzam.


“Ehm... Biasanya kalau mau dateng bulan suka sakit banget perutku, Mas,” jawab Olivia.


Oh, jadi ini yang namanya nyeri haid. Kasian Olivia. Pasti sakit banget deh sampe keringetan begini, batin Alzam.

__ADS_1


Pemuda itu terus menemani sang istri, hingga rasa sakit yang diderita Olivia sedikit demi sedikit berkurang.


Air di dalam botol sudah menjadi dingin, dan Olivia pun meletakkan botol tersebut ke meja rias yang ada di samping tempat tidurnya.


“Udah dingin ya? Mau ku ambilin lagi?” tanya Alzam.


“Udah mendingan kok, Mas. Udah cukup,” ucap Olivia.


Dia lalu bangun dan hendak turun dari ranjang.


“Kamu mau kemana?” tanya Alzam yang melihat hal tersebut.


“Aku mau ke kamar mandi,” jawab Olivia.


Gadis itu memang terlihat sudah baik-baik saja. Meskipun dia masih memegangi perutnya yang sedikit nyeri. Dia berjalan ke arah lemari, dan mengambil sesuatu dari laci yang ada di dalam sana.


“Biar aku bantu yah,” tawar Alzam.


“Nggak usah, Mas. Aku Cuma mau ambil pembalut aja kok,” sahut Olivia.


Gadis itu pun kemudian mengambil apa yang menjadi kebutuhan utamanya saat ini dan kembali berjalan menuju kamar mandi. Sementara Alzam, dia mencoba mencari hal yang bisa membantu Olivia meredakan rasa nyerinya melalui internet.


Dia lalu membaca beberapa artikel dan menemukan beberapa obat penghilang nyeri haid. Akan tetapi, waktu sudah sangat larut dan dia tak tega meninggalkan Olivia sendiri saat sedang kesakitan seperti ini.


Akhirnya, dia pun mencari obat herbal yang bisa ia buat sendiri dengan mengandalkan bahan-bahan yang ada di dapurnya.


Akhirnya, dia menemukan resep minuman rimpang jahe yang bisa meredakan nyeri. Alzam pun bangun dan langsung mencari bumbu dapur tersebut.


Dia lalu mengikuti langkah-langkah yang ada di youtube dengan hati-hati. Dia menambahkan larutan gula merah karena di rumahnya tak ada madu ataupun lemon.


.


.


.


.


pembaca kecewa🤭maaf ya🙏belum waktunya

__ADS_1


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


terimakasih 😁


__ADS_2