
Hari ini, Olivia terpaksa pulang ke rumah orang tuanya. Dia tak ada alasan lagi untuk menginap di rumah sang mertua.
Olivia dijemput Alzam jam setengah tiga sore, dan langsung kembali ke rumah keluarga Abimana. Setibanya di rumah, mereka langsung di sambut oleh Mamah Ros yang sedang duduk di ruang tengah, sambil membaca sebuah majalah trend fashion terbaru.
“Senangnya kalau punya mantu kayak Jeng Widia. Udah ganteng, kerjaannya juga bagus, nggak pelit, bisa beliin ini itu yang mertuanya mau. Barang-barang ori semua lagi. Bener-bener beda level banget,” ucap Mamah Ros, saat anak dan menantunya baru saja datang dan hendak menyalaminya.
Meski kesal, Olivia tetap mengikuti Alzam yang dengan besar hati menerima semua sendirian, yang baru saja dilontarkan oleh Mamah Ros tadi.
Pemuda itu bahkan tetap mengucap salam dan menyalami ibu mertuanya, yang masih belum bisa menerima bahwa dirinya menjadi menantu di keluarga tersebut.
Saat giliran Olivia menyalami ibunya, gadis yang selalu bertingkah dan berkata seenaknya itu pun seolah membalas ucapan sang mamah barusan.
“Mamah kalo mau menantu kayak Tante Widia dan Oom Angga, cari aja anak lain yang mau diselingkuhin sama suaminya. Oliv sih ogah punya suami tukang jajan di luar kek gitu. Mending sama Mas Al yang selalu anteng di rumah dan nemenin Oliv bobo di kamar. Yuk ah, Mas. Kita ngamar. Capek juga seharian di luar,” ucap Olivia.
Gadis itu menggandeng tangan suaminya dan berjalan menaiki tangga, meniggalkan Mamah Ros yang kesal hingga melempar majalah fashion yang tadi dipegangnya.
Dia lupa jika skandal itu sudah tersebar, dan bahkan tempo hari, teman yang dibicarakannya itu tidak ikut berkumpul bersama, karena malu dengan berita miring tentang menantu kebanggaannya itu.
Sementara di kamar, Olivia yang baru saja masuk, melepaskan tangannya dari lengan Alzam. gadis itu nampak berjalan gontai ke arah ranjang dan duduk di tepinya.
Wajahnya terlihat murung dan tatapannya entah kemana. Kosong.
Alzam yang melihat itu pun mendekat, dan menarik kursi belajar Olivia ke depan gadis itu. Dia lalu duduk berhadapan dengan sang istri, seraya memandangi wajah lelahnya.
“Maafin mamah ya, Mas. Aku tahu omongan Mamah tadi pasti udah nyinggung kamu banget. Itu cuma karena Mamah belum kenal siapa kamu aja kok. Jadi, dia nggak tahu sebaik apa kamu,” ucap Olivia.
Tatapannya masih tertunduk. Dia merasa tidak enak dengan sang suami yang pasti terus-terusan merasa tertekan, karena sikap Mamah Ros yang selalu membanding-bandingkan Alzam dengan pemuda kaya lainnya, yang sesuai dengan yang diinginkan sang mamah.
__ADS_1
Mendengar perkataan Olivia, Alzam hanya bisa tersenyum getir.
Kita juga belum lama kenal, Liv. Bukankah aku dan kamu juga belum tahu baik buruk kita masing-masing. Semuanya mendadak, batin Alzam.
Terdengar helaan nafas dari mulut pemuda tersebut. Dia kemudian meraih kedua tangan sang istri, dan sontak membuat Olivia mendongak, menatap lurus ke arah wajah tampan yang selalu membuatnya berbunga-bunga.
“Memang kamu tamu kalau aku ini orang baik?” tanya Alzam.
Olivia tak menjawab. Dia hanya mewakilinya dengan sebuah anggukan pelan. Matanya masih terus beradu pandang dengan sang suami, yang nampak mencoba mengklarifikasi sesuatu.
“Dari mana kamu tahu? Kita baru aja ketemu, dan kamu udah gangguin aku tiap hari. Kamu ngejar aku sedangkan aku terus nyuekin kamu, sampe akhirnya kita menikah pun secara mendadak. Dari mana kamu yakin kalau aku orang yang baik? Bukannya aku cowok brengs*k yang udah nidurin kamu pas kamu lagi mabuk?” tanya Alzam lagi.
Seketika, hati Olivia terasa sakit. Dia sadar jika selama ini, Alzam pasti menganggap dirinya sendiri seseorang yang sangat kotor, karena telah merusak kehormatan seorang gadis.
Dia diam dengan pandangan yang kembali tertunduk. Jemarinya yang saling bertaut satu sama lain. Bibirnya terus mengatup rapat, sambil sesekali mengulumnya. Satu sisi dia ingin mengatakan yang sebenarnya, agar Alzam tak lagi terus merasa bersalah padanya. Namun di sisi lain, Olivia takut Alzam akan marah dan akhirnya meninggalkan dia.
“Kamu juga nggak bisa jawab kan? Jadi, aku juga nggak akan nyalahin Mamah kamu yang belum bisa nerima aku sebagai suami kamu. Kamu nggak usah coba menghiburku dengan pura-pura tahu bagaimana sebenarnya aku ini,” ucap Alzam.
Maaf, Mas. Maafin aku. Aku cuma mau dapetin kamu. Aku nggak tau kalau kamu akan terus rendah diri dan nyalahin diri sendiri kayak gini, batin Olivia.
Matanya terasa memanas, namun ia menghalaunya dengan mengerjapkan matanya cepat.
Saat merasakan Alzam hendak melepaskan tangannya dan bangun dari kursi, Olivia segera mendongak dan berucap.
“Kamu emang orang baik, Mas,” ucap Olivia.
Alzam pun terhenti seketika, dan kembali menoleh ke arah sang istri.
__ADS_1
“Kamu emang orang baik. Kamu inget waktu kita ketemu pertama kali di jalan puncak? Aku waktu itu sedang pake jaket tebel yang panjangnya sampe lutut, dan berdiri di pinggir jalan. Tapi, nggak ada satu pun orang lewat yang mau berhenti buat bantuin aku, kecuali kamu,” ucap Olivia.
“Liv, kalau pun bukan aku, pasti akan ada yang mau nolongin kamu,” sanggah Alzam.
“Kamu tau nggak, udah berapa lama aku nunggu di situ? Lama banget sampe hampir beku karena kedinginan, Mas. Tapi lucunya, kalau aku pake pakean seksi dan minta tolong di pinggir jalan, jangankan semenit, baru mau lambaikan tangan aja udah ada yang deketin dan mau nolong."
"Cuma kamu yang lihat aku sebagai seorang manusia biasa, perempuan yang sedang butuh bantuan, tanpa melihat tubuh aku yang sering terekspos,” ungkap Olivia.
Semenjak kejadian di masa lalunya yang berkaitan dengan sang mantan, Nathan, Olivia terus mendapat perlakuan yang membuatnya semakin yakin bahwa pria lebih suka perempuan yang memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Hingga dia bertemu dengan Alzam, pemuda yang bahkan mau menolongnya saat dia tidak terlihat seksi sama sekali.
Alzam kini mengerti kenapa Olivia selalu berpakaian seperti sebelumnya, yang mengumbar aurat di mana-mana. Meski pemuda tersebut masih belum tahu cerita masa lalu sang istri, namun dari penuturan Olivia tadi, dia cukup paham situasi yang mendasari gadis tersebut berpenampilan semengerikan itu. Ditambah, kurangnya didikan agama dari orang tuanya sejak kecil.
Dia pun merasa iba, dan muncul nyeri di hatinya, merasakan betapa bingungnya Olivia saat dia masih meyakini hal seperti tadi.
Alzam pun mengulurkan tangannya dan mengusap puncak rambut sang istri dengan lembut. Olivia pun mendongak dan menatap lurus ke arah Alzam.
“Sekarang sudah ada aku. Kamu nggak perlu lagi berpikir seperti itu. Justru sekarang, kamu harus bisa menjaga pandangan laki-laki lain dari diri kamu. InsyaAllah, Aku pasti akan selalu ada buat kamu. Jadi, kita ubah pelan-pelan yah,” ucap Alzam.
.
.
.
.
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁