
Selepas sholat isha, Alzam terlihat sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam lunch box. Olivia yang baru saja keluar kamar, segera menghampiri sang suami di dapur sana.
Dia berdiri di samping Alzam, sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh pemuda tersebut.
“Tadi siang, ibu bawain teri kacang. Katanya buat lauk kita malam ini. Kamu suka pedes nggak?” tanya Alzam.
“Suka. Eh... itu apaan, Mas?” tanya Olivia sambil menunjuk ke arah kotak plastik tadi.
Alzam pun lalu mengambil salah satu ikan kecil yang menjadi bahan utama masakan yang diberikan oleh Bu Aminah tersebut.
“Ini?” tanya Alzam memastikan.
Olivia pun mengangguk.
“Ini namanya teri. Emang belum pernah lihat sebelumnya?” tanya Alzam lagi.
“Ehm... Belum deh kayanya. Tapi kok mirip ikan sih,” sahut Olivia.
“Ini emang ikan, Liv. Namanya ikan teri. Coba deh cicipin. Enak lho,” seru Alzam.
Olivia pun mengambil terus kecil yang ada di tangan Alzam, dengan kening berkerut dan penuh keraguan. Dia mengamati bentuk hewan bertulang belakang itu dengan seksama, sampai akhirnya Olivia memasukkannya ke dalam mulut.
Alzam terus memperhatikan ekspresi wajah sang istri, yang baru pertama kali memakan ikan kecil itu.
“Gimana? Enak nggak?” tanya Alzam.
“Enak sih. Masakan ibu pedesnya emang selalu juara. Nendang puooolll. Nggak diragukan lagi deh. Tapi kok kek keasinan gitu ya, Mas?” jawab Olivia.
“Itu karena ikannya dikeringkan, makanya jadi kerasa lebih asin. Tapi kalau buat temen nasi, asinnya nggak akan kerasa banget kok,” sahut Alzam.
Pemuda itu lalu menyuapkan kacang tanah goreng, yang juga masuk ke dalam masakan tersebut ke dalam mulut Olivia.
“Ehm... Enak, Mas. Crunchy. Aku mau dong buat lauk,” ucap Olivia.
Alzam pun tersenyum. Dia lalu meletakkan kotak bekal yang telah kosong itu ke dalam tempat cuci piring, dan berjalan ke arah lemari pendingin, untuk mengambil satu kotak tempe yang masih terbungkus daun jati.
“Mau goreng tempe ya, Mas?” tanya Olivia.
“Ehm... Kan udah ada teri kacang. Nasinya juga udah ada, tinggal buat lauk pendamping aja,” jawab Alzam.
“Sini biar Oliv aja yang goreng, Mas,” tawar Olivia.
Alzam yang baru selesai mengupas daun pembungkus tempe pun menoleh ke arah sang istri.
“Beneran kamu mau coba?” tanya Alzam.
Olivia mengangguk pasti. Pemuda itu pun menurut dan meletakkan pisau yang saat itu dipegangnya, dan mundur memberikan tempat untuk sang istri.
Dia kemudian mengambil bumbu marinasi, dan melarutkannya dengan air secukupnya. Sambil memberikan arahan kepada istrinya, tangan Alzam terus bergerak membantu menyiapkan bumbu, minyak dan juga wajan.
__ADS_1
Olivia membutuhkan waktu yang lumayan lama hanya untuk sekedar memotong tempe menjadi beberapa bagian. Bahkan ukurannya pun berbeda-beda. Ada yang tipis, ada yang tebal. Ada yang urusannya menyerong, ada juga yang tegak lurus.
Namun semua itu menjadi maklum bagi Alzam, mengingat baru pertama kali istri kecilnya melakukan pekerjaan rumah seperti itu. Dia justru bersyukur karena Olivia mau belajar sedikit demi sedikit.
“Masukin tempenya ke dalam bumbu itu biar meresep, baru nanti masukin ke minyak panas,” seru Alzam.
Dia terus memberikan arahan kepada Olivia. Tak jarang gadis itu menanyakan beberapa langkah yang digunakan saat membuat sesuatu. Alzam pun dengan sabar memberikan jawaban yang bisa diterima akal pikiran Olivia, mengingat gadis itu selalu punya pandangan kritis dan tak mau menerima alasan yang tak logis.
“Rendemnya cukup. Jangan kelamaan juga nanti keasinan. Sekarang, masukin tempenya ke dalam minyak panas. Tapi hati-hati, jangan sampai kena tangan,” seru Alzam.
Olivia pun mengambil satu iris tempe dan mencoba memasukkannya ke dalam wajan langsung menggunakan tangan kosong.
“Aaaaa...!” pekik Olivia.
Alzam pun seketika meraih tangan gadis itu dan melihat kondisinya.
“Kenapa? Kena minyak ya? Yang mana yang sakit?” tanya Alzam panik.
Melihat sang suami begitu peduli padamu, membuat hati Olivia berdegup dan wajahnya merona. Dia melihat Alzam yang menunduk memperhatikan tangannya.
Gadis itu pun tersenyum. Dia mendekat dan mencium pipi Alzam. Sontak pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap sang istri.
“Kamu ngerjain aku ya?” terka Alzam merasa kesal.
Namun, Olivia menggeleng.
“Nggak kok. Jahat banget nuduh gitu,” sahut Olivia.
“Tadi tuh aku cuma kaget pas denger bunyi minyak yang rame,” jawab Olivia.
Mendengar hal itu, Alzam pun hanya bisa menghela nafas panjang. Dia sudah khawatir kalau Olivia sampai kenapa-kenapa, tapi ternyata hanya karena kaget mendengar bunyi minyak panas yang kemasukan air dari marinasi tempe.
Pemuda itu pun kemudian kembali meminta Olivia melanjutkan menggoreng tempenya, akan tetapi kali ini Alzam mengambilkan capitan stainless untuk mengamankan tangan sang istri.
Gadis itu terus senyam senyum sendiri, saat mengingat kembali reaksi Alzam tadi yang begitu mengkhawatirkan dirinya.
Setelah selesai, Olivia pun menyajikan tempe di atas piring. Cukup bagus hasilnya untuk seorang pemula.
Mereka pun lalu mulai makan malam, dengan hidangan sederhana namun penuh makna dan kehangatan.
Seusai makan, keduanya kembali bersama-sama membersihkan peralatan makan yang baru saja mereka gunakan. Olivia terus meminta diajari sang suami berbagai hal dan Alzam pun dengan sabar mengajarinya.
Kemudian, Alzam dan Olivia melakukan kegiatan masing-masing. Gadis itu memilih berada di kamar dan mempelajari sesuatu untuk kuliahnya besok, sedangkan sang suami terlihat menonton TV di ruang tengah sambil lesehan dengan tikar yang tadi dipakai untuk makan.
Dengan sebuah bantal, dia pun merebahkan diri di sana.
Sekitar pukul sembilan malam, Olivia keluar dari kamar dan melihat suaminya masih anteng melihat siaran televisi di depannya.
Gadis itu pun lalu duduk dan bergabung di samping sang suami. Alzam menoleh atau tepatnya mendongak, melihat kedatangan istrinya dan kemudian kembali melihat ke arah layar datar itu.
__ADS_1
“Udah belajarnya?” tanya Alzam.
“Udah,” sahut Olivia singkat.
“Belum ngantuk?” tanya Alzam lagi.
“Belum,” sahut Olivia kembali dengan singkat.
Mendengar jawaban Olivia yang selalu singkat itu pun, membuat Alzam kembali menoleh.
“Kamu kenapa sih? Lagi bete sama siapa?”
“Lagi bete sama kamu,” sahut Olivia ketus.
“Sama aku? Tadi kayaknya baik-baik aja. Kenapa tiba-tiba bete gini sih?” tanya Alzam.
“Aku baru inget kalau masalah kita tadi siang belum kelar,” jawab Olivia.
“Tadi siang? Oh... Yang aku ketiduran itu. Kan aku udah minta maaf, Liv,” ucap Alzam sambil bangun dan duduk di depan Olivia.
“Bukan itu,” tepis Olivia.
“Terus?” tanya Alzam.
“Kenapa kamu nggak bilang kalau si Nurul juga ada di pengajian itu?” tanya Olivia balik.
Alzam baru ingat, kalau dia belum menjelaskan masalah itu pada sang istri. Dia pun nampak mengangkat kedua alisnya, pertanda ragu untuk menjawab.
“Kok diem?” tanya Olivia ketus.
“Aku akan bilang, tapi kamu janji jangan marah ya,” ucap Alzam.
Mendengar perkataan Alzam, membuat Olivia semakin merasa kesal, karena hal itu seolah mengiyakan prasangka gadis tersebut atas sahabat suaminya.
“Kalian ada main di belakang ku ya?” terka Olivia.
“Maaf ya, Liv,”
.
.
.
.
Nah lho.... mas Al🙄
Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.
__ADS_1
terimakasih 😁