CINTA LELAKI BIASA

CINTA LELAKI BIASA
Istri macam apa?


__ADS_3

“Kamu sama Olivia baik-baik aja kan?” tanya Bu Aminah.


“Alhamdulillah. Sekarang hubungan kami semakin baik, Bu. Aku udah bisa nerima dia apa adanya dan Alhamdulillah, Olivia nggak seburuk yang aku kira. Dia sebenarnya anak yang baik, hanya saja kurang pengetahuan soal agama dan selalu dimanjakan. Tapi, dia mau belajar dan cepat menerima pelajaran yang diberikan,” jawab Alzam.


“Alhamdulillah kalau gitu. Ibu awalnya khawatir dengan hubungan rumah tangga kalian. Karena di awal, ibu lihat kamu sangat tidak suka dengan Oliv. Tapi mendengar jawaban kamu tadi, Ibu lega. Tapi Zam, sejak kapan Oliv berubah?” tanya Bu Aminah.


“Maksud Ibu penampilannya?” tanya Alzam balik.


Bu Aminah mengangguk pelan dengan tatapan mata terus tertuju pada netra sang Putra.


“Baru tadi sih, pas aku ngajakin dia ke sini,” jawab Alzam.


Nampak wanita tua itu membuang pandangannya ke arah depan, dan menghela nafas panjang.


“Zam, Ibu pernah bilang ke kamu kan. Jangan pernah paksa Oliv untuk jadi apa yang kamu mau, sekalipun itu wajib baginya. Ajak dia, nasehati dia pelan-pelan. Ajari dia sedikit demi sedikit sampai dia mendapatkan hidayahnya sendiri. Biarkan dia berubah karena kemauannya, bukan karena terpaksa atau karena alasan lain."


“Mungkin hari ini kamu minta dia berpakaian seperti itu karena ingin menunjukkan ke teman-teman ibu siapa istri kamu, atau tidak mau membuat ibu malu karena memiliki menantu yang belum bisa menutup auratnya. Ibu bisa mengerti itu. Tapi lain kali, jangan kamu seperti itu lagi sama istrimu. Paham, Zam?” seru Bu Aminah.


Alzam diam sejenak dan merenungi perkataan sang bunda. Dia sadar bahwa dirinya memang ingin memperlihatkan kepada jamaah pengajian bahwa istrinya adalah wanita sholehah. Akan tetapi, benar yang dikatakan oleh sang bunda, bahwa dia tak boleh memaksakan sesuatu kepada Olivia sekalipun itu hal yang baik.


Perempuan itu masih dalam tahap mengenal agamanya, sehingga perlu pendekatan yang halus dan perlahan. Jika sekaligus dan dipaksakan, Olivia mungkin akan berontak atau mungkin berbalik menjadi lebih liar lagi dari sebelumnya.


Akan tetapi, melihat perubahan Olivia yang semakin hari semakin baik, membuat keinginan Alzam untuk menutup aurat sang istri, semakin tinggi hingga tibalah hari ini, di mana dia meminta sang istri untuk memakai gamis dan juga jilbab besar.


Alzam tertunduk menyadari perbuatannya tersebut.


“Maaf, Bu. Alzam nggak akan ngulangin lagi. Alzam cuma terlalu senang melihat perubahan Oliv yang semakin baik setiap harinya. Alzam selalu bayangin, gimana cantiknya dia pas make jilbab setiap ikut pengajian. Bahkan setiap sholat, saat dia menutup dirinya dengan mukenah, hatiku bergetar nggak karuan. Mungkin aku jadi terobsesi sama dia sampai lupa harus bagaimana bersikap. Maafin Alzam, Bu,” ungkap Alzam.


“syukurlah kalau kamu paham. Biarkan Oliv menerima perubahan di dirinya dengan sendirinya. Biarkan dia berubah sesuai kehendak hatinya, karena benar-benar ingin mendapatkan ridho Allah. Ibu percaya kamu pasti bisa membawa Olivia hijrah dan bersama meraih ridho Allah. Bersabarlah,” seru Bu Aminah.


“Iya, Bu. Alzam akan ingat pesan Ibu,” ucap Alzam.


“Ya sudah. Kita ganti topik saja. Gimana rencana kamu buat buka cabang, Zam? Katanya waktu itu udah dapet tempatnya,” tanya Bu Aminah.


“Ehm... Kayaknya harus ditunda dulu deh, Bu. Tabungan Alzam udah habis buat nikahan kemarin,” jawab Alzam.

__ADS_1


Bu Aminah menoleh ke arah sang putra, dan melihat jelas raut kekecewaan di wajah pemuda tersebut.


Dia mengulurkan tangan dan menepuk bahu sang putra, seraya menghiburnya.


“Sabar. Menikah juga suatu keharusan, sekaligus ibadah. Ibu doakan, semoga keinginanmu itu bisa segera tercapai. Jangan kamu sesali apa yang sudah terjadi. Toh kamu juga merasa bahagia kan menikah dengan Olivia?” tanya Bu Aminah.


Pemuda itu mengangguk pelan.


“InsyaAllah, Alzam akan terus berusaha membahagiakan istri Alzam, Bu,” Sahut Alzam.


Keduanya tak menyadari jika sejak tadi, seseorang yang sedang mereka bicarakan, mendengar semua apa yang telah diucapkan oleh keduanya.


Olivia bahkan sampai membekap mulutnya dengan kedua tangan, dan kedua matanya telah berurai air mata karena hatinya sakit telah membuat sang suami kesulitan selama ini.


Istri macam apa gue? Gue udah bikin Mas Al gagal wujudin mimpinya. Gue udah bikin dia susah tapi gue malah bahagia banget bisa dapetin dia. Gue egois. Gue benar-benar egois, batin Olivia.


...☕☕☕☕☕...


Keesokan harinya, giliran Olivia yang memiliki jadwal pengajian rutin mingguan di majlis taklim An-nisa. Perempuan itu begitu pendiam sejak pulang dari rumah sang mertua.


Sehingga sangat mudah bagi Alzam mengetahui bahwa ada sesuatu yang terjadi kepada sang istri. Namun, kali ini ada yang sedikit berbeda dari sebelumnya.


Jika biasanya dengan mudah Alzam mengorek informasi dari perempuan itu, tapi kali ini Olivia seolah menghindar dan tak mau membahasnya dengan sang suami.


Alzam tak tahu, bahwa yang menjadi masalah adalah dirinya, sehingga Olivia tak mau membahas hal ini dengan yang bersangkutan. Dia tak mau Alzam terus berpura-pura baik-baik saja di depannya, sedangkan dia tahu dengan jelas bagaimana perasaan pemuda itu yang sebenarnya.


Hingga saat Alzam mengantarkan sang istri ke majlis taklim, Olivia hanya diam dan menyalaminya, kemudian  berbalik lalu berjalan masuk ke dalam tempat pengajian tersebut.


“Ada apa sih sama Oliv? Kenapa tiba-tiba aneh begini? Masa PMS? Baru juga selesai minggu lalu,” gumam Alzam.


Setelah memastikan sang istri masuk ke dalam, Alzam pun kembali menyalakan motornya dan melaju menuju ke rumah sang bunda yang berjarak sekitar satu kilo dari tempat tersebut.


Di dalam sana, sudah ada beberapa jamaah yang sedang bercengkerama dengan jamaah lainnya, dan sepertinya salah satu di antaranya sedang menjajakan sesuatu. Mereka melihat kedatangan Olivia dan mencoba menyapa perempuan tersebut.


“Assalamu’alaikum, Ukhti. Apa kabar?” sapa salah satu dari mereka.

__ADS_1


“Waalaikumsalam. Alhamdulillah sehat,” sahut Olivia.


“Ukhti, mau coba lihat jilbabnya nggak? Barangkali tertarik buat koleksi,” tawar seorang jamaah.


Olivia melihat sekilas setumpuk kain di atas meja. Ada yang sudah keluar dari plastiknya, ada juga yang masih terbungkus rapi dan belum tersentuh.


Meski malas, namun Olivia mencoba menghargai tawaran dari rekan hijrahnya dan melihat kain penutup kepala tersebut.


Ada banyak model, warna dan juga corak serta ukuran. Ada yang segi empat, ada pasmina, ada khimar, ada bergo, dan masih banyak lagi yang lainnya.


Dia teringat jilbab yang satu setel dengan gamis, yang kemarin dibelinya bersama sang suami. Dibanding dengan kerudung segi empat yang dipakainya saat ini, dia merasa lebih mudah dan nyaman memakai yang langsung pakai seperti itu.


Dia mengambil salah satu yang serupa, dengan warna yang berbeda.


“Yang ini berapa?” tanya Olivia.


“Yang itu lapan puluh aja, Ukhti. Mau ambil yang itu?” tanya si penjual.


“Nggak ambil yang bercorak aja, Liv?” tanya seseorang yang baru saja datang dan langsung bergabung dengan kerumunan tersebut.


Melihat kedatangan orang tersebut, membuat wajah Olivia semakin masam.


.


.


.


.


Jika suka cerita ini, silakan lanjut baca☺ dan jangan lupa tap ❤ (favoritkan) , 👍 (like) , 💬 (komen) , 🎁 (gift) , dan juga votenya.


Sambil nunggu next bab, coba mampir ke novel temen aku yuk bestie 👇


__ADS_1


__ADS_2