
Pertarungan antara Inyoko dan Tung Gak akhirnya selesai dengan pengangkatan Inyoko sebagai kepala suku besar negara Ham Pai.
"Tunggu dulu"
"Maafkan aku para sepuh suku,kakek Tung Gak,dan semua anggota suku negara Ham Pai"
"aku tidak pernah sedikitpun berpikir untuk menjadi kepala suku besar negara Ham Pai"
"meskipun negara ini adalah tanah kelahiran ayahku,tapi tidak banyak yang aku ketahui tentang negri ini"
"aku masih terlalu muda untuk mengemban tanggung jawab sebesar ini"
"masih banyak yang harus aku lakukan di luar sana"
"maafkan aku,aku tidak bisa menerima posisi yang sangat penting seperti ini"
"menurutku kakek Tung Gak jauh lebih pantas memimpin negri ini"
"Jangan bersikap seperti ini kepadaku,aku mohon kalian semua berdirilah"
Ucap Inyoko dihadapan semua orang yang ada ditempat itu.
Semua orang menjadi sangat terkejut setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Inyoko.
Mereka tidak pernah menyangka Inyoko akan menolak posisi sebagai kepala suku besar.
mereka semakin merasa kagum dengan kepribadian yang ditunjukan oleh Inyoko.
Memang saat ini tidak ada sosok yang lebih pantas menjadi kepala suku besar selain Tung Gak.
Selain karena kaya pengalaman,Tung Gak adalah orang terkuat di negara Ham Pai saat ini,selain itu posisinya sebagai kepala suku Ca Biak juga patut untuk diperhitungkan.
Akhirnya semua bersepakat mengangkat Tung Gak.
"Aku akan menerima posisi ini,jika kau mau memenuhi permintaan ku"
Ucap Tung Gak kepada Inyoko.
"Apa permintaan mu itu kakek?"
"selagi bisa aku penuhi,maka aku akan berjanji kepadamu"
Jawab Inyoko.
"Kau harus menikahi cucu ku Bing Nga"
__ADS_1
"pernikahanmu kelak akan menyatukan suku-suku dan negri ini"
balas Tung Gak sambil meminta cucunya itu mendekat kepada nya.
Bing Nga adalah satu-satunya cucu Tung Gak.
Gadis cantik yang masih belia itu dijuluki Permata dataran Thapiselo,karena paras dan sosok nya yang teramat cantik.
Bing Nga gadis yang menjadi buah bibir dan kebanggaan suku Ca Biak,tidak sedikit pria yang patah hati karena ingin memilikinya.
Bing Nga adalah anak dari putra tunggal Tung Gak Bhasi Padu yang menikahi Kawek Pati putri kedua kepala suku Khe Tek sebelum nya.
kedua orang tua Bing Nga adalah tabib ternama di negara timur jauh Ham Pai.
keduanya meninggal ketika tertular wabah penyakit saat mengobati pasiennya.
Tung Gak berharap pernikahan cucunya yang merupakan keturunan suku Ca Biak dan suku Khe Tek dengan Inyoko yang memiliki darah suku Awai mampu mempersatukan tiga suku besar di negara Ham Pai.
Tentu saja pernyataan dan permintaan yang dilontarkan oleh Tung Gak membuat Fan Ning yang mendengarkan nya menjadi sangat sedih,karena akan sangat sulit bagi Inyoko menolak permintaan dari kepala suku besar yang baru itu.
"Maafkan aku kakek"
"pernikahan bukanlah suatu benda yang bisa seenaknya kita letakkan sesuai dengan keinginan kita"
"bagaimana mungkin aku bisa menikahi adik Bing jika perasaan ku merasa asing kepadanya"
"aku akan sangat berdosa jika menikahinya tanpa perasaan itu"
"lagi pula untuk saat ini,pernikahan bukanlah sesuatu yang menjadi prioritas ku"
"ada manusia iblis diluar sana yang menebarkan teror dan ketakutan dengan kekejamannya yang ingin aku musnahkan"
Jawab Inyoko.
Meskipun sedikit kesal karena Inyoko dengan terang-terangan menolak permintaannya itu,tapi Tung Gak menjadi semakin kagum dengan apa yang baru saja di jelaskan oleh Inyoko.
dan Fan Ning adalah orang yang paling berbahagia mendengar jawaban Inyoko itu,Fan Ning merasa harapannya seperti muncul kembali untuk mendapatkan hati pendekar muda itu.
Tung Gak tidak kehabisan akal untuk tetap membuat Inyoko menerima kehadiran cucunya itu dalam kehidupan Inyoko.
"Baiklah ,aku akan menerima semua alasanmu itu anak muda"
"aku juga akan memenuhi permintaan para utusan negara baru Paja Bing Nguang"
"tapi aku ingin Bing Nga ikut bersamamu"
__ADS_1
"aku ingin cucuku belajar dan berkembang dengan melihat luasnya dunia diluar sana"
Ucap Tung Gak,yang membuat semua orang menjadi sangat terkejut.
Walau bagaimanapun Bing Nga adalah cucu satu-satunya dan orang yang paling penting dalam hidup Tung Gak saat ini.
Bing Nga tidak pernah lepas dari sisi Tung Gak sejak kematian kedua orang tuanya.
tapi saat ini Tung Gak dengan sangat mudahnya menyerahkan cucunya itu kepada seorang pemuda dan itu Inyoko.
Tung Gak berharap kebersamaan yang antara Inyoko dan cucunya kelak akan membuat Inyoko memiliki perasaan kepada cucunya itu.
Kali ini Inyoko tidak dapat menolak permintaan dari kepala suku besar Tung Gak,setelah Jendral Phe Phi dan Dewi Mata Dara memberikan pendapat mereka kepada Inyoko,selain itu Tung Gak juga menyanggupi ajakan kerjasama dari mereka untuk menghadapi manusia iblis Ghun Thang dan meminta bantuan untuk wabah kemarau panjang yang masih melanda daerah daerah kota Dhu Mai tempat negara baru Paja Bing Nguang didirikan.
Malam itu rombongan Inyoko mendapatkan jamuan makan malam dari istana negara Ham Pai yang baru saja memiliki kepala suku besar yang baru.
Tung Gak dengan sengaja mengatur tempat duduk perjamuan itu dengan menyediakan tempat duduk untuk Inyoko disamping cucunya Bing Nga.
di meja perjamuan itu semua orang terlihat bahagia dan saling bercerita tentang pengalaman hidup mereka.
Tapi dalam hatinya Inyoko merasa sangat gelisah,karena mengetahui perang besar dengan manusia iblis Ghun Thang kini semakin dekat dengan mereka.
Inyoko tidak dapat membayangkan akan banyak rakyat yang akan menjadi korban perang besar tersebut.
Keesokan paginya istana negara Ham Pai terlihat sangat sibuk dan dipenuhi oleh tokoh-tokoh penting dari suku-suku yang ada di negri itu.
di luar istana kerumunan rakyat membuat tempat itu terasa semakin sesak,karena pagi itu akan diadakannya peresmian dan pengangkatan kepala suku besar baru oleh para sepuh suku dan kepala-kepala suku yang ada di negara Ham Pai.
Acara pengangkatan kepala suku besar baru negara Ham Pai itu berlangsung selama seharian penuh,semua orang terlihat riang dan gembira merayakannya.
Setelah mengikuti perayaan itu selama setengah hari,rombongan Inyoko pamit kepada Tung Gak untuk kembali ke kota Dhu Mai.
Inyoko dan rombongan nya pergi meninggalkan istana dengan diam-diam karena tidak ingin mengganggu kebahagian dan kesenangan orang-orang yang sedang berpesta itu.
mereka kemudian diantarkan oleh para sepuh suku,Nionyo,Tung Gak dan Ka Bao hingga kedaerah hutan yang ada diluar ibukota Mang Kuak,ditempat Rajawali Dewa Perang menunggu mereka.
Orang-orang penting negara Ham Pai itu sangat terkejut setelah melihat sosok burung raksasa yang datang setelah Inyoko menggosok cincin jantung rajawali yang ada dijarinya.
Akhirnya rombongan Inyoko pergi meninggalkan negara Ham Pai dengan menaiki Rajawali Dewa Perang bersama dengan Bing Nga,cucu dari kepala suku besar negara Ham Pai.
"Cucumu itu akan memegang kendali dunia"
"dan aku ingin dia membuatmu menjadi besanku saudara Nionyo"
Ucap Tung Gak kepada Nionyo sambil melihat ke angkasa burung rajawali raksasa itu menghilang dibalik awan.
__ADS_1