Cinta Pertapa Naga

Cinta Pertapa Naga
Kuil Suci Dewi Ular


__ADS_3

Kelompok manusia gunung yang di pimpin oleh Kok Satang kemudian membawa Inyoko dan teman-temannya menuju perkampungan tempat para manusia-manusia gunung tinggal.


Sebuah tempat yang tidak jauh dari wilayah puncak gunung tempat Inyoko dan teman-temannya menginap.


Mereka berhenti sejenak di kaki gunung ketika turun dari puncak gunung tersebut.


Pada bagian kaki gunung terdapat sebuah celah seperti mulut goa yang tertutup oleh dedaunan yang merambat.


Pada bagian dalam nya terdapat sebuah tembok batu dengan ukiran wanita bertubuh ular dengan mahkota dikepalanya,ukiran sosok dewi ular yang mereka sembah.


Batu besar tersebut seperti sebuah pintu yang hanya dapat dibuka dengan sebuah kunci yang dipegang oleh Kok Satang.


Tidak salah lagi tempat itu adalah kuil suci tempat penyembahan dewi ular.


Kunci yang digunakan oleh Kok satang membuat putri Koa sangat terkejut,karena kunci tersebut adalah sebuah sisik kepala ular hijau yang tidak lain adalah milik leluhur ular hijau yang pernah mendiami hutan wilayah selatan bersama dengan manusia gunung.


Ketika memasuki kuil suci mereka tidak dapat melihat apa-apa karena keadaannya memang sangat gelap sekali.


Kok Satang meminta Inyoko dan yang lainnya untuk tidak melanjutkan langkah mereka sebelum mendapatkan arahan dari nya.


Karena banyak perangkap terdapat didalam kuil suci itu.


Hanya pemimpin manusia gunung yang mengetahui cara untuk mematikan perangkap-perangkap itu.


Tiba-tiba cahaya muncul dari dinding-dindingnya goa kuil suci itu.


Cahaya itu berasal dari lampu obor yang tergantung disepanjang tembok kuil.


Hidupnya lampu-lampunya obor itu sebagai pertanda kuil suci telah aman untuk dimasuki.


Disepanjang dinding kuil terdapat ukiran dan gambar-gambar yang menceritakan sejarah kehidupan manusia gunung bersama dewi ular yang mereka sembah.


Setelah berjalan hampir setengah jam didalam goa,akhir nya mereka tiba didepan altar pemujaan dewi ular yang berada tepat di jantung gunung tersebut,yang dikelilingi oleh telaga yang airnya terlihat sangat jernih.


Pada bagian atas dinding nya menempel stalakmit yang berkilauan seperti batu-batu permata.


Tepat didepan altar pemujaan terdapat sebuah singgasana dengan ukiran berbentuk ular.


Singgasana yang biasa ditempati oleh dewi ular sebelumnya.

__ADS_1


Ditengah altar terdapat sebuah patung ular dengan tongkat yang berujung bulat seperti sebuah bola.


Kok Satang memutar bagian yang bulat pada tongkat itu.


Seketika air telaga yang tenang disekeliling altar seperti mendidih,dari dalam telaga itu muncul sebuah batu giok berukuran besar dengan sebuah kotak berlapis emas diatasnya.


Air telaga itu kembali tenang setelah seluruh bagian batu giok bersama kotak emas itu muncul di permukaan.


Dengan sangat hati Kok Satang mengambil kotak emas yang tersegel itu.


Disaat bersamaan kalung permata ular hijau milik putri Koa bersinar terang, memancarkan cahaya berwarna kehijauan dan memenuhi ruangan pemujaan itu.


Cahaya kehijauan juga keluar dari celah-celah kotak berlapis emas yang ada ditangan Kok Satang,menandakan jika permata ular hijau milik putri Koa sama dengan batu permata yang tersimpan didalam kotak berlapis emas tersebut.


Setelah putri Koa menyentuh batu permata yang ada didalam kotak itu, barulah cahaya hijau yang dikeluarkannya menghilang.


Kok Satang sambil berlutut dan diikuti oleh manusia gunung yang lain memberikan kotak berlapis emas yang berisi salah satu batu permata ular hijau kepada putri Koa.


"Maafkan kami dewi,didalam kotak ini juga terdapat sebuah buku peninggalan dewi ular"


"Kami manusia gunung tidak dapat mengartikan setiap tulisan yang ada didalamnya"


"Kami rasa kitab ini akan lebih bermanfaat untuk anda"


Putri Koa membuka kotak tersebut dan mengambil kitab yang dimaksud oleh Kok Satang.


Putri Koa sangat kaget ketika melihat isi kitab tersebut.


Didalam kitab itu leluhur ular hijau menceritakan perjalanan hidupnya hingga akhirnya memilih menetap bersama dengan manusia gunung.


Di bagian akhir kitab itu terdapat petunjuk dan ilmu yang didapatkan leluhur ular hijau saat berada di hutan wilayah selatan bersama dengan manusia gunung.


Wajar saja rasanya jika tidak ada satupun manusia gunung yang dapat mengetahui isi catatan dalam kitab tersebut,karena ditulis dengan menggunakan tulisan bahasa ular.


Hanya ada dua manusia yang dapat menggunakan tulisan dan bahasa klan ular, yaitu pertapa naga Ghon Jong dan kakek Gwen.


Setelah mengambil kitab peninggalan itu,putri Koa mengembalikan kotak berlapis emas dan permata ular hijau yang ada didalamnya kepada Kok satang.


Putri Koa meminta Kok Satang meletakkan kembali kotak itu pada tempatnya.

__ADS_1


Rombongan Kok Satang dan manusia gunung bersama dengan Inyoko dan teman-temannya kemudian keluar dari kuil suci yang terdapat di dalam gunung tersebut.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju perkampungan manusia gunung.


Sebuah perkampungan manusia yang terletak diatas pepohonan didalam kawasan hutan rimba wilayah selatan.


Perkampungan yang tidak biasa,sangat jauh berbeda dengan perkampungan manusia pada umumnya.


Para manusia gunung membuat rumah tempat tinggal mereka diatas pepohonan dan mejadikan macan gunung sebagai peliharaan mereka.


Alasan mereka memilih pohon sebagai tempat tinggal mereka, karena hutan rimba wilayah selatan dipenuhi oleh makhluk-makhluk buas yang kapan saja bisa melintasi tempat tersebut.


Akan tetapi Kok Satang merasakan ada sesuatu yang aneh pada perkampungan manusia gunung yang dia pimpin.


Keanehan itu dirasakan oleh Kok Satang karena tidak ada terlihat satupun manusia gunung ditempat tersebut.


Kok Satang memerintahkan pengikutnya untuk memeriksa setiap rumah pohon tersebut.


Setelah memeriksa seluruh rumah selama beberapa menit,namun manusia-manusia gunung itu tidak menemukan apapun.


Para penduduk perkampungan manusia gunung tiba-tiba lenyap tanpa bekas,tidak ada tanda-tanda bekas pertarungan ataupun bekas-bekas makhluk buas melintasi tempat tersebut.


Situasi yang membuat Kok Satang merasa sangat panik.


"Saudara Kok,kau tenang saja mereka semua baik-baik saja"


"Aku merasakan hawa keberadaan banyak manusia disebuah padang rumput tidak jauh dari sini"


Ucap Inyoko menyela.


Inyoko dengan menggunakan aura energi alam dapat merasakan keadaan yang ada disekitarnya.


Ucapan Inyoko itu membuat Mai Chen dan ketiga orang gadis yang bersama mereka begitu sangat kagum dan takjub.


Akan tetapi Kok Satang merasakan sebuah kengerian setelah mendengarkan ucapan Inyoko tersebut.


Kok Santang merasa bukan sebuah keputusan tepat memilih bermusuhan dengan manusia seperti Inyoko.


Sebuah padang rumput yang dimaksud Inyoko itu adalah tempat perayaan adat para manusia gunung.

__ADS_1


Tidak seperti kebiasaan manusia pada umumnya,manusia gunung memilih waktu siang hari untuk mengadakan setiap perayaan adat dalam suku mereka.


Hal ini disebabkan oleh situasi kawasan hutan rimba wilayah selatan yang akan menjadi sangat angker ketika malam hari tiba.


__ADS_2