
Inyoko mulai mengalirkan semua aura energi yang dia kuasai termasuk cahaya energi pertapa keseluruh tubuhnya dan memusatkan nya pada satu titik,tepat berada dibawah perutnya.
Tubuh Inyoko diselimuti oleh cahaya yang dihasilkan dari proses penyatuan aura energi tiga dewa penguasa bumi dan cahaya energi pertapa.
Inyoko merasakan sensasi sakit yang luar biasa hebat,merasakan ada sesuatu kekuatan yang semakin lama semakin membesar berkumpul didalam tubuhnya dan seperti akan segera meledak.
Sepertinya sedang terjadi adu dua kekuatan besar yang saling berinteraksi memperebutkan tubuh Inyoko.
Proses itu berlangsung hampir sepuluh menit,daya tubuh Inyoko sudah berada diambang batasannya.
Seluruh urat saraf serta persendiannya terlepas dan berpindah tempat.
Inyoko memuntahkan sesuatu yang berbentuk gumpalan hitam berukuran keplan tangan disertai dengan darah kental yang berwarna pekat dari mulutnya.
Gumpalan hitam tersebut kemudian melayang di udara dan semakin lama semakin membesar.
Gumpalan hitam yang membesar itu,mulai membentuk wujud sosok manusia.
Semakin lama wujudnya semakin jelas terlihat,tidak salah lagi gumpalan hitam tersebut berubah menjadi sosok Sam Pa deh,sosok yang telah membuat Inyoko terjebak dalam dimensi dunia mimpi ciptaannya.
"Aku masih tidak percaya jika ilmu racun ilusi ku dapat kau patahkan sampai sejauh ini"
"Tapi kau jangan lupa sampai saat ini kau masih ada dalam dunia dimensi mimpi ciptaan ku"
Teriak Sam Pa Deh kepada Inyoko.
Dalam waktu singkat dimensi dunia mimpi tersebut dipenuhi oleh orang-orang terdekat Inyoko,termasuk musuh-musuh yang pernah ditaklukan nya tidak terkecuali musuh besarnya titisan raja iblis,manusia iblis Ghun Thang.
Fenomena ini sempat membuat Inyoko terperanjat untuk waktu sesaat.
Kesempatan ini digunakan oleh Sam Pa Deh untuk menyerang Inyoko yang sedang lengah karena menyaksikan orang-orang yang tiba-tiba muncul dihadapannya.
Tiba-tiba dari tangan Sam Pa Deh muncul sebuah cambuk panjang dan memiliki mata tombak kembar pada bagian ujungnya.
"Dengan ini aku akan menamatkan riwayatmu lebih cepat bocah sialan"
Sam Pa Deh bergumam didalam hati.
Seiring dengan itu Sam Pa Deh memulai aksinya dengan mengayunkan cambuk ditangannya.
__ADS_1
Cambuk tersebut meluncur deras dan mengarah kebagian vital tubuh Inyoko.
Sam Pa Deh tersenyum tipis penuh kesombongan karena merasa akan dengan mudah menghabisi Inyoko.
Sesuatu yang diluar dugaan Sam Pa Deh pun terjadi,semua yang dianggapnya akan berlangsung sesuai dengan keinginannya dengan mudah dikacaukan oleh Inyoko.
Inyoko membalas senyum kesombongan Sam Pa Deh dengan mematahkan serangan cepat cambuk bermata tombak kembar yang menyerangnya.
Inyoko dengan enteng menahan serangan itu dengan menggunakan celah-celah jarinya.
Sam Pa Deh yang masih tidak dapat mempercayai apa yang sedang disaksikannya itu mencoba menarik kembali cambuk miliknya,akan tetapi Inyoko kembali membuatnya terkejut dan diliputi oleh rasa takut.
Kekuatan Sam Pa Deh tidak cukup untuk menarik kembali cambuk miliknya yang tertahan diantara celah-celah jari Inyoko.
Sorot mata Inyoko begitu tajam menatap Sam Pa Deh,tatapan yang membuat nafas Sam Pa Deh terasa begitu sesak.
Disaat-saat terakhir Inyoko mematahkan ilusi mimpi yang sempat membuatnya terpengaruh.
Inyoko membalikkan serangan Sam Pa Deh dengan memberikan pukulan telak ketubuh Sam Pa Deh setelah sebelumnya menarik cambuk Sam Pa Deh yang tertahan di celah-celah jarinya.
Pukulan penuh tenaga dalam dari Inyoko membuat Sam Pa Deh terpental dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
Sam Pa Deh kini mulai menyadari jika Inyoko bukanlah lawan yang mudah untuknya.
Sam Pa Deh tidak memiliki kemampuan tenaga dalam yang tinggi,dia hanyalah pendekar yang bergantung kepada kemampuan ilmu racun yang dikombinasikan dengan teknik ilusi.
Selama ini tidak ada satupun musuh yang dapat keluar dari teknik ilusi milik Sam Pa Deh,akan tetapi situasi nya menjadi berbeda terhadap Inyoko.
Belum selesai Sam Pa Deh merapal mantra teknik ilusi nya,sebuah hantaman keras mendarat para bagian wajahnya.
Hantaman yang berasal dari sebuah tinju yang dilayangkan oleh Inyoko.
Darah bercucuran keluar dari mulut dan hidung Sam Pa Deh.
Sam Pa Deh benar-benar menjadi bulan-bulanan dari kemarahan Inyoko saat ini.
Kemarahan itu dipicu oleh perasaan emosional Inyoko yang tidak dapat menerima jika sosok ilusi wanita yang sangat dia cintai dijadikan sebagai alat oleh Sam Pa Deh untuk menghadapinya.
Sam Pa Deh hanya bisa menunggu waktu saja sampai Inyoko menghabisinya,seluruh tubuhnya telah penuh dengan luka dalam yang sangat parah.
__ADS_1
Dengan jurus tarian pengemis suci Inyoko menamatkan riwayat Sam Pa Deh.
Bersamaan dengan itu dimensi dunia mimpi ciptaan Sam Pa Deh pun sirna.
Inyoko membuka matanya,memperhatikan sekelilingnya,dia mendapati putri Wa Dehn
dihadapannya dan terlihat sangat cemas dan dengan kondisi tubuh yang sedikit berantakan.
Inyoko tersenyum menatap gadis itu,sementara putri Wa Dehn tetap saja dengan ekspresi kecemasannya.
Putri Wa Dehn masih trauma dengan apa yang sebelumnya dilakukan oleh Inyoko kepadanya.
Putri Wa Dehn takut Inyoko masih ada dalam pengaruh racun buah mimpi milik Sam Pa Deh.
Perlahan kabut yang menyelimuti wilayah hutan itu menghilang, Inyoko pun bangkit dan mendekati putri Wa Dehn.
Jantung gadis itu berdebar kencang, memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Inyoko kepadanya.
"Ada apa adik Wa ?"
"Tenanglah,semuanya baik-baik saja"
"Wanita iblis itu telah aku musnahkan"
Ucap Inyoko
Mendengar perkataan Inyoko tersebut,putri Wa Dehn menjadi lebih tenang,karena Inyoko tidak menganggapnya sebagai Fan Ning seperti saat dia dalam pengaruh racun buah mimpi.
Putri Wa Dehn dengan spontan memeluk tubuh Inyoko dan menangis kencang.
"Kakak,aku takut"
"Akhirnya kau sadar"
Ucap putri Wa Dehn dalam pelukan Inyoko.
Akhirnya ilusi Sam Pa Deh yang menyelimuti hutan itu benar-benar sirna,Mai Chen dan Bing Nga terlihat tidak sadarkan diri bersandar pada pohon besar yang tidak jauh dari tempat Inyoko dan putri Wa Dehn.
Dengan segera Inyoko dan putri Wa Dehn mencoba membangunkan kedua teman mereka tersebut,dengan mengalirkan tenaga dalamnya Inyoko berhasil membuat Mai Chen dan Bing Nga kembali sadar.
__ADS_1