
Informasi tentang pasukan kekaisaran Ming yang bergerak dalam jumlah yang sangat besar akhirnya sampai kepada putra mahkota kerajaan Pha Cah yang berada di kota A Ngek ibu kota kerajaan Lha Do Khu Tu.
Informasi itu disampaikan oleh seorang utusan dari kota Dhu Mai yang dikirim oleh tetua Phi Thoek.
Semua orang di istana kerajaan Lha Do Khu Tu terdiam sejenak mendengarkan kabar tersebut.
Semua merasa bingung memikirkan langkah mereka selanjutnya.
Posisi mereka saat ini benar-benar dalam keadaan yang tidak menguntungkan.
Untuk mengahadapi pasukan dinasti Juryan yang dipimpin pangeran Lha Cah saja mereka sudah mengalami banyak kesulitan.
Mereka meras tidak ada harapan bagi mereka untuk dapat bertahan menghadapi pasukan besar kekaisaran Ming yang akan bergabung dengan pasukan pangeran Lha Cah.
Situasi ini semakin diperburuk dengan semakin dekatnya jarak seratus ribu pasukan kekaisaran Ming yang dipimpin jendral Men Dhi Wu itu dengan dinasti Juryan.
Karena informasi ini baru mereka terima setelah lima hari Men Dhi Wu dan seratus ribu pasukannya itu memulai perjalanan mereka.
Dan menurut perkiraan sekitar enam hari lagi pasukan kekaisaran Ming itu akan tiba di dinasti Juryan.
Tentu saja situasi ini menimbulkan kepanikan didalam kerajaan Lha Do Khu Tu dan pasukan yang dipimpin oleh putra mahkota kerajaan Pha Cah.
Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terlihat mulai merasa putus asa.
Tidak sedikit dari para pejabat kerajaan Lha Do Khu Tu yang membisiki raja Tho Gel untuk meminta pengampunan dan seruan damai kepada kekaisaran Ming.
"Kalian terlalu takut kehilangan harta"
"Yang kalian pikirkan hanya keselamatan dan diri kalian sendiri"
"Apakah menyerah kepada kaisar yang lalim itu akan membuat semua menjadi lebih baik"
"Apa kalian sudah lupa dengan apa yang bisa mereka lakukan?"
"Apa kalian tidak ingat lagi tumpukan mayat-mayat yang menggunung saat mereka menguasai kerajaan kita ini?"
"Bagiku lebih baik mati terhormat dan menghadapi semuanya bersama-sama dengan rakyat ku"
"Aku tidak akan pernah berkhianat kepada mereka"
"Jika kalian takut,kalian boleh pergi,bawa serta semua harta benda yang kalian cintai itu keluar dari kerajaan ini"
__ADS_1
Ucap raja Tho Gel dihadapan semua orang didalam istana.
Semua orang yang mendengarkan ucapan dari raja Tho Gel itu diam seribu bahasa.
Sebagian merasa sangat kagum dengan sikap raja itu,dan sebagian kecil lain nya memilih keluar dari ruangan itu dan berkemas pergi meninggalkan kerajaan.
"Menurutku kita belum bisa dikatakan kalah"
"Bahkan perang itu belum terjadi sama sekali"
"Kita tidak akan kalah sebelum bertarung"
"Jumlah pasukan mereka memang sangat besar sekali"
"Dan kekuatan tempur yang mereka miliki memang jauh lebih kuat dari apa yang kita punya saat ini"
"Tapi kita tidak akan menyerah begitu saja dengan membiarkan mereka merebut kerajaan dengan begitu mudah"
"Ini negri kalian,kalian lah pemilik dan tuan nya"
"Tidak ada yang mengenal negri ini lebih baik dari pada kalian"
Ucap Jendral Mha Lhum Pek memecah suasana yang mulai terasa genting itu.
Perkataan jendral Mha Lhum Pek seperti membangkitkan harapan mereka kembali.
Jendral Mha Lhum Pek meminta jendral Jhi Tu yang merupakan jendral kerajaan Lha Do Khu Tu untuk membawakannya sebuah peta perbatasan wilayah kerajaan.
"Di tempat ini kita akan menghadang mereka"
Ucap jendral Mha Lhum Pek menunjuk sebuah titik pada peta yang ada dihadapannya.
Lembah Kelok Sembilan.
Tempat itulah yang ditunjuk oleh jendral Mha Lhum Pek pada peta peta.
"Berapa lama perjalanan yang dibutuhkan untuk tiba ditempat itu jika kita membawa tiga perempat pasukan kita"
Ucap jendral Mha Lhum Pek bertanya.
"Setidaknya butuh dua hari perjalanan untuk membawa empat puluh ribu pasukan yang kita miliki untuk sampai ke lembah kelok sembilan itu"
__ADS_1
Jawab jendral Jhi Tu.
Raja Tho Gel dan putra mahkota kerajaan Pha Cah hanya mendengarkan saja kedua jendral mereka itu mengatur strategi.
karena menurut mereka pengalaman kedua jendral itu menghadapi perang besar jauh lebih banyak daripada mereka.
"Aku ingin Mai Chen kembali ke kota Dhu Mai,dan menyampaikan rencana kita ini"
"Mintalah bantuan dari tetua Phi Thoek"
"Aku berharap kita mampu menahan pasukan musuh sebelum bantuan dari kota Dhu Mai tiba"
"Berikan kuda terbaik kalian kepada Mai Chen"
Lanjut jendral Mha Lhum Pek.
Tak lama kemudian semua orang terlihat sibuk di kerajaan Lha Do Khu Tu.
Jendral Jhi Tu tengah mempersiapkan keberangkatan empat puluh ribu pasukan menuju lembah kelok sembilan.
sementara itu Mai Chen telah lebih dulu pergi meninggalkan kota A Ngek menuju kota Dhu Mai untuk meminta bantuan.
Sesuai dengan perkiraan jendral Jhi Tu,seluruh pasukan yang mereka bawa akhirnya tiba di lembah kelok sembilan dalam waktu dua hari perjalanan.
Jendral Mha Lhum Pek meminta pasukan nya mendirikan tenda-tenda prajurit tidak jauh dari puncak lembah.
Jendral Mha Lhum Pek meminta para prajurit-prajurit itu untuk beristirahat,memulihkan kondisi mereka,dan hanya menyisakan sedikit prajurit yang bergantian untuk berjaga-jaga.
Didalam tenda utama,para tokoh-tokoh sedang berkumpul mengatur strategi yang akan mereka gunakan untuk menghadapi pasukan besar yang akan segera mereka lawan.
"Kondisi alam di lembah kelok sembilan ini akan sedikit membantu kita menahan pasukan besar kekaisaran Ming"
Ucap jendral Mha Lhum Pek mulai menjelaskan rencana dan strateginya kepada para tokoh-tokoh lain.
Mha Lhum Pek mulai membagi tugas kepada para tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan cukup tinggi seperti kakek Gwen,jendral Phe Phi,jendral Jhi Tu,Jendral Kha Chan untuk memimpin kelompok-kelompok prajurit yang akan ditempatkan pada setiap sisi di lembah kelok sembilan.
Lembah kelok sembilan adalah sebuah tempat dengan lembah yang cukup dalam.
Lembah itu memiliki bentuk yang berlekuk-lekuk seperti ular.
Lembah kelok sembilan berada diantara dua tebing yang cukup tinggi dan curam.
__ADS_1
Lembah itu terhampar memanjang,sepanjang garis perbatasan wilayah kerajaan Lha Do Khu Tu dan dinasti Juryan.
Karena keberadaan lembah inilah salah satu penyebab dinasti Juryan dan kerajaan Lha Do Khu Tu tidak pernah terlibat pertempuran dimasa lalu.