Cinta Pertapa Naga

Cinta Pertapa Naga
Emosi dan Air Mata


__ADS_3

Inyoko mengajak Mai Chen untuk berkeliling didalam kota Dhu Mai.


bersama mereka ikut serta Fan Ning,Putri Wa Dehn dan Bing Nga.


"Sebaiknya kita berjalan kaki saja saudara chen"


Pinta Inyoko setelah Mai Chen menawarkan agar mereka menaiki kuda untuk berjalan mengelilingi kota Dhu Mai.


"Aku setuju dengan itu,karena banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan mu saudaraku"


Jawab Mai Chen yang terlihat lebih dewasa dari sebelum terakhir mereka berpisah.


selain Inyoko,Mai Chen juga mengalami perkembangan yang cukup pesat setelah sepuh suci sekte A Jhi Er mengangkatnya sebagai murid.


Sepanjang perjalanan kedua orang pria yang seumuran itu saling berbagi cerita tentang apa yang telah mereka lewati setelah berpisah,sementara ketiga gadis yang ikut bersama mereka hanya mendengarkan saja.


Perjalanan mereka terhenti setelah mendengarkan suara tangisan seorang gadis kecil di depan sebuah tenda pengobatan.


anak itu berusia sekitar tujuh tahun,tubuhnya terlihat kurus dan berantakan.


mengingatkan Inyoko ketika dirinya seusia anak itu.


"Adik kecil yang cantik mengapa engkau menangis"


Ucap Inyoko pada anak kecil itu.


Perempuan kecil itu hanya menangis dan terdengar semakin terisak-isak,dia hanya mengangkat tangannya dan menunjuk kearah dalam tenda pengobatan itu.


Inyoko kemudian masuk kedalam tenda pengobatan itu.


Inyoko terdiam mematung menyaksikan pemandangan yang ada dihadapannya.


didalam tenda itu penuh dengan mayat korban perang dengan pasukan kekaisaran Ming.


bahkan diantara beberapa mayat itu terlihat sudah mulai membusuk dan mengeluarkan aroma yang tidak enak.


tak lama kemudian Mai Chen dan yang lain nya menyusul Inyoko kedalam tenda pengobatan itu.


semuanya menunjukan ekspresi wajah yang tidak berbeda dengan Inyoko,bahkan putri Wa Dehn buru-buru keluar dari tenda itu karena merasa mual melihat mayat yang berserakan dan beraroma menyengat itu.


"apa ini?"


"mengapa begitu banyak mayat"


"mengapa mayat-mayat ini dibiarkan seperti ini"


Ucap Inyoko dalam hati dengan perasaan yang bercampur aduk.


"adik kecil,siapa namamu?"


tanya Fan Ning mencoba mengakrabkan diri dengan perempuan kecil itu.


"Bha Nun"

__ADS_1


Jawab gadis kecil itu sambil terisak-isak.


Bha Nun adalah salah satu anak korban kekejaman perang.


kedua orang tuanya menjadi korban dan tewas saat perang dengan pasukan kekaisaran Ming beberapa hari yang lalu.


Tanpa banyak bicara Inyoko keluar dari tenda itu dan terlihat sangat terburu-buru.


membuat semua orang merasa heran dengan tingkahnya itu.


tak lama kemudian Inyoko kembali dengan mendorong sebuah gerobak kayu.


Ekspresi kemarahan dan kesedihan bercampur diwajahnya.


air mata terlihat membasahi wajah Inyoko.


Inyoko kembali masuk kedalam tenda pengobatan itu.


tanpa mempedulikan apapun Inyoko menggendong satu persatu mayat itu dan meletakkannya keatas gerobak kayu yang dibawanya.


Apa yang dilakukan oleh Inyoko itu menarik perhatian orang-orang disekitar tempat itu.


tidak sedikit dari mereka yang terlihat menutupi hidung mereka karena aroma menyengat yang keluar dari tubuh mayat-mayat itu.


Hanya lima mayat saja yang bisa diangkat oleh Inyoko keatas gerobak itu,karena memang ukurannya yang tidak terlalu besar.


kemudian gerobak itu kembali didorong Inyoko sambil berlari menuju suatu tempat yang tidak jauh dari gedung pemerintahan di tengah kota Dhu Mai.


Inyoko kembali berlari membawa gerobak kayu itu ke tenda pengobatan,dan melakukan hal yang sama dengan mayat-mayat yang ada didalam nya,hingga saat menggendong dua mayat terakhir tangis Bha Nun semakin menjadi-jadi karena kedua mayat itu adalah orang tuanya.


"Ayaaaah"


"ibuuuu"


Teriak gadis itu memegangi kedua mayat orang tuanya yang kini berada diatas gerobak kayu itu.


Inyoko kemudian kembali mendorong gerobak kayu itu dan meletakkan mayat-mayat itu ditempat Inyoko meletakkan mayat yang lain sebelumnya.


Inyoko kemudian berlutut dihadapan mayat-mayat itu sebagai bentuk penghormatan terakhir.


Apa yang dilakukan Inyoko itu membuat penasaran seluruh penduduk kota yang tidak begitu mengenal sosoknya.


Inyoko berdiri dan mencabut golok pusaka naga yang terbungkus di punggungnya.


Kemudian tubuhnya mengeluarkan aura energi berwarna keemasan,aura energi yang cukup dahsyat,bahkan sampai menimbulkan pusaran angin yang cukup besar disekitar tempat dia berdiri.


Inyoko mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar pada golok pusaka yang ada ditangannya,sehingga golok itu mengeluarkan cahaya berwarna biru keemasan.


Angin bertiup semakin kencang disekitar Inyoko seiring dengan kesedihan dan penyesalannya yang teramat dalam.


suasana didekat gedung pemerintahan itu berubah menjadi riuh dan membuat para tokoh-tokoh besar yang ada didalam gedung itupun keluar untuk melihat penyebab keriuhan itu.


Fan Ning dan yang lainnya berteriak memanggil Inyoko,akan tetapi Inyoko tidak bergeming sedikitpun.

__ADS_1


aliran energi dan tenaga dalam yang dikeluarkan semakin dahsyat.


Inyoko mengayunkan golok nya itu kearah depan gedung pemerintahan.


Ayunan golok penuh tenaga dalam itu membuat sebuah parit panjang di depan gedung pemerintahan itu.


perlahan suasana kembali menjadi tenang,aura energi yang dikeluarkan oleh Inyoko perlahan menghilang.


para tokoh-tokoh besar yang menyaksikannya masih belum lepas dari rasa terkejut mereka melihat kekuatan yang baru saja dikeluarkan oleh Inyoko.


Inyoko kemudian berjalan perlahan kedepan gedung pemerintahan yang telah berubah menjadi sebuah parit panjang.


Kemudian Inyoko berteriak


"Apakah kalian masih manusia?"


"Apakah mayat-mayat ini juga masih manusia?"


"Dimana hati kalian?"


"Mengapa kalian biarkan mayat-mayat ini membusuk ditengah-tengah kalian?"


"Mengapa kalian menjadi tuli dan tidak mendengarkan jeritan bocah yang ditinggal mati oleh orang tuanya"


"Perang telah membekukan hati kalian semua"


"Kalian lupa jika kalian adalah manusia sama seperti mayat-mayat yang ada didepan kalian saat ini"


Inyoko kemudian mendekati Bha Nun mengenggam tangan gadis kecil itu dan membawanya ketempat mayat kedua orang tuanya.


Derai air mata Inyoko jatuh seiring tubuhnya yang terlihat gemetar dan membuatnya jatuh berlutut ditanah setelah menyaksikan gadis itu memeluk erat mayat kedua orang tuanya itu.


kepedihan yang sama yang pernah dirasakannya ketika dirinya masih seusia Bha Nun.


Semua orang merasa tersentak dan tertegun setelah melihat dan mendengar apa yang telah dilakukan dan diucapkan oleh Inyoko.


semua orang tertunduk dan merasa malu pada diri mereka sendiri tidak terkecuali tokoh-tokoh besar yang berada diseberang parit panjang yang dibuat Inyoko itu.


Inyoko kemudian mengangkat mayat-mayat itu satu persatu dan memasukkannya kedalam parit panjang itu.


Inyoko meletakkan mayat-mayat itu dengan sangat hati-hati.


perlahan satu persatu penduduk mendekati mayat-mayat itu dan membantu Inyoko mengangkat dan memasukkannya kedalam parit panjang itu.


semua orang seperti tergerak oleh apa yang telah ditunjukkan oleh Inyoko.


hingga akhirnya semua mayat-mayat itu telah berada didalam parit panjang yang dibuat oleh Inyoko itu.


para penduduk bersama dengan Inyoko mulai menguburkan mayat-mayat itu.


Hingga akhirnya parit panjang itu tertutup dan kini menjadi sebuah area pemakaman penduduk kota.


"Kalian ingatlah,kalian hidup karena mereka yang ada didalam parit panjang itu"

__ADS_1


Teriak Inyoko.


Alasan Inyoko memakamkan semua mayat itu tepat didepan gedung pemerintahan itu adalah agar setiap orang yang masuk dan keluar gedung mengingat, jika negri mereka ini lahir dengan mengorbankan begitu banyak nyawa.


__ADS_2